

"Satu jam dari sekarang, kamu harus merapikan barang-barangmu dan silakan tinggalkan ruangan ini."
Reza terkejut setelah membaca surat pemutusan hubungan kerja di atas meja kerja pak Surya. Namanya tercetak jelas di sana dengan tinta hitam tebal.
"Tapi, Pak, ini gak adil!" suara Reza naik satu oktav. "Bukan saya yang salah input data anggaran itu! Itu kan kerjaannya anak magang titipan direksi yang kemarin itu! Dia yang salah ketik angka nolnya kebanyakan sampai anggaran kita bengkak, kenapa malah saya yang dikorbankan?"
Pak Surya menghela napas panjang sembari memijat pelipisnya tanpa berani menatap mata Reza.
"Perusahaan lagi ada efisiensi besar-besaran dan kebetulan ada masalah ini. Manajemen butuh seseorang untuk bertanggung jawab supaya isu ini gak melebar ke media. Kamu tahu sendiri kan siapa di balik anak magang itu? Bapaknya bisa beli perusahaan ini beserta isinya, termasuk kita berdua."
Reza tertawa getir.
"Jadi karena dia anak pejabat, saya yang dijadikan tumbal? Saya yang udah lembur selama lima tahun di sini dan sekarang langsung didepak gitu aja tanpa pesangon penuh?"
"Saya cuma menjalankan perintah, Maaf ya," jawab Pak Surya.
"Oh ya, tolong sekalian kembalikan ID card dan pulpen kantor yang kamu bawa itu."
Saat itu juga Reza melepaskan ID card dan pulpen kantor di atas meja.
Satu jam kemudian, Reza sudah berdiri di depan gedung pencakar langit Jakarta dengan memeluk sebuah kardus mi instan yang berisi beberapa buku, dekorasi meja kubikel, dan cangkir kopi kesayangannya.
"Woi, Za!"
Sebuah motor matik berhenti tepat di depannya. Dimas, teman satu divisinya yang paling akrab, membuka kaca helm dengan wajah panik yang malah kelihatan kocak.
"Gila, Za! Gue baru dengar dari anak-anak grup sebelah. Lo beneran dikeluarin?" tanya Dimas setengah berteriak melawan kebisingan disekitar.
"Keliatannya gimana? Apa gue lagi simulasi jadi abang-abang tukang loak?" sahut Reza ketus sambil mengangkat kardus di tangannya.
Dimas langsung turun dari motor, lalu menepuk pundak Reza dengan prihatin.
"Gila si Surya. Semua orang di kantor juga tahu itu bukan salah lo, tapi salah si anak manja yang pengetikannya amburadul. Kok bisa-bisanya lo yang kena lay off mendadak gini, sih? Teganya, teganya, teganya!"
Dimas malah bernyanyi kecil.
"Politik kantor, Dimas. Gue gak punya ordal, ya wassalam jadi tumbal," desah Reza, bahunya nampak merosot lemas.
"Sekarang gue bingung harus gimana. Tabungan gue tipis hanya sisa buat bayar kosan bulan ini doang. Nyari kerjaan baru zaman sekarang susahnya mirip nyari jarum di tumpukan jerami."
"Terus lo rencana mau balik ke kosan dulu? Bengong meratapi nasib?"
"Iya, gue mau ngegalau dulu sambil dengerin lagu sedih, sekalian mikir bagaimana cara bertahan hidup biar gak mati kelaparan bulan depan."
"Sabar ya, Za. Kalau lo beneran butuh pinjaman seratus dua ratus buat makan mi instan dua bungkus sehari, bilang aja ke gue ya. Jangan sungkan, tapi bayarnya pas lo udah kaya ya."
"Thanks, Dimas. Candaan lo sangat tidak membantu, tapi makasih."
Tiga hari di dalam kamar kosan, Reza hampir kehilangan kewarasannya. Di pojokan kamar ada tumpukan bungkus mi instan sudah membentuk piramida kecil.
Berkali-kali dia mengirim lamaran kerja lewat portal online, tapi jangankan panggilan wawancara, email balasan pun isinya cuma, "Terima kasih atas minat Anda, tapi kami mencari yang punya pengalaman 10 tahun di usia 22 tahun."
"Kalau begini terus, Minggu depan gue beneran mukbang promag buat ganjal perut," gumamnya frustrasi sambil mengacak-acak rambutnya yang sudah mirip sarang burung walet.
Saat sedang frustrasi, Reza merogoh saku celana jinsnya yang bolong, jarinya menyentuh sebuah gumpalan logam kuno yang berat. Itu adalah sebuah kunci kuno berukuran besar yang terikat dengan gantungan kuningan bertuliskan nama kakeknya, Broto.
Reza tertegun. Ia ingat mendapat warisan kakeknya berupa sebuah ruko tua dua lantai di desa pinggiran kota yang sepi.
"Daripada gue bayar kosan mahal di Jakarta cuma buat dengerin suara token listrik tetangga yang sekarat, mending gue pindah ke ruko Kakek. Di sana setidaknya gue gak perlu bayar sewa tempat tinggal."
Tanpa pikir panjang lagi, Reza langsung melempar seluruh pakaiannya ke dalam koper dan memutuskan untuk angkat kaki dari Jakarta hari itu juga.
Perjalanan menggunakan bus ekonomi tanpa AC selama empat jam, akhirnya Reza sampai di depan ruko peninggalan kakeknya.
Ruko itu terletak di pinggir jalan desa yang cukup asri, namun kondisi bangunannya benar-benar menguji nyali. Dinding krem ruko itu sudah berubah warna menjadi hijau lumut dan di atas pintu besinya ada papan nama terbuat dari kayu yang bertuliskan TOKO MAKMUR JAYA.
Ia memasukkan kunci ke gembok rolling door dan kuncinya macet, lalu ia coba lagi, tetap macet.
Reza mengernyit lalu menggoyang-goyangkan gembok itu, tapi tidak bergerak
sedikit pun.
"Kakek nyimpen harta karun apa gimana sih."
Ia menarik napas panjang lalu mulai memutar kunci lebih keras. Kuncinya nyaris patah.
"Woi, jangan sekarang rusaknya."
Reza mulai panik sendiri dan menendang rolling door dengan pelan, pintu tidak bergerak, lalu ditendang lebih keras masih juga tidak bergerak.
"Buka, woy!"
Tendangan ketiga akhirnya membuat rolling door itu bergerak sedikit disertai suara derit mengerikan. Seekor kucing oren yang tidur dekat selokan langsung kabur ketakutan.
Dari warung Madura sebelah, seorang ibu-ibu muncul sambil membawa spatula.
Ibu itu menatap Reza penuh curiga.
"Mau maling ya, Mas?"
Reza langsung menoleh cepat.
"Hah? Enggak, Bu! Ini ruko saya!"
Ibu itu menyipitkan matanya.
"Bener?"
"Iya. Warisan."
"Oh ...."
Ibu warung itu terkekeh kecil lalu kembali masuk. Reza akhirnya berhasil menarik rolling door perlahan. Debu langsung berhamburan keluar seperti adegan film horor.
Reza batuk-batuk sambil mengibaskan tangan. Bau ruangan lembap dan kayu tua langsung menyerang hidungnya. Pelan-pelan Reza melangkah masuk dan lantainya penuh debu tebal. Jaring laba-laba menggantung di sudut ruangan.
Beberapa kardus tua menumpuk miring seperti tinggal nunggu roboh. Cahaya matahari sore masuk dari jendela depan yang kusam, menciptakan garis-garis cahaya tipis di udara berdebu. Reza terdiam cukup lama.
Di tengah ruangan ada sesuatu yang menarik perhatiannya yang tertutup kain terpal cokelat tua. Bentuknya besar. Ia mendekat pelan lalu menarik kain itu.
Debu kembali berterbangan. Di balik terpal itu berdiri sebuah mesin kopi kuno yang bentuknya sangat tidak biasa. Bentuknya berupa tabung vertikal tinggi gemuk, kokoh, dan terlihat menyerupai ketel uap kereta api zaman kuno atau robot mini dari abad pertengahan.
Seluruh bodinya terbuat dari tembaga murni tebal yang berwarna cokelat kemerahan mengkilap yang memberikan kesan sangat antik, anggun, dan sekaligus berwibawa.
Di bagian samping bodi tabungnya menempel tuas-tuas manual berpegangan hitam, lengkap dengan pipa-pipa kuningan kecil dan alat pengukur tekanan kuno berbentuk bulat yang melekat di sisinya.
Di bagian atas bodi vertikalnya, terdapat pelat biru kecil berbentuk persegi panjang yang menegaskan merek klasiknya.
Anehnya, meskipun ruko Toko Makmur Jaya ini kotor dan lembap, mesin kopi ini sama sekali tidak berkarat ataupun cacat, seolah-olah dilapisi pelindung gaib.
"Buset, ternyata kakek punya mesin kopi tuas manual generasi awal!" bisik Reza takjub.
Reza tahu persis alat ini, karena dulu ia pernah bekerja sambilan menjadi barista paruh waktu demi menyambung hidupnya saat kuliah dulu.
Mesin model tabung tembaga vertikal sejenis ini adalah barang jaman dulu dan antik.
Reza mundur beberapa langkah untuk memandangi mesin kokoh berwajah uap itu, lalu melirik ke papan nama yang terlihat dari balik kaca depan. Sebuah ide gila mendadak melintas di kepalanya.
"Gue punya modal pengalaman jadi barista. Tempat ini juga gratis. Kenapa gue gak melanjutkan usaha kakek dulu buka kedai kopi aja?"
Dia membayangkan papan namanya diubah menjadi Kedai Kopi Makmur Jaya. Minum Kopi Di Sini, Dompet Makmur, Hidup Jaya.
Reza melirik ke arah luar jendela. Jalur jalan di depan ruko ini ternyata merupakan rute utama yang cukup ramai dilewati oleh orang-orang desa yang mau ke pasar, serta para pelancong kota yang berniat liburan ke area wisata pegunungan di atas.
"Lagian, sisa uang di rekening gue cuma cukup buat beli biji kopi kiloan, susu kental manis, dan gula aren sekantong. Kalau gagal, paling mentok gue minum kopinya sendiri sampai kembung."
Tiba-tiba sesuatu jatuh dari sela meja kasir tua. Ia mengernyit lalu mendekat. Sebuah buku tua bersampul cokelat tergeletak di lantai berdebu. Padahal Reza yakin sejak tadi tidak menyentuh meja itu sama sekali.
Perlahan ia mengambil buku tersebut.
Debunya tebal dan sampulnya sudah usang dimakan usia. Di bagian depan hanya ada tulisan kecil yang hampir pudar.
Panduan Peracikan.
Reza membuka halaman pertamanya dan napasnya langsung tertahan, karena di halaman itu bukan resep kopi biasa melainkan gambar secangkir minuman berwarna biru bercahaya dengan catatan tangan milik kakeknya.
'Jangan pernah sajikan ini kepada manusia biasa.'
Reza mengernyit bingung sambil membolak-balik halaman itu pelan.
"Kakek dulu habis minum kopi campur apa, sih?"