
Ramuan Perkasa si Kuli Angkut
Zhagzha Writer|Bersambung
- Jumlah kata
- 41.3K
- Popular
- 9.1K
- Subscribe
- 803
- Jumlah kata
- 41.3K
- Popular
- 9.1K
- Subscribe
- 803
Sinopsis
Dikira mau berbuat jahat, Fajar justru membuat Mba Ningrum si janda kembang puas dan mabuk kepayang. Stamina gila dan senjata raksasa kuli angkut ini bikin para wanita ketagihan setengah mati. Ajaibnya, tiap selesai memberi layanan kepuasan, Fajar selalu mendapat keuntungan besar.
Ulasan
2 ulasan
Mas Lehan
12/10/26 09:17
saya suka bngt sama cerita cirita ini, sangat dewasa dan penuh pesona yg mengajarkan untuk semua insan untuk rendah hati
Segara Mahardika
3/10/26 18:44
mantap seru dan kalau bisa update nya bnyakin krn supaya ngga nanggung bacanya. ceritanya menarik, karakter Fajar ngga sombong dan dapat untung terus
Bab 1 - Senjata Raksasa Fajar
Aroma minyak kayu putih bercampur bau tanah basah sisa hujan semalam masih menyengat di dalam rumah berdinding papan itu. Fajar duduk bersila di pinggir balai-balai kayu, menatap tempat tidur yang kini kosong melompong.
Bapak baru saja dimakamkan tadi pagi. Lelaki tua yang selama dua puluh lima tahun ini menjadi satu-satunya keluarga Fajar telah pergi.
Di usianya yang sudah seperempat abad, Fajar tidak pernah nongkrong atau pacaran. Waktunya habis di Pasar Rebo untuk memikul beras puluhan ton dari subuh sampai petang.
Fajar cuma fokus cari uang demi makan berdua dengan Bapak, mengandalkan badannya yang tegap dan stamina yang tak ada habisnya.
Fajar merogoh saku celana kombornya. Botol kaca kecil berisi cairan pekat berwarna cokelat kehitaman kini berada di genggamannya.
Semalam, tepat sebelum embusan napas terakhirnya, Bapak menuntun tangan Fajar meracik akar-akaran rahasia di balik lemari.
"Ketahuilah, Jar. Kamu ini kuli angkut, bukan berarti kamu harus sengsara seumur hidup," kata Bapak semalam dengan suara parau namun tegas. "Lelaki itu disegani bukan cuma karena uang, tapi karena kepuasan yang bisa dia kasih ke wanita. Ramuan ini pusaka keluarga kita."
Fajar menatap Bapak bingung saat itu. "Maksud Bapak apa?"
"Kamu lihat botol ini?" Bapak menunjuk cairan pekat itu. "Ini ramuan buat olah asmara. Yang mati bisa hidup kembali, yang kecil bisa berubah jadi raksasa. Stamina kamu bakal seperti kuda jantan. Sekali wanita merasakan kepuasan dari kamu, dia bakal ketagihan, tunduk, dan tidak akan pelit ngasih uang atau modal ke kamu. Gunakan ini kalau kamu mau hidup kaya dan dihormati."
Fajar menggeleng pelan mengingat ingatan semalam. Ia belum sempat mencoba ramuan itu. Perutnya yang berbunyi nyaring membuyarkan lamunan. Namun Fajar tidak selera makan, dia memilih untuk keluar mencari kerjaan.
"Kerja dulu. Nanti malam baru mikir sisanya," gumam Fajar pelan. Ia mengantongi botol itu lalu melangkah keluar rumah.
**
Pasar Rebo jam sepuluh pagi sedang panas-panasnya. Fajar menyeka keringat di dadanya yang terbalut kaus kutang hitam berlubang.
Bruk!
Sebuah dorongan kasar di dada hampir membuat Fajar tersungkur. Bang Jono, mandor kuli pasar bertubuh tambun dengan kalung emas imitasi, berdiri melotot di depannya bersama tiga anak buah.
"Hei! Kuli tolol! Jalan pakai mata, dong!" bentak Jono sambil meludah ke tanah.
"Maaf, Bang Jono. Saya nggak sengaja," kata Fajar datar.
Jono menatap Fajar dengan pandangan benci yang mendalam. Kebencian Jono bukan tanpa alasan. Bulan lalu, Jono yang terkenal gatal mencoba mendekati Mba Ningrum, janda kaya pemilik toko kelontong.
Jono mencoba memegang tangan Mba Ningrum di depan umum. Saat Mba Ningrum berteriak risih, Fajar yang lewat langsung menarik tangan Jono dan melintir jarinya sampai Jono menjerit kesakitan di depan para pedagang pasar. Sejak hari itu, harga diri Jono sebagai mandor jatuh dan ia sangat dendam pada Fajar.
"Halah! Lu pikir lu sok jagoan bisa terus-terusan berlagak di pasar ini?" hardik Jono, matanya merah menahan sakit hati yang tertahan sejak kejadian itu.
"Sekarang bapak lu udah mati, nggak ada lagi yang belain lu! Dulu lu sok pahlawan melintir tangan gua di depan Mba Ningrum, sekarang lu cuma kuli miskin yang mau mati kelaparan!"
"Bang, masalah kita udah lewat. Saya cuma mau kerja," jawab Fajar mencoba tenang.
"Nggak ada kata lewat!" bentak Jono sambil menunjuk muka Fajar. "Lu cuma kuli melarat! Bapak lu mati juga gara-gara ngenes melihara anak belagu kayak lu! Lu pikir Mba Ningrum bakal lirik kuli gembel kayak lu? Lu tuh cuma sampah pasar!"
Plak!
Jono menepuk pipi Fajar dengan ujung jarinya secara merendahkan.
"Lihat tuh, ditampar aja diam! Mana taji lu yang kemarin?" celetuk salah satu anak buah Jono seraya tertawa mengejek.
"Mulai hari ini, jatah angkut beras lu gua cabut!" tegas Jono dengan senyum puas. "Gua mau lihat seberapa jagoan lu kalau perut lu kosong dan nggak punya duit sepeser pun!"
Jono dan anak buahnya melenggang pergi seraya tertawa lebar. Fajar menunduk, menahan gigi yang bergemertak. Daripada memicu keributan yang membuatnya dipecat permanen, Fajar berjalan menuju balik gudang tua yang sepi.
Tubuhnya gemetar menahan amarah, emosi, dan rasa lapar yang membakar. Kepala Fajar mulai pusing.
Fajar merogoh saku celana, mengeluarkan botol kaca kecil pemberian Bapak.
"Apa benar ini bereaksi luar biasa?" gumam Fajar penasaran.
Teringat perkataan Bapak semalam bahwa ramuan ini memberi kekuatan ekstra pada tubuh dan vitalitas lelaki, Fajar tak berpikir panjang lagi. Ia membuka tutupnya lalu meminum habis cairan itu sampai tetes terakhir.
Rasanya pahit menyengat. Hawa hangat langsung mengalir turun ke perutnya.
Jlegur!
Darah di dalam tubuh Fajar serasa mendidih. Panas luar biasa menjalar cepat, memicu energi raksasa yang mendesak ingin keluar. Otot-otot tangannya mendadak mengencang keras bak besi.
Sensasi panas itu lalu terkumpul dan menumpuk di area selangkangannya.
"Argh..." Fajar merintih pelan. "Apa ini?"
Sesuatu di dalam celananya menegang dengan kecepatan tak masuk akal. Kain celana longgarnya terangkat tinggi, membentuk tonjolan raksasa yang sangat keras dan memanjang.
Pusaka milik Fajar yang biasanya berukuran standar kini berubah menjadi senjata raksasa yang membatu dan berdenyut penuh tenaga.
Rasa lelah dan lapar Fajar sirna seketika, berganti dengan stamina berlipat ganda dan aura kewibawaan lelaki yang sangat dominan.
"Ini... racikan Bapak benar-benar terbukti," gumam Fajar megap-megap, menatap tonjolan di balik celananya yang semakin membesar.
"Jadi, benar ini udah versi paling sempurna yang dicari sama orang kaya di kota?"
Srek... srek...
Suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari balik lorong gudang.
"Duh, di mana sih kunci gudangnya? Masak hilang di sekitar sini..."
Seorang wanita muncul dari balik belokan.
Mba Ningrum. Janda kembang berusia tiga puluh satu tahun pemilik toko kelontong di depan pasar. Tubuhnya padat berisi, menggunakan kebaya kain merah muda yang membingkai lekuk dadanya yang busung dan pinggul mengkalnya.
Mba Ningrum mendongak dan terkejut melihat Fajar.
"Lho, Fajar? Kamu ngapain di balik gudang begini?" tanya Mba Ningrum.
Fajar mencoba berdiri. "Mba Ningrum..."
Gerakan Fajar justru membuat tonjolan raksasa di balik celana kombornya tercetak makin jelas dan menegang kaku di depan mata Mba Ningrum. Napas Fajar memburu, matanya menatap Mba Ningrum tajam.
Langkah Mba Ningrum terhenti. Pandangannya langsung terkunci pada bagian tengah celana Fajar. Pupil matanya melebar seketika.
Ukuran di balik celana kuli angkut itu benar-benar di luar nalar. Raksasa, tebal, dan sangat keras.
Mba Ningrum menelan ludah. Wajahnya seketika merona merah padam, dadanya naik turun menahan debaran jantung yang mendadak liar.
"Fa-Fajar..." bisik Mba Ningrum dengan suara bergetar, melangkah mundur satu langkah sambil merapatkan tangan di dada. "Kamu... kamu mau berbuat apa sama Mba?"
Daftar bab
38 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








