
Jalan Menuju Legenda
Rahmat Kurniawan|Bersambung
- Jumlah kata
- 112.3K
- Popular
- 139
- Subscribe
- 49
- Jumlah kata
- 112.3K
- Popular
- 139
- Subscribe
- 49
Sinopsis
Setahun lalu, Panji kehilangan segalanya. Desanya terbakar, ibunya tewas, dan sejak saat itu ia hidup sebagai pemuda cacat tanpa bakat bela diri, dianggap sampah oleh orang-orang yang bahkan tak menganggapnya bagian dari keluarga sendiri. Hingga sebuah pertemuan tak terduga membawanya memasuki dunia para pendekar. Di sanalah Panji memulai perjalanan berdarah: menghancurkan siapa pun yang berani menghalangi jalannya menuju puncak. "Bahkan jika dewa menghalangiku, maka dewa pun akan kubunuh!"
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Ch. 1 ~ Panji
Menjadi pemuda tanpa bakat bela diri adalah hal lumrah bagi mereka yang hidup di kalangan bawah Suku Pengangkut, Namun berbeda nasib jika pemuda itu merupakan anak angkat sang kepala suku.
Panji adalah seorang pemuda tanpa identitas yang hidupnya tidak lantas membaik saat menjadi anak angkat dari kepala Suku Pengangkut.
Persis setahun lalu tanah kelahirannya menjadi lautan api oleh serangan sebuah organisasi pembunuh. Dia yang saat itu sempat meninggalkan desa untuk bermain dengan anak kepala Suku Pengangkut menjadi sangat gila ketika kembali.
Langkahnya dipacu cepat, berkejar dengan nyala api yang kian merambat, melahap habis gubuk sederhana yang terletak di ujung desa, yang menjadi tempat tinggalnya selama ini.
Sayangnya, ketika Panji tiba, bangunan itu telah berubah menjadi rumah api. Atapnya mulai runtuh dan asap hitam memenuhi udara.
Mustahil menyelamatkan siapapun yang masih terjebak di dalam.
"Saudara Panji. Jangan ke sana... Bahaya!" Bai memperingatinya ketika Panji hendak berlari masuk.
"Ibu... Ibuku masih di dalam!"
Panji menepis kasar tangan Bai yang mencoba menahannya. Pikirannya telah kacau dari tadi, jantungnya berdetak semakin kencang.
Dan ketika Bai kembali mencoba menghentikannya, sebuah pukulan telak melayang ke wajah pemuda itu.
"MENYINGKIR!"
Panji mendorong Bai hingga terjatuh, lalu berlari memasuki bangunan yang terbakar.
Bai membeku, selama ini tidak pernah sedikitpun Panji berani bertindak demikian padanya terlepas dari statusnya sebagai anak kepala suku Pengangkut. Meskipun dia sadar situasi dan mencoba memakluminya, namun hatinya tidak bisa berbohong bahwa dirinya cukup tersinggung.
"Saudara, jangan..."
Bai bangkit dan mengejar.
Namun dia terlambat.
Bai hanya mampu berdiri dengan wajah tegang persis beberapa meter dari bangunan tersebut. Pandangannya menatap lurus ke arah pintu masuk bangunan yang hampir rubuh oleh api yang kian mengganas itu. Rasa khawatir yang teramat sangat membuatnya tidak bisa berdiri tenang.
Selang beberapa menit menunggu dengan penuh kekhawatiran, tampak pula sosok Panji yang tak mengenakan baju tengah menggendong seorang wanita yang kondisinya setengah terbakar.
"Saudara!"
Raut wajah Bai berubah cerah. Dia segera berlari menghampiri Panji. Namun laki-laki yang di hampirinya itu mendadak ambruk ke tanah dan tak sadarkan diri. Lebih parahnya, bagian kedua kaki Panji tampak terbakar, masih ada sisa asap yang membawa serta bau daging hampir mentah.
Kejadian itu telah terjadi selama setahun lalu. Sore itu, Panji merenung sembari menatap kosong ke arah kakinya yang disangga oleh papan kayu.
"Saudara, cepat. Ayah akan segera bertarung!"
Suara seorang pemuda membuyarkan lamunan Panji. Dia segera bangkit, lalu berjalan mengikuti Bai menuju arena pertarungan umum. Langkahnya masih tertatih, kalau bukan karena papan kayu itu yang membantu menguatkan kakinya, mungkin mereka akan tiba di lokasi setelah pertarungan berakhir.
Di sana telah berkumpul banyak orang yang ingin menyaksikan tradisi pertarungan hidup dan mati antar kepala suku.
Panji dan Bai berada di posisi barisan suku Pengangkut, menerobos keramaian hingga sampai di bagian terdepan, menyaksikan pertarungan tersebut persis di samping panggung.
"Ayahh semangat."
"Ayah angkat pasti menang!"
Keduanya berteriak lantang memberi semangat pada pria berbadan besar yang berdiri gagah di atas arena itu.
Pertarungan telah berlangsung beberapa menit yang lalu. Tampak kepala suku Pengangkut mendominasi jalannya pertarungan.
Kepala Suku Batu baru saja terdorong cukup jauh dan hampir keluar arena.
Merasa dirinya tidak akan bisa menang dari kepala suku Pengangkut membuatnya berinsiatif mengeluarkan senjata yang menjadi kebanggaannya selama ini.
Sebuah kapak batu besar muncul dari ruang hampa, menghantam panggung dan menciptakan keretakkan yang cukup besar.
"Aku ingin melihat bagaimana kau bisa menahan kapakku ini!"
Kepala Suku Batu lalu menarik kapak berat itu dengan enteng, maju menyerang dengan menggunakan jurus kapak terbaiknya.
"Bagus, sudah lama aku ingin merasakan kehebatan dari kapak batumu!"
Kepala Suku Pengangkut mengeratkan semua ototnya, Tenaga dalam mengalir deras di sepanjang lengannya lalu mulai menyambut kapak batu yang kini melesat cepat ke arahnya.
Tiap ayunan kapak yang dilakukan tampak sangat berat namun cepat, kepala Suku Batu bahkan tidak kesusahan sama sekali mengendalikan arah laju kapaknya. Kekuatannya jelas meningkat dengan bantuan kapak tersebut.
Benturan demi benturan membuat panggung terus retak. Debu beterbangan ke segala arah, sementara sorak penonton perlahan berubah menjadi keheningan. Bahkan beberapa anggota Suku Pengangkut mulai mengepalkan tangan karena khawatir.
"Masih terlalu lemah."
Persis dengan berakhirnya perkataan itu, kepala suku Pengangkut menambah pasokan tenaga dalam pada kepalan tangannya lalu mengarahkan tinjunya pada kapak batu yang saat itu datang ke arahnya.
Krakk..
Kapak itu retak sebelum hancur berkeping-keping. Kepala Suku Batu melebarkan matanya, dia ingin mengumpat, namun terlambat ketika tangan kekar telah mengangkatnya lalu membanting tubuhnya dengan keras.
Panggung benar-benar dibuat hancur oleh hantaman itu.
Kepala Suku Pengangkut menatap lawannya yang terbaring lemas. Sebelum melancarkan serangan terakhirnya.
"Maafkan aku Saudaraku!" Tangannya yang telah mengeluarkan api panas itu diarahkan untuk membakar Kepala Suku Batu.
Api itu sangat panas, hingga hanya butuh waktu satu menit sebelum tubuh Kepala Suku Batu berubah menjadi abu hitam sepenuhnya.
Kekalahan Kepala Suku Batu membuat anggota suku Batu menjadi kecewa berat. Sebaliknya anggota Suku Pengangkut bersorak penuh kemenangan.
"Kepala Suku Pengangkut kuatt, Suku Pengangkut tak terkalahkan!"
Mereka beramai memuji kepala suku Pengangkut dan berlari ke arah panggung. Tidak hanya itu mereka bahkan tidak segan mengangkat Bai dan menyorakinya sebagai pemuda jenius.
Di sisi lain, Panji bahkan tidak dianggap kehadirannya. Beberapa orang dengan sengaja menabrak pemuda itu hingga terjatuh. Yang lainnya ikut menginjaknya seolah benar-benar tidak melihat keberadaannya. Hingga persis semuanya telah berada di atas panggung sembari bersorak gembira, tersisa Panji seorang yang masih dalam keadaan terbaring di atas tanah yang becek, seluruh tubuhnya kotor namun hampir tidak ada yang peduli.
"Saudara!" Bai yang melihat itu merasa tidak tega, namun dia juga tidak bisa berbuat banyak. Tubuhnya masih terangkat, beberapa orang melemparnya ringan ke atas sembari masih memujinya sebagai jenius kebanggan sekaligus keturunan kepala suku yang hebat.
"Sesuai hukum panggung Duel Hidup dan Mati, anggota suku Batu akan menjadi bagian ari Suku Pengangkut mulai dari detik ini!" Kepala suku Pengangkut berucap lantang. Suaranya sempat menghentikan sorakan, namun kembali berlanjut bahkan lebih heboh ketika dia menghentikan kalimatnya.
Panji di sisi lain bangkit dengan wajah masam. Dua buah papan kayu yang menjadi penopang betisnya dipungut, lalu berjalan dengan tertatih. Perlahan menjauh dari keramaian. Dia sebenarnya mendengar teriakan Bai yang memanggilnya, namun acuh seolah tidak mendengar apa-apa.
Hidupnya selama beberapa tahun terakhir memang seperti demikian. Statusnya sebagai anak angkat kepala suku tidak lantas membuatnya dianggap oleh anggota suku Pengangkut, apalagi dirinya sama sekali tidak ada bakat dalam bela diri.
Berbeda dengan Bai yang merupakan jenius Suku Pengangkut. Di usianya yang terbilang muda, dia sudah bisa mengalahkan tiga sampai empat orang dewasa sekaligus dalam latihan tanding. Inilah yang membuatnya juga begitu disegani selain kepala suku.
Semenjak kejadian kebakaran itu, dirinya hampir lumpuh, beruntung kepala suku cukup baik memberinya perawatan serta obat untuk memulihkan kondisi kakinya. Namun hal ini justru dijadikan bahan anggota suku untuk mengolok-oloknya, menganggapnya sebagai beban sekaligus sampah yang tidak seharusnya ada, dia benar-benar dianggap benalu yang hidupnya hanya menyusahkan.
"Saudara Bai memang hebat. Aku yang tidak berguna ini memang tidak seharusnya ada di sisi saudara Bai!" Panji berjalan menjauh sembari tertunduk.
Daftar bab
95 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








