
SANGKAR EMAS LEONARD VALLIERE
Resia Noir|Bersambung
- Jumlah kata
- 2.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 13
- Jumlah kata
- 2.2K

Resia Noir|Bersambung
Di mata dunia, Leonard Valliere adalah pria yang memiliki segalanya.Pewaris tunggal Valliere Group, kerajaan bisnis yang menguasai berbagai sektor industri. Tampan, cerdas, berkarisma, dan ditakdirkan untuk menjadi salah satu pria paling berpengaruh di negeri ini.Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik semua kemewahan itu, Leonard hanyalah seorang tahanan.Sejak kecil, hidupnya dikendalikan oleh keluarga yang haus kekuasaan. Setiap keputusan telah ditentukan. Setiap langkah diawasi. Bahkan masa depannya telah dijadikan alat untuk mempertahankan kejayaan keluarga Valliere.Bagi dunia, Leonard adalah seorang pangeran.Bagi dirinya sendiri, ia hanyalah pria yang hidup di dalam sangkar emas.Ketika kematian misterius ayahnya mengguncang fondasi keluarga Valliere, Leonard mulai menemukan fakta-fakta yang selama ini disembunyikan darinya. Rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun perlahan terungkap.Di saat yang sama, ia bertemu Alya Maheswari.Seorang wanita sederhana yang tidak pernah silau oleh kekayaan, tidak pernah takut pada kekuasaan, dan satu-satunya orang yang berani menatap Leonard tanpa rasa kagum maupun kepentingan.Untuk pertama kalinya, Leonard merasakan sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh uang.Kepercayaan.Harapan.Dan cinta.Namun semakin dekat ia dengan Alya, semakin besar bahaya yang mengintai mereka.Karena musuh-musuh keluarga Valliere tidak hanya mengincar kekayaan.Mereka mengincar Leonard.Dalam dunia yang dipenuhi ambisi, pengkhianatan, dan permainan kekuasaan, Leonard harus bertarung untuk merebut hidupnya sendiri. Dari seorang pria yang selama ini dikendalikan oleh keluarganya, menjadi sosok yang berani melawan takdir dan membangun jalannya sendiri.Perjalanannya bukan sekadar mempertahankan cinta.Ini adalah perjuangan seorang pria untuk keluar dari sangkar yang mengurungnya sejak lahir.Dari seorang pewaris yang hidup dalam bayang-bayang keluarga...Menjadi seorang pemimpin yang menentukan nasibnya sendiri.Dari seorang pria yang kehilangan kebebasannya...Menjadi seorang legenda yang disegani dunia.Tetapi ketika cinta, kekuasaan, dan rahasia masa lalu saling bertabrakan, Leonard harus membuat pilihan yang akan mengubah segalanya.Mempertahankan kerajaan yang diwariskan kepadanya...Atau mempertaruhkan seluruh dunia yang dimilikinya demi wanita yang berhasil merebut hatinya.Karena terkadang, kemenangan terbesar seorang pria bukanlah saat ia menguasai dunia.Melainkan saat ia berhasil membebaskan dirinya sendiri.
3 ulasan
Siti Maharani
4/6/26 05:20
bagus ide ceritanya, lanjutkan terus nulisnya ya semangat💪🏻🔥 ga sabar ni buat baca kelanjutan ceritnya.
Resia Noir
3/6/26 11:58
Makasih buat para pembaca yang sudah singgah baca di karya novel saya, yang udh dukung karya saya dan memberikan ulasan terbaiknya, sehingga saya bermotivasi untuk terus berkarya. 🙏
Danny_Fabiano
3/6/26 11:53
Ceritanya bagus.Aku suka kalo tokohnya kaya raya, jadi cukup dunia nyata aja yg miskinnya, dunia novel jangan. Semangat 💪💪
Hujan turun deras membasahi langit Jakarta.
Dari lantai tujuh puluh dua Menara Valliere, Leonard Valliere berdiri di depan jendela kaca raksasa yang menghadap lautan cahaya kota.
Kedua tangannya berada di saku celana hitam, sementara jas mahal yang melekat di tubuhnya semakin menegaskan sosok pria yang selama ini dianggap sempurna oleh dunia.
Tinggi. Tegap. Berwibawa.
Di usia tiga puluh dua tahun, Leonard telah menjadi simbol kesuksesan.
Majalah bisnis menyebutnya "Raja Muda Dunia Korporasi."
Para investor memujanya.
Para pesaing takut padanya.
Dan para wanita mengaguminya.
Namun malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Leonard hanya melihat satu hal di balik pantulan kaca.
Kesepian.
"Aku sudah menyelesaikan semuanya, Tuan."
Suara Adrian Pratama, tangan kanannya, memecah keheningan.
Leonard tidak langsung menjawab.
"Kontrak Singapura?"
"Sudah ditandatangani."
"Proyek Surabaya?"
"Berjalan sesuai jadwal."
"Investor Jepang?"
"Setuju bekerja sama."
Leonard mengangguk pelan.
Bagi orang lain, pencapaian sebesar itu layak dirayakan.
Namun baginya, semuanya terasa hambar.
Karena tidak ada satu pun keputusan besar dalam hidupnya yang benar-benar lahir dari keinginannya sendiri.
Telepon pribadinya berdering.
Nama yang muncul membuat sorot matanya berubah dingin.
Helena Valliere.
Neneknya.
Orang paling berkuasa di keluarga Valliere.
Leonard mengangkat panggilan itu.
"Ya, Nek."
"Kau datang ke rumah malam ini."
Itu bukan pertanyaan.
Itu perintah.
"Ada apa?"
"Hal penting."
Leonard menghela napas.
"Aku masih bekerja."
"Keluarga lebih penting daripada pekerjaan."
Sambungan telepon langsung terputus.
Seperti biasa.
Tidak ada ruang untuk berdiskusi.
Tidak ada ruang untuk menolak.
Leonard menatap layar ponselnya beberapa detik.
Lalu tertawa kecil.
Tawa pahit yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
"Bahkan setelah menjadi CEO, mereka masih memperlakukanku seperti anak kecil."
Satu jam kemudian.
Mobil hitam mewah milik Leonard memasuki gerbang utama Kediaman Valliere.
Rumah besar bergaya Eropa itu berdiri megah seperti istana.
Semua orang mengaguminya.
Namun bagi Leonard...
Tempat itu adalah sangkar.
Sangkar yang dibangun oleh darah, nama keluarga, dan kekuasaan.
Saat memasuki ruang makan utama, seluruh anggota keluarga sudah berkumpul.
Di ujung meja duduk Helena Valliere.
Tatapannya tajam seperti biasanya.
Di sebelahnya ada Victor Valliere.
Adik mendiang ayah Leonard.
Pria yang selalu tersenyum ramah namun membuat Leonard merasa tidak nyaman.
"Leonard."
Helena membuka pembicaraan.
"Kau sudah cukup dewasa."
Leonard menarik kursi dan duduk.
"Aku harap aku memang sudah dianggap dewasa."
Victor tertawa kecil.
"Kau selalu punya selera humor yang buruk."
Leonard tidak menanggapi.
Instingnya mengatakan sesuatu yang tidak baik akan terjadi malam ini.
Dan instingnya jarang salah.
Helena meletakkan gelasnya.
"Keluarga telah mengambil keputusan."
Leonard langsung mengangkat alis.
Keputusan.
Lagi.
"Kau akan menikah."
Suasana ruangan langsung terasa membeku.
Leonard menatap neneknya.
Lalu Victor.
Kemudian seluruh anggota keluarga.
Tidak ada satu pun wajah yang tampak terkejut.
Artinya mereka semua sudah tahu.
Hanya dirinya yang baru mendengarnya.
"Menikah?"
Helena mengangguk.
"Dengan putri keluarga Wijaya."
Leonard tersenyum tipis.
Namun senyum itu tidak mencapai matanya.
"Dan kapan tepatnya aku dilibatkan dalam keputusan ini?"
"Kau tidak perlu dilibatkan."
Jawaban Helena membuat rahang Leonard mengeras.
"Ini demi masa depan keluarga."
Leonard perlahan berdiri.
Tatapannya berubah tajam.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, amarah terlihat jelas di wajahnya.
"Aku bukan aset perusahaan."
Helena tidak bergeming.
"Kau adalah Valliere."
"Aku manusia."
"Kau pewaris keluarga ini."
Leonard tertawa pendek.
"Jadi itu alasannya?"
Tidak ada yang menjawab.
Keheningan justru menjadi jawaban yang paling menyakitkan.
Selama ini mereka tidak pernah melihat Leonard sebagai seorang pria dengan impian dan pilihan hidup.
Mereka hanya melihatnya sebagai alat.
Alat untuk mempertahankan kekuasaan.
Alat untuk memperluas kerajaan bisnis.
Alat untuk menjalankan kehendak keluarga.
Leonard mengepalkan tangannya.
"Aku tidak akan menikahi wanita yang tidak kucintai."
Victor akhirnya berbicara.
"Perasaan bisa datang belakangan."
Leonard menatap pamannya.
"Tidak semua orang menjadikan hidup sebagai transaksi bisnis."
Tatapan Victor langsung berubah dingin.
Hanya sesaat.
Namun Leonard melihatnya.
Dan itu semakin memperkuat kecurigaannya.
Ada sesuatu yang disembunyikan pria itu.
Sesuatu yang berkaitan dengan keluarganya.
Dengan kematian ayahnya.
Dan mungkin dengan masa depannya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Leonard berbalik meninggalkan ruangan.
Di belakangnya terdengar suara Helena.
"Kau tidak bisa melawan keluarga ini selamanya."
Leonard berhenti.
Lalu menjawab tanpa menoleh.
"Mungkin sudah waktunya seseorang mencobanya."
Malam semakin larut.
Hujan masih turun.
Leonard mengendarai mobilnya tanpa tujuan.
Amarah memenuhi dadanya.
Selama bertahun-tahun ia mematuhi semua aturan keluarga.
Belajar di sekolah yang mereka pilih.
Masuk universitas yang mereka tentukan.
Memimpin perusahaan yang mereka wariskan.
Namun sekarang mereka ingin menentukan siapa wanita yang harus menemaninya seumur hidup.
Cukup.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Leonard merasa ingin memberontak.
Saat lampu merah menyala di sebuah persimpangan, pandangannya tertuju pada sebuah bangunan tua yang sedang direnovasi.
Beberapa pekerja masih sibuk meski malam sudah larut.
Di tengah mereka berdiri seorang wanita.
Mengenakan helm proyek.
Membawa gulungan gambar desain.
Wanita itu sedang berbicara dengan para pekerja sambil sesekali tersenyum.
Leonard memperhatikannya.
Ada sesuatu yang berbeda.
Wanita itu terlihat hidup.
Bebas.
Tidak terikat oleh dunia yang penuh kepura-puraan.
Saat salah satu material hampir jatuh dari lantai atas, wanita itu langsung berlari memperingatkan pekerja di bawah.
Gerakannya cepat.
Berani.
Tanpa ragu.
Leonard mengernyit.
Kebanyakan orang akan mundur.
Namun wanita itu justru maju.
Lampu lalu lintas berubah hijau.
Mobil di belakang membunyikan klakson.
Leonard kembali menginjak pedal gas.
Namun entah mengapa, wajah wanita itu terus terbayang dalam pikirannya.
Keesokan paginya.
Leonard kembali menjadi CEO Valliere Group.
Pria yang dingin.
Tegas.
Dan tidak pernah menunjukkan kelemahan.
Rapat direksi berlangsung seperti biasa.
Presentasi demi presentasi berjalan lancar.
Sampai sebuah nama muncul di layar.
Alya Maheswari.
Arsitek Utama Proyek Valliere Riverside.
Leonard langsung mengenali nama itu.
Wanita semalam.
Kebetulan?
Atau takdir sedang mempermainkannya?
"Siapa dia?" tanya Leonard.
Seluruh ruangan langsung terdiam.
Jarang sekali Leonard menanyakan seseorang secara pribadi.
Salah satu direktur menjawab.
"Arsitek muda berbakat. Proyek-proyeknya selalu berhasil."
Leonard mengangguk.
Lalu menatap layar beberapa detik lebih lama.
Ada rasa penasaran yang sulit dijelaskan.
Dan Leonard tidak menyukai hal itu.
Karena rasa penasaran sering kali menjadi awal dari masalah.
Siang harinya.
Leonard memutuskan mengunjungi lokasi proyek.
Kedatangannya membuat seluruh tim panik.
Namun tidak dengan Alya.
Wanita itu tetap fokus memeriksa struktur bangunan.
Ketika Leonard mendekat, Alya hanya mengangguk sopan.
"Selamat siang."
Tidak ada sikap berlebihan.
Tidak ada ekspresi kagum.
Tidak ada usaha mencari perhatian.
Hal yang sangat jarang terjadi dalam hidup Leonard.
"Aku Leonard Valliere."
"Aku tahu."
Jawaban itu membuat Leonard hampir tersenyum.
Biasanya orang-orang akan langsung berubah sikap ketika mengetahui siapa dirinya.
Namun Alya tetap sama.
Tenang.
Percaya diri.
Dan jujur.
"Kau tidak terlihat terkesan."
Alya menatapnya.
"Lalu saya harus bagaimana?"
Leonard terdiam sesaat.
Kemudian untuk pertama kalinya hari itu, senyum tipis muncul di wajahnya.
Wanita ini menarik.
Bukan karena kecantikannya saja.
Tetapi karena keberaniannya.
Karena cara dia menatap Leonard sebagai manusia biasa.
Bukan sebagai pewaris keluarga Valliere.
Bukan sebagai CEO terkenal.
Hanya Leonard.
Dan entah mengapa, hal sederhana itu terasa sangat berharga.
Sangat langka.
Sangat berbahaya.
Karena jauh di dalam dirinya, sebuah perasaan yang selama ini terkunci mulai bergerak perlahan.
Sementara di tempat lain, seseorang sedang mengawasi mereka.
Dari dalam mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari lokasi proyek.
Victor Valliere tersenyum tipis.
Tatapannya penuh perhitungan.
"Jadi ini kelemahanmu, Leonard..."
Pria itu mematikan layar tabletnya.
Dan tanpa disadari Leonard, permainan besar yang selama ini tersembunyi dalam keluarga Valliere akhirnya mulai bergerak.
Sebuah permainan yang akan menguji cinta, kekuasaan, kesetiaan, dan harga diri.
Dan ketika semuanya terungkap nanti...
Tidak ada satu pun kehidupan yang akan tetap sama.
Bersambung
2 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.







