

"Sial, panas banget! Dari subuh sampai siang gini belum dapat hasil yang bagus pisan."
Matahari di atas kepala rasanya seperti sengaja ditempel lima senti di atas ubun-ubun.
Panasnya minta ampun. Damar menyeka keringat yang bercucuran di dahi menggunakan punggung tangan, lalu menghempaskan keranjang bambu berisi tanaman obat ke atas tanah. Sudah keliling hutan dari subuh, hasilnya cuma segenggam akar-akaran.
'Gusti... begini amat nasib orang ganteng tapi miskin,' batin Damar meratapi nasib. 'Tiap hari blusukan di hutan cuma buat nyari tanaman obat yang harganya gak seberapa. Kalau begini terus, boro-boro mau beli motor, buat beli kopi saset aja mesti mikir tiga kali.'
"Eh, ternyata di sini deket sungai ya... Mandi ah biar seger."
Melihat gemercik air sungai yang jernih di depannya, Damar tidak berpikir dua kali.
Otaknya yang sudah setengah matang karena kepanasan langsung memerintahkan tangan untuk melucuti pakaian. Tanpa sisa, dia langsung meloncat.
BYURRR!
Air sungai terciprat ke mana-mana. Damar memejamkan mata, menikmati kesegaran yang merayapi kulitnya. Dia memijat bahunya yang pegal-pegal sembari mengapung santai.
'Ahhhh... mantap pisan! Ini baru namanya surga dunia. Persetan sama obat buat klinik, yang penting badan segar dulu. Kalau tiap hari bisa mandi seger begini mah, kayaknya aku gak gampang stres! Eh, tapi kalau ada yang nemenin kayaknya lebih asyik nih ...' Damar bergumam sambil menutup matanya, untuk menikmati berendam di air yang segar itu.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan tiga detik. Begitu Damar membuka mata dan menoleh ke arah hulu yang agak tertutup semak, jantungnya copot ke usus.
DEG!
"Loh, itu kan Ceu Asih? Gila cantik pisan."
Di sana, ada seorang wanita yang juga sedang berendam tanpa sehelai benang pun.
Namanya Ceu Asih, kembang desa sebelah yang terkenal judesnya selangit. Kulitnya yang putih mulus tampak berkilau terkena cipratan air.
Sebelum Damar sempat mengedipkan mata untuk memastikan ini nyata atau mimpi, Ceu Asih sudah menoleh.
"KYAAA!!!" Ceu Asih langsung menjerit histeris, buru-buru menyilangkan tangan di dada. Matanya melotot seperti mau keluar. "Kurang ajar! Kamu sengaja mengintip, ya?!"
Damar panik setengah mati, refleks ikut menutupi bagian depannya sendiri di dalam air. "Eh, Ceu! Sumpah, demi Allah, saya gak tahu kalau Ceu Asih ada di sini! Baru juga nyemplung!"
"Halah, gak usah banyak alasan! Dasar lelaki mesum, cabul, miskin lagi! Semua orang sudah tahu kamu itu impoten, gak punya masa depan, sekarang malah berani-beraninya mengintip saya! Gak tahu malu!" caci Ceu Asih, suaranya melengking membelah keheningan hutan.
SRET!
"Huh, sial banget harus diintip sama si impoten," gerutu Ceu Asih.
Dengan gerakan cepat yang luar biasa murka, Ceu Asih menyambar kainnya, melilitkan ke tubuh, lalu memakai baju sambil terus memaki-maki Damar dengan segala sumpah serapah sebelum akhirnya menghentakkan kaki pergi.
'Si impoten? Sial, apa aku sehina itu?'
Damar terpaku di dalam air, jiwanya serasa melayang keluar dari raga. Sudahlah miskin, dicap impoten se-kecamatan, sekarang dituduh cabul pula.
"Sialan... kenapa hidupku begini amat!" teriak Damar frustrasi ke langit.
Sret.
Tak ada lagi keinginan untuk berendam. Damar akhirnya kembali naik ke darat, memakai celana pendeknya dengan kesal, lalu meninju sebuah pohon besar di dekatnya untuk melampiaskan emosi.
BUGH!
"Aduh, sialan!" Damar meringis, memegang tangannya yang kesakitan. Pohonnya tidak kenapa-kenapa, malah tangannya yang lecet.
Tapi sialnya belum selesai.
PLETAK!
Sebuah buah berukuran kepalan tangan jatuh tepat di atas ubun-ubunnya.
"Aww!" Damar mengusap kepalanya yang benjol seketika. Dia melihat ke bawah. Sebuah buah berbentuk aneh dengan warna merah menyala, merah yang sangat mencolok dan tidak wajar, tergeletak di tanah.
Damar mengerutkan kening. Seumur hidup tinggal di dekat hutan, baru kali ini dia melihat buah seaneh ini. Kepalanya kemudian mendongak ke pohon, namun menemukan bentuk buah yang sama di pohon itu.
Apa buah ini langka hanya ada satu?
Krucuk...
Perutnya tiba-tiba berbunyi nyaring, mengingatkan kalau dari pagi dia belum kemasukan nasi sebutir pun.
'Ah laper juga dari pagi belum makan apa-apa,' ringis Damar dalam hati.
Rasa kesal dihina Ceu Asih berbaur dengan rasa lapar yang teramat sangat membuat otaknya korslet.
"Kebetulan ada buah, tidak mungkin kan ini buah beracun? Sudahlah makan saja!" ucap Damar nekat. Dia memungut buah itu, membersihkannya asal dengan kaos, lalu langsung menggigitnya.
KREK!
Rasanya manis, tapi ada sensasi panas yang langsung membakar tenggorokan.
Detik berikutnya, mata Damar mendelik. Tubuhnya mendadak kaku. Jantungnya berdegup sepuluh kali lebih cepat.
DUG-DAG-DUG-DAG!
Perutnya seperti diaduk-aduk. Tubuhnya mulai kejang-kejang di atas tanah.
"Aduh... ini mah beneran beracun..." gumam Damar terbata-bata dengan mulut sedikit berbusa. Dia berpikir, mungkin ini kualat karena baru saja memaki nasibnya sendiri.
'Eh, apa aku bakal mati? Kayak begini?' tanyanya dalam hati.
Bruk.
Pandangan Damar perlahan menggelap, dan dia pun pingsan dengan posisi telentang yang sangat tidak etis.
**
Entah berapa lama berlalu, Damar merasakan ada sensasi hangat yang menepuk-nepuk pipinya. Bau minyak kayu putih yang menyengat langsung menusuk hidung.
PLAK! PLAK!
"Damar... Damar, bangun, Jang!"
Damar melenguh, perlahan membuka kelopak matanya yang terasa berat. Wajah pertama yang dia lihat adalah Teh Sarah, mantan kakak iparnya.
Setelah kecelakaan maut tiga tahun lalu yang merenggut nyawa orang tua dan kakaknya, hanya menyisakan klinik kecil yang sepi, Teh Sarah-lah yang memilih bertahan di desa untuk merawat dan menemaninya.
"Teh... Sarah?" bisik Damar lemas.
"Alhamdulillah... kamu ini ya, nyari penyakit saja!" omel Teh Sarah, raut wajah cantiknya dipenuhi rasa khawatir yang mendalam. "Teteh bingung nungguin di rumah sudah lebih dari lima jam kamu gak pulang-pulang. Pas dicari ke hutan, malah ketemu lagi ngejengkang begini!"
"Aku... Masih hidup?" Tanya Damar memastikan, yang langsung dalam jitakan oleh Sarah.
Plak.
"Kamu ini ngomong apa sih? Masih hidup lah." Sarah menjawab dengan cepat sambil menatap Damar tak habis pikir.
Damar hendak meminta maaf, tapi saat dia memfokuskan pandangannya ke arah Teh Sarah, matanya mendadak berkedip aneh.
WUTTT!
Pandangannya mendadak berubah seperti memiliki lapisan lensa pemindai gaib. Pakaian katun yang dikenakan Teh Sarah perlahan memudar, menjadi transparan, hingga akhirnya benar-benar hilang dari pandangan Damar!
Di matanya saat ini, Teh Sarah sedang duduk berlutut di sampingnya tanpa busana sama sekali. Lekuk tubuhnya yang matang, padat, dan aduhai terpampang nyata tanpa sensor.
Damar menelan ludah dengan kasar.
Glek.
'L-loh? Kok? Kok, teh Sarah telanjang? Ada apa dengan mataku? Apa aku halusinasi?'
Pikirannya langsung melayang entah ke mana.
Namun, kejutan paling besar bukan hanya ada di matanya. Di balik celana pendeknya, ada sesuatu yang tiba-tiba bergejolak hebat. Sesuatu yang sudah bertahun-tahun mati suri dan membuatnya minder di hadapan para wanita, tiba-tiba menegang kuat, mengeras, dan membesar hingga menyesakkan celananya.
JENG! JENG! JENG!
Rasa gairah yang menggebu-gebu langsung naik ke kepalanya.
'Asetku... sudah hidup lagi?!' jerit Damar dalam hati dengan perasaan girang yang luar biasa. Kutukan impotensinya runtuh seketika tanpa Damar tahu penyebabnya!
Tapi di sisi lain, Damar juga ingin menenggelamkan mukanya ke dalam tanah saat itu juga. Bagaimana tidak? Dia mendadak sembuh dan merasakan gairah sehebat ini justru saat menatap mantan kakak iparnya sendiri yang sudah merawatnya dengan tulus.
"Damar? Kamu kenapa malah melotot begitu? Ada yang sakit lagi?" tanya Teh Sarah heran, melihat wajah adik iparnya yang mendadak merah padam seperti kepiting rebus sambil terus menatap ke arah dadanya.