Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Cincin Hitam Pengendali Gairah

Cincin Hitam Pengendali Gairah

Scorpio love | Bersambung
Jumlah kata
114.2K
Popular
1.2K
Subscribe
240
Novel / Cincin Hitam Pengendali Gairah
Cincin Hitam Pengendali Gairah

Cincin Hitam Pengendali Gairah

Scorpio love| Bersambung
Jumlah Kata
114.2K
Popular
1.2K
Subscribe
240
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalPria Dominan21+Supernatural
Dikhianati saat berada di titik terendah adalah kehancuran, namun bagi Afrian, itu adalah awal dari takdir baru. Di saat sang istri, Ratna, diam-diam berselingkuh dengan bosnya demi harta, Afrian justru mendapatkan warisan kuno berupa cincin hitam misterius yang mengubah auranya menjadi pria alfa yang sangat dominan. Transformasi dingin Afrian memikat para wanita berkuasa, mulai dari Cecilia, janda kaya pemilik megaproyek, hingga Bu Widya, sang Direktur Utama. Tanpa perlu mengotori tangan, Afrian merebut kendali bisnis dan memperluas jaring kekuasaannya. Namun, takdir membawanya ke meja negosiasi yang sama dengan selingkuhan istrinya. Pembalasan dendam yang elegan dan dingin dari seorang pria pecundang yang kini menjelma menjadi predator sejati!
BAB 1: Retaknya Sang Tiang Rumah Tangga

Napas Afrian Adiputra terasa berat, seberat udara malam yang mengepung teras rumah kontrakannya yang sempit.

Di luar, suara jangkrik bersahutan dengan deru samar kendaraan dari jalan raya, namun di kepala Afrian, hanya ada keheningan yang mendengung menyakitkan.

Di tangannya, sebuah ponsel dengan layar yang sedikit retak di bagian sudut menyala, memantulkan cahaya putih yang pucat ke wajahnya yang kuyu.

​Afrian menggeser layarnya ke bawah. Aplikasi surat elektronik terbuka, menampilkan barisan pesan dengan subjek yang hampir seragam: “Lamaran Pekerjaan – Afrian Adiputra”.

Ketika ia mengetuk salah satu pesan teratas yang baru masuk sore tadi, kalimat yang sudah sangat dihafalnya kembali menyapa netra.

​"Terima kasih atas ketertarikan Anda pada perusahaan kami. Setelah meninjau kualifikasi Anda, dengan menyesal kami menginformasikan bahwa saat ini kami belum dapat melanjutkan proses lamaran Anda ke tahap berikutnya..."

​Afrian mengembuskan napas panjang, lalu melempar ponselnya ke atas meja kayu tripleks yang catnya sudah mengelupas. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi plastik, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut.

​Dua bulan.

Sudah dua bulan penuh ia menyandang status sebagai pengangguran. Perusahaan manufaktur tempat ia bekerja selama lima tahun terakhir gulung tikar secara mendadak, menyisakan uang pesangon yang tidak seberapa dan langsung amblas untuk membayar utang serta biaya hidup bulanan.

Di usianya yang baru menginjak 27 tahun—usia di mana seorang pria seharusnya sedang gagah-gagahnya membangun fondasi masa depan—Afrian justru merasa seperti rongsokan yang tidak berguna.

Setiap hari yang dilaluinya terasa seperti siksaan terselubung. Menjadi penonton dalam rumah tangganya sendiri, melihat tabungannya menyentuh angka nol, dan yang paling mengiris harga dirinya: melihat istrinya berjuang sendirian menjadi tulang punggung.

Suara raungan mesin motor matic yang melambat di depan rumah mengejutkan Afrian dari lamunannya. Sorot lampu depan motor itu menembus celah pagar besi, membiaskan cahaya terang ke arah teras. Afrian tahu persis suara itu.

​Itu adalah motor matic warna merah milik istrinya.

​Afrian bangkit berdiri, melangkah lesu untuk membukakan pagar. Di balik pagar, Ratna Permatasari sedang menuntun motor matic merahnya masuk ke halaman rumah yang sempit.

Detik itu juga, dada Afrian kembali didera rasa sesak yang hebat. Kontras antara dirinya dan sang istri terlalu nyata.

​Bahkan dalam kondisi selelah ini, setelah bertarung melawan debu jalanan dan kemacetan kota dengan motornya, Ratna tetap terlihat sangat cantik.

Istrinya yang berusia 26 tahun itu tampak seksi sekaligus anggun mengenakan seragam kantor dari perusahaan elektronik multinasional tempatnya bekerja sebagai staf administrasi senior.

Kemeja kerja berwarna biru muda berlogo perusahaan di dada kiri mencetak jelas lekuk dadanya yang sintal, sedikit basah oleh keringat tipis di bagian leher.

​Ratna menyetandarkan tengah sepeda motor matic merahnya dengan sekali sentakan kaki, gerakan yang membuat rok span hitam sebatas lututnya sedikit terangkat, memperlihatkan betis dan sebagian paha kencangnya yang mulus.

Ia melepaskan helm tiruan bersertifikat yang menjepit rambut hitam sebahunya, membuat rambut itu terurai sedikit acak-acakan namun justru menambah kesan sensual yang alami.

Sisa-sisa riasan tipis masih menempel di wajahnya yang tirus, menonjolkan bibir ranum yang kini terkatung rapat, menyiratkan keletihan yang luar biasa.

​Melihat kecantikan istrinya yang begitu mencolok di atas motor matic merah yang kontras, alih-alih merasa bangga, Afrian justru merasa kerdil.

Ratna adalah wanita yang berjuang, mandiri, dan bergerak menembus kerasnya kota. Sementara dirinya? Hanya seorang pria yang duduk di teras dengan kaus oblong usang dan celana pendek, tidak menghasilkan sepeser pun uang.

​"Baru pulang, Yang? Macet banget ya di jalan?" sapa Afrian, berusaha melembutkan suaranya seolah semua baik-baik saja.

Ia melangkah mendekat, mengulurkan tangan untuk mengambil alih helm dan tas kerja yang dicantolkan di dasbor motor matic merah tersebut.

​Ratna hanya bergumam pelan, hampir tak terdengar. Ia menghindari tatapan mata Afrian saat menyerahkan helmnya.

Ratna menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menunggu suaminya.

​"Katrina sudah tidur?" tanya Ratna datar sambil berjalan menuju dapur, melepaskan jaket parasit yang tadi melindunginya dari angin jalanan.

​"Sudah, sekitar jam delapan tadi setelah minum susu," jawab Afrian, mengekor di belakang istrinya setelah meletakkan helm di rak luar.

​Mendengar kata 'susu', langkah Ratna mendadak terhenti di depan lemari es. Ia berbalik, menatap Afrian dengan tatapan yang dingin dan menusuk.

"Susu yang mana, Mas? Bukannya kaleng yang terakhir sudah habis tadi pagi?"

​Afrian berdehem, merasa tenggorokannya mendadak kering. "Tadi... Mas beli satu kardus kecil dulu di warung depan. Pakai sisa uang bensin motor kemarin."

​Ratna memejamkan matanya sesaat, mengembuskan napas lewat hidung dengan tajam. Ketika ia membuka mata, ada kilat frustrasi yang tidak lagi bisa ia sembunyikan.

"Kardus kecil cuma cukup buat tiga hari, Mas. Katrina itu lagi masa pertumbuhan, dia enggak bisa dikurangi jatah susunya. Belum lagi besok tanggal lima. Tagihan listrik sudah lewat jatuh tempo, dan pemilik kontrakan ini tadi siang WhatsApp aku lagi. Nanyain kapan kita mau bayar sisa tunggakan bulan kemarin."

​Suara Ratna meninggi di akhir kalimat, meskipun ia berusaha menahannya agar tidak membangunkan anak perempuan mereka yang sedang mendengkur halus di kamar sebelah.

​Afrian merasa harga dirinya seperti dihempaskan ke lantai lalu diinjak-injak. Setiap kata yang keluar dari bibir indah Ratna terasa seperti tamparan yang panas.

"Mas tahu, Ratna. Mas enggak tinggal diam. Hari ini Mas sudah kirim belasan lamaran lagi. Tadi juga ada beberapa—"

​"Tapi hasilnya mana, Mas?!" potong Ratna cepat, suaranya bergetar menahan tangis sekaligus amarah yang menumpuk.

"Dua bulan aku kerja lembur sampai malam, PP naik motor kepanasan, kehujanan, kaki rasanya mau copot, cuma buat mastiin kita enggak diusir dari rumah ini! Aku capek, Mas. Aku capek setiap hari ditagih utang, sementara kamu cuma bisa bilang 'Mas tahu, Mas lagi usaha'. Usaha yang mana yang menghasilkan?!"

​Napas Ratna memburu. Kemeja birunya naik turun seiring dengan dadanya yang berombak karena emosi.

Di bawah lampu dapur yang agak remang, kecantikan Ratna yang sedang marah justru memancarkan daya pikat yang pekat, sebuah kombinasi antara kerentanan seorang istri dan ketegasan wanita yang terdesak keadaan.

Namun bagi Afrian, keindahan fisik istrinya saat ini adalah sebuah ironi yang menyakitkan.

​"Ratna, tolong tenang dulu. Kita bicarakan ini baik-baik. Mas tahu kamu lelah," Afrian mencoba melangkah maju, tangannya terulur hendak menyentuh pundak Ratna, mencoba memberikan ketenangan yang biasa ia berikan dahulu.

​Namun, sebelum jemari Afrian sempat menyentuh kain kemejanya, Ratna dengan cepat menepis tangan suaminya. "Jangan sentuh aku, Mas. Aku lagi enggak pengin didekati."

​Tangan Afrian menggantung di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya turun dengan gulai lemas. Penolakan fisik itu terasa lebih menyakitkan daripada kata-kata ketus yang diucapkan Ratna sebelumnya.

Ada dinding tak kasat mata yang tebal dan dingin yang mendadak runtuh di antara mereka berdua.

​Ratna berbalik membelakangi Afrian, menyalakan keran wastafel dan mulai membasuh wajahnya dengan kasar, mencoba membersihkan sisa debu jalanan sekaligus mendinginkan kepalanya yang terasa mau pecah.

Setelah mengeringkan wajahnya dengan tisu, tanpa menatap Afrian lagi, ia berjalan menuju meja makan kecil yang terletak di sudut ruangan.

​Di atas meja, sudah tersedia makan malam yang dimasak oleh Afrian: sepiring tempe goreng, sayur bening bayam yang sudah mendingin, dan sambal korek.

Menu yang sangat sederhana, jauh dari kata mewah, cerminan dari isi dompet mereka yang sekarat.

​Ratna menatap makanan itu dengan tatapan kosong. Tidak ada riak selera di wajahnya, hanya ada kepasrahan yang pahit. Ia menarik kursi kayu dengan bunyi berdecit yang memekakkan telinga, lalu duduk.

​Afrian mengikuti dengan diam. Ia mengambil piring, menyendokkan nasi putih ke piring istrinya, lalu ke piringnya sendiri. Ia mencoba memberikan porsi yang lebih banyak untuk Ratna, tahu bahwa istrinya membutuhkan energi setelah seharian lelah berkendara dan bekerja.

​"Makanlah dulu, nanti sakit," kata Afrian lirih.

​Ratna tidak menjawab. Ia mengambil sendok, mulai menyuapkan nasi dan sayur ke dalam mulutnya dengan gerakan mekanis.

Tidak ada pujian, tidak ada obrolan hangat seperti enam bulan yang lalu ketika kehidupan mereka masih stabil.

​Suasana di ruang makan berukuran tiga kali tiga meter itu mendadak berubah menjadi sangat mencekam.

Keheningan yang tercipta bukan lagi keheningan yang menenangkan, melainkan keheningan yang sarat akan ketegangan, seperti sebuah bom waktu yang sumbunya sudah menyala pendek dan siap meledak kapan saja.

Hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring kaca, bergantian dengan detak jam dinding yang seolah menghitung mundur kehancuran rumah tangga mereka.

​Afrian mengunyah makanannya dengan rasa yang hambar. Setiap butir nasi yang masuk ke tenggorokannya terasa seperti kerikil tajam yang menyiksa.

Ia melirik istrinya dari sudut mata. Ratna makan dengan pandangan lurus ke depan, matanya menyiratkan kelelahan batin yang amat sangat.

Pria itu tahu, istrinya tidak hanya lelah secara fisik, tapi egonya sebagai seorang wanita yang ingin dilindungi dan dinafkani sedang meronta-ronta.

​Sementara itu, di dalam dada Afrian, sebuah badai rasa bersalah, kemarahan pada nasib, dan rasa rendah diri sebagai seorang suami bergolak menjadi satu.

Ia merasa gagal menjadi kepala keluarga. Ia merasa kehilangan taringnya sebagai seorang pria di hadapan wanita yang paling dicintainya.

​Makan malam yang menyiksa itu berakhir tanpa ada satu pun kata tambahan yang terucap.

Ratna meletakkan sendoknya yang masih menyisakan sedikit nasi, lalu bangkit berdiri tanpa membersihkan piringnya—sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.

Ia berjalan lurus menuju kamar tidur utama, menutup pintunya dengan ketukan yang cukup keras, meninggalkan Afrian sendirian di meja makan yang sunyi.

​Bagian luar rumah kini menggelap, menyisakan motor matic merah yang terparkir membisu di halaman, menjadi saksi bisu awal keretakan rumah tangga mereka malam itu. Afrian menatap piring kosong di depannya. Di dalam keheningan malam yang semakin larut, ia tahu ia harus melakukan sesuatu, atau kehilangan semuanya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca