Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
PANJI KELANA

PANJI KELANA

RR Maesa | Bersambung
Jumlah kata
79.1K
Popular
910
Subscribe
98
Novel / PANJI KELANA
PANJI KELANA

PANJI KELANA

RR Maesa| Bersambung
Jumlah Kata
79.1K
Popular
910
Subscribe
98
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurSilatPertualanganBalas Dendam
“Dituduh penghianat, disiksa, dan dibuang ke dasar jurang. Namun tetesan darahnya membangkitkan keris sakti yang menguak tabir masa lalunya." Panji mengira dirinya beruntung saat menikahi Laras, putri Tetua Klan Ketiga Padepokan Karang Setra. Tanpa Panji sadari, dia hanya dimanfaatkan untuk menutupi konspirasi pemberontakan rahasia yang sedang mereka rancang. Selain itu masa lalu Darma Sengkala, ayahnya Panji, membuat mereka memutuskan untuk melenyapkan Panji. Setelah tubuhnya dihancurkan dan disiksa tanpa belas kasihan, Panji yang sekarat dilemparkan begitu saja ke dalam jurang kematian. Di dasar jurang, tetesan darah Panji membangkitkan sebilah keris yang telah terkubur lama sejak hari kematian ayahnya, Keris Naga Runting. Ikatan darah itu tidak hanya menyelamatkan nyawa Panji, tetapi juga mengalirkan kekuatan gaib yang luar biasa ke dalam nadinya. Di bawah bimbingan spiritual dari energi Keris Naga Runting, Panji mulai belajar ilmu beladiri. Dari seorang pemuda yang tak berdaya, Panji bertransformasi menjadi sosok pendekar yang menakutkan.
Bab 1. Dituduh Berhianat

Brugh!

Semburan darah kental kembali keluar dari mulut Panji saat sebuah tendangan keras mendarat di dadanya. Tubuh pria itu tersungkur ditengah guyuran hujan dan kilat yang sesekali menerangi daerah itu.

"Pengkhianat, berlutut!" bentak Jaka Lodra, murid utama klan ketiga di Padepokan Karang Setra.

"Aku bukan pengkhianat! Aku tidak mencuri Kitab Manunggaling Rasa! Kau yang menjebakku!" teriak Panji dengan sisa tenaganya. Dia mendongak, menatap penuh amarah pada Jaka Lodra, lalu beralih menatap Laras Ningrum, istrinya, yang berdiri dingin di samping Jaka Lodra bersama para tetua klan lainnya.

“Istriku, kau percaya padaku, kan?” tanya Panji.

Laras malah memasang wajah ketus, menatap tajam suaminya tanpa rasa, "Jangan mengkambinghitamkan orang lain! Kau suami bodoh yang tidak tahu untung! Sudah bagus klan kami mau menerimamu!"

Panji sangat kecewa dengan ucapannya Laras. Istri yang seharusnya membelanya malah lebih percaya pada Jaka Lodra.

Jaka Lodra kembali menghajar Panji yang tak berdaya hingga kembali muntah darah. Panji mencoba melawan tapi dia hanya seorang pemuda kampung yang tidak memiliki ilmu apapun. Dia bersedia menikah dengan Laras dengan iming-iming akan diajarkan ilmu bela diri tapi kenyataannya dia hanya dijadikan pekerja kasar.

Jaka Lodra menatap para Tetua yang menyaksikan kejadian itu tanpa ada yang membela Panji seorangpun. “Para Tetua Agung! Panji sudah tertangkap basah mencuri kitab untuk dijual pada Klan hitam. Sesuai hukum klan, pengkhianat seperti dia harus dibinasakan!”

“Lakukan! Eksekusi!” perintah Tetua tanpa belas kasihan.

Panji terkejut mendengarnya. “Aku tidak bersalah! Aku dijebak!”

Alih-alih merasa kasihan, para tetua langsung meninggalkan tempat itu. Hanya senyum Jaka Lodra yang terus tersungging melihat Panji yang babak belur.

"Memang bebal kau, menantu sampah!" maki Jaka Lodra, langsung menyeret tubuhnya Panji.

Panji sempat menatap istrinya yang malah memalingkan muka dan menjauh.

Dengan satu hantaman tenaga dalam yang dahsyat, Jaka Lodra mementalkan tubuh Panji.

Wuuuzzzz! Puing!

Tubuh Panji melayang dan jatuh menghantam dinding jurang sebelum mendarat di bebatuan bawah. Dalam kondisi sekarat dan tulang-tulang yang remuk, dia mendengar deru air dan kecipak kawanan buaya yang mulai mendekat. Sesuatu mulai menarik kaki pincangnya.

Rasa amarah, kecewa, dan dendam membakar dada Panji. Selama ini dia selalu mengalah dan diinjak-injak, dia menolak mati sebagai sampah! Dengan sisa tenaga, tangan kanannya meraba tanah untuk mencari batu guna melawan.

Sreeet!

Bukannya batu, tangan Panji justru tergores sebuah benda tajam yang tersembunyi. Luka robek itu terasa sangat perih, namun sedetik kemudian berubah menjadi sensasi sedingin es yang membuat seluruh tangannya membiru seketika. Bersamaan dengan hujan yang mulai mereda, tubuh Panji pun ambruk dan tercebur ke dalam air sungai yang ganas.

Byuur!

Panji merasakan dadanya yang seperti terhimpit batu, dia benar-benar merasa sesak. Mencoba muncul ke permukaan tapi sudah tidak bertenaga lagi.

Saking tidak terima dengan takdirnya, Panjipun berteriak melampiaskan amarahnya. “Tidaaak!”

Bersamaan dengan teriakan yang menggema itu, tiba-tiba tanah bebatuan yang teraliri darah ditangan Panji, darah segar yang tersirap sisa sisa air hujan, bergerak perlahan.

Brrrrr!

Gerrrd!

Bumi mendadak mengguncang, bebatuan terpental berterbangan menjauh seperti meteor yang dikembalikan pada langit.

Wuzzzz!

Wuzzzz!

Amarah dan dendam seakan menyatu dengan bumi. Bumi terbelah, bebatuan terpental, airpun beriak kencang. Sampai membuat buaya yang menggigit celana Panji ikut terbawa arus yang tersembur dari tanah yang terbelah.

Tubuh Panji yang terkena semburan air itu membumbung tinggi keangkasa seolah dinaikkan oleh airmancur berkekuatan dahsyat.

Brugh!

Tubuh Panji terlempar ke bebatuan.

Panji merasakan dadanya yang sakit akibat hantaman itu. Tubuhnya sudah lemas, dia sudah tidak punya daya lagi untuk bertahan.

Dibalik matanya yang menyipit karena luka dimata sudah mulai membengkak, dari semburan air itu muncul sinar kemilau yang menyilaukan mata.

Panji hanya bisa melihat tanpa banyak bisa berpikir. Apakah ini neraka? Apakah neraka sedang menyambutnya?

Tiba-tiba terdengar sebuah suara menggema diarea jurang itu bersamanya dengan cahaya yang berputar di semburan air itu.

“Akhirnya kau datang, anak muda!” suara itu menggema tanpa wujud.

Panji hanya melihat sinar yang berputar putar di ujung semburan air itu. Dia tidak tahu darimana suara itu, yang ada dihatinya hanya rasa dendam amarah yang tidak tersampaikan.

“Kau, kau siapa? Aku tidak tahu siapa kau!” Disela nafas yang tersenggal, Panji mencoba untuk berkomunikasi. Dari mulutnya kembali tersembur muntahan darah.

“Aku Keris Naga Runting! Aku akan memberikanmu kekuatan untuk mengguncang dunia!" Suara itu terdengar lagi.

Panji terkejut mendengarnya. Masih dengan kondisi sadar tidak sadar, kalau dia tidak salah dengar, itu adalah Keris yang konon terkenal sakti dan dilarang untuk digunakan akhirnya dimusnahkan.

Mengingat hal itu, Panjipun menyadari kalau dia sedang berhalusinasi. Diapun terkekeh ditengah rasa sakitnya.

“Kalau kau sakti! Buktikan padaku, beri aku kekuatan!” teriaknya, asal saja karena melampiaskan amarah dan dendamnya.

"Ambil... ambil jiwaku..." teriak Panji lagi dengan sisa napasnya. "Beri aku kekuatan... untuk membalas mereka!"

Suara itu tidak menjawab, membuat Panji kembali tertawa meskipun merasakan tubuhnya semakin lemas. Tapi kemudian dia tersentak saat sinar diujung air itu semakin menyilaukan.

Shuut!

Benda yang terpancar sinarnya diatas air itu tiba-tiba melesat bak kilat, langsung menancap tepat di dada kiri Panji. Namun, anehnya, tidak ada darah yang keluar. Keris itu justru perlahan tenggelam, menyatu ke dalam tubuh Panji, dan langsung melebur dengan tulang punggungnya.

"Aaaargh!”

Panji menjerit histeris. Suaranya mengguncang seluruh dasar.

Di dalam tubuh panji sesuatu yang dahsyat terjadi, entah keajaiban atau kutukan. Benda yang melebur dalam dirinya seolah menjadi sebuah cairan karet yang menyusun kembali jaringan tubuhnya, menguntainya, dan mengikatnya. Suara gemerutuk tulang yang kembali tersambung sangat ngilu. Bagian-bagian tubuhnya yang robek dan berdarah perlahan menyambung kembali. Nadi-nadinya yang terputus kembali mengalirkan darah sesuai fungsinya.

Panji merasakan tubuhnya seperti berada di pegunungan yang sangat dingin, tubuhnya terasa membeku tapi beberapa detik kemudian saat aliran darahnya mulai mengalir, rasa hangatpun mulai terasa.

Bersamaan dengan itu berkelebatan bayangan bayangan yang tidak Panji mengerti. Bayangan pergerakan sebuah benda berupa keris yang tidak pernah terlintas dibenaknya, karena sekarang dia sedang berada dalam ujung kematian.

Pergerakan bayangan itu terus melintas dikepalanya Panji tanpa henti seolah diputar-putar supaya Panji mengingat setiap gerakannya.

Tanpa Panji sadari kehadirannya dijurang itu membuka ajian terlarang yang sudah terpendam berabad abad lamanya yang saat ini hanya jadi legenda. Jurus Ilmu Sembilan Langkah Dewa Kematian. Ilmu yang dilarang untuk diwariskan karena kehebatannya bersama Keris Naga Runting, dianggap membuat gaduh dunia persilatan.

Beberapa waktu kemudian Panji merasakan aura hangat yang terus menjalar ke seluruh tubuhnya, sampai perlahan rasa sakit berubah perih, dan perih itu mulai berkurang, terus berkurang dan menghilang.

Panji tergeletak menelungkup diatas bebatuan dipinggir sungai tidak sadarkan diri. Tidak mengingat lagi apa yang terjadi.

Tidak mengingat bagaimana bumi kembali bergemuruh, air bergejolak, semua kembali keasalnya, kembali sepi bersamaan dengan hujan yang mendadak tidak setetespun turun dari langit.

Hening.

Tak ada suara apapun.

Bahkan aing bertiup menyapu dedaunan tidak menimbulkan suara berisik. Hanya udaranya yang lama semakin lama semakin dingin.

Perlahan Panji meringkukkan tubuhnya karena dingin, tanpa menyadari apa yang sudah terjadi.

******

Lanjut membaca
Lanjut membaca