Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pusaka Lembah Kemuning dan Benteng Teratai

Pusaka Lembah Kemuning dan Benteng Teratai

Lou Sebimelik | Bersambung
Jumlah kata
27.3K
Popular
100
Subscribe
3
Novel / Pusaka Lembah Kemuning dan Benteng Teratai
Pusaka Lembah Kemuning dan Benteng Teratai

Pusaka Lembah Kemuning dan Benteng Teratai

Lou Sebimelik| Bersambung
Jumlah Kata
27.3K
Popular
100
Subscribe
3
Sinopsis
FantasiFantasi TimurPedangDunia GaibPendekar
Sebuah titah sadis memaksa Senapati Aryandaru mengotori pedangnya: habisi seluruh anak laki-laki di perbatasan Desa Watu Keling. Namun, di tengah kebimbangan, ia justru menemukan Galih, seorang bocah buronan yang menyimpan rahasia besar dari kerajaan masa lalu di Benteng Teratai. Galih bukanlah target biasa. Ia diburu untuk sebuah ritual misterius oleh Kelompok Pemberontak Gandari, yang dipimpin oleh sahabat masa kecil Arya sendiri. Diadang oleh masa lalu dan pedang haus darah, Aryandaru kini berdiri di persimpangan. Haruskah ia menjadi pembunuh berdarah dingin demi kesetiaan pada Gusti Adipati, atau memilih jalan pengkhianatan demi melindungi seorang bocah dari sabetan pedang sahabatnya sendiri?
Titah Sri Maharaja

Seorang panglima perang, Aryandaru, diberi titah untuk membunuh anak-anak di perbatasan Desa Watu Keling. Hanya anak laki-laki, begitu perintah Gusti Adipati.

Tentu saja Aryandaru tidak menerima perintah itu begitu saja. Ia tidak habis pikir, bagaimana mungkin anak-anak tidak bersalah di penghujung batas desa harus ia habisi semua. Ia tak sanggup menatap bola mata polos mereka yang ketakutan memandangi bilah pedangnya yang tajam. Anak-anak itu tidak bersalah.

"Kamu harus membunuh satu per satu anak lelaki di sana sebelum malapetaka datang ke Watu Keling."

Aryandaru terbelalak. "Tapi, kenapa harus anak-anak, Gusti Adipati? Apa salah mereka?"

Gusti Adipati tidak berkata apa-apa. Ia hanya memicingkan mata ke arah Aryandaru, tampak tidak mau ditentang.

"Baiklah kalau begitu. Hamba akan melaksanakan perintah Gusti," ucap Aryandaru terpaksa.

Sudah seminggu sejak perintah itu diberikan kepadanya, ia masih bimbang. Di sudut benteng pertahanan Watu Keling, Arya tengah berjaga dari serangan pemberontak Kelompok Gandari.

Sambil menyarungkan pedang ke dalam warangkanya, Arya lalu duduk bersila. Ia memandang langit yang mulai kelabu. Sebentar lagi hujan, pikirnya.

Dari balik semak-semak di pos penjagaan benteng, ia mendengar gemerisik.

"Siapa itu?" tanyanya parau.

Aryandaru segera bangkit sambil mencabut pedang klewang tajam miliknya, mengarahkan ujungnya ke semak belukar.

Tanpa ia sangka, seorang bocah laki-laki kecil mendongakkan kepala ke arahnya.

"Hei, siapa kamu, Bocah? Kenapa kamu bersembunyi di situ?" Aryandaru tidak begitu saja menurunkan ujung pedangnya. Ia masih memicingkan mata sambil mengarahkan mata kelewangnya yang tajam ke arah bocah itu.

Tidak ada yang tahu kalau bocah itu bisa saja berubah menjadi siluman, sama seperti yang terjadi seminggu lalu. Aryandaru diserang siluman monyet putih di pintu biliknya sendiri.

"Kalau kau ingin berubah wujud dan ingin membunuhku, lekaslah perlihatkan rupa aslimu!" tantang Aryandaru sambil melotot. "Jangan tunggu sampai kesabaranku habis, karena aku bukan orang yang suka main-main."

Sepasang bola mata jernih mengerjap ke arah Aryandaru. Hitam pupilnya membesar karena ketakutan, bibirnya gemetar, pipi sawo matangnya yang kurus ikut berkedut-kedut.

Aryandaru pelan-pelan menurunkan mata tajam pedang miliknya. "Hei, siapa kamu?"

"Na-namaku Galih, Senapati Aryandaru."

Masih waspada, Aryandaru memindai kehadiran bocah bernama Galih itu dengan tatapan menyelidik. Ia berjalan mengelilingi tubuh bocah itu, yang meskipun bersih, tampak amat kurus kurang gizi.

"Kenapa kamu ada di sini? Ini daerah rawan, di mana orang tuamu?"

Ujung telunjuk Galih gemetar, ia menunjuk ke arah utara. "Aku kabur dari orang-orang yang hendak menculikku."

Aryandaru lekas menoleh ke arah yang ditunjuk. Alas Larangan, hutan angker yang diyakini oleh masyarakat di Desa Watu Keling menyimpan kekuatan dedemit dan siluman. Konon, para pendekar yang ingin menyempurnakan kanuragannya bertapa ke hutan itu.

"Kenapa kamu dibawa ke sana?" Kembali Arya mengawasi Galih, ia menginterogasi bocah itu dengan penuh selidik. "Berapa umurmu, hei, Bocah?"

"U-siaku sepuluh tahun minggu lalu, menuju usia sebelas. Mereka membutuhkanku untuk Ritual Ruwatan Agung." Galih bicara lebih keras dari sebelumnya. Ia memberanikan diri menjelaskan siapa dirinya, meskipun takut. "A-aku mendengar penculik itu menyebut namamu... Senapati Aryandaru."

"Hah? Kenapa? Kenapa mereka menyebutkan namaku?" Suara Aryandaru naik beberapa nada. Meskipun ia tidak tega melihat bocah laki-laki itu, ia kemudian teringat akan perintah Gusti Adipati agar seluruh bocah lelaki di Watu Keling dibunuh lewat pedang miliknya.

Galih menggeleng. "Aku tidak tahu."

"Apakah orang-orang itu menyebut diri mereka Kelompok Ki Sura?"

Galih lekas mendongak; ia mengangguk mantap tanpa berucap apa-apa.

Kini Aryandaru paham siapa yang sudah menculik Galih. Akan tetapi, ia masih bingung, kenapa pemberontakan yang tadinya menentang kehendak Gusti Adipati justru menculik bocah ini. Seharusnya, para pemberontak mencegah pembantaian besar-besaran anak lelaki di Desa Watu Keling yang dilakukan oleh para prajurit kadipaten seperti dirinya. Ia mulai merasa bimbang. Apalagi menatap wajah Galih yang polos, ia tak sanggup untuk membunuh bocah tak berdosa itu.

"Paman Aryandaru, kenapa Paman diam?"

Panggilan "Paman" yang diucapkan Galih membuat Aryandaru lekas menoleh menatap wajah bocah lugu itu. Ia lalu menggeleng, hatinya makin bimbang. "Kamu... kamu tinggal di mana, hei, Bocah?"

Galih menunduk, ia memainkan jemarinya. "Aku tinggal jauh dari sini. Kemarin waktu mereka membawaku, sepertinya aku menghabiskan waktu berhari-hari hingga sampai kemari."

"Di mana itu?"

"Aku tinggal di Benteng Teratai," ucap Galih dengan suara gemetar.

"A-apa? Benteng Teratai?" Bola mata Aryandaru membulat, suaranya parau. Ia tidak mengerti kenapa bocah ceking itu bisa berada di Watu Keling, karena Benteng Teratai berada ratusan pal jauhnya. Benteng itu adalah tempat singgasana kerajaan lama berada.

Apakah bocah ini bukan bocah sembarangan? Apakah ia keturunan Sri Maharaja Dewasurya?

Raut bimbang dan kalut di wajah Aryandaru membuat Galih makin bingung. "Paman... apakah Paman Aryandaru tahu sesuatu tentang Benteng Teratai?"

Arya kembali mendongak. "Kenapa kamu terus memanggilku Paman??"

Galih menunduk takut-takut. "Penculik yang bernama Gandari itu, sepertinya ia ketua kelompoknya. I-ia... ia terus menerus menyebut namamu, Senapati Aryandaru."

Aryandaru terkejut. Pikirannya melayang kepada perempuan itu, wajah cantik dengan luka goresan pedang miliknya, telah melukai pipi perempuan itu. Gandari, ketua pemberontak dari Watu Keling. Ia mengenal perempuan itu sejak masih kecil, mereka tumbuh besar bersama, hingga kepahitan hidup memisahkan keduanya.

Kini Gandari dan Aryandaru berhadapan sebagai musuh bebuyutan dalam peperangan yang dipicu oleh politik penguasa baru.

Aryandaru membalikkan badan; ia lekas mengenakan caping bambu lebar yang biasa digunakan oleh para pengembara dan pendekar ketika melakukan perjalanan. Aryandaru hendak meninggalkan Galih di sana. Ia tidak mau terlibat kemelut yang lebih luas lagi dengan Kelompok Gandari. Baginya, sudah cukup cerita pahit di masa lalu yang kerap membuatnya bermimpi buruk.

Sambil berjalan cepat, Aryandaru menapaki kembali tanah gersang meninggalkan pos penjagaan Watu Keling. Ia hendak berjalan menuju arah selatan. Beberapa langkah dari posisinya, ia mendengar langkah-langkah kecil mengikutinya.

"Hei, kenapa kamu mengikutiku?"

Galih, yang berada tidak jauh dari Aryandaru, lekas menghentikan langkahnya. Ia meringis; antara ketakutan dan rasa penasaran terpancar di wajahnya.

"Kamu lekas pulang sana! Sebelum pemberontak itu menemukanmu, atau lebih gawat lagi, sebelum prajurit Kadipaten menemukanmu dan memenggalmu!" ucap Aryandaru kasar.

Galih ketakutan. Ia menggeleng sambil mengepalkan tangan, bahunya gemetaran. "Kenapa orang-orang ingin membunuhku, Paman?"

Tanpa menggubris ucapan Galih, Aryandaru kembali berjalan melewati semak bunga kemuning liar. Langkahnya semakin lebar.

Di belakang Aryandaru, Galih berlari lebih kencang. Ia tidak ingin ditinggalkan begitu saja oleh orang yang ia anggap sanggup membantunya. Ia tidak ingin pulang; ia tahu marabahaya apa yang tengah menunggunya di rumah.

"Hei, Senapati!"

Dari atas benteng bata merah yang memanjang, beberapa orang tengah berdiri sambil menghunus golok dan pedang mereka ke arah Aryandaru.

Aryanadaru lekas-lekas memasang kuda-kuda pencak silat, bersiaga menghadapi lawan. Ia menggenggam erat gagang pedangnya yang berlapis tanduk kerbau berukir. "Hei, kalian pemberontak! Jangan menghalangi langkahku!"

"Ha-ha-ha, wahai Senapati Arya, lama nian kita tak bersua!" Suara parau seorang perempuan terbahak dari atas dahan beringin. Wajahnya tidak kelihatan karena bayangan caping menutupi wajahnya.

Gandari... bisik Aryandaru dalam batinnya. Haruskah ia menghunuskan pedang tajam miliknya ke leher Gandari kali ini, seperti yang pernah ia lakukan bertahun-tahun lalu hingga melukai pipi perempuan cantik itu?

"Serahkan bocah itu kepadaku, Arya! Atau aku terpaksa harus mencabut nyawamu." Seorang perempuan dengan selendang yang mengikat rambut panjangnya melompat dengan mulus persis di hadapan Aryandaru. Wajahnya ayu, tetapi ia tersenyum dengan bengis. "Kali ini, pedangku haus akan darah dari tampanmu itu."

Ada sensasi aneh memenuhi dada Aryandaru. Haruskah ia melukai sahabat masa kecilnya kembali? Aryandaru lekas melirik Galih yang kini berada di belakangnya. Bocah itu memohon perlindungan darinya; wajahnya pucat.

Lanjut membaca
Lanjut membaca