Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Dungeon Maker

Dungeon Maker

FirmZodiac | Bersambung
Jumlah kata
98.4K
Popular
100
Subscribe
9
Novel / Dungeon Maker
Dungeon Maker

Dungeon Maker

FirmZodiac| Bersambung
Jumlah Kata
98.4K
Popular
100
Subscribe
9
Sinopsis
FantasiIsekaiPertualanganPahlawanDewa & Iblis
​"Dunia ini terlalu sibuk mencari pahlawan, hingga lupa bahwa mereka butuh algojo."​Berhasil menamatkan game [Dungeon Maker], Indra justru ditarik ke dalam dunia game itu sendiri. Ia masuk ke dalam tubuh Samael—Sang Malaikat Pencabut Nyawa dengan atribut Ular Suci. Masalahnya? Ia harus memulai semuanya dari nol sebagai Bos Dungeon peringkat terendah!
Prolog 1

GAGAL!

"Sial!"

Indra Parmono mengusap wajahnya dengan kasar. Keringat dingin membasahi pelipisnya meskipun AC kantor menyala dingin seperti biasa. Di layar ponselnya, tulisan merah besar itu kembali muncul.

[FAILED]

Karakter utamanya telah mencapai evolusi sempurna. Seluruh monster di dungeonnya sudah berada di Bintang 10. Bahkan kombinasi jebakan dan buff yang digunakannya telah berkali-kali disempurnakan.

Namun, Apostel pada stage terakhir benar-benar tidak masuk akal.

Sulit.

Terlalu sulit.

Rasanya seperti mencoba mendaki tebing vertikal sambil memanggul batu seberat seratus kilogram.

"Ndra, belum makan? Jam istirahat hampir habis, tinggal kau sendiri di sini."

Indra mendongak.

Danu berdiri di samping meja kerjanya dengan kedua tangan terlipat. Tatapannya langsung tertuju pada layar ponsel yang masih memamerkan tulisan FAILED berwarna merah menyala.

Sudah empat bulan.

Dan selama itu, Danu sudah terlalu sering melihat ekspresi frustrasi yang sama dari sahabatnya.

"Aku tahu kau kesal karena kalah," katanya sambil menghela napas. "Tapi kalau dipaksakan terus, yang rusak bukan cuma badanmu. Pekerjaanmu juga bisa berantakan. Istirahatlah sebentar."

Indra tahu pria itu benar.

Namun, Danu tak mungkin mengerti.

Karakter rahasia yang diperolehnya dua tahun lalu—hasil dari lebih dari seribu jam grinding—dan sebuah Rune Stone yang disimpannya selama empat tahun karena terlalu aneh untuk digunakan...

Akhirnya menunjukkan secercah jawaban.

Ia telah melihat celahnya.

"Tinggal sedikit lagi," gumamnya pelan.

"Hm?"

"Ibarat kaki yang sudah terlanjur melangkah di udara, tinggal dijatuhkan saja. Kalau aku berhenti sekarang, aku harus mendaki lagi dari bawah."

Danu menggeleng pasrah.

"Terserah kau sajalah. Aku sudah mengingatkan."

Pria itu berjalan pergi. Namun sebelum keluar ruangan, ia sempat melirik sekali lagi dengan ekspresi campuran kesal dan kasihan.

Indra hanya tersenyum kecil.

"Ya, ya. Aku ke kafetaria sekarang."

Namanya Indra Parmono.

Usianya dua puluh delapan tahun.

Seorang pegawai perusahaan teknologi.

Belum menikah.

Dan saat ini, ia sedang menghadapi krisis terbesar dalam hidupnya.

Bukan masalah pekerjaan.

Bukan masalah keuangan.

Melainkan sebuah game.

Game yang selama tiga tahun terakhir selalu dianggapnya terlalu mudah.

Bukan karena kecanduan.

Bukan pula karena ambisi.

Ia hanya menyukai perasaan ketika seluruh monster yang dikumpulkan, dilatih, dan digabungkan menjadi satu orkestra kehancuran yang sempurna.

Seperti seorang konduktor yang memimpin simfoni kematian.

Dan sekarang, pada stage terakhir yang entah memiliki ujung atau tidak...

Ia berhadapan dengan mimpi buruk bernama—

Ancient Greater Archangel.

Statistik dasarnya?

???

Tidak diketahui.

Tidak pernah muncul.

Namun dari berkah yang dimilikinya, Indra mengetahui satu hal.

Monster itu dapat membalik seluruh buff dan debuff yang ada di dungeonnya.

Dan yang paling mengerikan...

Ia beradaptasi.

Setiap kali Indra kalah lalu mencoba strategi baru, kemampuan Archangel itu ikut berubah.

Seolah AI dalam game tersebut benar-benar mempelajari cara bermainnya.

Seolah makhluk itu menikmati penderitaannya.

Sepuluh ribu kali.

Dalam tiga bulan terakhir, ia telah mencoba stage itu lebih dari sepuluh ribu kali.

Dan hasilnya?

Selalu kalah.

Selalu.

Di detik-detik terakhir.

---

Kafetaria kantor sudah hampir kosong.

Hanya beberapa karyawan yang masih duduk sambil menikmati kopi atau mengisap rokok di sudut ruangan. Aroma gorengan dan kopi hitam memenuhi udara.

Indra mengambil nampan logam yang sedikit penyok dan mulai mengambil makanan.

Nasi putih.

Ayam goreng tepung.

Tumis kangkung.

Sambal terasi.

Porsinya lebih banyak dari biasanya.

Tubuhnya membutuhkan bahan bakar untuk otak yang terus bekerja.

"Oh, lihat ini."

Indra terkekeh sendiri.

"Piring penuh dengan daging."

Kepala koki yang sudah sangat mengenalnya bersandar di pintu dapur sambil tersenyum.

"Bagus, hari ini lebih cepat dari biasanya. Ambil yang banyak dan makan yang benar. Mukamu kelihatan capek sekali."

"Namanya juga orang kerja, Pak," jawab Indra sambil tersenyum kecut.

Kalau pria tua itu tahu bahwa sumber kelelahan ini berasal dari perang melawan malaikat sinting di dalam game, mungkin ia akan menganggap Indra sudah gila.

"Jangan lupa istirahat."

"Iya, Pak."

Indra duduk di dekat jendela yang menghadap parkiran kantor.

Setiap suapan dikunyahnya perlahan.

Namun pikirannya tidak pernah benar-benar berada di sana.

Rute.

Jebakan.

Statistik.

Cooldown.

Seluruh formasi dungeon terus berputar di kepalanya.

Dan tanpa disadarinya, beberapa jam lagi, semua hal yang selama ini dianggapnya sekadar permainan akan berubah menjadi sesuatu yang jauh melampaui pemahaman manusia.

---

Lima jam kemudian.

"Terima kasih atas kerja keras kalian hari ini. Kalian dipersilakan pulang."

Suara pengumuman dari pengeras suara menggema.

Para karyawan mulai berdiri, membereskan meja, dan bercanda satu sama lain.

Namun Indra masih duduk di tempatnya.

Ponsel kembali berada di tangannya.

Berbagai kemungkinan strategi telah memenuhi kepalanya.

Ia tidak berniat pulang sebelum masalah ini selesai.

"Sama seperti sebelumnya..."

Indra menarik napas panjang.

"Lima belas ruangan sudah cukup."

Jarinya bergerak cepat.

Dungeon tipe Piramida.

Mekanisme utama:

Truly Secret Way into The Darkness.

Hadiah dari misi gila bersama Dewa Jahat Graysamkait.

Kemampuan itu memungkinkan manipulasi jalur musuh selama sepuluh detik.

Biasanya sangat ampuh.

Sayangnya, Ancient Greater Archangel seolah mampu membaca setiap perubahan lorong.

Indra mengatur formasi sekali lagi.

Lapis pertama.

Empat ruangan.

Dua jebakan.

Dua monster.

Lapis kedua.

Tiga ruangan.

Dua jebakan.

Satu ruang buff.

Hydra Berkepala Tujuh.

Naga Es Abadi.

Kaisar Leluhur Bangkit.

Tiga monster Bintang 10 terkuat miliknya.

Lapis ketiga.

Ring pertahanan utama.

Di tengah terdapat jebakan Bintang 10:

Death Mark.

Di kanan, para Tank dan Fighter.

Di kiri, unit DPS utama.

Dan di ujung kiri—

Jebakan Bintang 9.

Demonic Deadly Poison Acid.

Meski hanya Bintang 9, justru itulah kunci kemenangan.

Racun yang mampu menembus kekebalan malaikat.

Indra tersenyum tipis.

"Bagus..."

"Semuanya sudah siap."

Detak jantungnya mulai bertambah cepat.

Tanpa ragu, ia menekan tombol.

[START DEFEND]

Pertempuran dimulai.

Kilatan sihir memenuhi layar.

Raungan monster menggema.

Api neraka, petir, dan hujan es bertabrakan menjadi satu.

Musuh-musuh level rendah hancur tanpa sempat melawan.

Tubuh mereka meleleh oleh asam.

Tercabik oleh cakar Hydra.

Dibekukan oleh Naga Es Abadi.

Semuanya berjalan sempurna.

Empat menit berlalu.

Angka aggro musuh melonjak.

10.000.

"Cepat sekali..."

Indra menyipitkan mata.

"Masih sesuai perhitungan."

Jarinya terus bergerak.

Mengaktifkan skill.

Mengatur timing.

Menghitung cooldown.

Bagi orang lain, permainan itu mungkin hanyalah hiburan.

Namun bagi Indra, pertarungan itu tak ubahnya permainan catur melawan seorang grandmaster dalam keadaan buta.

Dan saat itulah—

"DOR!"

"WOI, NDRA!"

Indra tersentak.

Jantungnya hampir meloncat keluar.

Danu!

Entah sejak kapan pria itu kembali, ia tiba-tiba berteriak tepat di samping telinganya.

Refleks.

Jari Indra bergeser.

Klik.

...

Klik?

Mata Indra membelalak.

Darah di seluruh tubuhnya seolah membeku.

Tidak.

Tidak mungkin.

Di layar ponsel muncul tulisan merah berkedip.

[COMMUNICATION DISCONNECTED]

Tangannya gemetar.

Ia baru saja memutus jalur komunikasi seluruh ruangan menuju ruang Boss.

Monster-monster di garis depan kehilangan koordinasi.

Ikon panik muncul di atas kepala karakter utamanya.

Mereka bergerak kacau.

Tidak teratur.

Angka aggro musuh melonjak.

20.000.

30.000.

40.000.

50.000.

Dan kemudian—

Sayap putih raksasa memenuhi layar.

Ancient Greater Archangel.

Makhluk itu melesat melewati seluruh jebakan yang kini tidak aktif.

Pedang cahayanya terangkat tinggi.

Mata Indra membelalak.

"SIAL!"

Namun yang membuat napasnya terhenti bukanlah itu.

Melainkan—

Untuk pertama kalinya setelah lebih dari sepuluh ribu percobaan...

Ancient Greater Archangel berhenti.

Lalu perlahan memutar kepalanya.

Bukan melihat monster-monster dungeon.

Bukan melihat ruang Boss.

Melainkan—

Menatap lurus ke arah Indra.

Dan jauh di suatu tempat yang bahkan para dewa telah lupakan...

Sesuatu yang telah tertidur selama waktu yang tak terhitung akhirnya membuka matanya.

Di atas kepala Ancient Greater Archangel, sebuah kotak dialog muncul.

Kotak dialog yang belum pernah dilihat Indra sebelumnya.

『Akhirnya kau membuat kesalahan, Tuan Dungeon.』

Lanjut membaca
Lanjut membaca