
- Jumlah kata
- 2.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
Sinopsis
ANAK TENGAH YANG TERLUPA (Allen Xavier) Allen Xavier tumbuh di rumah yang penuh orang, tapi tidak pernah benar-benar memiliki tempat. Ia bukan yang dipuji, bukan yang dibanggakan, dan perlahan juga bukan yang diperhatikan. "Allen itu ada di rumah?" "Biarkan saja, dia biasa sendiri." Kalimat seperti itu menjadi hal yang ia anggap normal. Ia tidak pernah diajak dalam kebahagiaan keluarga, tidak pernah ditanya saat jatuh, dan tidak pernah dicari saat hilang. Bahkan ketika ia terluka, yang ia dengar hanya, "Jangan lemah, kamu tidak separah itu." Hingga suatu hari, Allen berhenti berharap. Ia memilih hidup sendiri, bekerja, dan membangun ulang dirinya dari nol. Tapi ketika ia mulai berdiri, keluarga yang dulu mengabaikannya kembali datang-bukan untuk memeluk, tapi untuk menagih. "Sekarang kamu harus membayar semuanya." Dan untuk pertama kalinya, Allen menjawab pelan, "...aku bukan mesin." Sebuah kisah tentang anak yang tidak pernah dipilih, sampai akhirnya belajar memilih dirinya sendiri.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Tak Terlihat
"Uang Mama hilang. Seratus ribu."
Suara itu datar, tapi tajam.
Allen yang baru masuk rumah langsung berhenti di depan pintu. Tasnya masih di bahu.
Dia melihat Mama berdiri di ruang tengah, tangan bersedekap.
Papa duduk di sofa. Kakak dan Adik berdiri di samping.
Seolah... sidang sudah dimulai.
Allen menelan ludah.
"Kenapa lihat aku semua?" tanyanya pelan.
Mama melangkah mendekat.
"Karena cuma kamu yang belum jawab."
Allen mengernyit.
"Jawab apa, Ma?"
"Uangnya kamu ambil?"
Deg.
"Apa?" Allen langsung menggeleng. "Nggak, Ma. Aku baru pulang sekolah."
"Kakakmu dari tadi di kamar. Adikmu juga sama Mama," kata Mama cepat.
"Jadi siapa lagi?"
"Aku nggak ambil..." suara Allen mulai melemah. "Sumpah."
Papa akhirnya bicara.
"Jangan bikin Mama capek, Allen."
Allen menoleh ke arahnya.
"Aku beneran nggak tahu, Pa..."
Mama mendengus.
"Dari dulu kamu yang paling sering bikin masalah. Sekarang pura-pura nggak tahu?"
"Itu beda, Ma..." Allen mulai panik. "Ini aku beneran—"
"Jangan bohong!"
Suara itu keras. Menghentikan semuanya.
Allen diam.
Dadanya naik turun.
"Aku nggak bohong..." bisiknya.
Mama menatapnya lama.
Lalu—tanpa peringatan—
BUK!
Pukulan itu menghantam bahu Allen.
Tubuhnya langsung oleng.
"Ngaku!" bentak Mama.
Allen menahan sakit, menggigit bibir.
"Aku nggak ambil..."
BUK!
Kali ini lebih keras.
Allen jatuh terduduk di lantai.
Tangannya refleks menahan tubuh, tapi sakitnya menjalar sampai ke punggung.
Air matanya mulai jatuh.
Bukan karena dia lemah.
Tapi karena dia... lelah.
"Allen."
Suara Papa rendah.
Allen mendongak pelan.
"Kalau kamu jujur sekarang, Papa bisa bantu."
Allen menggeleng cepat, air mata masih jatuh.
"Aku nggak ambil, Pa..."
Hening.
Beberapa detik terasa lama.
Lalu Papa menghela napas.
"Keras kepala."
Satu kalimat itu cukup.
Cukup untuk menghancurkan sisa harapan Allen.
Tak ada yang membelanya.
Kakaknya diam.
Adiknya menunduk.
Dan Allen...
masih di lantai.
Sebagai yang dituduh.
Sebagai yang dipukul.
Sebagai yang tidak dipercaya.
Beberapa menit kemudian, Mama berbalik pergi.
"Kalau kamu nggak mau ngaku, terserah."
Papa ikut berdiri.
"Mulai sekarang, uang kamu pegang sendiri. Jangan harap dikasih lagi."
Langkah kaki menjauh.
Ruang itu kembali sepi.
Allen masih di sana.
Duduk di lantai.
Sendirian.
Tangannya gemetar pelan.
Dia tertawa kecil.
Aneh.
Padahal nggak ada yang lucu.
"Aku bahkan belum ngapa-ngapain..."
Suaranya serak.
Matanya menatap kosong ke depan.
"Aku bahkan belum jelasin..."
Dia menarik napas dalam.
Tapi rasanya tetap sesak.
Untuk pertama kalinya, Allen sadar satu hal:
Di rumah ini...
kebenaran tidak penting.
Yang penting hanya satu—
siapa yang paling mudah disalahkan.
Dan jawabannya...
selalu dia.
"Cepetan siap-siap! Nanti telat!"
Suara Mama terdengar sibuk dari ruang depan.
Allen yang sedang duduk di kamar menatap pintu. Alisnya sedikit mengernyit.
"Ada apa, ya...?"
Ia bangkit pelan dan keluar kamar.
Di ruang tengah, Mama sedang merapikan baju Adik.
Kakak berdiri di depan cermin, sibuk dengan rambutnya.
Papa sudah rapi, memegang kunci mobil.
Seperti... mau pergi.
"Ma..." Allen mendekat ragu. "Kita mau ke mana?"
Mama hanya melirik sekilas.
"Mau foto keluarga."
Deg.
Allen terdiam sesaat.
"Oh..." Ia mengangguk pelan. "Yaudah, aku siap-siap dulu—"
"Nggak usah."
Jawaban itu cepat. Terlalu cepat.
Langkah Allen terhenti.
"Maksudnya...?" suaranya mengecil.
Mama menghela napas, terlihat tidak sabar.
"Kamu di rumah aja."
Sunyi.
Allen menatap Mama, memastikan ia tidak salah dengar.
"Kenapa...?"
"Kamu nanya terus," kata Mama ketus. "Ini cuma sebentar. Lagian kamu nggak punya baju yang bagus."
Allen refleks menunduk, melihat kaos yang ia pakai.
Masih bersih.
Masih layak.
Tapi... tetap salah.
"Aku bisa ganti..." ucapnya pelan.
"Allen."
Kali ini Papa yang bicara.
Nada suaranya tegas, tanpa ruang untuk dibantah.
"Jangan bikin ribet."
Satu kalimat itu langsung mematikan segalanya.
"Iya, Pa..."
Mereka mulai berjalan ke pintu.
Adik melompat kecil, penuh semangat.
"Kita foto di studio, ya, Ma? Yang ada background lucu itu!"
"Iya, sayang," jawab Mama sambil tersenyum.
Kakak ikut tertawa kecil.
"Nanti aku pilih yang paling bagus."
Allen berdiri di belakang.
Tak ada yang menoleh.
Tak ada yang berkata, "ayo ikut."
Tak ada.
Sebelum keluar, Mama berhenti sebentar.
"Allen, pintu dikunci. Jangan ke mana-mana."
"Iya, Ma..."
Pintu tertutup.
Klik.
Suara kunci itu... seperti mengunci sesuatu yang lain di dalam dada Allen.
Rumah mendadak sepi.
Sangat sepi.
Allen masih berdiri di ruang tengah, di posisi yang sama.
Beberapa detik.
Beberapa menit.
Ia akhirnya duduk di sofa.
Matanya kosong menatap ke depan.
"Foto keluarga..."
Ia mengulang pelan.
Lalu tersenyum kecil.
Aneh.
"...tanpa aku."
Beberapa jam kemudian, suara mobil terdengar di depan rumah.
Allen langsung bangkit.
Refleks.
Seolah berharap
kali ini... mungkin mereka ingat.
Pintu terbuka.
Mama masuk sambil tertawa.
"Lucu banget hasilnya!"
Adik langsung berlari masuk.
"Ma, yang aku mau yang ini, ya!"
Kakak ikut membuka plastik foto.
"Ini bagus banget, Pa."
Allen berdiri di dekat meja.
"Boleh aku lihat...?" tanyanya pelan.
Tak ada yang menjawab.
Mereka terlalu sibuk.
Allen mendekat sedikit.
Dan akhirnya ia melihat.
Foto itu.
Mama.
Papa.
Kakak.
Adik.
Tersenyum.
Bahagia.
Lengkap.
...tanpa dia.
"Bagus, ya..." kata Allen pelan.
Mama hanya menjawab singkat, tanpa menoleh.
"Iya lah."
Allen mengangguk.
Pelan.
Sangat pelan.
Tangannya menggenggam ujung baju.
Ada sesuatu yang terasa sesak di dadanya.
Tapi seperti biasa—
ia menahannya.
Malamnya, foto itu sudah dipajang di ruang tamu.
Di dinding utama.
Tempat semua orang bisa melihat.
Allen berdiri di depannya.
Lama.
Sangat lama.
"Kalau ada orang datang..."
Suaranya nyaris tak terdengar.
"...mereka bakal kira aku nggak ada, ya?"
Tak ada yang menjawab.
Dan untuk pertama kalinya, Allen merasa—
dia bukan hanya tidak diajak.
Dia...
benar-benar mulai dihapus.
"Allen, jangan lupa jemput adikmu nanti."
Suara Mama terdengar dari dapur.
Allen yang lagi duduk di kursi makan mengangguk pelan.
"Iya, Ma..."
Kepalanya terasa berat sejak pagi.
Badannya juga mulai panas, tapi dia diam saja.
"Ma..." dia mencoba bicara. "Aku agak—"
"Cepetan makan, nanti telat," potong Mama tanpa melihat.
Allen berhenti.
"Iya..."
Siang hari, matahari terasa menyengat.
Allen berjalan pelan menuju sekolah adiknya.
Langkahnya lebih berat dari biasanya.
Kepalanya pusing.
Pandangan sedikit kabur.
"Bang, lama banget sih!"
Adiknya langsung mengeluh begitu keluar gerbang.
"Maaf..." jawab Allen pelan.
"Kamu kenapa sih lemes gitu?"
"Gapapa..."
Mereka berjalan pulang.
Adiknya sibuk cerita.
Allen hanya mengangguk sesekali.
Suaranya makin jauh...
seperti tenggelam.
Sampai di rumah, Allen langsung duduk di sofa.
Napasnya terasa lebih berat.
"Bang, aku mau jajan," kata Adik.
Allen mengangguk.
"Ambil aja di meja..."
Adiknya langsung pergi tanpa lihat ke arah Allen lagi.
Beberapa jam kemudian, rumah mulai ramai.
Mama dan Papa pulang.
Allen masih di sofa.
Posisinya sama.
Hanya saja sekarang... tubuhnya gemetar halus.
"Kenapa lampu belum dinyalain?" tanya Mama.
Tak ada jawaban.
"Allen!"
"Iya, Ma..." suaranya lemah.
Mama masuk ke ruang tengah.
Melihat Allen sekilas.
"Kamu kenapa tiduran terus? Malas banget sih."
Allen mencoba bangun, tapi tubuhnya goyah.
"Aku... pusing, Ma..."
Mama menghela napas.
"Minum obat sana. Jangan lebay."
"Iya..."
Allen berjalan pelan ke dapur.
Setiap langkah terasa berat.
Dia membuka lemari, mencari obat seadanya.
Tangannya sedikit gemetar saat menuang air.
Dia minum.
Berdiri sebentar.
Lalu kembali ke kamar.
Malamnya, demamnya naik.
Tubuhnya panas.
Keringat dingin keluar.
Dia meringkuk di kasur, memeluk dirinya sendiri.
Sunyi.
Hanya suara kipas angin yang berputar pelan.
"Ma..."
Suaranya lirih.
Hampir tidak terdengar.
Tak ada yang menjawab.
Di luar kamar, suara TV terdengar.
Tawa.
Obrolan.
Kehidupan berjalan seperti biasa.
Seolah... tidak ada yang sedang sakit di dalam rumah ini.
Allen membuka mata pelan.
Langit-langit kamar terlihat berputar.
Dadanya terasa sesak.
Dia mencoba meraih ponsel di sampingnya.
Tangannya lemah.
Hampir jatuh.
Dia akhirnya berhasil membuka.
Melihat kontak.
"Ma"
Jarinya berhenti.
Lama.
Sangat lama.
Lalu... dia mengunci layar kembali.
Tanpa menelpon.
"Ah... percuma..."
Senyum kecil muncul di wajahnya.
Pahit.
Dia menarik selimut lebih tinggi.
Memeluk dirinya lebih erat.
Seolah mencoba menggantikan sesuatu yang tidak pernah dia dapat.
Malam itu, Allen belajar satu hal baru:
Sakit... bukan cuma soal tubuh.
Tapi soal...
tidak ada yang peduli kamu hidup atau tidak.
Daftar bab
2 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








