Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
PENERUS DATUK RAJO AGAM GUNUNG MERAPI

PENERUS DATUK RAJO AGAM GUNUNG MERAPI

Rajo Agam | Bersambung
Jumlah kata
159.0K
Popular
101
Subscribe
38
Novel / PENERUS DATUK RAJO AGAM GUNUNG MERAPI
PENERUS DATUK RAJO AGAM GUNUNG MERAPI

PENERUS DATUK RAJO AGAM GUNUNG MERAPI

Rajo Agam| Bersambung
Jumlah Kata
159.0K
Popular
101
Subscribe
38
Sinopsis
18+HorrorHorrorMisteriRajaBalas Dendam
Ratusan tahun setelah runtuhnya kejayaan kerajaan yang terinspirasi dari Pagaruyung Kingdom, sebuah rahasia kuno kembali bangkit dari perut Gunung Marapi. Di dalam sebuah gua terlarang yang dikenal sebagai Lubuak Arwah Nan Hitam, tersegel pusaka legendaris bernama Batu Singgasana Langit. Konon, siapa pun yang berhasil menguasainya akan memperoleh kekuatan para rajo terdahulu, mampu memerintah alam manusia dan alam gaib sekaligus. Namun pusaka itu dijaga oleh ribuan arwah datuak, panglima, harimau jadi-jadian, serta makhluk halus penjaga Gunung Marapi. Di tengah kekacauan itu lahirlah seorang pemuda bernama "St. Sampono Kayo", pewaris terakhir garis darah kerajaan yang telah dibantai oleh para penghianat puluhan tahun lalu. Sejak kecil ia hidup sebagai rakyat biasa. Ayahnya dibunuh. Ibunya menghilang secara misterius. Kaumnya dihancurkan. Harta pusaka dirampas. Nama keluarganya dihapus dari sejarah. Tetapi pada malam gerhana merah, Sampono Kayo menerima warisan gaib dari arwah leluhurnya. Ia dipanggil oleh roh legendaris: "DATUAK RAJO AGAM GUNUANG MARAPI" Sang Maharajo Arwah yang pernah menguasai seluruh Alam Minangkabau. Sejak malam itu, kehidupan Sampono Kayo berubah. Ia memperoleh: Mata Arwah Marapi Keris Pusako Langik Tujuh Ilmu Harimau Putiah Pasukan Arwah Pagaruyung Kekuatan menyerap energi roh Namun semakin besar kekuatannya, semakin besar pula musuh yang datang.
BAB 1 — Darah di Lereng Gunung Marapi

Malam turun perlahan di kaki Gunung Marapi.

Kabut tipis merayap dari lereng-lereng hutan tua, menyelimuti sawah dan perkampungan yang tersebar di Nagari Sungai Pua. Cahaya bulan purnama yang seharusnya menerangi malam justru tampak redup, seakan tertutup oleh bayangan hitam yang tak terlihat.

Angin dingin berembus dari arah puncak gunung.

Daun-daun bambu bergesekan, menimbulkan suara berdesir seperti bisikan makhluk gaib.

Di sebuah rumah gadang tua yang hampir roboh dimakan usia, seorang pemuda berusia delapan belas tahun sedang duduk di beranda.

Namanya St. Sampono Kayo.

Wajahnya tampan dan tegas, tetapi kehidupan keras membuat matanya terlihat jauh lebih dewasa dibandingkan usianya.

Tangannya kasar karena terbiasa bekerja di sawah.

Pakaiannya sederhana.

Tak seorang pun di nagari itu mengetahui bahwa pemuda miskin tersebut menyimpan rahasia besar.

Rahasia yang bahkan tidak ia ketahui sepenuhnya.

Sampono menatap Gunung Marapi yang menjulang di kejauhan.

Entah mengapa, setiap kali melihat gunung itu, dadanya selalu bergetar.

Seolah ada sesuatu yang memanggilnya.

Sesuatu yang telah menunggu sangat lama.

"Sampono."

Suara berat terdengar dari dalam rumah.

Ia segera menoleh.

Ayahnya, Sutan Kayo, keluar sambil membawa lentera minyak.

Lelaki itu sudah berusia lebih dari lima puluh tahun, tetapi tubuhnya masih tegap.

Meski demikian, wajahnya terlihat gelisah malam itu.

Sangat gelisah.

"Ayah belum tidur?" tanya Sampono.

Sutan Kayo tersenyum tipis.

"Ayah justru ingin bicara denganmu."

Sampono mengernyit.

Jarang sekali ayahnya berbicara serius seperti itu.

Mereka lalu duduk berdampingan.

Untuk beberapa saat hanya suara jangkrik yang terdengar.

Kemudian Sutan Kayo menghela napas panjang.

"Sampono... kalau suatu hari nanti Ayah tidak ada, kau harus meninggalkan nagari ini."

Sampono terkejut.

"Ayah bicara apa?"

Sutan Kayo tidak langsung menjawab.

Matanya justru mengarah ke puncak Gunung Marapi yang diselimuti kabut.

"Karena mereka sudah mulai mencari."

Jantung Sampono berdetak lebih cepat.

"Mereka siapa?"

Sutan Kayo menggenggam bahu anaknya.

Tatapannya berubah tajam.

"Musuh keluarga kita."

"Ayah, keluarga kita cuma petani."

"Tidak."

Jawaban itu keluar begitu cepat.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sampono melihat sorot mata ayahnya berubah.

Ada kemarahan.

Ada kebencian.

Ada dendam yang terpendam selama puluhan tahun.

"Kita bukan petani biasa."

Sampono membeku.

"Ayah..."

"Kau keturunan darah rajo (Raja)."

Kalimat itu menghantam pikirannya seperti petir.

Darah rajo?

Keturunan kerajaan?

Bagaimana mungkin?

Sutan Kayo berdiri.

Lalu masuk ke dalam rumah.

Beberapa saat kemudian ia kembali membawa sebuah kotak kayu tua yang dipenuhi ukiran kuno.

Kotak itu tampak sangat tua.

Mungkin berusia ratusan tahun.

Dengan perlahan Sutan Kayo membuka tutupnya.

Di dalamnya terdapat sebuah keris kecil berwarna hitam.

Keris itu tampak biasa.

Namun saat mata Sampono menatapnya, tubuhnya langsung merinding.

Entah mengapa keris itu terasa hidup.

Seolah sedang mengawasinya.

"Keris ini diwariskan turun-temurun."

"Kepada siapa?"

"Kepada pewaris terakhir."

Sampono menelan ludah.

Sutan Kayo menyerahkan keris tersebut.

Saat tangannya menyentuh gagang keris, sesuatu yang aneh terjadi.

Darahnya mendadak berdesir.

Pemandangannya kabur.

Suara-suara asing bergema di dalam kepalanya.

Perang.

Jeritan.

Dentingan senjata.

Api.

Darah.

Ribuan prajurit bertempur di bawah bayangan Gunung Marapi.

Di tengah medan perang berdiri seorang lelaki berjubah emas.

Mahkota emas menghiasi kepalanya.

Matanya menyala seperti api.

Suaranya mengguncang langit.

"Aku adalah DATUAK RAJO AGAM!"

Brak!

Sampono terjatuh.

Napasnya memburu.

Keringat dingin membasahi tubuhnya.

"Ayah!"

Sutan Kayo membantu anaknya berdiri.

Wajah lelaki tua itu justru terlihat semakin pucat.

"Kau melihatnya?"

Sampono mengangguk.

"Siapa dia?"

Sutan Kayo menatap keris tersebut.

"Datuak Rajo Agam Gunuang Marapi."

Nama itu membuat udara di sekitar mereka terasa lebih dingin.

Seolah malam ikut mendengarkan.

"Dia leluhur kita."

Belum sempat Sampono bertanya lebih jauh, tiba-tiba suara gonggongan anjing terdengar dari kejauhan.

Lalu disusul teriakan warga.

"Ada orang asing!"

"Siapa mereka?!"

"Pasukan bersenjata!"

Wajah Sutan Kayo berubah.

Ia segera berdiri.

Mata lelaki itu dipenuhi ketakutan.

Ketakutan yang selama ini tidak pernah diperlihatkannya.

"Mereka datang."

Jantung Sampono berdebar keras.

"Siapa?"

"Orang-orang yang membantai keluarga kita."

Ledakan keras terdengar dari depan nagari.

Api membumbung ke langit.

Jeritan manusia menggema.

Malam yang tenang berubah menjadi kekacauan.

Sutan Kayo menarik tangan anaknya.

"Dengar baik-baik."

"Ayah!

"Kalau apa pun yang terjadi malam ini, kau harus lari ke Gunung Marapi."

Sampono menggeleng.

"Tidak!"

"Kau harus hidup."

"Tapi Ayah—"

"KAU HARUS HIDUP!"

Untuk pertama kalinya ayahnya berteriak.

Sampono terdiam.

Lalu suara langkah kaki terdengar dari luar rumah.

Banyak sekali.

Puluhan orang.

Mungkin lebih.

Brak!

Pintu rumah gadang hancur.

Belasan pria berjubah hitam masuk.

Wajah mereka tertutup kain.

Di dada mereka terdapat lambang seekor ular merah.

Pemimpin mereka tertawa dingin.

"Akhirnya kami menemukanmu, Sutan Kayo."

Sutan Kayo berdiri di depan anaknya.

"Sudah tiga puluh tahun."

"Tiga puluh tahun kami memburu darah kerajaan."

Sampono mengepalkan tangan.

"Siapa kalian?!"

Pria itu tersenyum.

"Kami adalah pewaris kemenangan."

"Kemenangan apa?"

"Kemenangan saat keluarga kalian dibantai."

Ucapan itu membuat darah Sampono mendidih.

Namun Sutan Kayo justru terlihat tenang.

Terlalu tenang.

Seolah ia sudah mengetahui hari ini akan datang.

Pemimpin berjubah hitam menghunus pedang.

"Serahkan anak itu."

"Tidak."

"Kau ingin mati?

Sutan Kayo tersenyum.

"Sejak dahulu aku sudah siap."

Ledakan energi tiba-tiba muncul dari tubuhnya.

Angin berputar di dalam rumah.

Lantai kayu bergetar.

Mata Sampono membelalak.

Selama hidupnya ia tidak pernah mengetahui bahwa ayahnya memiliki kekuatan seperti itu.

Para penyerang mundur beberapa langkah.

"Ilmu Harimau Putiah!"

Pemimpin mereka tampak terkejut.

Sutan Kayo mengangkat kedua tangannya.

Raungan harimau menggema.

Bayangan seekor harimau putih raksasa muncul di belakang tubuhnya.

Mata harimau itu menyala terang.

Aura mengerikan memenuhi ruangan.

"Bawa anakku pergi dari sini!" teriak Sutan Kayo.

Sampono menggeleng.

"Tidak!"

"PERGI!"

Harimau putih menerjang.

Pertempuran pun pecah.

Boom!

Rumah gadang hancur sebagian.

Para penyerang terpental.

Darah muncrat.

Jeritan memenuhi udara.

Sutan Kayo bertarung seperti dewa perang.

Namun jumlah musuh terlalu banyak.

Semakin lama semakin banyak penyerang berdatangan.

Puluhan.

Ratusan.

Mereka mengepung rumah dari segala arah.

Sampono menyaksikan semuanya dengan mata berkaca-kaca.

Ia ingin membantu.

Tetapi ia tidak memiliki kekuatan.

Belum.

Tiba-tiba seorang pria berjubah hitam muncul di belakang Sutan Kayo.

Pedang panjang menembus dada lelaki itu.

Crasssh!

Waktu seakan berhenti.

"Ayah!"

Darah mengalir deras.

Sutan Kayo terbatuk.

Namun sebelum roboh, ia masih sempat tersenyum kepada anaknya.

"Lari..."

Hanya satu kata.

Kemudian tubuhnya jatuh.

Sampono merasakan dunia runtuh.

Tubuhnya gemetar.

Air mata mengalir tanpa bisa dihentikan.

"Ayah..."

Para penyerang tertawa.

"Giliranmu sekarang."

Sesuatu pecah di dalam diri Sampono.

Bukan keberanian.

Bukan kemarahan biasa.

Melainkan amarah yang begitu besar hingga membuat darahnya mendidih.

Langit tiba-tiba bergemuruh.

Awan hitam berkumpul di atas Gunung Marapi.

Petir menyambar.

Keris warisan di tangannya mulai bergetar.

Semakin kuat.

Semakin panas.

Para penyerang saling berpandangan.

"Mengapa pusaka itu bereaksi?"

Tanah bergetar.

Gunung Marapi mengeluarkan suara gemuruh.

Lalu dari arah puncak terdengar suara yang sangat tua.

Sangat besar.

Sangat mengerikan.

Suara itu seakan datang dari langit dan bumi sekaligus.

"PEWARIS DARAHKU TELAH TERBANGUN."

Semua orang membeku.

Para penyerang ketakutan.

Wajah mereka pucat.

"Tidak mungkin..."

"Mustahil..."

Kabut hitam turun dari lereng Gunung Marapi.

Menyelimuti seluruh nagari.

Di dalam kabut itu muncul sesosok bayangan raksasa mengenakan mahkota kuno.

Matanya menyala merah keemasan.

Aura kekuasaannya membuat semua makhluk hidup berlutut.

Termasuk para pembunuh.

Sampono menatap sosok tersebut dengan napas tercekat.

Meski hanya berupa bayangan, keberadaannya terasa seperti gunung yang hidup.

Kemudian sosok itu menatap Sampono.

Untuk sesaat, dunia menjadi sunyi.

"Akhirnya..."

Suara itu penuh kewibawaan.

"Aku menemukan pewaris terakhir."

Tubuh Sampono bergetar.

"Siapa... siapa Anda?"

Bayangan raksasa itu mengangkat tangan.

Api merah menyala di sekelilingnya.

"Aku adalah..."

Langit bergemuruh.

Petir menyambar.

Gunung Marapi bergetar hebat.

"Aku DATUAK RAJO AGAM GUNUANG MARAPI."

Mata Sampono membelalak.

Sementara para penyerang mulai berteriak ketakutan.

Mereka sadar satu hal.

Malam ini.

Rahasia yang terkubur selama ratusan tahun akhirnya bangkit kembali.

Dan sejak detik itu pula, takdir St. Sampono Kayo sebagai pewaris kerajaan gaib Minangkabau telah dimulai.

Lanjut membaca
Lanjut membaca