
- Jumlah kata
- 26.7K
- Popular
- 151
- Subscribe
- 39
Sinopsis
Biantara Pradeepa adalah mahasiswa sejarah semester akhir yang sedang pusing dengan masalah penelitian untuk topik skripsinya. Kemudian dia memutuskan akan pergi ke tempat dimana sejarah nusantara itu terjadi. Namun, tanpa ia ketahui itu adalah sebuah perjalanan yang akan mengubah takdir hidup nya, ia dihadapkan pada pilihan antara membiarkan takdir terulang kembali atau justru mengubahnya. Lalu... apakah dia akan berhasil? atau justru gagal? namun, dibalik perjuangan itu justru ia akan terjebak pada sebuah perasaan yang seharusnya tidak ia miliki.
Ulasan
1 ulasan
Matilda Dhini Mahanani
30/6/26 03:28
ditunggu bab berikutnya kak udah nggak sabar nie apa kisah kelanjutannya aku tunggu ya kak terimakasih 😀
aku butuh jalan keluar
Sore itu langit mendung menghiasi kota Jakarta.
Beberapa menit kemudian hujan turun deras membasahi kota itu.
Lampu jalan menghiasi genangan air dengan cahayanya yang masih redup. Sementara kendaraan berlalu lalang seolah sedang mengejar jam pulang kerja.
Biantara Pradeepa seorang mahasiswa sejarah kini sedang dalam dilema, pasalnya ia harus segera menyelesaikan penelitian mengenai sejarah kerajaan nusantara yang nanti akan menjadi topik skripsinya.
Bian duduk termenung di salah satu kursi sudut sebuah kafe. Meja yang ia tempati terlihat berantakan dengan kopi yang masih tersisa setengah dan beberapa lembar kertas untuk penelitiannya.
“Astaga, apa yang harus aku lakukan.” ucapnya sembari mengacak-acak rambut nya.
Dia begitu gelisah dan bingung.
Bagaimana jika skripsinya gagal?
Bagaimana jika ia tidak lulus?
Dan bagaimana perasaan ibunya yang telah berjuang untuknya?
Bian sangat bingung.
Jika dulu saat ia bingung tentang tugas sekolahnya, ayahnya dengan sigap akan membantunya.
Namun, ayahnya kini telah meninggalkannya. Selama ini ibunya lah yang berjuang membesarkan dan menyekolahkan dirinya.
Seketika itu ia teringat bahwa hari ini adalah hari yang sangat penting dan seharusnya ia tidak berada di kafe ini sekarang.
Ia mengedarkan pandangannya dan melihat bahwa suasana kafe itu cukup ramai. Namun, ketika pandangannya tertuju pada jendela kaca kafe, ia baru menyadari kalau hujan diluar cukup deras dan tak mungkin baginya untuk pergi sekarang ini.
Hujan itu memaksa Bian untuk tetap berada di kafe hingga hujan itu reda.
“Huh, akhirnya reda juga.” ucapnya lirih.
“Besok aja deh aku kesana, udah malem gini.” lanjutnya.
Bian melajukan motornya kembali ke kost nya.
Sesampainya di kost, Bian langsung mandi dan membersihkan dirinya.
“Enaknya makan apa ya malem ini?” ucapnya sembari memegangi perutnya yang keroncongan.
Mungkin tuhan baik padanya, tak lama setelah ia berbicara sebuah suara yang sangat dia kenali itu muncul di telinganya.
“Tok, tok, tok, tok, tok”
Suara yang sangat di idam-idamkan oleh perutnya itu.
Tanpa pikir panjang ia berlari keluar kost untuk memastikan apakah itu benar suara gerobak nasi goreng Mang Uyung.
“Mang, nasgor mang.” teriakan Bian itu mungkin bisa terdengar oleh seluruh penghuni kost.
“Siap.” jawab Mang Uyung.
Dengan sigap ia menyalakan kompor untuk memanaskan wajan, “mau yang pedes, sedeng, atau ga pedes nih?” tanyanya sembari tangannya sibuk menyiapkan bahan nasi goreng.
“Sedeng aja, mang.” jawabnya.
Dengan sedikit berlari ia masuk ke kost dan mengambil sebuah piring.
“Ini ya mang, taruh di sini aja.” ucapnya sembari menyerahkan piring miliknya.
“Siap, laksanakan.”
Aroma bumbu nasi goreng, telur orak-arik, dan potongan ayam begitu menggugah selera.
Tanpa sadar perut Biantara berbunyi “kruyukkkk”
dan membuat suasana sedikit canggung.
“Laper banget ya, dek Bian.” tanya Mang Uyung dengan ketawa kecil.
“Iya nih mang, belum makan dari siang gara-gara tugas matkul.” jawab Bian.
“Oalah,” ucapnya singkat sembari menaruh nasi goreng yang sudah jadi ke piring, “ini ya nasgornya, seperti biasa 15 ribu aja.”
“Ini mang uangnya, pas ya?” Bian menyodorkan uang pecahan lima ribu an sebanyak tiga lembar.
“Sipp, makasih ya.” jawab Mang Uyung yang kemudian beranjak pergi dengan gerobaknya
“Tok, tok, tok, tok, tok”
“Akhirnya perutku ga akan keroncongan lagi.”
Bian masuk ke kost nya dengan seporsi nasi goreng yang masih panas.
Ia tak sabar untuk memakannya.
Dengan lahap Bian memakan nasi goreng itu yang bahkan asapnya masih terlihat mengepul.
Beberapa saat kemudian setelah makan, Bian dihadapkan pada masalah penelitiannya itu. Ia benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan.
Tapi disisi lain ada hal yang harus ia lakukan besok dan dia harus tidur sekarang.
“Kebetulan besok gada matkul, jadi aku akan ke sana pagi aja, sekaligus minta maaf karena tidak datang tepat waktu.” ucapnya
Kemudian dia membaca do'a dan segera tertidur pulas. Bian sudah terbiasa karna ayahnya selalu berkata “sebelum melakukan apapun jangan lupa berdo'a ya, nak.” itulah nasihat yang selalu Bian ingat.
────୨ৎ────
Keesokan harinya Bian sudah bersiap. Ia sudah rapi dengan kemeja navy dan celana ivory. Ia mengambil kunci motornya kemudian pergi meninggalkan kamar kost nya itu.
Beberapa jam Bian melajukan motornya terkadang sesekali ia beristirahat sebentar agar tidak kelelahan, kini ia melewati sebuah jalanan kota yang indah. Ia begitu kagum dengan kota itu, kota yang kata orang-orang adalah kota romansa, itulah Bandung. Meskipun ia tidak lahir di sana.
Iya, Bian bukan orang asli Bandung. Ia lahir di Jawa Timur tepatnya di kota Malang. Semenjak ia lahir orang tua Bian memutuskan membawanya ke rumah neneknya yaitu ibu dari ayahnya. Semenjak saat itulah Bian tinggal di Bandung.
Namun, kini ia berkuliah di Jakarta dan harus berpisah dengan ibu dan neneknya.
Bian berhenti sejenak untuk beristirahat dan menyempatkan dirinya untuk membeli sebuah karangan bunga.
Setelah beberapa saat ia beristirahat, Bian melajukan motornya agar cepat sampai ke tempat tujuannya.
Setelah beberapa saat akhirnya ia sampe di tempat tujuan, TPU kota Bandung.
Bian memarkirkan motornya dan merapikan penampilannya yang sedikit berantakan.
Setelah itu Bian pun berjalan menyusuri jalan kecil menuju ke sebuah nisan usang dengan beberapa rumput liar yang tumbuh di area sekitar makam.
Bian menghentikan langkahnya di depan nisan yang bertuliskan, “Hendra Sadewa” itulah ayah Bian, ayahnya sudah tiada semenjak dia berusia 12 tahun.
“Ayah, ini udah delapan tahun semenjak ayah meninggal.”
“Maafin Bian ya yah, Bian terlambat jenguk ayah tahun ini.”
“Bian kangen sama ayah, Bian gatau yah gimana Bian bisa nyelesaiin tugas kuliah Bian.”
“Bian bingung yah.”
“Dulu kalau Bian kesusahan ngerjain tugas, ayah selalu bantuin Bian.”
“Tapi sekarang... Bian gatau harus gimana yah, kasian ibuk kalau Bian gagal.”
Bian mengatakan semua isi kepalanya yang selalu ia pendam.
Dada terasa sesak, matanya mulai berair. beberapa detik kemudian bulir air jatuh dari ujung matanya.
Bian menangis, ia tak kuat menahan ini semua.
Suara tangisannya masih terdengar, dadanya masih terasa sesak. Dengan tangan gemetar ia membersihkan makam itu dari rumput liar, setelah bersih ia menyiramkan sebotol air kemudian berdo'a dan meminta agar segera menemukan jalan keluar dari masalahnya.
Sebelum pergi ia meletakkan sebuah karangan bunga di makan ayahnya tak lupa ia juga menghapus air matanya.
Di luar makam ia teringat ibunya, "Mungkin itu jalan keluar dari masalahku," pikirnya.
────୨ৎ────
Bian melajukan motornya, ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
Rumahnya tidak terlalu jauh dari makam ayahnya hanya sekitar 10 menit dari makam.
Sesampainya di rumah Bian langsung merebahkan dirinya di kursi ruang tamu.
“Eh, Bian kok tiba-tiba pulang?” suara wanita parubaya yang sangat ia kenali.
“Iya bu, Bian habis dari makam ayah.” jawabnya lirih
“Yaudah kamu istirahat di kamar sana, ibuk mau masak dulu.” pinta ibunya.
“Bian ga cape buk, Bian cuma lagi bingung.” ucapnya dengan gelisah
“Bingung kenapa nak?” tanya ibu Bian sembari duduk di samping anaknya, “sini cerita sama ibuk.”
Bian menceritakan segala masalahnya, mulai dari penelitiannya yang mandek dan segala hal yang ia pikirkan.
“Ya, kira-kira gitu lah buk,” Bian menghela napas pelan, “Bian bingung gimana nyelesaiin tugas itu.”
“Mungkin jalan keluar nya bukan disini nak, kamu bilang kalau penelitian yang kamu lakukan tentang sejarah nusantara, khususnya kerajaan Majapahit kan?” tanya ibunya memastikan.
“Iya bu, tapi Bian gatau sejarah aslinya, itu yang bikin Bian bingung.” jawab Bian.
“Coba kamu pergi ke tempat di mana sejarah itu ada, nak.” saran ibunya membuat Bian benar-benar gembira, seolah ia telah menemukan semua jawaban dari masalahnya.
“Ibu benar, aku harus ke sana, Jawa Timur.”
Bian memeluk ibunya dan berpamitan pergi, ia tidak ingin menunda lagi.
────୨ৎ────
Sesampainya di kost Bian mempersiapkan segala kebutuhannya untuk pergi ke tanah kelahirannya, Jawa Timur.
Bian tau dia harus ke tempat dimana sejarah itu ada, yaitu kota Mojokerto.
Bian memutuskan untuk pergi keesokan harinya dengan naik kereta, dia juga mengabari dosennya karna ia akan pergi melakukan penelitiannya itu.
Bian kini sudah berada di stasiun, menunggu keretanya datang.
Beberapa saat kemudian, kereta pun datang.
Bian masuk dan langsung duduk di kursinya.
Dia begitu menikmati perjalanan itu, tapi tanpa ia ketahui itu adalah pilihan yang akan mengubah hidupnya.
Ia tidak tahu bahwa perjalanannya itu akan membawanya ke tempat yang tidak pernah ia duga.
────୨ৎ────
Daftar bab
25 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








