
Dokter Sakti Suami CEO Cantik
Jo The Number 1|Bersambung
- Jumlah kata
- 266.8K
- Popular
- 15.8K
- Subscribe
- 665
- Jumlah kata
- 266.8K
- Popular
- 15.8K
- Subscribe
- 665
Sinopsis
Arvan Saputra hanya seorang dokter magang yang selalu dihina oleh keluarga istrinya. Setelah menyaksikan keluarganya dibantai dengan kejam, ia melarikan diri ke gunung untuk berguru pada seorang master tersembunyi dan mewarisi kekuatan mahadahsyatnya. Setelah turun gunung, ia pergi menemui istrinya, Mirana Altana, CEO cantik dan sukses. Namun, kekuatannya yang masih tersegel membuatnya dicap sebagai suami tak berguna. Kini setelah segel itu terbuka, Arvan siap bangkit dengan kekuatan dokter sakti demi melindungi istrinya dan membalas dendam pada musuh-musuhnya!
Ulasan
2 ulasan
Fithriah Arrahman
9/7/26 04:16
Permisi, izin promosi buku aku, Kak Thor...🙏 Judulnya, DIKHIANATI TUNANGAN, BANGKIT MENJADI MILIARDER DENGAN SISTEM RAHASIA Kisah seorang pria yang dikhianati oleh tunangannya, lalu bangkit dari keterpurukan setelah memperoleh sistem rahasia yang mengubah hidupnya. Makasih... 🙏
kiann'szee
20/6/26 01:49
permisi izin promosi novel baru judul = ren ashborn : dari dibuang menjadi raja harem jangan lupa mampir dijamin ga bosen 🤗
Bab 1
Di dalam kamar rawat yang sunyi, Arvan Saputra duduk bersandar di kursi sambil memejamkan mata.
Meski tampak tenang dari luar, pikirannya terus berputar. Ia dapat merasakan dengan jelas kondisi di dalam tubuhnya.
Segel yang selama ini menahan energi sejati warisan gurunya sudah semakin melemah. Jika tidak terjadi hal tak terduga, paling lambat satu hari lagi segel itu akan pulih. Saat itu, ia juga bisa mulai memurnikan energi sejati dengan lebih leluasa.
"Satu hari lagi..."
Memikirkan hal tersebut, ingatannya tanpa sadar melayang ke masa lalu.
Sepuluh tahun yang lalu, Keluarga Saputra mengalami bencana besar. Musuh bebuyutan keluarga mereka melancarkan serangan tanpa ampun. Dalam semalam, keluarga yang dahulu disegani itu dibantai hingga nyaris tidak menyisakan siapa pun.
Di tengah kobaran api dan jeritan kematian, kedua orang tuanya mempertaruhkan nyawa untuk membukakan jalan keluar baginya.
Ayahnya mendorongnya menuju lorong rahasia. "Pergi, Arvan. Jangan menoleh ke belakang. Ibu dan Ayah akan menahan mereka."
Arvan yang saat itu masih muda langsung menggeleng panik. "Tidak! Aku tidak akan pergi!"
Ibunya memeluknya erat untuk terakhir kalinya. "Kau harus hidup. Jangan sia-siakan pengorbanan kami."
Sebelum berpisah, mereka hanya meninggalkan satu pesan. "Pergilah ke Gunung Mexara. Temui orang yang telah disepakati keluarga. Hanya di sana kau bisa bertahan hidup."
Dengan membawa kebencian dan tekad untuk hidup, Arvan memulai perjalanan seorang diri. Namun perjalanan menuju Gunung Mexara jauh lebih berat daripada yang dibayangkannya.
Ketika melewati wilayah Darvanaya, ia kehabisan bekal. Berhari-hari tidak makan membuat tubuhnya nyaris roboh di pinggir jalan.
Saat itulah seseorang mengulurkan tangan. Seorang gadis bernama Mirana Altana.
Mirana berjongkok di depannya dengan wajah khawatir. "Kau baik-baik saja?"
Arvan tersenyum pahit tanpa menjawabnya.
Mirana menghela napas pelan sebelum menyerahkan sejumlah uang. "Beli sesuatu untuk dimakan. Kau terlihat seperti akan mati kelaparan."
Arvan menatapnya cukup lama. "Mengapa membantuku?"
Mirana tersenyum tipis. "Karena kau sangat membutuhkan bantuan."
Saat itu Mirana hanya menganggapnya sebagai tindakan kecil. Namun bagi Arvan, bantuan tersebut telah menyelamatkan hidupnya.
Ia menerima uang itu dengan kedua tangan. "Aku akan mengingat kebaikan ini."
Mirana hanya tersenyum dan melambaikan tangan. Berkat bantuan itulah Arvan dapat melanjutkan perjalanan dan akhirnya tiba di Gunung Mexara.
Di sana, ia diterima sebagai murid oleh seorang ahli yang hidup mengasingkan diri dari dunia. Selama bertahun-tahun berikutnya, Arvan berkultivasi dengan tekun.
Waktu berlalu dengan cepat. Hingga tiga tahun yang lalu, gurunya mencapai akhir hayat.
Di dalam gua tempat mereka tinggal, lelaki tua itu duduk dengan napas yang semakin lemah.
Arvan berlutut di hadapannya. "Guru..."
Lelaki tua itu tersenyum. "Kenapa memasang wajah seperti itu?"
"Guru masih bisa tertawa?" tanyanya heran.
"Aku sudah hidup cukup lama." Sang guru lalu berkata dengan suara perlahan, "Arvan, kau sudah mempelajari semua yang bisa kuajarkan. Tetapi seorang kultivator tidak boleh terus bersembunyi di gunung. Kau harus turun dan menempa dirimu di dunia luar."
Arvan menundukkan kepala. "Murid ingin tetap menemani Guru."
"Tidak perlu." Lelaki tua itu menggeleng. "Kehidupan dan kematian adalah bagian dari takdir. Tak seorang pun bisa menghindarinya."
Kemudian ia mengangkat tangannya. "Sekarang terimalah warisanku."
"Guru, tunggu!" Arvan langsung terkejut.
Namun semuanya sudah terlambat. Sebelum mengembuskan napas terakhir, sang guru menyalurkan seluruh kultivasi yang telah dikumpulkannya selama puluhan tahun ke dalam tubuh Arvan.
Energi sejati yang luar biasa besar langsung memenuhi meridian dan dantiannya. Namun fondasi Arvan saat itu masih belum cukup kuat untuk menanggung seluruh kekuatan tersebut.
Karena itulah, sang guru menggunakan teknik rahasia untuk menyegel sebagian besar energi sejati itu di dalam tubuhnya. "Jangan terburu-buru. Biarkan tubuhmu tumbuh terlebih dahulu. Suatu hari nanti, semua kekuatan ini akan menjadi milikmu."
Itulah kalimat terakhir yang didengar Arvan. Setelah menyelesaikan masa berkabung untuk gurunya, Arvan tidak langsung turun gunung.
Ia terlebih dahulu menghabiskan waktu untuk menstabilkan kultivasinya dan menyesuaikan diri dengan energi sejati yang diwariskan kepadanya. Baru setelah semuanya berada dalam kondisi aman, ia meninggalkan Gunung Mexara dan kembali ke dunia luar.
Tempat pertama yang ia datangi adalah Darvanaya.
Selama bertahun-tahun, ia tidak pernah melupakan bantuan yang pernah diberikan Mirana Altana ketika dirinya berada di ambang kelaparan. Karena itulah, setelah mengetahui keberadaan Keluarga Altana, ia berusaha mencari kesempatan untuk membalas kebaikan tersebut.
Melalui perantara Tuan Besar Altana, hubungan mereka perlahan berkembang. Pada akhirnya, Arvan menikahi Mirana dan resmi masuk ke dalam Keluarga Altana sebagai menantu.
"Aku akan menjaga Mirana dengan baik," janjinya di hadapan Tuan Besar Altana.
Lelaki tua itu mengangguk puas. "Aku harap kau mengingat kata-kata itu."
Setelah pernikahan, Arvan bekerja sebagai dokter magang di rumah sakit setempat. Awalnya kehidupannya berjalan cukup tenang.
Namun semua berubah setelah Tuan Besar Altana meninggal dunia. Tanpa perlindungan kepala keluarga, posisinya langsung jatuh ke titik terendah.
"Dia hanya menantu yang menumpang nama keluarga."
"Kalau bukan karena Mirana, siapa yang mengenalnya?"
"Orang seperti itu tidak pantas berada di Keluarga Altana."
Berbagai ejekan dan penghinaan terus berdatangan. Sedikit demi sedikit, ia mulai dikucilkan.
Segala kesalahan dilemparkan kepadanya dan segala prestasi diabaikan. Bahkan dalam berbagai acara keluarga, ia sering diperlakukan seolah tidak ada.
Namun selama bertahun-tahun, hanya satu orang yang selalu berdiri di sisinya.
Mirana.
Saat seseorang meremehkannya, Mirana akan berkata, "Dia suamiku."
Saat seseorang mencoba mempermalukannya, Mirana akan berdiri di depannya. "Kalau kalian punya masalah, bicaralah denganku."
Meski hubungan mereka tidak selalu berjalan mulus, wanita itu tidak pernah benar-benar meninggalkannya.
Mengingat semua itu, Arvan perlahan membuka matanya. "Sekarang giliranku melindungimu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi."
Namun tepat ketika ia sedang memikirkan berbagai cara untuk menyelamatkan sang istri, pintu kamar rawat tiba-tiba terbuka dengan keras.
BRAK!
Sosok Livina Altana masuk dengan wajah penuh amarah. Sebelum Arvan sempat bereaksi, sebuah tamparan keras sudah mendarat di wajahnya.
PLAK!
Kepalanya sedikit menoleh ke samping. Jejak merah langsung muncul di pipinya.
"Arvan!" teriak Livina dengan marah. "Bagaimana kau bisa tetap duduk santai di sini? Apakah kau tahu kondisi Kak Mirana sekarang?"
Arvan memegang pipinya bertanya, "Apa maksudmu?"
"Maksudku jelas!" Livina menunjuk hidungnya dengan kasar. "Kak Mirana dirawat di rumah sakit selama beberapa hari, tapi kau bahkan tidak muncul. Suami macam apa kau ini?"
Arvan langsung terdiam. Ia tahu betul bahwa selama beberapa hari terakhir dirinya memang terus berada di ruang konsultasi dan tidak pernah menerima kabar apa pun mengenai rawat inap Mirana.
Namun Livina tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan. "Kau benar-benar tidak berguna. Kalau bukan karena Garry Atmaja, siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada Kak Mirana? Semua biaya pengobatan ditanggung Garry. Dan semua urusan rumah sakit juga diurus Garry. Sementara kau? Kau tidak melakukan apa-apa!"
Di mata Livina saat ini, Garry Atmaja jauh lebih layak menjadi pendamping Mirana dibandingkan Arvan. Karena itu, tanpa ragu ia terus memuji Garry di depan Arvan.
Ia kembali berkata, "Setidaknya Garry tahu bagaimana cara bertanggung jawab. Dia menghabiskan waktu dan uang untuk Kak Mirana. Bandingkan dengan dirimu. Sebagai suami, kau bahkan tidak tahu kondisi istrimu sendiri."
Ucapan Livina segera menarik perhatian beberapa dokter dan tenaga medis yang berada di sekitar ruang konsultasi. Sebagian dari mereka memang mengenal Arvan.
Namun bukan sebagai dokter berbakat atau menantu keluarga Altana. Melainkan sebagai pria yang dianggap beruntung karena berhasil menikahi Mirana Altana.
Seorang dokter pria tertawa kecil sambil berkata, "Nona Livina benar juga. Dulu banyak orang heran bagaimana Mirana bisa memilih pria seperti dia."
Dokter lain ikut menimpali, "Kalau bukan karena keluarga Altana, siapa yang kenal Arvan Saputra? Dia jelas naik status setelah menikah."
Beberapa orang mengangguk setuju. Tatapan mereka kepada Arvan dipenuhi ejekan dan penghinaan.
Livina yang melihat dukungan itu semakin bersemangat. "Kak Mirana sudah cukup menderita. Menurutku kalian seharusnya bercerai saja. Orang sepertimu hanya menjadi beban baginya."
Namun Arvan sama sekali tidak terpancing dan hanya menatap Livina dengan tenang. Lalu berkata, "Aku dan Mirana tidak akan bercerai."
Mendengar jawaban itu, Livina semakin tak senang, "Kau masih tidak tahu diri?"
Arvan tidak menjawab. Tatapannya tetap tenang, tetapi pikirannya mulai menyusun kembali seluruh kejadian dalam beberapa hari terakhir. Semakin dipikirkan, semakin jelas ada sesuatu yang terasa janggal.
Mirana telah dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Namun tidak ada satu pun orang yang memberitahunya. Sebagai suami, hal seperti itu seharusnya mustahil terjadi.
"Kecuali... Seseorang sengaja menyembunyikannya dariku."
Arvan mulai mengingat sikap Livina sejak awal. Mulai dari kemarahannya yang berlebihan, tuduhan yang terus diarahkan kepadanya, hingga cara Livina berulang kali menyebut nama Garry Atmaja.
Perlahan, semuanya menjadi masuk akal. "Jadi ini tujuanmu. Sejak awal kau memang tidak berniat memberitahuku."
Arvan akhirnya memahami semuanya. Livina sengaja tidak menyampaikan kabar tentang Mirana. Tujuannya bukan hanya membuat dirinya terlihat sebagai suami yang tidak peduli. Lebih dari itu, Livina ingin merusak hubungannya dengan Mirana.
Di saat yang sama, Garry Atmaja memperoleh kesempatan untuk terus berada di sisi Mirana dan mendapatkan kepercayaan penuh dari Keluarga Altana.
"Memanfaatkan penyakit Mirana untuk mendekatkan Garry kepadanya? Benar-benar cara yang menjijikkan."
Arvan tidak berniat membuang waktu untuk berdebat. Apa pun rencana Livina, kondisi Mirana jauh lebih penting saat ini.
"Aku akan membereskan masalah itu nanti. Yang terpenting sekarang adalah Mirana." Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Arvan langsung berbalik dan berjalan menuju bagian rawat inap.
***
Beberapa menit kemudian, ia tiba di meja perawat. Seorang perawat wanita yang sedang memeriksa data pasien mengangkat kepala.
Begitu mengenali dirinya, tatapannya langsung berubah dingin. "Perlu apa?"
Arvan menahan ketidaksenangannya. "Saya ingin mengetahui kamar rawat Mirana Altana."
Perawat itu mengetik beberapa saat di komputer sebelum menjawab datar, "Kamar 302."
Arvan mengangguk. "Terima kasih."
Namun sebelum ia pergi, perawat itu kembali membuka mulut. "Kalau Anda memang keluarganya, sebaiknya segera ke sana."
Langkah Arvan langsung terhenti. Perasaannya mendadak tidak enak. "Maksud Anda?"
Ekspresi perawat itu sedikit berubah. "Kondisi pasien sangat buruk. Kami sudah beberapa kali melakukan tindakan darurat. Terus terang, situasinya tidak optimistis."
Mendengar jawaban itu, jantung Arvan langsung berdebar keras. "Apa? Kondisinya separah itu?"
Ia sempat sulit mempercayai apa yang baru didengarnya. Dalam ingatannya, Mirana masih sehat beberapa hari yang lalu.
Bagaimana mungkin dalam waktu sesingkat itu kondisinya bisa memburuk sampai harus beberapa kali menjalani tindakan darurat?
"Ini tidak masuk akal... Apa sebenarnya yang terjadi pada tubuhnya?" Semakin dipikirkan, semakin besar rasa heran di dalam hatinya.
Namun sekarang bukan waktu untuk mencari jawaban. Yang harus ia lakukan adalah menemui Mirana secepat mungkin.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Arvan segera berbalik dan berjalan cepat menuju kamar 302.
Daftar bab
222 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
222 bab








