

Motor Supra tua yang Alan kemudikan melaju lambat di jalanan kota. Alan bekerja sebagai kurir pengantar makanan, setelah siangnya ia harus kuliah.
Alan membaca titik pengantaran di ponselnya, itu adalah sebuah apartemen yang ada di tengah kota.
Alan mematikan motornya dan berjalan membawa pesanan menuju gedung apartemen yang dituju, ia menaiki lift dan setelahnya keluar dari lift. Tiba di depan pintu, dia mengetuk pintu tersebut beberapa kali, hingga akhirnya kenop pintu ditarik dan pintu dibuka.
Alan yang sebelumnya sudah memasang senyuman lebar di wajahnya, langsung terdiam mematung saat melihat orang yang membukakan pintu itu adalah kekasihnya sendiri, yaitu Della. Makanan yang sebelumnya ia pegang erat, terjatuh ke lantai.
Della sendiri juga terkejut saat melihat orang yang mengantarkan makanan pesanannya ternyata adalah Alan.
"Kok bisa kamu?"
"Kamu...?" Alan melihat kembali nomor apartemen yang didatangi, ia juga mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan kalau dia tidak salah lihat. Dan ternyata orang yang ada di depannya ini memang Della, kekasihnya.
Beberapa detik mereka terpaku, seseorang dari belakang Della muncul dengan hanya menggunakan celana bokser pendek.
"Sayang, kamu sudah terima makanannya?" laki-laki itu bertanya sembari melingkarkan tangannya di pinggang Della.
Della tersentak, tapi kemudian ia tersenyum, "udah, nih," jawabnya manja. Bahkan ia merebahkan kepalanya di dada pria itu. Sengaja berbuat seperti itu di depan Alan.
Sedangkan Alan yang melihat seorang laki-laki meletakkan tangan di pinggang kekasihnya dan bersikap mesra, ia langsung mendorong laki-laki itu hingga jatuh tersungkur dan memukulnya.
"Kurang ajar! Lepaskan tanganmu dari dia! Dia pacarku!" Alan menggila. Bagaimana tidak, dia sudah menjalin hubungan dengan Della sejak mereka masih kelas 2 SMA, dan kini hubungan mereka sudah berjalan tiga tahun lebih. Alan sangat mencintai gadis itu.
Laki-laki itu terkejut saat menerima pukulan dari Alan, tapi itu hanya sesaat karena ia langsung bangkit dan balas memukul Alan dengan lebih brutal dan dibalas pukulan juga oleh Alan.
Sedangkan Della berusaha untuk memisahkan mereka, tapi dia memilih untuk mendorong Alan dan memeluk lelaki tanpa baju tersebut.
"Kamu sudah gila, Alan! Berani sekali kamu memukulnya!" Della berteriak marah.
Alan terkejut dengan reaksi Della. "Kamu yang sudah gila, Della! Kamu itu pacarku, kenapa kamu bisa ada di sini bersama laki-laki ini? Apa yang kalian lakukan?!" Alan berteriak marah, seluruh wajahnya kini sudah merah karena amarah. Terlebih saat ia melihat Della yang hanya menggunakan pakaian tidur seksi dan beberapa bekas merah di lehernya.
Melihat Alan yang tampak marah, Della kemudian tersenyum sinis.
"Aku mau ngapain disini, apa urusannya sama kamu? Hah?"
"Della, kamu itu pacarku! Apa yang kamu lakukan sama laki-laki ini? Kamu selingkuh?"
"Ohh ... Jadi kamu laki-laki miskin yang diceritakan Della?" Laki-laki tanpa baju itu memandang Alan dengan remeh. Ia memandangi Alan dari atas sampai bawah. Dari matanya, terlihat sekali kalau dia sedang menghina Alan.
"Emang pantas kamu ditinggalin Della. Bentukan kayak gini, ngaku-ngaku jadi pacarnya! Mending kamu ngaca sekarang, biar sadar seberapa jauh kamu dibanding aku!"
Mendengar pria itu menghina Alan, Della malah tersenyum sinis. Dimatanya, Alan benar-benar seperti seekor lalat yang kotor dan menjijikan.
"Sadar diri, sana! Dasar miskin! Kalau bukan karena kamu berguna untuk membantuku mengerjakan tugas, ogah aku pacaran sama kamu!"
Della memalingkan wajahnya, malas menatap Alan.
"Apa maksudmu?"
"Apa lagi? Aku bilang, aku pacaran sama kamu karena butuh kamu untuk mengerjakan semua tugas-tugasku! Kalau gak, mana mungkin aku mau sama laki-laki kere miskin kayak kamu!"
"Della!" Alan berteriak marah. Tak ada kata-kata lain yang keluar dari mulutnya. Rasa sakit yang dirasakannya berkali lipat menusuk hatinya.
"Mau apa, kamu?" Della bersidekap tangan memandang Alan jijik.
"Sana pergi! Kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Kita putus! Muak sekali aku, harus pacaran sama laki-laki miskin kayak kamu!"
Mendengar Della berbicara menghina Alan, laki-laki selingkuhan Della memandang Alan dengan wajah songong.
"Sana pergi!" pria itu mengusir Alan, dan kemudian menendang Alan hingga jatuh tersungkur. Setelahnya ia mengambil makanan pesanannya, dan menutup pintu dengan kasar.
Alan yang terjatuh di lantai merasakan sesak di dadanya. Dia memandang lemah pintu kamar apartemen yang sudah tertutup itu. Tak pernah ada dalam pikirannya, kalau hari ini dia akan melihat wanita yang sangat dicintainya akan berselingkuh dengan laki-laki lain.
Bukan hanya menyelingkuhinya, bahkan mengatainya dan memandangnya dengan jijik.
Padahal, selama tiga tahun mereka bersama, Alan selalu menuruti semua kemauan Della. Apapun yang diminta oleh gadis itu, dia selalu berusaha untuk mewujudkannya walaupun harus bersusah payah.
Tapi yang dia dapatkan hanyalah sebuah penghianatan.
Dengan langkah lunglai, Alan berjalan menuju lift. Setelah keluar dari gedung apartemen itu, Alan mengemudikan motor supranya dengan pelan. Baru beberapa puluh meter ia keluar dari kawasan apartemen itu, empat orang laki-laki bertubuh besar menghadang motornya.
Alan yang terkejut langsung jatuh tersungkur bersama motornya. Dan tanpa ba bi bu, empat laki-laki itu memukuli Alan dengan brutal. Alan yang kalah tenaga dan kalah jumlah langsung terkapar tak berdaya dengan tubuh yang penuh darah. Setelahnya, Alan tak sadarkan diri.
Saat membuka matanya, Alan mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit. Dengan tubuh penuh luka, Alan berusaha untuk duduk. Dan pandangan matanya tertuju pada punggung renta yang sedang tertidur di samping ranjangnya.
Mata Alan langsung terasa perih. Dengan gerakan pelan, Alan mengusap rambut yang sudah memutih itu.
"Uwak?"
Mendengar seseorang memanggilnya, orang yang Alan panggil Uwak itu kemudian bangun. Dengan wajah cemas, dia langsung menanyakan kondisi Alan dengan mata tuanya yang sudah rabun.
"Kamu ndak apa-apa, toh Lan? Kenapa bisa begini?"
"Alan ndak apa-apa, Uwak. Cuma kecelakaan kecil aja," jawab Alan dengan nada pelan. Ia menggenggam tangan uwaknya dan tersenyum tipis.
Alan tidak mungkin mengatakan pada uwaknya kalau dia dikeroyok oleh empat orang laki-laki yang mungkin dikirim oleh Della dan selingkuhannya.
Alan meratapi nasibnya sendiri. Kenapa ia harus bernasib seperti ini? Dan apa salahnya hingga dia diperlakukan seperti ini oleh orang yang dia cintai.
Tepat ketika Alan berpikir, tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan sangat sakit.
Lalu, suara yang jernih dan tegas terdengar di dalam kepalanya.
'Sistem Pengubah Takdir berhasil diaktifkan!'
'Sedang menghubungkan dengan Host!'
'Sistem Pengubah Takdir berhasil terhubung dengan Host!'
'Selamat terhubung dengan sistem, Alan!'
Alan mengira ia sedang berhalusinasi. Kemudian ia menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari sumber suara. Tapi ia melihat Uwaknya sedang diam, seperti tidak mendengarkan apapun.
"Host tidak sedang berhalusinasi!'
'Sekarang host adalah orang terpilih yang bisa mengubah takdir.'
'Host akan menjadi pria paling kaya dan berkuasa di dunia!"