Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
APA YANG TERSISA SETELAH PAGI

APA YANG TERSISA SETELAH PAGI

A.I Rizkyan F.A | Bersambung
Jumlah kata
33.9K
Popular
231
Subscribe
51
Novel / APA YANG TERSISA SETELAH PAGI
APA YANG TERSISA SETELAH PAGI

APA YANG TERSISA SETELAH PAGI

A.I Rizkyan F.A| Bersambung
Jumlah Kata
33.9K
Popular
231
Subscribe
51
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of life21+Romansa ManisSelingkuh
Menceritakan tentang Teguh, seorang guru honorer dengan gaji pas-pasan. ia hidup di kota dengan upah minimum cukup tinggi. mendapatkan tuntutan sosial dari lingkungan disekitarnya karena ia tak kunjung menikah hingga ia memasuki usianya yang ke-30, Teguh mulai memikirkan hal itu. Hingga oada suatu ketika ia terjebak di antara dua perempuan dalam hidupnya. Pundaknya seakan hidup disuatu ruang kenangan bersama Sekar, dan pundaknya yangbsatu lagi seakan berpetualang bersama Mira. Walaupun usianya tergolong matang, hidupnya penuh dengan hal-hal yang berwarna seperti Anime, Musik bahkan motor CB-125 yang selalu menemani langkahnya. Apa yang akan terjadi selanjutnya dengan kehidupan Teguh yang berada ditengah dua perempuan itu ? Cerita ini akan mengajarkan kitabyentang kesepian dan tuntutan sosial.
1

“Umur tiga puluh… harusnya orang sudah jadi apa?”

Teguh terbangun oleh suara azan subuh yang bergema hingga ke dalam kamar tidurnya, itu selalu menjadi alarm otomatis yang pasti membuka matanya secara spontan. Hawa dingin yang mulai masuk melalui sela-sela ventilasi jendela membuat ia sedikit menggigil. Dengan mata yang berat dan kantuk yang masih terasa, ia meraih ponselnya, melihat apakah ada pesan yang masuk atau pesan yang lupa ia balas semalam. Namun nyatanya tidak ada pesan. Matanya pun tertuju pada penanggalan yang berada di ponsel itu.

“sudah tiga puluh ternyata” ia menghela napas, menggumam dalam hati.

Hari ini 14 Maret, tepat adalah hari ulang tahun Teguh yang ke 30. Usia yang cukup matang untuk merayakan pesta ulang tahun. Pagi ini berjalan seperti hari-hari biasa, Teguh masih tetap berbaring di atas ranjangnya. Ia bahkan belum sempat mematikan lampu tidur. Sambil mendengarkan suara azan yang belum selesai, ia berbaring dan menatap langit-langit. Detak jam dinding yang monoton itu juga mengusik kepalanya. Orang yang mengingat hari ini pasti tidak hanya memberikan ucapan selamat, pertanyaan pamungkas itu pasti akan lebih banyak dilemparkan kepadanya.

Walaupun situasi itu sudah 5 tahun berhasil ia lalui, namun suasana kali ini terasa berbeda. Tahun ini banyak sekali teman-teman seusianya sudah hampir semuanya menikah. Bahkan sepupunya Dion yang lebih muda darinya pun sudah menikah juga tahun ini. Azan sudah selesai berkumandang, jarum jam masih berputar dengan tempo yang sama, kini Teguh dengan tatapan kosongnya yang masih tertuju kepada langit-langit semakin membawanya lebih ke dalam kesunyian.

Teguh beranjak dari tempat tidurnya, ia berjalan menuju meja yang berada di kamarnya. Meja yang biasa ia jadikan tempat mengerjakan tugas-tugas kantornya, mengerjakan hobi yang ia suka bahkan menonton tontonan yang memanjakan fantasinya di usia ini. Meja itu terlihat berantakan, gambar sketsa yang setengah jadi dan juga sebuah Gunpla yang belum selesai ia rakit, semalam ia sangat sibuk dengan dunia dan hobinya. Muncul sedikit perenungan dalam pikirannya, ternyata selama ini dia masih sibuk dengan hobi dan dunianya sendiri.

Di atas meja terdapat rak kecil, ada beberapa buku di sana dan beberapa Gunpla yang terpajang rapi. Pemandangan itu membuat Teguh termenung dan mulai berpikir apakah ini sudah saatnya berubah menjadi pria pada umumnya? apakah ia harus meninggalkan mainan robot kesukaannya dan mulai menabung untuk menunjang kehidupannya? Dengan pikiran yang melayang-layang Teguh merapikan meja itu. Meletakkan sketsa dalam tumpukan kertas lain dan merapikan Gunpla yang belum selesai dirakit.

“MAS.. BANGUN SUBUHAN...”

Seketika hening itu pecah, terdengar suara Disa adik perempuan Teguh memanggilnya dari luar kamar.

“IYA.. SEBENTAR” balas Teguh dari dalam kamarnya.

Tak lama, Teguh beranjak dari kamarnya. Perenungan itu hilang bersama suara Disa dari luar kamar.

***

“Teguh, sarapan” suara Ibu terdengar dari dapur.

Teguh tinggal serumah bersama Ibu dan Adiknya, Disa. Ayahnya seorang TKI yang bekerja di Malaysia, kadang hanya pulang setahun sekali ketika lebaran Idul Fitri tapi itu tidak tentu kadang juga beberapa kali selama setahun jika ada rezeki lebih. Ibu hanya seorang ibu rumah tangga biasa, tapi kadang ia membuat jajanan yang biasanya di titipkan di pasar.

“iya ini baru jalan” balas Teguh sambil berjalan menuju dapur dengan pakaian rapi siap untuk menghadapi dunia kerja.

“ayo dimakan keburu nasi gorengnya dingin” sambut ibu sambil menyajikan nasi goreng buatan rumahan. Hari ini Ibu tidak membuat jajan untuk dititipkan dipasar jadi ia menyempatkan diri untuk memasak sarapan.

“Buk, Disa mau tambah cabai lagi” sahut Disa

“jangan banyak-banyak makan pedas, dek nanti sakit perut pas di sekolah” jawab Ibu sambil menambahkan sedikit cabai lagi untuk Disa.

Ibu memang orangnya tidak tegaan dengan anak-anaknya. Walau bibirnya berkata jangan, tapi ia selalu memberikan apa yang anaknya ingin. Usianya belum cukup tua, namun ibu kadang suka mengeluh masalah pinggang dan kakinya yang sering pegal. Sedangkan Disa adalah Adik Teguh yang kini masih kelas 2 MTs. Ia bersekolah di Madrasah, sekolah dengan basis pendidikan agama.

“nanti kalau sakit perut terus berak di celana siapa yang mau nolongin” tegur Teguh

“apaan sih mas, kalau ingin berak ya ke kamar mandi”

“memang kamu bisa cebok sendiri” Teguh menggodanya dengan mengambil cabai di piring Disa.

Umur mereka selisih lumayan jauh, Teguh adalah kakak yang sangat menyayangi adik kecilnya. Kadang ia suka menggodanya sampai menangis dan melapor ke Ibu.

“Apaan sih mas” Disa menoleh dan memasang wajah sebel.

“sudah, ini lagi makan kok bahas berak hust..” sahut ibu sambil duduk dan mulai menyantap nasi goreng.

Disa selesai makan terlebih dulu, ia lanjut menaruh piring di wastafel. Keluarga ini selalu melakukan sarapan bersama jika tidak ada kegiatan yang mendadak di waktu pagi. Kadang ibu membeli nasi bungkus di pasar untuk dimakan bersama, namun kalau sedang tidak berjualan ia selalu memasak sendiri sarapan untuk anak-anaknya. Tidak ada yang bisa bangun lebih pagi dari Ibu di rumah itu. Kadang jika matahari terburu-buru terbit tidak ada agenda sarapan bersama, biasanya ibu mengganti dengan memberikan masing-masing uang 10 ribu untuk mengganti sarapan mereka.

“Dek.. hari ini mas ulang tahun loh, kamu nggak ingin ngucapin selamat ?” sahut ibu kepada Disa

Disa kemudian langsung lari kembali menuju meja makan di dapur “wihh beneran Mas ? Selamat ya.. nanti aku di traktir ya mas?” Disa menjawab dengan semangat.

“yee.... nggak ngasih kado malah minta traktir, kadonya dulu” Teguh menjawab lagi dengan senda gurau.

“Maret, berarti Mas bintangnya Pisces dong ? pantesan orangnya kadang suka marah nggak jelas” Disa pun tiba-tiba menjadi ahli ramalan bintang. “oh iya Pisces kan juga sering overthinking sama ngayal ngga jelas begitu kan, Mas. Hayooo” Disa melanjutkan.

“sudah sana pakai sepatu siap-siap berangkat sekolah” sahut ibu. Ibu tersenyum mendengar kalimat Disa, sedari kecil Teguh memang punya imajinasi yang kuat. Waktu kecil Ia pernah bercita-cita menjadi Spiderman. Walau tidak mungkin namun itu adalah memory kecil yang masih di kenang ibu hingga saat ini.

Disa kemudian beranjak, berlari untuk bersiap-siap pergi ke sekolah. Ia selalu berangkat bersama Teguh. Kebetulan tempat sekolah Disa adalah tempat Teguh bekerja. Mereka selalu berangkat bersama saat pergi, namun tidak saat pulang. Kadang Disa pergi jalan-jalan dulu dengan temannya, begitu juga Teguh dengan urusan kantornya.

Meja makan kini tinggal tersisa sepasang mata yang sedang menghabiskan Nasi Goreng itu. Dalam pikirannya, Teguh sudah bisa menebak apa yang akan ditanyakan oleh ibu saat Disa sudah meninggalkan mereka berdua. Namun Teguh tetap fokus memakan nasi goreng yang tinggal beberapa suap. Suara sendok dan garpu yang saling berbenturan menambah sunyi suasana meja makan setelah kepergian Disa.

“sudah 30 ini.. masak belum ada yang mau dikenalin ke Ibu?”

Keheningan di meja makan seketika pecah dengan pertanyaan yang dilemparkan Ibu. Teguh berhenti sejenak menyantap nasi goreng yang tinggal beberapa suap lagi. Akhirnya yang sedari tadi ingin dihindari oleh Teguh kini ikut dihidangkan Juga oleh Ibu.

Teguh menghela napas, sendok dan garpunya ia taruh sejenak, menyandarkan tubuhnya di kursi meja makan. “sebentar Bu, kayaknya kalau masalah itu solusinya lagi macet di tengah jalan”

Lanjut membaca
Lanjut membaca