
- Jumlah kata
- 112.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 16
Sinopsis
Danu hanyalah seorang pemuda yatim piatu yang lemah, tertindas, dan selalu menjadi bulan-bulanan keluarga istrinya. Sawah warisan ayahnya dirampas, istrinya yang sakit-sakitan disandera. Bagi mereka, Danu hanyalah keset kaki. Namun, di balik tubuh kurus penuh luka cambuk itu, bersemayam jiwa yang sangat tua dan mematikan. Puluhan tahun terjebak dalam tubuh manusia yang lemah adalah neraka bagi Ares. Zeus telah menyegel seluruh kekuatan sang dewa perang dengan rantai emas ilahi. Tapi kutukan itu punya celah. Tiap kali Ares menerima hinaan dan rasa sakit, rantai yang membelenggunya justru semakin terkikis.
Ulasan
2 ulasan
CakeMacha
8/9/26 05:04
Danu benar-benar bikin emosi naik turun! 😭 Dari suami tertindas yang selalu diremehkan, tiba-tiba menyimpan jiwa dewa perang yang kekuatannya luar biasa. Aku suka banget konsep balas dendamnya, apalagi setiap hinaan justru membuat rantai kekuatannya semakin retak. Penasaran banget kapan Danu benar-benar bangkit dan membuat semua yang meremehkannya menyesal!
Ocha Ruby
8/9/26 04:30
kisah Danu seru sekali dari suami tertindas yang bangkit menjadi suami super. nyesel sudah yg udah pada nyakitin Dy. ⭐⭐⭐⭐⭐
Sumpah Darah di Lumpur Sawah
Lumpur sawah yang dingin dan bau busuk merembes masuk ke dalam luka cambuk di punggung Danu saat sebuah tendangan bersepatu bot mendarat telak di rusuknya.
Tubuh kurusnya tersungkur, wajahnya terbenam ke dalam tanah becek yang baru setengah dicangkul.
"Heh, keset! Kamu itu budek atau gimana, toh? Dibilang sana minggat, sawah ini sudah jadi tempatku!"
Suara melengking itu milik Jatmiko, kakak ipar Danu. Pria bertubuh gempal dengan kumis tebal itu berdiri di galengan sawah, berkacak pinggang sambil memegang sebilah celurit yang berkilat tertimpa cahaya matahari sore desa lereng Gunung Lawu. Di belakang Jatmiko, tiga preman pasar bertubuh kekar dan penuh tato tertawa terbahak-bahak, menikmati pemandangan Danu yang menggelepar seperti cacing tanah.
"Mas Jatmiko ... Siti sakit, butuh obat. Sawah ini satu-satunya warisan bapak buat aku sama Siti," rintih Danu. Suaranya parau, menyumbat lumpur.
Plak!
Salah satu preman melangkah maju dan menginjak kepala Danu, menekan pipinya semakin dalam ke lumpur hitam. "Kebanyakan bacot! Sawah ini sudah dijual sama istrinya Jatmiko. Buruan minggat sebelum mulutmu saya robek!"
Danu mengepalkan tinjunya di dalam lumpur. Kuku-kukunya memutih. Rasa hina, amarah, dan keputusasaan membakar dadanya hingga terasa sesak. Di desanya, Danu dikenal sebagai pemuda yatim piatu yang lemah, penurut, dan selalu menjadi samsat amukan keluarga istrinya terutama setelah mertuanya meninggal dan menyisakan sepetak sawah ini.
Mereka tidak tahu bahwa di balik tubuh kurus penuh bilur cambuk ini, ada sesuatu yang raksasa. Sesuatu yang sedang merantai amarahnya.
Di dalam rongga jiwanya yang paling dalam, sebuah rantai emas ilahi bergemerincing hebat. Setiap kali Danu dihina, rantai itu bergetar, mengirimkan gelombang energi panas yang sanggup meruntuhkan Gunung Lawu dalam sekali kedipan mata. Itu adalah segel kutukan Zeus. Kutukan yang memenjarakannya dalam tubuh fana yang ringkih, menghukumnya atas haus darah yang tak terbendung di masa lalu.
Ares.
Sang Dewa Perang Yunani.
Satu hari lagi, bisik suara batin Ares yang menggelegar di dalam kepala Danu, bergaung di antara jeritan ribuan jiwa yang pernah ia bantai di padang Troya. Tahan amarahmu, Danu fana. Tiga puluh tahun samsara ini akan berakhir dalam tiga hari. Jangan biarkan petir Zeus mendeteksi keberadaan kita sebelum segel ini hancur total.
"Lihat itu, didekati saja sudah gemetaran kayak ayam sayur," ejek preman satunya lagi sambil meludahi punggung Danu.
Jatmiko melangkah mendekat, menunduk dengan senyum culasnya yang memuakkan. "Siti istrimu itu lho, kalau mati ya biar saja. Perempuan penyakitan gak guna! Yaudah, sekarang kamu pergi, atau preman-preman ini bakal bikin kamu gak bisa jalan selamanya!"
Mendengar nama Siti, satu-satunya manusia yang merawatnya dengan tulus di dunia yang kejam ini, disebut dengan begitu hina, mata Danu sesaat berkilat merah darah. Energi kuno yang pekat meletup kecil dari ujung jarinya, membuat air lumpur di sekitar tangannya mendidih seketika.
Para preman itu terkesiap. Mereka mendadak merasakan hawa dingin yang mencekam tengkuk, seolah-olah maut sedang berdiri tepat di belakang mereka.
Namun, Danu memaksa matanya kembali meredup. Ia melonggarkan kepalan tangannya. Rantai emas di jiwanya kembali mengencang, menahan gelombang murka sang dewa. Ia harus bertahan. Hanya tiga hari lagi. Jika ia meledak sekarang, Zeus akan mengetahuinya dan melempar jiwanya ke Tartarus selamanya.
"Iya, Mas. Aku pergi." bisik Danu lemah, membiarkan dirinya ditarik dan dilempar ke parit jalanan seolah ia hanya seonggok sampah tak berharga.
Jatmiko meludah ke arah Danu yang terkapar di parit, lalu berbalik bersama para premannya dengan tawa kemenangan.
Danu bangkit perlahan. Tubuhnya gemetar karena menahan rasa sakit fisik dan amarah yang hampir meledakkan dadanya. Ia menyeka darah murni berkilau keemasan darahnya mulai bangkit dari sudut bibirnya agar tidak terlihat oleh manusia. Sambil berjalan pincang menuju gubuknya yang reot di ujung desa, matanya menatap langit sore yang mendadak berubah warna menjadi merah pekat seperti darah, bertolak belakang dengan langit biru di sekitarnya.
Di kejauhan langit, ia bisa merasakan sebuah getaran dahsyat. Bukan dari Olympus. Getaran itu datang dari arah laut selatan Jawa, seolah-olah ada entitas mistis penguasa tanah ini yang menyadari bahwa ada dewa perang asing yang hampir terlepas dari rantaiannya.
Danu tersenyum dingin, ekspresi yang belum pernah terlihat di wajah pemuda fana yang penakut itu.
"Tiga hari lagi," gumamnya. Suaranya mendadak berat dan bergaung, membuat dedaunan pohon beringin di tepi jalan rontok seketika. "Dan aku akan pastiin seluruh desa ini membayar setiap tetes darah yang mengalir dari tubuhku."
Namun, saat Danu tiba di depan pintu gubuknya yang terbuka lebar, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Rumahnya acak-acakan. Di lantai tanah yang dingin, Siti tidak ada di sana. Hanya ada secarik kain jarik berlumur darah milik istrinya, dan selembar kertas undangan hajatan besar di rumah Bu Broto, rentenir terkaya sekaligus ibu kandung Jatmiko.
Di bawah undangan itu tertulis coretan tangan kasar:
Kalau ingin istrimu selamat, datang ke sini jadi pembantu buat hajatan besok. Kalau tidak, istrimu saya jual ke kota!
Danu mencengkeram kertas itu hingga menjadi abu di tangannya.
***
Byuur!
Cairan merah kental berbau amis pekat menghantam wajah dan dada Danu, membasahi kaos oblongnya yang sudah koyak hingga melekat pada kulit bergurat cambuk. Bau darah ayam mentah langsung menusuk hidung, bercampur dengan uap panas dari tungku-tungku kayu besar di halaman belakang rumah Bu Broto.
"Heh, pemalas! Matamu itu ditaruh di mana? Kerja kok planga-plongo kayak kerbau ompong!"
Bu Broto berdiri di depannya sambil bertolak pinggang. Wanita paruh baya bertubuh tambun itu mengenakan kebaya beludru mahal dengan perhiasan emas yang berkerincing penuh kesombongan di pergelangan tangannya. Di tangannya yang lain, ia memegang ember plastik kosong yang baru saja digunakan untuk menyiramkan air cucian daging mentah ke tubuh Danu.
Tawa riuh langsung meledak dari para perempuan desa yang sedang merebus daging dan menumbuk bumbu hajatan di area dapur terbuka belakang rumah. Di sudut halaman, terikat pada tiang bambu, Siti tampak menangis sesenggukan dengan mulut disumpal kain jarik. Tubuhnya lemas tak berdaya menyaksikan suaminya diperlakukan lebih rendah dari binatang.
Danu mengusap wajahnya yang basah oleh darah ayam. Tangannya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena getaran dari dalam jiwanya semakin menjadi-jadi. Rantai emas Zeus yang mengikat kekuatannya menegang hebat hingga memercikkan rasa sakit yang membakar pembuluh darahnya. Tinggal dua hari lagi. Segel itu menipis, dan setiap penghinaan ini bertindak bagai bahan bakar yang mempercepat retakannya.
"Mohon maaf, Bu Broto. Saya ke sini mau jemput Siti. Sudah tidak usah dibawa ke mana-mana," ucap Danu, menekan suaranya sedalam mungkin demi menjaga kewarasan fananya.
Bu Broto meludah ke tanah, tepat di depan kaki Danu yang bertelanjang dada. "Jemput? Palamu itu! Utangmu ke aku sudah menumpuk! Kalau kamu pengen istrimu selamat dan gak kujual ke kota, sekarang kamu jadi babu di sini sampai hajatan anakku, Mas Joko, Selesai!"
Daftar bab
93 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








