
- Jumlah kata
- 40.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 10
Sinopsis
Amar adalah seorang pemuda dari pedesaan.Terbiasa berlatih dengan karung beras bisa membawanya menjadi sang juara MMA Nasional. Tak pernah terpikir olehnya Jika dia bisa mencapai puncak kesuksesan. Dan pada akhirnya dia bisa mengumpulkan pundi-pundi uang. Selain Kuat Amar juga Pemuda yang pintar. Dia berhasil menjadi seorang pengusaha di perkotaan. Banyak wanita mendekatinya. Amar juga termasuk lelaki idaman dia tinggi dan berkulit sawo matang. Siapa sangka dia jatuh hati pada seorang perempuan penjual jamu. Lilah wanita cantik berkulit putih dan berambut hitam lurus dan panjang. Dia sungguh anggun dan rajin. Senyumnya yang manis membuat Amar terpikat. Namun Lilah tidak pernah menoleh kepada Amar, dia tidak seperti cewek-cewek yang mendekati Amar. Sosok Amar bukanlah kriteria pasangan yang diinginkannya. Ada trauma dan kepahitan. di dalam hatinya. Yang membuatnya selalu menolak cinta Amar. Bukanlah seorang petarung sejati jika Amar mudah menyerah. Dia selalu sabar menunggu dan berusaha mendapatkan hati Lilah. Akankah cintanya berujung manis? apakah petarung itu jadi K.O?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 BERDARAH
Sorot lampu yang membuat silau Dimata Amar. Tidak bisa membedakan antara langit-langit dengan lampu. Bau keringat basi ,darah yang bercucuran bercampur jadi satu.
Suara sorak dari pelatih menggelegar dari Corner . "Amar! Bangung Amar! Satu menit lagi!".
Suara itu tenggelam oleh deru 10 ribu penonton dari Gor. Yel-yel "Amar! Amar!" bergetar sampai ketulang rusuknya.
Amar merasakan kanvas dingin menempel di punggungnya. Pelipis Kanannya berdenyut kayak ditusuk jarum. Cairan hangat mengalir dari alis masuk kemata.
Ronde ketiga 1 menit 12 detik.
Hokk kanan lawan dari Brazil mendarat telak dirahangnya. Dunia Arga miring 45 derajat sebelum akhirnya gelap.
Lututnya lemas duluan sebelum otaknya sempat kasih perintah buat menahan badan
Jatuh.. Akhirnya Jagoan terjatuh. Debu kanvas masuk kehidungnya. Dengan cepat wasit lari jongkok disamping kepalanya.
"Satu... dua...tiga.."
Amar mencoba membuka mata, namun semuanya terlihat kabur. Hanya ada siluet orang berlari menerobos barikade pengamanan . Bukanlah manejernya ataupun tim medis.
Seorang wanita dengan rambut terurai, berkaos coklat basah, Meninggalkan gerobak jamunya begitu saja di luar arena.
" Mas Amar! Mas Amar! Bangun mas! Jangan tidur disini!"
Tangan wanita itu dingin, tapi genggamannya kuat saat menyentuh pipinya. Amar sangat mengenal suara itu. Suara yang tiap pagi membuatnya tersenyum. Suara yang selalu menawarkan jamu dan berkata " Mas jamunya mas? Dengan nada datar tanpa basa-basi seperti wanita lain yang mengidamkan Amar.
Yang selalu tersenyum kepada orang lain tapi bukan untuk Amar.
"Empat..lima " hitungan wasit terus jalan.
Lilah menampar pipinya pelan. Ini bukan tamparan marah. Tamparan yang bikin dia sadar. "Kalah aja gak apa-apa mas asalkan hidup. Hidup ya mas Amar".
Amar ingin tertawa, Selama 10 tahun dia di ring, dari kejuaraan kampung sampai MMA Internasional tidak ada yang pernah bilang "kalah aja tidak apa-apa asalkan hidup". Semua orang berkata " Kamu harus menang". Sponsor, pelatih, bahkan ibunya berkata Harus menang. Menang atau Mati. Hal itu yang terlintas selalu di pikirannya selama ini.
Kelopak mata Amar yang begitu berat untuk dibuka. Terasa otot lehernya tidak nurut. Gelap datang lagi sebelum wasit sampai hitungan kedelapan.
Lalu suara Lilah seperti menghilang dan diganti dengan suara lain. Suara yang sudah 6 tahun tidak didengar. Tetapi masih jelas dikepalanya serak,capek tapi tegas.
"Kencang Amar! Kencang! Jangan kayak cewek! Pukul terus! Karung beras ngak akan mukul balik kalau kamu lemes"!
Pada tahun itu di desa Sukamaju,
Saat Amar berumur 9 tahun.
Badan Amar kurus,tulang rusuknya bahkan kelihatan kalau dia mengangkat tangan. Dia memukul karung beras dengan berat 25 kg yang di gantung di pohon nangka di belakang rumah. Tali tambangnya sudah ganti 3 kali karena putus. Setiap pukulan bikin debu beras beterbangan kena mukanya. Tinjunya merah kulitnya mengelupas dan buku-buku jari jadi lecet.
Tetapi dia tidak berhenti. Satu...dua..tiga sampe seratus.
Ibu di dapur teriak dari jendela tangannya masih mengaduk adonan kue. "Amar mandi! Itu karung mau buat masak nanti! Berasnya pada jatuh mubazir! ". Tanggung Bu, lima pukulan lagi!" Balas Amar sambil ngos-ngosan. Ludahnya bercampur darah karena gusinya ketusuk gigi.
Bukan karena dia suka sakit, tetapi karena kemaren dia menonton siaran ulang di televisi. Dilayar ada poster petinju Indonesia pake sabuk emas di pinggang. Dibawahnya tulisannya gede "Juara Dunia".
Amar tidak tau seberapa mahal harga sabuk itu. Yang dia tau kalau dia juara, ibunya tidak perlu susah payah lagi jualan kue keliling. Gak usah lihat tangannya kapalan karena ngadon kue. Gak usah lagi lihat ibu ditagih utang tiap akhir bulan.
Malamnya dia belajar matematika pakai lampu tempel yang cahaya kuning redup. Nilai rapot nya selalu bagus dapat juara 2 di kelas . "Kamu pintar Mar.. sayang kalau kamu hanya kuli bangunan". kata Pak guru SD sewaktu membagi raport. Amar tersenyum, giginya ompong satu. Otak buat sekolah tangan buat mukul. Dua-duanya buat ibu itu prinsipnya sejak umur 9 tahun.
Setelah Amar berumur 11 tahun, dia terlihat lebih berisi dan lebih tinggi. Amar sangat konsisten untuk berlatih demi mengejar mimpinya.
Jatuh cinta pada seorang penjual jamu adalah pilihannya. Amar memilih Lilah itu bagian dari mimpinya, Dia ingin menikahi wanita dari desa. Memilih wanita yang pekerja keras seperti ibunya, dia ingin menaikkan derajat perempuan yang di cintainya.
Darno adalah mantan petinju yang sukses di kala itu. Ketika Lilah berumur 9 tahun. Seorang anak perempuan yang seharusnya dekat dengan Ayahnya ditambah ayahnya seorang jagoan. Ternyata tidak dengan Lilah, Ketakutan yang selalu menghantuinya. Bahkan dia pernah berkata kepada ibunya untuk pergi meninggalkan ayahnya.
Malam hari derasnya hujan terdengar dari atap rumah Lilah, dia pergi menemui ibunya yang sedang berbaring di kasur. Ibunya demam dan luka di pipi membuat ibunya merintih kesakitan. " Bu sakit sekali penderitaan mu, kalau memang sudah tak mampu kita pergi aja ya ibu, aku tidak kuat melihat ibu kesakitan akibat ulah ayah". Ibunya hanya terdiam karena dia tidak bisa menjelaskan kepada Lilah kenapa dia bertahan.Termenung, Lilah seperti kembali kemasa dulu, dia ingin pergi tapi hatinya tidak.
Suara dokter menyentak, lampu RS menyilaukan. Amar buka mata, langit-langit putih dan bau disinfektan. Tangan kanannya di genggam hangat. Dimonitor jantung ,naik-turun .stabil.
Amar ingin bergerak namun pelipis nya nyut-nyutan. Pandangannya ke arah kelender. Seketika dia sadar sudah 2 hari ternyata dia tidak sadarkan diri.
Lilah..." Suaranya serak.
Lilah langsung terbangun, matanya sembab, tetapi dia tersenyum. Senyum pertama yang Amar lihat tanpa tembok dingin.
"Kamu gila ya mas. udah pensiun masih naik ring". Lilah nyodorin gelas air. Amar minum seteguk. "Lil..RS desa sudah mau tutup. butuh 2M, aku GK bisa tinggal diam."
Lilah diam. Dia ambil waslap sambil kompres pelipis Amar pelan. Dan dia menyadari bahwa lelaki yang bersamanya berbeda dengan Ayahnya. Benih Cinta mulai tumbuh dihatinya, ayahnya gunakan tangan untuk bertinju di ring dan dirumah. Amar menggunakan tangannya untuk bertinju dan menolong orang.
"Kenapa kamu yang pertama nyamperin aku Lil..? Tanya Arga dengan pelan sambil tersenyum.
Lilah tidak menjawab dia merasa malu dia malah menutup mata Arga pake telapak tangannya. "Udah kamu istirahat saja mas, tidak usah banyak ngomong dulu. Karna kata dokter Pukulan K.O itu bisa bikin otak istirahat.
Amar menutup mata tapi tidak bisa tidur. Dikepalanya mutar lagi suara coach Dimas di Corner. " Ini fight terakhir kamu Mar.Menang atau pensiun".
Dia merasa bersalah dan ingat keadaan di desa, tetapi hal yang tak dia duga bisa dekat dengan Lilah meskipun dia belom tau diterima atau ditolak.
Dia buka mata lagi. Tapi Lilah terlihat sedang merem sambil komat-kamit seperti berdoa.
Amar merem lagi. tapi kali ini bukan karena K.O, tapi karna pada akhirnya setelah selama ini dia berantam di ring, dia menemukan lawan yang bikin dia rela menurunkan tangan yaitu Lilah si penjual jamu .
Dan Lilah yang selama bertahun-tahun takut sama tangan laki-laki, Akhirnya mau pegang tangan laki-laki tanpa rasa takut dan khawatir.
Daftar bab
36 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








