Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Detektif Gila

Detektif Gila

RUDZHAR | Bersambung
Jumlah kata
61.9K
Popular
100
Subscribe
10
Novel / Detektif Gila
Detektif Gila

Detektif Gila

RUDZHAR| Bersambung
Jumlah Kata
61.9K
Popular
100
Subscribe
10
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeGangsterMafiaDetektif
Dulu, Revan dikenal sebagai preman paling ditakuti di Jakarta. Hidupnya dipenuhi kekerasan, darah, dan pengkhianatan, hingga sebuah malam semuanya berakhir dengan kematian. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Saat membuka mata, Revan kembali ke masa lalu dengan ingatan utuh tentang hidupnya. Bertekad mengubah nasib, ia memilih jalan yang tak pernah dibayangkannya: menjadi seorang detektif. Sayangnya, kebiasaan berpikir seperti preman tak pernah benar-benar hilang. Cara menyelidiknya brutal, tindakannya di luar aturan, dan pikirannya sering kali dianggap gila. Di tengah rentetan pembunuhan berantai, konspirasi para pejabat, dan perang melawan sindikat kriminal yang dulu pernah menjadi dunianya, Revan harus membuktikan bahwa seorang mantan preman juga bisa menegakkan keadilan. Karena terkadang… hanya orang yang paling gila yang mampu menangkap monster sesungguhnya.
Bab 1

"Hah? Mana tato gue?!"

Revan buru-buru menyingsingkan kedua lengan bajunya. Matanya langsung membelalak.

Kulit lengannya bersih. Putih mulus tanpa satu goresan pun.

Padahal sebelumnya, kedua lengannya dipenuhi tato dua naga yang membentang dari bahu hingga pergelangan tangan. Tato itu dibuat oleh seniman tato paling terkenal di kawasan Jakarta Barat. Siapa pun yang melihatnya pasti berpikir dua kali sebelum mencari gara-gara dengannya.

Tapi sekarang...

Ke mana semua tato itu menghilang?

Revan mengangkat kepala.

Ia mendapati dirinya sedang duduk di sebuah ruangan kantor yang terang benderang, dipenuhi deretan meja kerja yang dipisahkan sekat-sekat kecil.

Suasananya benar-benar kacau.

Telepon berdering tanpa henti.

Printer terus mengeluarkan berkas.

Beberapa polisi lalu-lalang sambil membawa map tebal, sementara yang lain berlari menyusuri lorong dengan wajah tegang.

"Baik, semuanya kumpul!"

Seorang pria paruh baya berjaket cokelat berdiri di tengah ruangan.

"Kompol Maya akan memberikan pengarahan perkembangan Kasus Pemerkosaan dengan Taser. Malam ini kita bergerak. Semua dengarkan baik-baik!"

Beberapa anggota segera mendorong papan tulis besar ke depan ruangan. Di atasnya tertempel foto-foto korban, peta lokasi, serta berbagai catatan penyelidikan.

Para penyidik segera mengambil kursi dan berkumpul menghadap papan.

Hanya Revan yang tetap duduk terpaku.

Otaknya masih kosong.

Refleks ia menyentuh telinga kanannya.

Utuh.

Tak ada bekas sobekan sedikit pun.

Padahal, dalam ingatannya, telinga itu pernah robek saat bertarung melawan sekelompok preman bayaran.

Revan buru-buru mencari sesuatu yang bisa memantulkan bayangannya.

Pandangannya berhenti pada sebuah foto berbingkai di atas meja.

Di dalam foto itu tampak seorang polisi muda berseragam lengkap.

Wajahnya...

Persis dirinya.

"Sial..."

Kepalanya tiba-tiba terasa berdenyut hebat.

Dalam sekejap, gelombang ingatan asing menyerbu pikirannya.

Revan akhirnya menyadari sesuatu yang mustahil.

Apa jangan-jangan...

...aku pindah ke tubuh orang lain?

Sebelum ini, ia adalah salah satu eksekutor paling ditakuti dalam organisasi kriminal terbesar di Jakarta.

Nama aslinya memang Revan.

Namun di dunia hitam, semua orang mengenalnya sebagai Bung Van.

Orang yang tidak pernah gagal menyelesaikan pekerjaan.

Lalu...

Apa yang terjadi sebelum semua ini?

Matanya melebar.

Ingatan terakhir kembali dengan sangat jelas.

Ia telah dijatuhi hukuman mati.

Saat cairan suntikan perlahan masuk ke pembuluh darahnya, rasa dingin menjalar ke seluruh tubuh.

Ia masih ingat kalimat terakhir yang diucapkannya.

"Lelaki sejati lebih baik mati daripada hidup seperti pecundang."

Setelah itu...

Gelap.

Namun ketika membuka mata, ia justru berada di sini.

Bukan terlahir kembali sebagai bayi.

Bukan mimpi.

Melainkan langsung hidup dalam tubuh orang lain.

Semakin banyak ingatan baru bermunculan.

Orang yang kini ditempatinya juga bernama Revan.

Seorang penyidik muda di Unit Reserse Kriminal Khusus Polres Metro Jakarta.

Dengan kata lain...

Sekarang ia adalah seorang polisi.

Revan sampai mengusap wajahnya sendiri.

Dari tangan kanan bos mafia...

menjadi aparat penegak hukum.

Perubahan itu terlalu gila untuk dipercaya.

Ia meraba rambutnya.

Dulu kepalanya penuh bekas luka bacok hingga memilih mencukur habis rambutnya.

Sekarang rambut hitamnya tumbuh rapi, membuat wajahnya terlihat jauh lebih muda dan tampan.

"Rekan-rekan."

Suara seorang wanita memecah lamunannya.

Di depan papan tulis berdiri seorang polisi wanita berambut pendek dengan tatapan tajam.

Dari ingatan barunya, Revan langsung mengenalinya.

Namanya Kompol Maya Pratama.

Kepala Tim B Unit Reserse.

Masih muda, tetapi dikenal sangat cerdas dan memiliki tingkat keberhasilan tinggi dalam mengungkap kasus-kasus besar.

"Sejak tanggal dua belas bulan ini," ujar Maya, "telah terjadi tiga kasus pemerkosaan berantai menggunakan alat kejut listrik."

Ruangan langsung hening.

"Korban seluruhnya perempuan muda. Mereka biasanya pulang sendirian dari tempat hiburan malam."

"Pelaku membuntuti korban hingga masuk ke gang yang sepi."

"Setelah itu korban dilumpuhkan menggunakan taser."

"Pelaku memperkosa korban."

"Dan sebelum kabur..."

"...pelaku sengaja mengencingi korbannya."

Seluruh ruangan langsung terdiam.

"Kami sudah menguji sampel urin yang ditemukan di tiga TKP."

"Hasilnya identik."

"Artinya semua kejahatan dilakukan oleh orang yang sama."

"Korban ketiga sempat sadar saat pelaku beraksi dan berhasil mencakar wajahnya."

"Dari sana kami memperoleh sampel darah pelaku."

Saat Maya masih menjelaskan, pria berjaket cokelat tadi menoleh ke arah Revan.

Pria itu adalah AKP Budi Santoso, wakil kepala unit.

Selama masa magang Revan sebelumnya, dialah yang paling sering menyuruh-nyuruhnya melakukan pekerjaan receh.

"Revan."

Budi melambaikan tangan.

"Malam ini kita lembur. Sana beli kopi buat semua."

Revan menatapnya datar.

Ingatan tubuh ini mengatakan bahwa Revan lama adalah polisi muda yang penurut.

Sering dimanfaatkan senior.

Sering dijadikan pesuruh.

Namun...

Revan yang sekarang bukan lagi orang itu.

"Hei!"

Nada suara Budi mulai meninggi.

"Lo budek, ya? Cepat sana!"

Brak!

Revan menghantam meja hingga seluruh ruangan terkejut.

Ia berdiri perlahan.

Tatapan dinginnya membuat Budi ikut terpaku.

Bahkan Kompol Maya menghentikan penjelasannya.

"S-Saya saja yang beli..."

Suara perempuan terdengar dari belakang.

Semua menoleh.

Seorang polisi wanita muda berkacamata dengan rambut dikuncir berjalan maju sambil mengangkat tangan.

Namanya Nina.

Sesama polisi magang yang baru bergabung beberapa minggu.

Diam-diam, Nina sudah lama menyukai Revan.

Meski Revan lama terlalu pendiam dan sering dibully, wajahnya memang sulit diabaikan.

Tubuh tinggi.

Rapi.

Dan berwajah tampan.

"Wakil Kepala," ucap Nina gugup.

"Biar saya saja yang beli kopi. Saya masih junior. Pekerjaan seperti itu biar saya yang kerjakan."

Ia sempat tersenyum ke arah Revan sebelum berlari menuju lobi.

AKP Budi mendengus kesal.

Tatapan sinisnya masih tertuju pada Revan sebelum akhirnya berbalik.

Revan memilih duduk kembali.

Ia belum ingin membuat keributan.

Masih banyak hal yang harus dipahami.

Ingatan tentang kehidupan lamanya juga terus bermunculan.

Ia dihukum mati karena kasus pembunuhan.

Namun ia tahu dirinya dijebak.

Korban sebenarnya adalah seorang pengusaha properti besar di Jakarta.

Perintah yang ia terima hanya memberi pelajaran.

Tidak pernah ada niat membunuh.

Kalaupun korban meninggal akibat pemukulan...

Seharusnya bukan hukuman mati.

Berarti...

Ada orang yang sengaja mengorbankannya.

Tangan Revan mengepal.

Buku-buku jarinya berbunyi pelan.

Kalau nanti ia menemukan siapa dalangnya...

Ia akan membuat mereka membayar lunas.

Tak lama kemudian, Nina kembali membawa nampan berisi gelas kopi.

Satu per satu ia membagikannya kepada seluruh anggota.

"Semangat, Pak."

"Selamat bertugas."

"Semoga malam ini kita dapat pelakunya."

Senyumnya tak pernah hilang.

Saat sampai di depan Revan, ia menaruh secangkir kopi.

Pelan-pelan ia berbisik.

"Mas Revan... yang ini saya kasih dua bungkus gula. Biar nggak ngantuk lembur."

Wajahnya memerah sebelum buru-buru pergi.

Tak lama, pengarahan diambil alih oleh kepala satuan.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan rambut mulai memutih.

Namanya Kombes Dedi Kurniawan.

Pria yang terkenal sangat disiplin.

"Baik."

Suaranya berat dan tegas.

"Kasus ini sudah terjadi tiga kali."

"Kalau pelaku kembali beraksi, kita akan menghadapi kasus pemerkosaan berantai."

"Itu tidak boleh terjadi."

"Tim A bertugas memeriksa seluruh rekaman CCTV dari bar, tempat hiburan, jalan sekitar, hingga kamera lalu lintas."

"Cari siapa pun yang membuntuti para korban."

"Jangan lewatkan satu petunjuk pun."

"Siap!"

Seluruh anggota menjawab serempak.

"Tim B."

"Kalian fokus mencocokkan sampel urin pelaku dengan data rumah sakit, laboratorium kesehatan, dan pusat medical check-up."

"Kalau pelaku pernah menjalani pemeriksaan kesehatan..."

"...kita bisa menemukannya."

"Siap!"

"Selain itu, telusuri asal taser yang digunakan, data sinyal ponsel di sekitar TKP, serta saksi yang sempat melihat wajah pelaku."

"Semua kemungkinan harus diperiksa."

"Siap!"

Kombes Dedi menutup map di tangannya.

"Kalau begitu, segera bergerak."

Baru saja ia hendak meninggalkan ruangan...

"Tunggu."

Satu suara terdengar jelas.

Semua kepala langsung menoleh.

Revan berdiri santai di tempatnya.

Kombes Dedi mengernyit.

"Ada apa, Revan?"

Revan menunjuk dirinya sendiri.

"Saya kurang enak badan."

"Jadi malam ini saya izin cuti."

"Silakan lanjut. Semoga operasi kalian lancar."

Lanjut membaca
Lanjut membaca