
Balik ke Masa Lalu dengan Sistem Absurd
Hendri 207|Bersambung
- Jumlah kata
- 34.9K
- Popular
- 108
- Subscribe
- 24
- Jumlah kata
- 34.9K
- Popular
- 108
- Subscribe
- 24
Sinopsis
Dikhianati hingga tewas di ruang rawat VIP oleh istri dan anaknya, Baskara secara ajaib terbangun kembali di tahun 1993—tepat di hari lamarannya!Berbekal ingatan masa depan dan [Sistem Semesta v1.0] yang santai tapi sarkastik, Baskara langsung membatalkan pernikahan, membongkar aib sang mantan, dan merebut kembali harga dirinya. Kini, ia siap membangun dinasti bisnis dari nol dengan tubuh gempalnya. Bisakah Baskara mengubah garis takdirnya sambil menghadapi misi-misi harian sistem yang nyeleneh dan membagongkan?
Ulasan
1 ulasan
Hendri 207
14/10/26 13:58
selamat menikmati cerita ini semoga berkenan di hati dan pikiran para pembaca yang budiman. terimakasih.
bab 1 Instalasi Ulang Takdir
Baskara, seorang pengusaha sukses di kota besar. Kini, tubuhnya terbaring lemah di kasur rumah sakit. Harta melimpah bukanlah penenang pada saat ini. Melainkan dukungan keluarga adalah satu hal yang ingin ia dapatkan.
Namun.
"Ma, si Tua Bangka ini kenapa tidak mati-mati juga?" Rendy mendengus, menatap tubuh Baskara yang ringkih di atas ranjang seolah sedang melihat barang rongsokan yang membuang-buang tempat.
"Dokter bilang dosisnya sudah dikurangi, tapi jantungnya masih saja memompa." lanjutnya.
Siska mengusap wajahnya kasar. Tak ada sisa kesedihan di wajah yang dipoles perawatan puluhan juta per bulan itu.
"Sabar, Nak. Si pecundang ini memang selalu menyusahkan. Bahkan saat sekarat pun dia masih pelit membagi waktunya untuk kita."
"Tenanglah," suara bariton muncul dari sudut gelap. Adik ipar Baskara melangkah maju dengan senyum miring yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya.
"Mau dia bernapas sampai besok pun, dia sudah jadi mayat di mataku. Semua berkas pengalihan aset sudah aman di meja notaris." ucapnya dengan nada mengejek.
Siska meludah ke lantai, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Aku benar-benar tidak habis pikir. Bisa-bisanya si pelit ini menyembunyikan deposito sebanyak itu selama dua puluh tahun."
"Kalau bukan karena kamu yang melapor, mungkin aku masih ditipu olehnya Sampai mati." sambungnya.
Di balik kelopak mata yang terasa seberat timah, Baskara mendengar semuanya. Hatinya yang semula remuk tiba-tiba menjadi dingin. Ternyata selama ini ia bukan membangun keluarga, melainkan sedang memelihara benalu di dalam rumahnya sendiri.
Siska melangkah mendekat, jemarinya yang berhias cat kuku merah menyala merapikan kerah baju rumah sakit Baskara yang kusut. Ia tersenyum, namun matanya sedingin es.
"Jangan menatapku seperti itu, Bas. Seolah-olah aku ini monster," bisik Siska, suaranya terdengar seperti desis ular di tengah sunyinya ruang VIP.
"Kalau saja waktu itu perutku tidak mendadak membuncit, mana sudi aku berdiri di pelaminan bersamamu? Pria gendut, kucel, dan miskin. Ucapnya dengan pandangan jijik.
"Justru seharusnya kamu bersyukur jika bukan karna menikah denganku yang punya koneksi dikota, mana bisa kamu jadi seperti sekarang. Malah berani-beraninya kamu menyembunyikan harta dari ku. Dasar tidak tau di untung."
Baskara mencoba mengeluarkan suara, namun tenggorokannya terasa seperti tersumbat pasir. Matanya beralih pada Rendy, mencari secercah belas kasihan pada pemuda yang selama puluhan tahun ini ia penuhi segala keinginannya—mulai dari mobil sport hingga kartu kredit tanpa batas.
Rendy justru membuang muka, mendengus jijik. "Kenapa? Masih berharap aku memanggilmu 'Papa'?" Rendy terkekeh sinis.
"Mama sudah menceritakan semuanya sejak aku SMP. Darah yang mengalir di tubuhku ini terlalu berharga untuk disatukan dengan pecundang sepertimu. Aku hanya butuh tanda tanganmu di surat warisan, bukan kasih sayangmu yang hambar itu."
Sebuah hantaman tak kasat mata menghunjam dada Baskara. Pantas saja. Pantas saja setiap kali ia mencoba memeluk putranya, Rendy selalu menghindar seolah Baskara adalah wabah penyakit. Ternyata, racun itu sudah disuntikkan Siska sejak lama.
"Sudahlah, Ma. Kelamaan!" Rendy kehilangan kesabaran. Tangannya yang kekar tiba-tiba menyambar leher Baskara, mencengkeramnya kuat hingga monitor jantung di samping tempat tidur menjerit panik.
"Mati saja sekarang! Aku muak melihat wajah sok perhatianmu itu!"
"Rendy, lepas!" Sang Paman dengan sigap menarik bahu keponakannya, menjauhkannya dari ranjang. "Jangan bodoh. Kalau ada bekas lebam di lehernya, polisi akan bertanya-tanya. Kita butuh dia mati karena 'nasib', bukan karena dicekik anaknya sendiri."
"Aku bukan anaknya, Paman!" sergah Rendy sembari menampik tangan pamannya.
"Iya, Paman tahu. Tapi sabar saja, tidak akan lama lagi. Aku juga sudah tidak sudi terus mengekorinya, melihat dia bertingkah bagai bos membuatku muak," ucap Dodi.
"Jika dulu kakaku tidak sedang hamil dirimu mana sudi aku bersikap baik padanya." Sambungnya.
Siska perempuan tua itu hanya menonton sambil melipat tangan di dada, tanpa sedikit pun niat untuk membela pria yang telah memberinya kemewahan selama puluhan tahun.
Setitik air mata yang sedingin es meluncur lambat, membelah kerutan di pipi tirus Baskara. Suara caci maki Siska dan dinginnya cengkeraman Rendy perlahan menjauh, seolah ia tengah tenggelam ke dasar samudra yang sunyi.
Garis di layar monitor itu akhirnya menyerah, berubah menjadi garis lurus statis dengan nada beeeep panjang yang memekakkan telinga. Pandangan Baskara mengabur, lampu ruang rawat VIP yang menyilaukan meredup hingga menyisakan kegelapan total.
Namun, di tengah ketiadaan itu, sebuah pendar cahaya keemasan tiba-tiba membelah kegelapan, muncul dalam bentuk layar semi-transparan yang bergetar lembut.
[Dung! Penyesalan pengguna Terdeteksi: 100/100 [Level: Karatan]
Baskara yang kini hanya berupa kesadaran di ruang hampa, mengerjap. "Mati pun aku masih diganggu halusinasi?" batinnya dengan sisa-sisa sinisme yang ia bawa dari dunia.
Sebuah kotak dialog berkedip di depan matanya, disertai bunyi detak jarum jam yang berputar mundur dengan sangat cepat.
[Opsi Tersedia:]
[1. Teruskan kematianmu dan jadi hantu penasaran.]
[2. Kembali ke masa lalu dan buat mereka semua menangis darah sementara kamu bersantai.]
[Apakah Anda ingin melakukan instalasi ulang takdir? (Sangat Direkomendasikan)]
[ [YA] / [TIDAK] ]
Baskara menatap pilihan itu. Bayangan pengkhianatan Siska, wajah pongah Rendy, dan tawa licik adik iparnya melintas sekilas. Ia menyunggingkan senyum remeh—senyum paling tulus yang pernah ia miliki dalam tiga puluh tahun terakhir.
"Kenapa tidak?" gumamnya lirih. "Ayo kita lihat seberapa asyik dunia jika aku tidak lagi menjadi orang bodoh."
Jari imajinernya menekan pilihan [YA].
Detik itu juga, seluruh kegelapan pecah menjadi jutaan fragmen cahaya. Suara riuh pasar, deru mesin angkot, dan panas terik matahari mendadak menghantam seluruh indranya secara brutal.
Baskara tersentak. Bau karbol hilang, berganti aroma pegunungan dan parfum melati murahan yang menyengat. Ia melihat tangannya—tidak lagi keriput, melainkan dengan kulit yang kencang. Di genggamannya, sebuah buket bunga mawar merah yang hampir layu bergetar hebat.
Aroma gorengan yang mulai mendingin dan uap teh melati memenuhi ruang tamu sempit itu. Di depan Baskara, Siska duduk bersimpuh dengan kebaya kuning kunyit yang begitu ketat hingga ia tampak kesulitan bernapas.
Bedaknya yang putih kontras dengan lehernya yang sawo matang, berkilau karena keringat akibat hawa gerah dari kipas angin karatan di pojok ruangan.
"Bas! Malah bengong! Ayo, setuju tidak sama maharnya? Ibu sudah menunggu, lho!" Siska menyenggol lutut Baskara dengan ujung jari kuku merahnya—warna yang dulu Baskara anggap cantik, namun kini terlihat seperti peringatan bahaya.
Baskara berkedip. Ia mengedarkan pandangan. Di dinding ruang tamu itu masih tergantung kalender tahun 1993 dengan gambar pemandangan gunung. Di sisi kirinya, Ayah dan Ibunya duduk dengan bahu merosot, tangan mereka yang kasar karena kerja di ladang saling meremas cemas.
"Aku benar-benar kembali."
Daftar bab
26 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








