

“Serang!” raung seorang Pemimpin Padepokan sembari mengangkat pedangnya tinggi ke langit.
Seketika, murid-murid padepokan di belakangnya melesat maju tanpa sedikit pun keraguan. Tubuh mereka berkelebat cepat menggunakan ilmu Kanuragan *Pergerakan Bayangan*, meninggalkan jejak samar di udara.
Swuzz!
Trang! Trang!
Pral! Pral!
Dentang pedang yang saling beradu mengguncang medan perang, disusul suara mengerikan dari bilah-bilah tajam yang membelah daging dan tulang.
Teriakan penuh amarah menggema dari kedua belah pihak, menciptakan suasana mencekam yang dipenuhi darah dan kematian. Satu demi satu murid padepokan tumbang bersimbah darah.
Padepokan Nusantara yang diserang brutal oleh empat padepokan besar mulai terdesak hebat. Meski dikenal sebagai padepokan nomor satu di Tanah Java, jumlah dan kekuatan lawan terlalu besar untuk dihadapi sekaligus.
Di tengah kekacauan perang, Pemimpin Padepokan Nusantara, Asari Wiguna, berdiri menghadapi empat pemimpin padepokan lainnya seorang diri.
Aura spiritualnya meledak dahsyat.
“Ajian Brajamusti!” serunya lantang.
Swuzzz!
Sebuah siluet kepalan tangan raksasa yang dipenuhi energi spiritual melesat ganas, mengguncang udara menuju empat pemimpin padepokan lawan. Namun, keempatnya segera mengeluarkan jimat pertahanan secara bersamaan.
Duarrr!
Ledakan besar menggema saat pukulan raksasa itu menghantam siluet perisai berbentuk cangkang kura-kura yang melindungi mereka.
Tanah retak. Debu beterbangan.
Keempat pemimpin padepokan saling menatap sebelum mengangguk pelan satu sama lain. Seketika mereka melesat ke empat penjuru mata angin. Dengan gerakan cepat, mereka melemparkan jimat-jimat segel ke langit.
Wusss!
Cahaya merah keemasan membentuk sebuah kurungan raksasa yang langsung menekan tubuh Asari Wiguna dari segala arah.
“Asari Wiguna! Kau mungkin memiliki kekuatan luar biasa… tapi di hadapan Segel Rajah, kau tidak akan mampu melawan!” seru salah satu pemimpin padepokan dengan senyum dingin.
Clang! Clang! Clang!
Rantai-rantai spiritual keluar dari kurungan segel dan melilit tubuh Asari dengan cepat. Dalam sekejap, energi spiritual pria terkuat di zamannya itu terkunci sepenuhnya.
Empat pemimpin padepokan tak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka menyerbu bersamaan dari empat arah berbeda, menghunuskan pedang dengan niat membunuh.
Clap! Clap! Clap! Clap!
Empat bilah pedang menembus tubuh Asari Wiguna secara bersamaan.
Darah muncrat ke udara.
Tubuh Asari bergetar hebat, tetapi matanya tetap dipenuhi kebencian saat menatap keempat pengkhianat di hadapannya.
“Kalian… pasti akan menerima karma di masa depan…” ucapnya lirih sebelum napas terakhir meninggalkan tubuhnya.
“Cih! Kau pikir kami takut pada omong kosong seperti itu?!” ejek salah satu pemimpin padepokan.
Dengan senyum kejam, dia melesatkan serangan terakhir.
Duarrr!
Tubuh Asari Wiguna yang sudah tak bernyawa langsung hancur berkeping-keping.
Kematian sosok terkuat itu menjadi awal kehancuran Padepokan Nusantara. Seluruh murid padepokan dibantai tanpa ampun dalam perang besar tersebut.
Sejak hari itu, empat padepokan besar membagi kekuasaan atas empat wilayah Tanah Java, sementara Padepokan Nusantara disegel dan dilenyapkan dari sejarah.
Yang tersisa hanyalah seorang anak bungsu Asari Wiguna bernama Arya—pemuda yang dikenal sebagai sampah padepokan karena terlahir tanpa energi spiritual—serta seorang pelayan setia bernama Asep Wijaya yang baru berada di tahap Kanoman.
Tahapan bela diri di dunia itu terdiri dari:
Kanoman, Kanuragan, Kadonyan, Kebatinan, dan Kesempurnaan.
Masing-masing ranah memiliki sepuluh tingkatan sebelum dapat menembus tahap berikutnya.
Padepokan Nusantara yang dulu dipenuhi ribuan murid kini berubah menjadi reruntuhan sunyi yang dipenuhi debu dan ilalang liar.
Arya, yang tidak ikut dalam perang besar, memilih bersembunyi selama sepuluh tahun belakangan. Dia sadar… jika keberadaannya diketahui, maka kematianlah yang menunggunya.
Namun, pada hari itu—Seorang Tetua dari Padepokan Jugala mengetahui bahwa keturunan Asari Wiguna ternyata masih hidup.
Dan dia datang… untuk menghabisinya.
“Keluarlah kau, anak tidak berguna!” teriak Tetua itu lantang sambil menghantamkan serangan kuat ke bangunan utama Padepokan Nusantara.
Swuuzzz!
Duarrr!
Ledakan keras mengguncang seluruh area padepokan. Bagian depan bangunan utama hancur berkeping-keping.
Arya yang ketakutan segera berlari keluar bersama Asep untuk menyelamatkan diri dari reruntuhan. Namun—Tetua Padepokan Jugala tiba-tiba muncul di depan mereka menggunakan Pergerakan Bayangan.
“Kalian pikir bisa kabur dariku?” tanyanya sambil menyeringai dingin.
Asep Wijaya segera berdiri di depan Arya meski tubuhnya gemetar. “Tuan muda, cepat lari! Aku akan menahannya!”
Arya yang dipenuhi ketakutan segera berbalik dan berlari sekuat tenaga.
Tetapi Tetua Padepokan Jugala hanya mendengus dingin. “Kau pikir bisa lolos?!”
Sebagai ahli Kadonyan tingkat lima, kecepatannya jauh melampaui mereka. Dia langsung melesatkan serangan mematikan ke arah Arya.
“Tuan muda!!” Asep menerjang maju tanpa ragu untuk melindungi tuannya.
Swuttt!
Duakkk!
Brughh!
Tubuh Asep terpental hebat setelah menerima hantaman telak. Tubuhnya menghantam Arya hingga keduanya tersungkur keras ke tanah.
“T-Tuan muda… cepat lari…” ucap Asep sambil memuntahkan darah segar.
Dia berusaha bangkit kembali, tetapi tubuhnya sudah tidak bisa bergerak akibat serangan tadi.
Namun kemudian—Tatapan Asep berubah kosong. Benturan barusan membuat kepala Arya menghantam dinding batu dengan keras. Pemuda itu kini terbaring tak bergerak.
“Tuan muda!!” Air mata mengalir di wajah Asep.
Sementara itu, Tetua Padepokan Jugala berjalan mendekat dengan tatapan menghina. “Cih. Dasar sampah tidak berguna. Baru terkena benturan kecil saja sudah mati.”
Dia mengangkat kakinya dan menginjak dada Asep dengan kuat, berniat membunuh orang terakhir dari Padepokan Nusantara.
Namun tiba-tiba—Waktu berhenti.
Angin membeku.
Debu di udara terdiam.
Sebuah cahaya keemasan turun dari langit dan memasuki tubuh Arya. Tak lama kemudian—Jari pemuda itu bergerak pelan.
“Aduh… sakit sekali…” gumam Arya sambil memegangi kepalanya.
Namun saat membuka mata dan melihat keadaan sekitar, wajahnya langsung pucat. “Hah?! Kenapa aku ada di sini?! Tempat apa ini?!”
Arya panik.
Dia mencoba mengingat kejadian terakhir sebelum kehilangan kesadaran. Saat itu… dia sedang mengantar pesanan pelanggan menggunakan motor sebelum akhirnya tertabrak mobil.
Tiba-tiba— Memori asing membanjiri kepalanya seperti banjir besar.
“Aaaargh!” Arya memegangi kepala sambil meringis kesakitan.
Ingatan pemilik tubuh asli mulai menyatu dengannya. Dan beberapa saat kemudian, matanya membelalak lebar. “Astaga… aku berpindah tubuh ke dunia lain?!”
“Dan aku menjadi anak tidak berguna dari Pemimpin Padepokan Nusantara?!”
Jantungnya berdegup kencang. Dia menoleh ke depan dan melihat seorang lelaki tua sedang menginjak dada pria lain yang terluka parah.
Seketika ingatan tubuh itu memberitahunya siapa mereka. Tetua Padepokan Jugala dan Asep Wijaya.
Arya menelan ludah dengan susah payah. Menurut ingatan pemilik tubuh asli, Tetua itu adalah ahli Kanuragan tingkat tinggi yang mampu membunuhnya hanya dengan satu serangan.
“Tidak… tidak mungkin… Baru pindah dunia aku sudah mau dibunuh?!”
Dalam kepanikannya—Tiba-tiba sebuah suara mekanis terdengar di kepalanya.
[Ding!
Sistem Guru Terkuat berhasil terikat dengan Tuan Rumah!]
“S-Sistem?!” Arya menatap layar hologram transparan yang muncul di hadapannya.
[Tuan Rumah harus merekrut murid pilihan untuk membangkitkan kembali Padepokan Nusantara.
Hadiah akan diberikan berkali-kali lipat sesuai bakat murid yang direkrut.]
Arya hampir muntah darah mendengarnya. “Bagaimana mungkin aku merekrut murid dalam situasi seperti ini?!”
“Aku bahkan akan mati beberapa detik lagi!”
“Sistem! Apa tidak ada hadiah pemula?!”
[Tentu saja ada.]
[Apakah Tuan Rumah ingin membuka Paket Hadiah Pemula?]
“Ya! Cepat buka!”
[Membuka Paket Hadiah Pemula…]
[Selamat! Anda memperoleh kekuatan ranah Kesempurnaan Puncak!.
Efek hanya berlaku di wilayah Padepokan Nusantara.]
Booommm!!
Energi spiritual dalam jumlah mengerikan berkumpul dari segala arah dan memasuki tubuh Arya.
Tanah bergetar hebat.
Langit berubah gelap.
Pada saat yang sama, waktu kembali berjalan normal.
Tetua Padepokan Jugala langsung mundur beberapa langkah dengan ekspresi terkejut.
“Apa?!” Dia menatap Arya yang kini diselimuti aura spiritual luar biasa.
Asep pun tercengang. Dia tumbuh besar bersama Arya dan tahu jelas bahwa tuan mudanya tidak memiliki energi spiritual sedikit pun.
Tetua Padepokan Jugala segera menyadari ada sesuatu yang tidak beres. “Brengsek! Aku tidak akan membiarkanmu berkembang!” Dengan tatapan penuh niat membunuh, dia langsung melesat menyerang Arya.