

"Rendra! Oper sini, Ren!"
Rendra tersenyum tipis mendengar teriakan itu. Di tengah lapangan basket yang terik, dia menggiring bola dengan santai. Dua anak yang mencoba menghadangnya dilewati begitu saja seperti tiang jemuran.
Begitu posisinya pas, dia tidak langsung menembak. Jari-jemari kanannya mendadak memercikkan api kecil berwarna merah kebiruan. Dia sengaja pamer kekuatan.
Wuuushh!
Bola melesat, meninggalkan jejak asap tipis di udara sebelum masuk dengan mulus ke dalam ring.
"Clean shoot."
"Gila lu, Ren! Emang gak ada lawan!" Gavin langsung berlari menghampiri, menepuk bahu Rendra kencang-kencang sambil menyodorkan botol air mineral dingin.
Rendra menerima botol itu, meminumnya sedikit, lalu menyiramkan sisanya ke rambutnya yang basah oleh keringat.
Cewek-cewek di pinggir lapangan langsung histeris. Bagi Rendra, ini adalah hari Selasa biasa di SMA Nusantara.
Tempat di mana dia berada di puncak. Dia tampan, kaya, dan salah satu dari sedikit murid yang sudah jago sihir elemen tingkat menengah di usia tujuh belas tahun.
"Habis ini ke kantin, Ren? Gue yang bayar deh, bokap baru nambahin uang jajan gue," ajak Gavin sambil memakai seragam sekolahnya kembali tanpa dikancing.
Rendra memakai handuk kecil di lehernya. "Boleh. Tapi gue mau nyari hiburan dulu. Gerah banget otak gue habis kelas matematika tadi."
Baru saja mereka keluar dari area lapangan menuju koridor loker, perhatian Rendra teralihkan oleh suara langkah kaki yang terburu-buru.
Seorang cowok berkacamata tebal bernama Bimo sedang berjalan cepat sambil membawa nampan berisi beberapa mangkok bakso pesanan guru.
Rendra sengaja menggeser posisi berdirinya, menghalangi jalan.
Bimo yang tidak siap langsung menabrak dada tegap Rendra. Nampan di tangannya oleng, dan kuah bakso yang panas tumpah menyiram sepatu putih mahal milik Rendra.
"A-aduh! Sori, Ren! Gue gak sengaja, sumpah!" Bimo langsung pucat pasi. Tubuhnya gemetaran sampai kacamata hampir merosot dari hidungnya.
Rendra melihat sepatunya yang kotor, lalu menatap Bimo dengan pandangan dingin. "Sepatu gue baru, Bim. Lu tahu harganya berapa? Lebih mahal dari uang jajan lu sebulan."
"Gue lap, Ren! Gue lap sekarang!" Bimo langsung berlutut, menggunakan sapu tangan kumal dari sakunya untuk membersihkan sepatu Rendra.
Rendra menatap Gavin sambil tersenyum sinis. "Vin, kayaknya si Bimo ini kurang fokus. Kurang minum air kayaknya."
Tanpa aba-aba, Rendra merebut satu mangkok bakso yang tersisa di nampan Bimo, lalu dengan santai menuangkan sisa kuah yang masih lumayan panas itu tepat ke atas kepala Bimo.
"Ahhh! Panas, Ren! Sori!"
Bimo meringis sambil memegangi kepalanya, sementara mi dan potongan seledri tersangkut di rambutnya. Teman-teman Rendra di koridor langsung tertawa terbahak-bahak melihat pemandangan kejam itu.
"Nah, biar seger. Lain kali pakai mata lu kalau jalan," kata Rendra sambil melempar mangkok kosong itu ke lantai hingga pecah, lalu melangkah melewati Bimo yang masih terduduk lemas sambil menahan tangis.
Namun, kepuasan Rendra belum selesai. Begitu matanya menyapu ujung koridor dekat perpustakaan, seringai Gavin kembali muncul.
"Nah, pas banget. Target kedua lu hari ini, Ren. Si Samsat berjalan baru keluar."
Rendra menoleh. Di sana, seorang cowok kurus dengan seragam yang agak kebesaran sedang berjalan menunduk.
Tangannya mendekap tiga buku paket tebal. Namanya Arkan. Jika Bimo dirundung karena kecerobohannya, Arkan dirundung murni karena keberadaannya.
Di sekolah ini, Arkan adalah seorang Null—sebutan untuk orang yang sama sekali tidak punya sisa energi magis di tubuhnya. Bagi Rendra, orang seperti itu sama saja dengan sampah.
"Arkan!" panggil Rendra. Suaranya tidak keras, tapi cukup tegas untuk membuat langkah kaki cowok kurus itu langsung terhenti seketika.
Arkan sempat menoleh ke belakang, menyadari siapa yang memanggilnya, dan bahunya langsung merosot turun.
Rendra bisa melihat ketakutan yang nyata dari cara Arkan menelan ludah. Cowok kurus itu berbalik pelan, lalu berjalan mendekati Rendra dan Gavin dengan kepala yang tetap menghadap ke lantai koridor.
"I-iya, Ren? Ada apa?" suara Arkan pelan sekali, hampir tenggelam oleh sisa tawa murid-murid yang tadi menonton kejadian Bimo.
Rendra tidak langsung menjawab. Dia sengaja diam, membiarkan keheningan itu menyiksa mental Arkan selama beberapa detik.
Rendra melangkah maju, memperkecil jarak sampai Arkan makin menyusutkan badannya.
"Lu dari perpustakaan? Rajin banget," kata Rendra, nadanya terdengar ramah tapi beraura dingin. "Gak capek apa belajar mulu tapi tetep gak bisa ngeluarin sihir? Lu tuh buang-buang oksigen sekolah tahu gak."
"Gue, gue cuma mau ngerjain tugas fisika buat besok," jawab Arkan, makin erat mendekap buku-bukunya.
Gavin maju satu langkah, langsung merebut salah satu buku tebal dari pelukan Arkan dengan kasar sampai beberapa lembar kertas selipan di dalamnya jatuh berantakan ke lantai.
"Tugas fisika? Bagus dong. Kebetulan gue sama Rendra belum ngerjain. Sini, buat kita aja."
"Jangan, Vin, itu punya gue. Besok harus dikumpul jam pertama," Arkan mencoba meraih bukunya kembali, tapi Gavin dengan mudah mendorong dada Arkan menggunakan satu tangan sampai cowok itu mundur tiga langkah dan hampir terjatuh.
"Berani lu bantah guue?" gertak Gavin.
Rendra tertawa kecil melihat pemandangan itu. Dia melangkah mendekat, lalu dengan santai menendang tumpukan kertas tugas Arkan yang berserakan di lantai.
"Bentar, Vin. Kayaknya ada yang kurang dari penampilan si Arkan hari ini. Ar, baju lu kok kelihatan lecek banget?"
Sebelum Arkan sempat merespon, Rendra mencengkeram kerah seragam Arkan, menariknya paksa sampai Arkan terpaksa mendongak. Mata Arkan yang berair menatap langsung ke mata Rendra yang penuh kilat kepuasan.
"Ren, please, gue ada salah apa?" bisik Arkan, suaranya bergetar menahan tangis.
"Salah lu? Lu lahir tanpa bakat tapi berani sekolah di sini, itu salah lu," ucap Rendra kejam.
Rendra menjentikkan jempolnya. Sebuah api kecil menyala di ujung jarinya. Tanpa belas kasihan, Rendra menempelkan percikan api itu ke kertas tugas yang masih dipegang Arkan.
Api langsung melalap kertas itu dengan cepat. Karena panik, Arkan refleks melepas kertasnya yang terbakar ke lantai.
"Eh, kok dibuang? Kan gue belum selesai baca!" bentak Rendra.
Dia tiba-tiba menjambak rambut bagian belakang Arkan, memaksa cowok itu berlutut di lantai koridor yang keras. Lutut Arkan menghantam lantai sampai terdengar bunyi yang cukup ngilu.
"Rendra, panas! Please, Ren, ampun..." Arkan meringis kesakitan, memegangi kepala dan lututnya.
"Padamin apinya, Arkan. Pakai tangan lu. Kan lu gak punya sihir, masa padamin api kecil gini aja gak bisa?" perintah Rendra sambil terus menekan kepala Arkan ke bawah, mendekatkannya pada kertas yang sedang membara.
Murid-murid di koridor malah bersorak, beberapa ada yang mengeluarkan HP untuk merekam. Arkan yang ketakutan setengah mati akhirnya terpaksa memukul-mukul kertas yang terbakar itu dengan telapak tangan telanjangnya.
Plak! Plak!
"Nah, gitu dong. Pinter," ejek Gavin.