Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Reborn After The World End

Reborn After The World End

ajengfelix | Bersambung
Jumlah kata
99.0K
Popular
100
Subscribe
5
Novel / Reborn After The World End
Reborn After The World End

Reborn After The World End

ajengfelix| Bersambung
Jumlah Kata
99.0K
Popular
100
Subscribe
5
Sinopsis
FantasiSci-FiPedangKiamatSistem
Dunia hancur dalam satu malam. Langit terbelah, monster keluar dari retakan hitam, dan seluruh peradaban manusia runtuh hanya dalam hitungan bulan. Kota berubah menjadi kuburan, negara lenyap, dan manusia yang tersisa hidup seperti binatang di reruntuhan dunia lama. Di tengah kekacauan itu, seorang pria bernama Kael Veyron bertahan selama dua puluh tahun sebagai “Grave Hunter,” pengembara yang mencari relik kuno di zona kematian. Ia bukan pahlawan, bukan penyelamat, dan tidak pernah percaya pada harapan. Satu-satunya alasan ia tetap hidup adalah karena ia terlalu keras kepala untuk mati. Namun ketika Kael menemukan sebuah artefak misterius bernama Heart of Origin di reruntuhan laboratorium bawah tanah, ia justru dibunuh oleh manusia yang ia percaya sebagai rekannya sendiri. Sesaat sebelum kematiannya, artefak itu aktif. Kael terbangun kembali di masa lalu—tepat sepuluh tahun sebelum dunia runtuh. Kini, dengan ingatan lengkap tentang masa depan, Kael mengetahui semua hal yang akan terjadi: lokasi dungeon pertama, kemunculan monster legendaris, pengkhianatan besar antar manusia, hingga rahasia mengerikan di balik kiamat itu sendiri. Tetapi kali ini, Kael tidak berniat menjadi penyelamat dunia. Ia hanya ingin menjadi manusia terkuat sebelum semuanya terlambat. Dengan memanfaatkan pengetahuan masa depan, Kael mulai membangun kekuatannya secara diam-diam. Ia memburu relik tersembunyi, menaklukkan zona terlarang, dan membantai monster yang bahkan belum muncul di dunia. Namun semakin kuat dirinya, semakin ia menyadari bahwa kiamat bukanlah bencana biasa. Seseorang menciptakannya. Dan sesuatu sedang menunggu di balik retakan langit.
Hari dimana Aku Mati

Bau darah memenuhi udara.

Kael Veyron melangkah perlahan melewati lorong laboratorium bawah tanah yang hampir runtuh. Lampu merah darurat berkedip di sepanjang dinding logam yang dipenuhi bekas cakar monster. Suara alarm meraung tanpa henti seperti ratapan panjang dari dunia yang sekarat.

Di luar sana, bumi sudah lama berakhir.

Tidak ada lagi negara. Tidak ada lagi hukum. Hanya reruntuhan, monster, dan manusia-manusia putus asa yang saling membunuh demi bertahan hidup.

Namun bahkan di dunia seperti itu, manusia tetap menjadi makhluk paling berbahaya.

Kael menggenggam pedangnya erat. Bilah hitam penuh retakan itu dipenuhi darah monster tingkat tinggi yang baru saja mereka bunuh beberapa menit lalu. Napasnya berat, tubuhnya dipenuhi luka, tetapi matanya tetap tenang.

Ia sudah terbiasa dengan rasa sakit.

“Kael… kau yakin benda itu ada di bawah sini?”

Suara Darius Holt terdengar dari belakangnya.

Kael tidak menoleh. “Koordinatnya tidak mungkin salah.”

Mereka terus berjalan menembus lorong gelap hingga akhirnya tiba di sebuah ruangan raksasa berbentuk bundar. Sebagian besar dindingnya telah hancur, memperlihatkan kabel-kabel besar menjulur seperti akar pohon mati.

Di tengah ruangan itu…

Ada sebuah altar hitam.

Dan di atas altar, melayang sebuah kristal merah gelap sebesar jantung manusia.

Ruangan mendadak terasa dingin.

Semua orang terdiam.

Kael dapat merasakan energi asing memenuhi udara. Tekanan mengerikan menyelimuti tubuhnya seperti tangan tak kasatmata yang mencekik tenggorokan.

Ia pernah merasakan aura monster legendaris sebelumnya.

Tetapi benda ini berbeda.

Kristal itu terasa… hidup.

“Heart of Origin…” gumam Kael pelan.

Selama bertahun-tahun, nama itu hanya muncul dalam rumor. Artefak kuno yang diyakini menjadi sumber awal kemunculan dungeon dan retakan dimensional.

Banyak orang mencarinya.

Tidak ada yang menemukannya.

Sampai hari ini.

“Jadi ini alasan kita kehilangan setengah tim…” salah satu anggota kelompok berkata pelan.

Darius melangkah mendekati altar dengan mata penuh ambisi. Cahaya merah dari kristal memantul di wajahnya yang pucat.

“Kekuatan sebesar ini…” bisiknya.

Kael langsung menyadari sesuatu.

Tatapan itu.

Ia terlalu mengenalnya.

Tatapan manusia yang mulai melupakan rasa takut.

Tatapan manusia yang mulai tergoda kekuasaan.

“Jangan sentuh dulu,” kata Kael dingin.

Darius berhenti. “Kau takut?”

“Aku berhati-hati.”

“Bukankah itu hal yang sama?”

Kael tidak menjawab.

Ia memperhatikan ruangan dengan waspada. Instingnya sejak lama selalu menyelamatkan nyawanya. Dan saat ini, insting itu berteriak keras di kepalanya.

Ada sesuatu yang salah.

Sangat salah.

Kael melangkah mendekati altar perlahan. Saat jaraknya tinggal beberapa meter, simbol-simbol aneh mulai muncul di permukaan kristal merah itu.

Cahaya hitam berdenyut seperti detak jantung.

Dum.

Dum.

Dum.

Tiba-tiba—

BRAK!

Ledakan keras mengguncang ruangan.

Kael refleks berbalik.

Namun yang dilihatnya membuat matanya menyipit.

Pedang Darius menembus dada salah satu anggota tim mereka.

Pria itu bahkan tidak sempat berteriak sebelum tubuhnya jatuh ke lantai.

Darah menyebar cepat.

Semua orang membeku.

“Darius… apa yang kau lakukan?” seseorang berteriak panik.

Darius mencabut pedangnya perlahan. Wajahnya tetap tenang.

“Bukankah sudah jelas?” katanya datar.

Lalu ia tersenyum tipis.

“Kalian terlalu banyak.”

Seketika ruangan berubah kacau.

Salah satu hunter mencoba menyerang Darius dari belakang, tetapi Darius bergerak lebih cepat. Dalam satu tebasan, kepala pria itu terlempar ke lantai.

Jeritan memenuhi ruangan.

Kael langsung mundur sambil menghunus pedangnya.

“Kau sudah gila,” ucap Kael dingin.

“Tidak.” Darius menatap Heart of Origin. “Aku baru akhirnya mengerti.”

Energi hitam mulai keluar dari tubuhnya.

Kael terkejut.

“Jadi kau menyembunyikan kekuatanmu…”

Darius tertawa kecil. “Kalau aku menunjukkan semuanya sejak awal, apa menurutmu aku bisa hidup selama ini?”

Sisa anggota tim mencoba kabur.

Namun terlambat.

Darius membantai mereka tanpa ragu.

Suara daging terbelah bergema di ruangan gelap itu. Darah membasahi lantai logam. Dalam kurang dari satu menit, hanya Kael yang masih berdiri.

Dan Darius.

Dua pria saling menatap di bawah cahaya merah Heart of Origin.

“Aku selalu penasaran,” kata Darius sambil mengangkat pedangnya. “Bagaimana seseorang sepertimu bisa bertahan selama dua puluh tahun.”

Kael menggenggam pedangnya lebih erat.

“Aku juga penasaran kenapa pengkhianat sepertimu belum mati.”

BOOM!

Mereka bergerak bersamaan.

Pedang bertabrakan keras hingga memunculkan gelombang energi yang menghancurkan lantai sekitar.

Kael memutar tubuh dan menyerang cepat ke arah leher Darius.

Tetapi Darius menahan serangan itu dengan mudah.

Mata Kael menyipit.

Dia lebih kuat dibanding terakhir kali mereka bertarung bersama.

“Terkejut?” Darius tersenyum. “Aku menemukan sesuatu menarik beberapa bulan lalu.”

Energi hitam menyelimuti tubuhnya semakin tebal.

Kael dipaksa mundur.

Darius menyerang brutal tanpa memberi celah. Tebasan demi tebasan menghancurkan lantai dan dinding laboratorium.

Kael bertahan sambil membaca pola gerak lawannya.

Namun tubuhnya sudah terlalu lelah.

Ekspedisi ini memakan waktu tiga minggu tanpa istirahat cukup. Mereka baru saja melawan monster tingkat bencana sebelum masuk ke laboratorium.

Dan sekarang…

Ia harus melawan rekannya sendiri.

CLANG!

Pedang mereka kembali bertabrakan.

Kael berhasil menendang dada Darius hingga pria itu mundur beberapa langkah.

Tanpa membuang waktu, Kael langsung menyerbu ke arah altar.

Jika ia bisa mengambil Heart of Origin terlebih dahulu—

Namun wajah Darius berubah dingin.

“Jangan sentuh itu.”

BOOM!

Energi hitam meledak dari tubuh Darius.

Kael terlambat menyadari.

Sebuah tombak bayangan menembus perutnya dari belakang.

“Ghk—!”

Darah keluar dari mulut Kael.

Tubuhnya membeku.

Ia menunduk perlahan melihat lubang besar di perutnya.

Darius berjalan mendekat dengan langkah tenang.

“Kau terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup.”

Kael berlutut.

Napasnya mulai berat.

Penglihatannya kabur.

Namun ia masih tertawa pelan.

“Heh…”

Darius mengernyit. “Apa yang lucu?”

“Kau pikir… benda itu akan memberimu kekuatan?”

Kael batuk darah.

“Idiot… benda seperti itu selalu meminta harga.”

Darius tidak menjawab.

Matanya hanya dipenuhi keserakahan.

Kael sudah sering melihat ekspresi itu di dunia kiamat.

Dan semua orang dengan tatapan seperti itu selalu berakhir sama.

Mati mengenaskan.

Darius berdiri di depan altar lalu mengulurkan tangan ke arah Heart of Origin.

Saat jarinya hampir menyentuh kristal merah itu—

DUM!

Seluruh ruangan bergetar.

Simbol hitam memenuhi dinding.

Cahaya merah meledak memenuhi laboratorium.

“Apa—?”

Ekspresi Darius berubah panik.

Heart of Origin mulai berdetak semakin cepat.

Dum.

Dum.

Dum.

Kael mengangkat kepalanya perlahan.

Untuk pertama kalinya…

Ia merasakan ketakutan dari artefak itu.

Bukan kekuatan.

Bukan aura monster.

Tetapi sesuatu yang jauh lebih tua.

Jauh lebih mengerikan.

Suara asing bergema di dalam kepalanya.

“Sistem menemukan anomali.”

Mata Kael membesar.

Suara itu bukan suara manusia.

“Memulai sinkronisasi.”

Cahaya hitam menyelimuti tubuh Kael.

Darius mundur panik. “Apa yang terjadi?!”

Kael sendiri tidak tahu.

Tubuhnya terasa seperti dihancurkan dan ditarik ke segala arah sekaligus.

Rasa sakit luar biasa memenuhi kesadarannya.

Namun di tengah rasa sakit itu…

Ia melihat sesuatu.

Langit merah.

Dunia terbakar.

Makhluk raksasa berdiri di antara bintang-bintang.

Dan bumi…

Hanya salah satu dari banyak dunia yang telah hancur.

“Memulai regresi waktu.”

Kael membeku.

Regresi… waktu?

Tiba-tiba cahaya merah menelan seluruh ruangan.

Darius berteriak sesuatu, tetapi suaranya menghilang.

Tubuh Kael terasa jatuh tanpa akhir.

Gelap.

Sunyi.

Lalu—

BRAK!

Kael membuka mata lebar-lebar.

Napasnya memburu.

Ia langsung bangkit dari tempat tidur dengan tubuh penuh keringat.

Ruangan sempit.

Dinding apartemen tua.

Suara kendaraan dari luar jendela.

Kael membeku.

Perlahan ia menatap tangannya sendiri.

Tidak ada luka.

Tidak ada darah.

Tubuhnya kembali muda.

Di meja kecil dekat tempat tidur, sebuah kalender elektronik menunjukkan tanggal.

17 Oktober 2035.

Mata Kael bergetar.

Tanggal itu…

Sepuluh tahun sebelum kiamat dimulai.

Kael terdiam lama.

Lalu perlahan, ia tertawa kecil di ruangan gelap itu.

Tawa rendah dan dingin.

“Jadi… aku kembali.”

Tatapannya berubah tajam.

Kali ini…

Ia tidak akan mati seperti sebelumnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca