

Langit pagi tampak cerah, sinar matahari menyinari halaman SMA Cakrawala, membuat suasana sekolah yang biasanya tenang berubah ramai oleh para siswa yang baru saja menyelesaikan upacara hari Senin. Suara tawa dan obrolan memenuhi setiap sudut. Beberapa siswa berlarian menuju kantin. Sementara, yang lainnya berjalan santai menuju kelas masing-masing.
Di tengah keramaian itu, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Pintu mobil perlahan terbuka menampilkan sosok pemuda bertubuh tinggi keluar dengan langkah yang tenang.
Ia mengenakan seragam yang terdiri dari kemeja putih lengan pendek dengan kerah tegak. Di bagian luar, terdapat blazer biru safir berpotongan slim fit dengan lis putih tipis di sepanjang kerah tepian depan, dan saku. Lambang SMA Cakrawala berbentuk perisai bersulam benang emas terpasang di dada kiri blazer. Dasi bergaris biru tua, biru muda, dan putih melengkapi penampilannya. Celana panjangnya menggunakan motif kotak-kotak berwarna biru tua, biru muda, abu-abu, dan sedikit garis putih yang begitu rapi seolah tidak memiliki satu pun lipatan. Rambut hitamnya tertata sederhana dan sepasang matanya berwarna biru keabu-abuan memancarkan keteduhan yang sulit dijelaskan. Begitu ia melangkah di halaman sekolah, hampir semua mata langsung tertuju kepadanya.
"Eh, siapa itu?"
"Nggak pernah lihat sebelumnya."
"Ganteng banget."
"Kayaknya dia bakal jadi cowok paling ganteng di sekolah ini, deh."
Bisikan para siswi mulai terdengar di berbagai arah. Namun, pemuda itu sama sekali tidak mempedulikan tatapan mereka yang terpesona padanya. Pandangannya terfokus ke bangunan sekolah yang berdiri megah di hadapannya.
Perlahan ia menarik napas. "Tempat ini, aku bisa merasakannya."
Dadanya berdenyut pelan, ada sesuatu yang seolah memanggilnya, tetapi bukan suara. Melainkan sebuah energi yang sangat dikenalnya. Energi yang telah ia cari selama bertahun-tahun.
Tatapannya berubah tajam. "Mustika Samudra, benar-benar berada di sekolah ini."
"Lucien Zephyr."
Suara seorang pria paruh baya membuyarkan lamunannya. Pemuda berwajah tampan yang disapa Itu berbalik menoleh. Di sampingnya berdiri seorang kepala sekolah SMA Cakrawala dengan senyum ramah.
"Selamat datang di SMA Cakrawala, mulai hari ini kamu resmi menjadi murid di sini."
Pemuda itu mengangguk pelan. "Terima kasih, Pak."
Sejak pertama kali bertemu pemuda itu beberapa hari lalu, beliau memang merasa pemuda itu bukan anak yang banyak bicara. Walaupun demikian, sikapnya tetap dianggap sopan.
"Ayok, ikut saya. Saya akan memperkenalkanmu kepada teman-teman."
Lucien mengikuti langkah kepala sekolah menuju gedung utama. Setiap kali melewati para siswa, tatapan mereka selalu tertuju padanya bagaikan terhipnotis. Sebagian merasa penasaran, lebih banyaknya yang merasa kagum dengan wajah tampan nan meneduhkan setiap mata yang memandang.
Kringgg, bel masuk berbunyi begitu nyaring terdengar ke berbagai sudut sekolah. Seluruh siswa segera memasuki kelas masing-masing. Di kelas XI-A, suasana masih lumayan cukup gaduh.
"Aku dengar ada murid pindahan."
"Iya, katanya cowok."
"Aku harap dia sekelas sama kita."
"Ih, nggak mau. Gimana kalau dia jelek dan nakal?"
"Kata orang yang udah lihat, dia itu ganteng banget."
"Aku saksinya."
Tiba-tiba pintu kelas terbuka, seoarang wanita sebagai guru wali kelas masuk ke ruangan tersebut. Seluruh siswa yang tadi duduk sesuka hati langsung berlarian mengambil tempat duduk di kursi masing-masing.
"Selamat pagi, Bu."
"Pagi," ucapnya.
Wali kelas melangkah lebih depan. "Hari ini kelas kalian kedatangan seorang murid baru."
Suasana kelas langsung menjadi hening, semua mata tertuju ke arah pintu yang masih terbuka. Sesaat kemudian, Lucien melangkah masuk. Netra beberapa siswi langsung membola. Sedangkan, para siswa laki-laki saling berpandangan.
"Parah, ini, sih ganteng banget."
"Itu model atau murid?"
Bisikan para siswi kembali terdengar, jelas membuat para siswa insecure. Lucien berdiri tegak di depan kelas, raut wajahnya tetap datar.
"Silakan perkenalkan diri," titah wanita yang berdiri di sampingnya.
Ia mengedarkan pandangannya, lalu berkata dengan suara yang tenang. "Hallo, Perkenalkan namaku Lucien Zephyr."
Hanya itu yang dirinya sampaikan, senyuman pun tidak ada, tetapi tidak mengurangi ketampanannya. Hal itu membuat para murid saling pandang karena sikapnya itu.
"Lucien memang masih sedikit pemalu, semoga kalian bisa berteman baik dengannya."
Pemuda itu terdiam, bukan karena pemalu melainkan karena ia memang tidak tahu harus mengatakan apa lagi kepada mereka.
Di bangku dekat jendela, seorang gadis sedang memperhatikan murid baru itu sejak tadi. Entah mengapa, sejak Lucien memasuki kelas, dadanya terasa aneh sehingga tanpa sadar menyentuh dadanya.
"Kenapa?" tanya seorang teman, pelan.
"Nggak apa-apa, aku cuma merasa tidak enak di dalam sini"
"Masuk angin kali."
"Mungkin."
Lucien menatap ke arahnya, tatapan itu seolah terkunci pada gadis tersebut. Dada gadis itu berdegup lebih keras daripada sebelumnya.
"Lucien." Suara wali kelas membuyarkan keheningan.
"Masih ada satu bangku kosong di samping Freya, kamu bisa duduk di sana."
Sontak seluruh kelas menoleh ke arah bangku itu.
"Freya beruntung banget, ya."
Sementara, Lucien melangkah perlahan menuju bangku kosong tersebut. Setiap langkahnya terdengar mantap.
"Hi, aku Freya Azelyn, kamu bisa panggil aku Freya." Gadis itu mengawali pembicaraan sambil tersenyum ramah.
Pemuda tersebut menoleh. "Lucien."
"Kamu pendiam, ya?"
"Aku memang tidak banyak bicara."
Jawaban singkat itu membuat gadis pemilik nama Freya tertawa kecil.
Seorang gadis yang duduk tepat di depannya pun langsung berbalik badan sambil mengulurkan tangan "Kenalin juga, aku..."
Kringgg, bel pelajaran pertama pun dimulai. Guru Matematika masuk ke kelas dan langsung menjelaskan materi. Seluruh murid mulai mencatat, Lucien memperhatikan papan tulis dengan raut wajah datar. Angka-angka, rumus, dan grafik semuanya tampak asing dalam pandangannya.
"Kenapa tidak mencatat?" tanya Freya.
"Aku tidak pernah belajar ini."
"Lalu apa yang biasanya kamu pelajari di sekolahmu?"
"Biasanya aku belajar strategi perang, sejarah kerajaan, bahasa kuno, hingga cara mengendalikan arus laut."
"Kenapa kamu mepelajari semua itu?"
"Karena itu sangat penting, terutama strategi perang karena suatu saat nanti aku akan berperang."
Dahi gadis itu mengernyit, ucapan Lucien di luar akal manusia.
'Mungkin di sekolah lamanya dia ngambil jurusan sejarah,' batin teman sebangkunya itu.
Tanpa berpikir panjang lagi, gadis itu menggeser buku catatannya sedikit ke arah Lucien. "Kalau bingung, lihat punyaku aja."
Lucien menatap gadis itu beberapa saat. "Terima kasih."
Jam istirahat akhirnya tiba, bel kembali berbunyi nyaring. Seluruh siswa berhamburan keluar kelas.
"Freya ke kantin, yuk." Salah satu temannya berkata.
"Kalian duluan aja, nanti aku nyusul."
Kelas menjadi cukup sepi, Lucien masih duduk di tempatnya. Ia memperhatikan suasana sekolah dari balik jendela. Begitu banyak orang-orang dan begitu banyak suara. Ia merasa sangat berbeda dengan tempat tinggalnya.
"Kamu nggak ke kantin?" Suara gadis itu membuatnya menoleh.
"Aku tidak lapar."
Freya mengeluarkan sebuah kotak bekal dari tasnya. "Aku bawa bekal."
Ia membuka kotak makan itu, lalu menyodorkan sepotong roti. "Buat kamu."
Lucien menatap roti itu cukup lama, dalam hatinya bertanya-tanya makanan apakah itu? Tidak pernah dirinya temui sebelumnya, makanan itu aneh dan sangat asing. Ia belum pernah mencoba makanan seperti ini.
"Ayok dimakan, tenang aja nggak beracun, kok."
Lucien menerima roti itu dengan ragu, lalu menggigitnya sedikit. Gadis itu memperhatikan wajahnya dengan penasaran. "Gimana?"
"Manis," jawabnya.
"Iya, namanya juga roti cokelat."
Untuk pertama kalinya sejak datang ke sekolah itu, sudut bibir Lucien terangkat membentuk senyum yang sangat tipis. Lucien langsung menoleh ke arah Freya karena ia kembali merasakan energi yang sama yang jauh lebih kuat.