Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Perjalanan Sang Penguasa Kegelapan

Perjalanan Sang Penguasa Kegelapan

Malaikat Agung Samael | Bersambung
Jumlah kata
31.1K
Popular
100
Subscribe
22
Novel / Perjalanan Sang Penguasa Kegelapan
Perjalanan Sang Penguasa Kegelapan

Perjalanan Sang Penguasa Kegelapan

Malaikat Agung Samael| Bersambung
Jumlah Kata
31.1K
Popular
100
Subscribe
22
Sinopsis
18+FantasiIsekaiPertualanganSistemKekuatan Super
Langit di celah dimensi ruang dan waktu berguncang hebat, retak layaknya kaca yang dihantam godam raksasa. Riak energi berwarna ungu keperakan berbenturan dengan tirai kegelapan mutlak yang pekat. Di pusat kekacauan itu, Silva Eleonard berdiri dengan tenang. Rambutnya yang unik setengah hitam pekat dan setengah putih perak, berkibar ditiup angin dimensi yang ganas. Jubah hitam panjangnya berkibar, memancarkan aura magis gelap yang mengintimidasi, sementara tatapan matanya yang heterokromia, ungu tajam di sebelah kanan dan kuning keemasan di sebelah kiri, mengunci pergerakan musuhnya. ​Di hadapannya, Chronica, sang penguasa Konsep Waktu, berlutut dengan tubuh yang mulai memudar. Mahkota jam pasir di atas kepalanya retak berkeping-keping. Pertempuran Silva dan Adik kembarnya Lucretia bersama teman-teman telah usai, namun Chronica dengan sisa-sisa kekuatannya mengirim Silva seorang menuju dunia lain, dunia dimana kekuatan "Konsep Tuhan" Kegelapan mutlak miliknya tersegel.
Bab 1 : Semesta Alternatif

[ Celah Dimensi ]

•••

​"Sudah berakhir, Chronica," ucap Silva. Suaranya dingin, datar, tanpa emosi sedikit pun, meski baru saja melewati pertempuran yang sanggup menghancurkan ribuan planet.

​"Silva! Kau pikir kau bisa menang begitu saja?!" Ucap Chronica.

" Kak Silva, Dia mencoba membalikkan poros waktu!" Teriak Sang Adik kembar perempuan yang bernama Lucretia yang merupakan penguasa Konsep Tuhan Lux Regalia Sang cahaya tanpa batas. dengan bersenjatakan sebilah rapier keemasan ditangan kanan.

"Jika aku harus musnah, maka eksistensimu sebagai Inkarnasi Tuhan Kegelapan juga harus lenyap dari lini masa ini, Silva !!" Teriak Chronica saat tubuhnya perlahan hancur karena serangan Silva.

​Dengan sisa-sisa energi eksistensinya, Chronica meledakkan dirinya sendiri. Bukan ledakan kehancuran, melainkan sebuah singularitas. Sebuah lubang hitam ruang-waktu, terbuka tepat di bawah kaki Silva.

​"Kak Silvaaaaaaa!" teriakan Sang adik menggema,

namun terlambat.

​Gravitasi dimensi yang asing menarik tubuh Silva dengan paksa. Kegelapan mutlak miliknya, Umbra Regnum, mencoba menolak tarikan tersebut, namun hukum dimensi yang runtuh memotong paksa hubungannya dengan konsep ketuhanan miliknya.

••••

[ Dunia Lain, Lokasi Tidak Diketahui ]

Perlahan tapi pasti, kesadarannya meredup dalam kekosongan yang hampa.

Indra penglihatannya yang tajam segera menyesuaikan diri dengan sekitar.

Gelap.

Sangat gelap.

Ia berada di dalam sebuah gua batu yang lembap dengan stalaktit yang meneteskan air secara berkala, ​Silva mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa sangat berat. Ia segera memeriksa aliran mananya.

Detik itu juga, matanya yang berwarna ungu dan emas melebar sesaat, sebelum kembali datar.

​"Sensasi ini, uh..Kekuatanku... tersegel?" gumamnya lirih.

​Umbra Regnum, otoritas kegelapan mutlak yang membuatnya ditakuti sebagai inkarnasi Tuhan, sama sekali tidak merespons. Energi magis yang tersisa di dalam tubuhnya hampir mendekati nol. Hanya ada setitik kehangatan asing di inti mananya—bukan kegelapan, melainkan percikan api kecil.

Ding!

​Sebuah suara berdenting nyaring di dalam kepalanya, disusul oleh hamparan layar holografis berwarna biru transparan yang muncul entah dari mana.

​[Sistem Inisialisasi Berhasil.]

[Pengguna: Silva Eleonard]

[Status: Inkarnasi Tersegel (99.9%)]

[Atribut Tersedia: Api (Level 1)]

[Selamat datang di Dunia: Nusantara]

[Misi Utama: Temukan pecahan inti Umbra.]

​Silva menatap layar tersebut tanpa ekspresi. "Sistem? Teknologi dari peradaban mana ini?" tanyanya pada diri sendiri. Sifat cuek dan otaknya yang encer membuatnya cepat menerima situasi. Mengeluh tidak akan mengembalikan kekuatannya.

​Ia mengepalkan tangannya. Sebuah api merah menyala kecil di telapak sarung tangan hitamnya. "Hanya api biasa. Menyedihkan sekali jika dibandingkan dengan Umbra Regnum."

​Saat Silva melangkah menyusuri lorong gua yang gelap, indra pendengarannya menangkap suara gema pertempuran dari kejauhan.

​Di sebuah aula gua yang agak luas, tampak sekelompok orang sedang terdesak oleh sekumpulan monster berbentuk laba-laba raksasa berwajah manusia. Yang menarik perhatian Silva bukan monsternya, melainkan anatomi orang-orang tersebut. Salah satu dari mereka memiliki telinga panjang yang runcing—seorang Elf. Dan yang lainnya bertubuh kekar, pendek, memegang kapak besar, seorang Dwarf. Mereka mengenakan pakaian zirah kulit tradisional yang tampak asing.

​"Sari! Mundur! Formasi bertahan di dekat gerbang?!" teriak sang Dwarf bertubuh kekar sambil mengayunkan kapaknya, menahan mandau salah satu laba-laba.

​"Tidak bisa, Guntur! Jalur keluar tertutup batu runtuh! Kita terjebak di Dungeon Alas Purwo ini!" balas gadis Elf bernama Sari, tangannya bergetar saat menarik busur panah yang memancarkan energi hijau.

​"Sialan! Kenapa monster tingkat tinggi bisa muncul di lantai atas?!" seru seorang pemuda manusia yang memegang keris pusaka yang menyala biru

​Silva berdiri di kegelapan koridor, mengamati. Dari percakapan mereka, ia menangkap beberapa informasi penting. Dungeon Alas Purwo. Nusantara.

Dunia ini memiliki sistem magisnya sendiri, dan monster-monster ini adalah target yang tepat untuk menguji kekuatan barunya.

​Satu monster laba-laba melompat tinggi, mengarah tepat ke arah Sari yang sudah kehabisan anak panah. Gadis Elf itu memejamkan mata, bersiap menerima ajalnya.

Wusss!

​Sebuah gelombang panas melesat cepat, menghantam tepat di kepala monster tersebut hingga meledak dalam kobaran api. Monster itu menjerit melengking sebelum ambruk menjadi abu.

​Sari membuka matanya, terengah-engah. Guntur dan pemuda manusia itu menoleh serentak ke arah kegelapan lorong.

Dari sana, Silva melangkah keluar. Rambut split hitam-putihnya berayun perlahan, matanya yang berbeda warna berkilau di tengah temaram api yang baru saja ia ciptakan. Jubah hitamnya yang elegan membuatnya tampak seperti bangsawan dari dunia lain yang tersesat.

​"Siapa kau?!" tanya Guntur waspada, meskipun orang asing ini baru saja menyelamatkan rekan mereka.

​Silva tidak menjawab. Matanya yang dingin hanya melirik sekilas ke arah lima monster tersisa yang kini berbalik menatapnya dengan penuh ancaman.

Ding!

[Misi Sampingan Aktif: Basmi 5 Laba-laba Penjaga Alas Purwo.]

[Hadiah: Peningkatan Level Atribut Api & 100 Poin Sistem.]

​"Berisik sekali," Gumam Silva, merujuk pada suara sistem di kepalanya, ​Ia menjentikkan jarinya. Api merah kembali berkobar, kali ini menyelimuti kedua tangannya.

​Satu monster menerjang. Silva mengelak ke samping dengan gerakan yang teramat tenang, seolah serangan itu terjadi dalam gerak lambat. Tangan kanannya yang diselimuti api menghantam bagian bawah rahang monster tersebut, menyalurkan panas ekstrem langsung ke organ dalamnya.

​"Hebat sekali... tanpa mantra?!" gumam Sari terperangah. Di dunia Nusantara, penyihir biasanya membutuhkan rapalan aksara kuno untuk memicu elemen murni.

​Tiga monster sekaligus mengepung Silva dari berbagai arah, memuntahkan jaring-jaring sutra yang tajam seperti kawat baja.

​"Hei, awas!" teriak pemuda manusia pemegang keris.

​Silva tetap bergeming. Alih-alih panik, ia menganalisis arah angin dan kepadatan jaring tersebut dalam hitungan milidetik.

Saat jaring hampir menyentuh jubahnya, Silva berputar, menciptakan lingkaran api melingkar yang membakar habis jaring-jaring tersebut sekaligus menghempaskan ketiga monster itu ke dinding batu.

​Tinggal satu monster terbesar, sang pemimpin koloni. Monster itu tampak menyadari bahwa pria di hadapannya bukanlah manusia biasa. Ia melangkah mundur, mencoba melarikan diri ke celah dinding gua.

​"Mau ke mana?" suara dingin Silva menggema di dalam dungeon.

​Dengan satu hentakan kaki, Silva melesat ke depan. Kecepatannya murni berasal dari teknik bertarung fisiknya yang terlatih selama bertahun-tahun selama dia menjadi manusia.

Ia melompat, mendarat di atas punggung monster tersebut, dan menancapkan tinju apinya tepat di titik saraf utama di punggung makhluk itu. Api berkobar hebat, menghanguskan seluruh tubuh monster tersebut hingga menyisakan sebuah batu kristal kecil berwarna merah di lantai gua.

​Suasana aula gua mendadak hening. Guntur, Sari, dan pemuda manusia itu hanya bisa melongo menyaksikan bagaimana lima monster yang hampir membantai mereka habis dalam waktu kurang dari dua menit oleh satu orang, tanpa sepercik pun keringat di wajahnya.

Ding!

[Misi Sampingan Selesai.]

[Level Atribut Api meningkat: Level 3.]

[Membuka Keterampilan baru: Ignis Flare.]

​Silva mengabaikan notifikasi tersebut. Ia berjalan mendekat, mengambil kristal merah yang dijatuhkan monster tadi.

​"Di mana jalan keluar dari tempat ini?" tanya Silva langsung tanpa basa-basi atau perkenalan.

​Sari, sang Elf, mengedipkan matanya beberapa kali sebelum buru-buru membungkuk hormat.

"Terima kasih atas bantuan Anda, Tuan... Ah, perkenalkan, saya Sari dari klan Elf banyuwangi. Ini Guntur, dan ini Danu. Jalan keluar tertutup batu runtuh di sebelah barat, tapi dengan sihir api Anda yang luar biasa, kita pasti bisa menghancurkannya!"

​"Elf Banyuwangi?" Silva mengernyitkan alisnya tipis. Nama yang sangat aneh untuk ras elf. Namun, ia tidak berniat memperpanjang percakapan.

"Tunjukkan jalannya." ucap silva singkat

Lanjut membaca
Lanjut membaca