
- Jumlah kata
- 29.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 13

Di Indonesia modern, Arya Pratama hanyalah siswa SMA biasa yang hidup bersama neneknya di sebuah kota kecil. Hidupnya berubah ketika sebuah gerbang kuno yang tersembunyi di dalam Candi Astagina terbuka dan membangkitkan kekuatan yang telah tertidur selama ribuan tahun. Saat menyentuh sebuah artefak misterius, Arya menerima gelar sebagai Pewaris Astagina, sosok yang diramalkan akan menentukan nasib dunia manusia dan dunia gaib Nusantara. Sejak hari itu, Arya mulai melihat makhluk-makhluk legenda yang selama ini hanya dianggap dongeng. Dari bidadari penjaga kahyangan, siluman kuno, hingga para dewa yang terlupakan, semuanya muncul untuk mencari sang pewaris. Di tengah kekacauan yang terjadi, Arya mengetahui bahwa segel yang melindungi Nusantara dari kegelapan perlahan mulai hancur. Bersama para bidadari yang bersumpah menjadi pengikutnya, ia harus menjelajahi berbagai kerajaan gaib yang tersembunyi di balik pulau-pulau Indonesia untuk mengumpulkan tujuh pusaka suci Astagina. Namun perjalanan itu jauh lebih berbahaya dari yang dibayangkan. Organisasi misterius yang dikenal sebagai Penguasa Bayangan juga mengincar warisan tersebut demi membangkitkan Raja Kegelapan yang pernah hampir menghancurkan dunia. Di antara pertempuran sengit, rahasia masa lalu, dan ikatan yang tumbuh dengan para bidadari yang menemaninya, Arya harus memilih antara kehidupan normal yang selama ini ia impikan atau takdir besar sebagai pemimpin terakhir Astagina. Karena jika ia gagal, bukan hanya dunia gaib yang akan musnah— seluruh Nusantara akan tenggelam dalam era kegelapan yang abadi.
10 ulasan
Faris
10/6/26 06:53
Harem, aksi, dan fantasinya berpadu dengan cukup baik. Yang paling menarik adalah misteri di balik warisan kuno yang perlahan mulai terungkap sedikit demi sedikit.
Abimayu
10/6/26 06:47
Dunia Astagina terasa hidup dan penuh legenda. Detail yang diberikan membuat pembaca seolah ikut menjelajahi setiap tempat bersama sang tokoh utama.
Banyu
8/6/26 19:01
Baru beberapa chapter, tapi sudah terasa aura novel besar. Banyak petunjuk dan rahasia yang membuat teori-teori pembaca terus bermunculan. Semangat terus, Author!
Alarm ponsel Arya berdering nyaring, memecah keheningan kamar berukuran tiga kali tiga meter yang pengap. Arya tersentak bangun. Napasnya memburu, memutus paksa sisa-sisa trauma yang baru saja berkecamuk di kepalanya. Keringat dingin membasahi kaus oblong putihnya yang sudah mulai menipis dan berlubang di bagian bahu. Dengan tangan gemetar, ia mencengkeram dadanya sendiri, merasakan jantungnya yang berdegup kencang seperti ingin melompat keluar dari rongga iga.
Mimpi itu lagi.
Sudah satu bulan terakhir, setiap kali memejamkan mata dan menyerahkan diri pada kantuk, Arya selalu terlempar ke tempat yang sama. Sebuah lanskap neraka yang tak masuk akal. Padang tandus berdarah di bawah langit sehitam arang, tempat di mana ribuan makhluk mengerikan dengan wujud cacar meraung-raung seolah kelaparan, dan semuanya menatap lurus ke arahnya. Namun, yang paling merusak warasnya bukanlah visual monster-monster itu, melainkan sebuah suara. Suara berat agung, sekaligus menggelegar yang selalu memanggil namanya dari balik kabut hitam, menuntutnya dengan satu kalimat mutlak: "Terbangunlah".
"Arya? Sudah bangun, Le? Jangan lambat, nanti kamu telat sekolah."
Suara lembut namun serak dari balik pintu kayu yang mulai lapuk itu seketika membuyarkan sisa-sisa kengerian di kepalanya. Suara itu adalah jangkar realitasnya. Itu suara Nenek. Arya mengembuskan napas panjang, memejamkan mata kuat-kuat untuk mengusir bayangan darah dan kegelapan, lalu berusaha meredakan gemetar di kedua tangannya.
"Iya, Nek! Ini Arya sudah bangun." sahutnya dengan suara yang sengaja dikeraskan, mencoba terdengar biasa saja agar wanita tua di luar sana tidak menangkap nada ketakutan yang masih tersisa di tenggorokannya.
Arya bangkit dari kasur busanya yang sudah mengempis, lalu melangkah mendekati cermin kusam di sudut kamar. Di sana, pantulan seorang remaja tujuh belas tahun menyambutnya dengan menyedihkan. Ada lingkaran hitam pekat di bawah matanya akibat insomnia akut sebulan terakhir. Rambutnya berantakan, dan seragam SMA yang terlampir di kapstok besi tampak agak kekuningan di bagian kerah karena usia pakaian yang sudah terlalu tua.
Tidak ada yang istimewa dari dirinya. Arya tahu diri. Ia hanya seorang anak yatim piatu yang beruntung masih bisa menumpang hidup pada neneknya, yang setiap hari harus bangun pukul tiga pagi demi membuat kue basah untuk dijual di pasar kota kecil mereka. Hidup Arya sangat datar, miskin, dan cenderung membosankan. Dan anehnya, Arya sangat bersyukur akan kedataran itu. Ia tidak butuh petualangan. Ia tidak butuh drama remaja yang berbelit-belit, apalagi mimpi-mimpi aneh bin terkutuk yang merusak satu-satunya waktu istirahat yang ia miliki. Ia hanya ingin lulus sekolah, mendapat pekerjaan biasa, dan membahagiakan Nenek. Itu saja.
Setelah mandi kilat dengan air sumur yang dinginnya menusuk tulang, Arya melangkah ke ruang tengah yang merangkap dapur. Bau harum pandan dan kelapa parut langsung menyapa hidungnya, sedikit menenangkan saraf-saraf yang tegang.
Di sana, Nenek sedang membungkus beberapa butir kue nagasari yang tersisa dengan daun pisang. Tangan rentanya yang dipenuhi keriput dan flek hitam bergerak dengan cekatan, namun Arya tahu wanita itu kelelahan. Garis-garis wajah Nenek menceritakan beban hidup yang berat semenjak orang tua Arya tiada dalam kecelakaan belasan tahun lalu. Ada rasa bersalah yang mendalam yang selalu menusuk hati Arya setiap kali melihat punggung Nenek yang kian membungkuk.
"Makan dulu, Le. Itu ada nasi goreng sisa semalam, sudah Nenek hangatkan." kata Nenek tanpa menoleh, namun nadanya sarat akan kasih sayang yang tulus.
"Nenek sudah makan?" Arya mendekat, mengambil piring seng berisi nasi goreng.
Nenek menghentikan gerakannya sejenak, menoleh menatap Arya dengan mata lamurnya. Tatapan wanita tua itu mendadak menajam, mengamati wajah cucu semata wayangnya dengan saksama. Ada gurat kecemasan yang mendalam di wajah Nenek saat pandangannya tertuju pada kantung mata hitam Arya.
"Nenek sudah makan tadi di pasar," bohong Nenek— dan Arya tahu betul itu bohong. Nenek selalu mendahulukan perut Arya. "Kamu... kurang tidur lagi, Arya? Wajahmu pucat sekali semenjak sebulan ini. Kamu sakit?"
Pertanyaan itu membuat dada Arya berdesir aneh. Ada ketakutan mendalam yang tersirat dari nada suara Nenek, seolah-olah wanita tua itu mengetahui sesuatu, seolah-olah ketakutan Arya bukan sekedar bunga tidur biasa. Namun, Arya segera menepis pikiran itu. Ia tidak mau menambah beban pikiran Nenek yang sudah menumpuk.
"Cuma tugas sekolah kok, Nek. Guru-guru menjelang ujian akhir suka tidak tahu diri kalau memberi tugas," gurau Arya sambil memaksakan sebuah senyuman lebar.
Nenek terdiam sejenak. Ia menghela napas panjang, sebuah desahan yang terdengar sangat berat, sarat akan rahasia yang terpendam. "Kalau ada apa-apa... cerita sama Nenek, Le. Jangan dipendam sendiri." Tangan hangat Nenek yang kasar mengusap pelan bahu Arya, memberikan kehangatan yang membuat es di dalam dada Arya sedikit mencair.
"Iya, Nek. Arya berangkat dulu ya, sudah hampir jam tujuh." kata Ary setelah menghabiskan suapan terakhirnya dengan terburu-buru. Ia menyalami tangan Nenek, mencium punggung tangan yang wangi daun pisang itu dengan takzim.
Arya melangkah keluar dari rumah petak mereka. Udara pagi kota kecil itu biasanya menyegarkan, namun hari ini terasa begitu menyesakkan, seolah-olah atmosfer di sekitarnya mendadak menjadi lebih padat.
Ia berjalan menyusuri jalan setapak berbatu menuju jalan raya. Namun, baru beberapa langkah meninggalkan pagar bambu rumahnya, langkah Arya mendadak terkunci. Tubuhnya kaku seketika. Sesuatu di dalam dirinya— sebuah insting purba yang belum pernah ia ketahui keberadaannya— memaksa kepalanya untuk menoleh ke arah timur.
Tatapannya tak sengaja tertuju pada siluet Candi Astagina yang berdiri kokoh di puncak bukit seberang kota.
Candi tua itu terbuat dari batu andesit hitam, sisa peninggalan kerajaan kuno yang namanya bahkan sudah terhapus dari buku sejarah lokal. Biasanya, candi itu hanyalah latar belakang mati dari kota kecil mereka. Tempat yang sunyi, angker, dan dihindari oleh warga sekitar karena mitos-mitos kutukan yang menyelimutinya. Biasanya, candi itu tampak tenang dan mati.
Namun, tadi pagi ini.
Di mata Arya, pagi ini candi tua itu terlihat... bernapas.
Arya mengucek matanya kasar, mengira ini hanyalah efek dari kurang tidur kronis yang dialaminya. Namun saat ia membuka mata kembali, pemandangan itu tidak berubah. Udara di sekitar puncak Candi Astagina tampak bergelombang, melepaskan riak-riak hawa panas yang samar namun pekat. Seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa besar sedang menggeliat di dalam perut bumi di bawah di bawah candi tersebut. Batu-batu hitamnya tampak berkilau kemerahan, berdenyut seirama dengan detak jantung Arya yang tiba-tiba kembali berpacu cepat.
Dug. Dug. Dug.
Dada Arya berdenyut menyakitkan. Bersamaan dengan itu, sebuah bisikan lirih yang sangat kukuh tiba-tiba menggema langsung di dalam tempurung kepalanya, bukan lewat telinga.
"Waktunya telah tiba, sang pewaris..."
Arya tersungkur berlutut di atas tanah berdebu. Ia memegangi kepalanya yang mendadak pening luar biasa, seolah-olah otaknya sedang dihantam oleh gada besi. Rasa takut yang begitu primitif menjalar dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Keringat dingin kembali bercucuran. Ia ingin berteriak, namun suaranya tertahan di tenggorokan.
Mengapa dunianya yang tenang dan membosankan tiba-tiba mulai retak? Mengapa candi tua itu seolah-olah memanggilnya?
Dari ambang pintu rumah, Nenek rupanya sempat melongok ke luar untuk memastikan cucunya. Begitu melihat Arya berlutut di tanah sambil memegangi kepala, wajah Nenek mendadak pucat pasi, kehilangan seluruh rona darahnya. Matanya terbelalak penuh horor saatelihat ke arah Candi Astagina yang berdenyut, lalu kembali menatap Arya dengan tatapan yang dipenuhi ketakutan luar biasa— ketakutan seorang Nenek yang tahu bahwa takdir buruk yang selama belasan tahun ini ia sembunyikan, akhirnya berhasil menemukan jalan pulang.
25 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.