

Ada saatnya dalam hidup, seseorang yang kita cintai harus pergi… selamanya. Dan yang tertinggal hanya bisa diam, mencoba menerima sesuatu yang sama sekali tak siap dilepas.
Langkah demi langkah terasa berat, seolah dunia masih baik-baik saja, padahal di dalam hati, ada bagian yang runtuh diam-diam, tanpa suara.
Tidak semua kehilangan datang dengan peringatan.
Kadang ia hadir begitu saja tanpa permisi, merenggut tanpa memberi kesempatan untuk bersiap.
Namun yang paling menyakitkan bukan hanya tentang kepergian. Melainkan saat apa yang selama ini dipercayai, perlahan berubah menjadi asing.
Ada hal-hal yang seharusnya tak pernah ia ketahui.
Dan sejak saat itu, hidupnya… tak lagi sama.
Buku itu terbuka, memuat kisah yang tak pernah selesai.
Tentang perasaan yang tumbuh terlalu dalam, kehilangan yang datang terlalu cepat, dan rahasia yang diam-diam menghancurkan segalanya.
Lelaki itu tersenyum tipis.
Senyum yang tak lagi memiliki arti, selain menyembunyikan luka yang tak mampu ia jelaskan.
“Terima kasih…”
-
Tidak semua orang ingin menjadi pusat perhatian. Namun ada beberapa orang yang, bahkan saat mereka diam, dunia seolah tetap mengamatinya. Bima Arkana adalah salah satunya. Suara mesin mobilnya mereda pelan di area parkiran sekolah. Aroma karet ban panas bercampur sedikit bensin menyengat, melayang di udara pagi yang mulai hangat.
Beberapa langkah kaki berhenti otomatis. Semua pasang mata penasaran menoleh, seakan sudah tahu siapa yang akan keluar.
Pintu mobil terbuka. Bima turun dengan tenang, tas ransel tersampir di pundak kirinya. Tidak ada yang berlebihan dalam caranya berjalan, namun setiap langkahnya seolah menandai wilayah yang tak bisa diabaikan.
Di lorong sekolah, langkahnya membuat suasana seketika berbeda, seolah dunia berhenti bernapas sejenak. Beberapa siswi terpaku pada pesonanya, sebagian lagi tak bisa menahan diri untuk bergosip.
“Ya ampun, Bima ganteng banget…”
“Gue takut pingsan di tempat, sumpah.
”
“Bima dari negeri dongeng apa sih?”
Bima tidak peduli. Ia memilih tebal telinga, tatapannya lurus ke depan, seperti biasa.
"Rel, denger pantun gue ya," kata Raka menyenggol bahu lelaki itu.
Farel menatapnya malas. "Pantun apaan?"
"Jawab cakep aja gitu."
"Hm, oke."
"Jalan-jalan ke pasar Rebo."
"Cakep."
"Ini hari Senin lah, anjir. Mana bisa ke pasar Rebo."
"Lah? Lo tahu dari mana?"
"Dari... otak cerdas gue dong."
Farel hanya memutar bola mata malas. Ia segera menyumpal telinganya dengan earphone sebab kalau sudah seperti ini, tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Raka akan terus berceloteh tidak jelas, ya begitulah lelaki itu.
Bima masuk kelas dengan wajah datar. Raka berhenti berbicara hal random. Meski, tidak ada yang menanggapi. Lelaki itu duduk di bangkunya, menyandarkan punggung pada penyanggah.
"Eh, tumben telat lo.”
Bima menoleh sekilas pada Raka lalu meraih ponsel. "Gue nggak pernah telat."
Raka tertawa kecil. "Sombong bener lo."
Bima tidak menjawab, jemarinya menari pada layar. Entah apa yang ia cari, ia hanya ingin melenyapkan kebosanan yang menyelimutinya.
Raka terdiam sejenak, seolah sedang memikirkan sesuatu. "Eh, lo udah ngerjain PR belom?"
"Udah."
"Serius? Mau nyalin dong gue."
"Bawa aja bukunya di Farel," balasnya tanpa menoleh. Ya, bukunya semalam emang dipinjam Farel. Raka langsung menarik earphone di telinga lelaki itu, membuat Farel terkejut.
"Apa sih? Mau pantun lagi lo?"
"Buku Bima, sini. Gue mau nyalin," ucapnya, tangannya terulur di udara. Farel terdiam, menatap tangan itu seolah waktu berhenti sesaat.
"Ya nanti," balasnya santai, lalu kembali memasang earphone.
Raka melotot. Tanpa ragu, ia menggeplak kepala lelaki itu, membuat Farel meringis.
"Abis bel pertama pelajarannya bego!”
"Terus?”
Raka berdecak sebal. Ia menyambar tas ransel lelaki itu, membuat Farel terlonjak.
"Ehh, lo ngapain anjir?"
"Bacot lo! Gue mau ambil buku Bima!" semprot Raka, habis sudah kesabarannya.
"Bentar elahh, nggak sabaran banget sih lo," ketus Farel, merebut tas dari Raka sebelum akhirnya menyerahkan buku.
Raka langsung mengambilnya. Mana bisa ia sabar, sedangkan bel tinggal 4 menit lagi. Bima menyimpan benda persegi itu dalam saku celana.
Di ambang pintu, seorang gadis dengan rambut tergerai rapi, matanya tak lepas dari Bima. Ia tidak pergi, tidak juga menghampiri.
Aluna Safira.
Ia baru pertama kali melihat Bima sedekat ini. Lelaki yang kerap jadi topik pembicaraan, lelaki yang memiliki daya tarik sendiri dengan pesonanya yang mampu membuat para kaum hawa mabuk. Aluna menghela napas sebelum menjauh dari sana.
Bel istirahat berbunyi. Suara riuh murid-murid memenuhi lorong. Mereka berhamburan ke kantin, tapi Bima tetap di tempatnya. Ia tidak ikut berdesak-desakan, tidak memilih keramaian. Bukan karena ia membencinya.
Tapi, ketenangan kelas memberinya ruang sendiri. Raka dan Farel keluar sebentar, meninggalkan Bima yang duduk di bangku, menatap jendela. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai, menyorot debu halus yang menari di udara. Bima mengambil buku catatan, mulai menulis sesuatu. Tidak ada yang tahu apa yang ia tulis. Ini adalah dunianya, tempat ia bisa bernapas tanpa gangguan.
Seiring waktu berjalan, riuh di luar kelas semakin terdengar samar. Sebagian orang datang dan pergi, tetapi Bima tetap di kursinya, menyusun ulang buku-bukunya, menata pena di meja.
Ia tidak merasa kesepian. Tenang adalah pilihannya hari itu, dan ia menikmatinya sepenuhnya.
-
Sepulang sekolah. Bima memilih keluar paling akhir dari kelasnya. Ia hanya malas berdesakan. Tentunya, kedua sahabatnya selalu bersamanya.
Selepas semua pergi. Ketiga lelaki itu melangkah keluar kelas, menyusuri lorong yang cukup sepi.
"Lo mau ikut nongkrong nggak!” tanya Farel pada Bima.
Bima menggeleng, untuk hari ini mungkin tidak. Farel mengangguk mengerti. Tidak perlu jawaban suara, dari gerakan saja sudah cukup untuk menjawab semuanya.
"Gue kangen masakan ibu, Rel. Gue mau ketemu nyokap lo.”
"Nggak malu lo minta makan di rumah gue?”
Raka menggeleng polos. "Nggak, lagian nyokap lo juga nggak masalah.”
Farel mendengus sebal.
Bima melangkah menuju mobilnya. Di saat yang hampir bersamaan, dua mobil lain ikut bersiap, pintu-pintu tertutup dengan bunyi yang nyaris serempak, memecah sisa riuh halaman sekolah yang mulai lengang.
Mesin dinyalakan, suaranya bercampur angin sore yang berembus lembut, membawa aroma aspal dan debu yang terangkat tipis.
Bima menggenggam setirnya erat, pandangannya lurus ke depan. Di kaca spion, bayangan gerbang sekolah perlahan tertangkap, tempat yang baru saja mereka tinggalkan, bersama percakapan yang masih menggantung.
Pedal gas akhirnya diinjak. Mobil Bima melaju lebih dulu, diikuti mobil Raka dan Farel yang tak kalah cepat, seakan tak ingin tertinggal. Ban-ban berdecit halus saat meninggalkan pekarangan, menyapu kerikil kecil yang tersebar di jalan.
Aluna masih berdiri, memperhatikan Bima yang semakin jauh dari jangkauannya.