
Pandai Besi Terakhir Dunia Pararel
istrinya_jimin|Bersambung
- Jumlah kata
- 79.2K
- Popular
- 193
- Subscribe
- 47
- Jumlah kata
- 79.2K
- Popular
- 193
- Subscribe
- 47

istrinya_jimin|Bersambung
Rakha Pratama hanyalah siswa SMA biasa yang lebih banyak menghabiskan waktunya di bengkel sekolah daripada bergaul. Namun, kehidupan tenangnya hancur seketika saat satu kelasnya tiba-tiba terlempar ke dunia fantasi bernama Aetheria, mereka dipanggil oleh para Dewa untuk menjadi Pahlawan Penyelamat.Di dunia baru ini, teman-temannya memperoleh Kelas Legendaris yang luar biasa: Raja Sihir, Kesatria Naga, hingga Pembunuh Bayangan. Sementara Rakha? Ia hanya mendapatkan kelas non-tempur: 'Pandai Besi'.Dianggap tak berguna dan dipandang sebelah mata, Rakha tetap berusaha bertahan dan membantu kelompoknya. Namun, dalam ekspedisi maut di Menara Kematian, situasi berubah menjadi kepanikan massal. Dimas sang Kesatria Naga yang panik dan menganggap Rakha hanya beban yang memperlambat tim dan tanpa ragu membuang dan mendorong Rakha ke jurang terdalam sebagai umpan monster.Semua orang mengira Rakha telah tewas.Namun di dasar jurang yang tak tersentuh cahaya itu, Rakha justru menemukan celah menuju sebuah Dunia Paralel, peradaban kuno yang telah hancur ribuan tahun lalu karena berani menentang para Dewa. Di sana, ia diwarisi kekuatan terakhir untuk menempa bukan sekadar logam, melainkan sihir, jiwa, dan takdir itu sendiri.Saat Rakha bangkit dan kembali ke permukaan, ia bukan lagi pemuda lemah yang bisa dibuang begitu saja. Ia adalah Pewaris Terakhir Dunia yang Binasa.Dan kali ini, ia akan mengungkap rahasia kelam di balik pemanggilan mereka... serta membongkar takdir palsu yang diciptakan oleh para Dewa!
1 ulasan
ny.park🐣
5/8/26 00:58
ini juga seru nih tadi baru baca yang sangkara eh dapet notif updetan baru lsg gas lah.. mau nunggu bab nya full aja deh biar bisa langsung banyak an bacanya hehe
Aroma khas oli mesin, logam dingin, dan debu yang terbakar oleh gesekan amplas adalah udara yang paling disukai Rakha Pratama. Di saat siswa-siswi SMA Garuda Nusantara lainnya sibuk berkumpul di kantin, membicarakan tren media sosial terbaru, atau pamer sepatu olahraga mahal, Rakha lebih memilih meringkuk di sudut ruang bengkel praktikum teknik yang sepi.
Tangannya yang belepotan noda hitam memegang erat kunci pas nomor dua belas. Di hadapannya, sebuah mesin sepeda motor tua buatan tahun sembilan puluhan tergeletak parsial. Karburatornya sudah dibongkar, komponen-komponen kecilnya tertata rapi di atas kain lap kusam. Bagi orang lain, itu hanyalah tumpukan besi tua yang pantas dijual ke tukang rongsokan. Namun bagi Rakha, setiap gir dan baut memiliki ritmenya sendiri. Jika dikerjakan dengan presisi, benda mati pun bisa dihidupkan kembali.
"Masih di sini aja kamu, Kha?" Sebuah suara berat menginterupsi kesibukan Rakha.
Ia menoleh dan mendapati Pak Yudi, guru pembina ekstrakurikuler otomotif sekaligus penjaga ruang bengkel, berdiri di ambang pintu sambil memegang segelas kopi hitam yang masih berasap.
Rakha tersenyum tipis, menyapu keringat di dahinya dengan lengan kaus seragam yang sudah tergulung hingga siku.
"Sedikit lagi, Pak. Karburatornya cuma tersumbat kerak bensin basi. Tinggal dibersihkan spuyernya, nanti sore sudah bisa jalan lagi."
Pak Yudi menggeleng-gelengkan kepala, namun tatapannya memancarkan rasa bangga.
"Kamu itu aneh, Rakha. Anak-anak seumuranmu di kelas tiga biasanya sibuk nongkrong, pacaran, atau main game. Kamu malah betah berjam-jam sendirian di tempat pengap begini."
"Saya cuma suka prosesnya, Pak," jawab Rakha singkat seraya kembali memutar baut dengan hati-hati. "Mesin itu jujur. Kalau kita rawat dengan benar dan presisi, dia bakal jalan lancar. Tapi kalau kita asal-asalan atau sok tahu, dia pasti mogok. Enggak kayak manusia yang suka pura-pura."
Pak Yudi tertawa kecil mendengar jawaban itu. "Falsafahmu boleh juga. Tapi ingat, jam istirahat sebentar lagi selesai. Jam berikutnya pelajaran Pak Hartono, kan? Jangan sampai kamu terlambat masuk kelas lagi cuma gara-gara oli."
"Siap, Pak. Lima menit lagi saya beres-beres," ujar Rakha.
Setelah Pak Yudi meninggalkan ruangan, Rakha menyelesaikan rakitan terakhirnya. Ia memutar engkol starter, dan dalam sekali sentakan, suara raungan mesin tua itu terdengar halus serta stabil. Sebuah kepuasan kecil terpancar di mata Rakha. Ia menyapu tangannya menggunakan kain lap, membersihkan sisa-sisa oli sebelum mengemas peralatan ke dalam kotak perkakas.
Rakha menyukai ketenangan ini. Ia bukanlah anak yang menonjol di sekolah. Wajahnya biasa saja, nilainya rata-rata, dan sifatnya yang pendiam membuat keberadaannya sering kali dianggap tak kasat mata. Tapi Rakha tidak keberatan. Menjadi tidak mencolok membuatnya bisa fokus pada apa yang ia sukai tanpa perlu terlibat dalam drama anak remaja.
Sayangnya, ketenangan itu harus berakhir saat ia melangkah keluar dari bengkel dan berjalan menuju ruang kelas XII-MIPA 2.
Saat pintu kelas dibuka, suasana riuh langsung menyambutnya. Di barisan belakang, tampak beberapa murid laki-laki sedang berkerumun di sekeliling meja Dimas Adiprana. Dimas adalah kapten tim basket sekolah tinggi, berwajah tampan, dan berasal dari keluarga kaya raya. Karismanya membuat hampir separuh sekolah bertekuk lutut padanya, namun kesombongannya juga sejajar dengan popularitasnya.
"Eh, si Tukang Bengkel masuk tuh," celetuk salah satu teman Dimas, disambut tawa kecil dari beberapa siswa di sekitarnya.
Dimas melirik Rakha dengan pandangan meremehkan. Ia melipat tangannya di dada sambil menyandarkan punggung ke kursi. "Dari mana aja lo, Kha? Bau oli lo nyengat banget sampai sini. Lo habis ngobrak-ngabrik sampah mana lagi?"
Rakha tidak melayani provokasi itu. Ia berjalan lurus menuju mejanya di sudut belakang dekat jendela, tempat yang cukup jauh dari pusat perhatian. "Cuma benerin motor tua," jawab Rakha datar tanpa menatap mata Dimas.
"Tuh kan, beneran sibuk sama barang bekas," balas Dimas seraya tertawa keras, membuat pendukungnya ikut terkekeh.
"Lagian ngapain sih lo buang-buang waktu buat hal enggak berguna kayak gitu? Masa depan itu ada di bisnis atau olahraga, bukan jadi montir pinggir jalan."
"Sudah, Dim. Enggak usah kekanak-kanakan," sela sebuah suara tegas dari meja depan. Itu adalah Bayu Mahendra, ketua kelas XII-MIPA 2.
Bayu adalah sosok siswa teladan, pintar, adil, dan disegani oleh semua murid, termasuk Dimas. Bayu menatap Dimas dengan pandangan peringatan sebelum beralih memandang Rakha.
"Masing-masing orang punya hobinya sendiri. Lagian Rakha enggak mengganggu siapa pun."
Dimas hanya mengutak-atik lidahnya ke pipi, mendengus kesal karena teguran Bayu, namun memilih untuk diam. Di sisi lain, Bima Mahardika si jenius sekolah yang selalu mendapatkan nilai sempurna di setiap mata pelajaran hanya menatap sinis ke arah pertikaian kecil itu. Bagi Bima, baik Dimas maupun Rakha sama-sama berada di bawah level intelektualnya, tidak pantas menyita perhatiannya dari buku tebal Fisika Kuantum yang sedang ia baca.
Rakha duduk di kursinya dan melayangkan pandangannya ke luar jendela. Ia sudah terbiasa dengan interaksi seperti ini. Selama mereka tidak main fisik dengannya, Rakha lebih memilih acuh tak acuh. Di dalam pikirannya, ia hanya ingin menyelesaikan sekolah dengan tenang, mendapatkan ijazah, dan mungkin membuka bengkelnya sendiri suatu hari nanti.
Namun, lamunan Rakha terbuyarkan ketika bel masuk berbunyi nyaring. Tak lama kemudian, Pak Hartono masuk ke dalam kelas. Namun, alih-alih membuka buku paket Sejarah, udara di dalam ruang kelas tiba-tiba terasa sangat berat. Sensasi aneh menghantam dada Rakha. Jantungnya berdegup kencang secara mendadak. Ia memegang dadanya, bernapas terengah-engah. Di sekelilingnya, murid-murid lain mulai bersuara panik.
"Eh, kok gelap banget?"
"Lampu mati ya? Tapi ini kan siang?"
"Anjir, lantai kelas kita kenapa ini?!"
Rakha menunduk dan membelalakkan mata. Lantai ubin putih kelas mereka mendadak memudar, digantikan oleh pola-pola geometris bercahaya keemasan yang rumit. Garis-garis cahaya itu menyebar dari tengah ruangan, membentuk pola lingkaran sihir raksasa yang mencakup seluruh luas kelas.
"Anak-anak! Tetap di tempat kalian! Jangan berger—" Pak Hartono berteriak panik dari depan papan tulis, namun suaranya terputus saat lingkaran cahaya itu meletupkan kilatan terang yang membutakan mata.
Angin kencang berembus dari tempat yang tidak diketahui, menghempaskan meja dan kursi. Rakha merasakan tubuhnya mendadak kehilangan tumpuan. Ia merasa melayang di udara, seolah-olah pijakan kakinya telah hancur dan melemparkannya ke dalam jurang tanpa dasar. Suara jeritan histeris dari teman-teman sekelasnya suara Dimas yang panik, jeritan para siswi, dan teriakan ketakutan Bayu bergema bersahut-sahutan di dalam kegelapan.
Keheningan melahap segalanya dalam hitungan detik. Bau oli dan mesin yang sangat dihafal oleh Rakha mendadak sirna, berganti dengan aroma aneh yang pekat campuran antara kelopak bunga yang terbakar dan debu yang berada di tempat yang sangat tua.
Ketika cahaya menyilaukan itu perlahan memudar, Rakha menyadarkan dirinya yang tergeletak di atas lantai batu dingin. Ia membuka matanya perlahan, dan apa yang ia lihat bukanlah lagi ruang kelas SMA Garuda Nusantara.
Mereka berada di dalam sebuah katedral raksasa beratap kubah megah, dikelilingi oleh pilar-pilar batu berukir rumit yang menjulang hingga puluhan meter. Dan di hadapan mereka, berdiri belasan sosok berjubah putih dengan tongkat emas, dipimpin oleh seorang pria tua bertopi uskup yang menatap mereka dengan tatapan penuh pemujaan.
"Selamat datang, wahai para Pahlawan dari dunia lain," suara pria tua itu bergema agung di dalam aula batu.
"Dunia Aetheria telah menunggu kedatangan kalian."
Rakha bangkit berdiri dengan perlahan, mengepalkan jemarinya yang masih menyisa aroma gemuk oli. Takdirnya yang tenang sebagai anak bengkel biasa baru saja direbut secara paksa.
72 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.







