Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Melayani Hasrat Majikan

Melayani Hasrat Majikan

Dewa Pencipta | Bersambung
Jumlah kata
74.5K
Popular
7.5K
Subscribe
1.3K
Novel / Melayani Hasrat Majikan
Melayani Hasrat Majikan

Melayani Hasrat Majikan

Dewa Pencipta| Bersambung
Jumlah Kata
74.5K
Popular
7.5K
Subscribe
1.3K
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeRomansa Manis21+Harem
Keputusan Hendra (22) merantau dari kampung ke kota besar awalnya hanya didasari niat sederhana: mencari penghidupan yang layak. Berbekal penampilan yang tampan dan fisik yang gagah, ia memutuskan melamar sebagai tukang kebun di sebuah rumah mewah. Dengan begitu, ia bisa menghemat pengeluaran karena tempat tinggal dan makanan sudah dijamin oleh sang pemilik rumah. Hendra mengira hari-harinya akan berjalan normal seperti pekerja pada umumnya—merawat tanaman, menjaga kebersihan halaman, dan hidup tenang. Namun, kenyataan justru membawanya ke dalam pusaran rahasia kelam yang menguji iman dan ketenangannya. Sang nyonya rumah (39), yang tampak anggun dari luar, ternyata menyimpan hasrat tersembunyi. Memanfaatkan kesunyian saat suaminya pergi ke luar kota untuk urusan bisnis, ia secara diam-diam memaksa Hendra untuk memuaskan nafsunya. Belum cukup sampai di situ, situasi semakin rumit ketika putri sang majikan yang baru berusia 19 tahun ternyata memiliki ketertarikan serupa. Terpesona oleh pesona fisik Hendra, sang anak pun ikut mendekat secara sembunyi-sembunyi, menciptakan lingkaran godaan ganda di bawah satu atap yang sama. Di antara tuntutan pekerjaan, rasa sungkan, dan gelora godaan yang datang dari ibu dan anak, Hendra harus bertahan di tengah rumah mewah yang perlahan berubah menjadi sangkar penuh jerat nafsu.
BAB 1

"Ingat, Hendra. Di rumah sebesar ini, tugasmu bukan cuma memotong rumput. Kamu harus tahu kapan harus menutup mata, kapan harus menutup telinga, dan kapan harus tetap berdiri saat dipanggil."

Ucapan Mbak Sumi—pembantu senior yang sudah belasan tahun mengabdi di kediaman megah itu—masih terngiang jelas di kepala Hendra. Saat itu, pemuda berusia dua puluh dua tahun tersebut hanya mengangguk patuh sambil memegang erat gagang gunting tanaman. Baginya, peringatan itu terdengar seperti nasihat standar tentang tata krama bekerja di rumah orang kaya. Ia tak menyangka bahwa setiap kata dari wanita paruh baya itu sebenarnya adalah peringatan ancaman bahaya.

Hendra menyapu keringat yang menetes dari pelipisnya. Kaos tipis yang ia kenakan sudah basah kuyup, menempel ketat di tubuhnya yang tegap dan berotot hasil kerja keras di kampung halaman. Rambut hitamnya sedikit berantakan, diterpa angin sepoi-sepoi pertengahan hari. Di bawah terik matahari kota besar yang menyengat, kulit cokelat langsatnya berkilat.

Menjadi tukang kebun di kawasan perumahan elit ini awalnya terasa seperti jalan keluar yang dikirimkan Tuhan. Sebagai perantau tanpa ijazah perguruan tinggi, kesempatan mendapat pekerjaan dengan gaji utuh—tanpa perlu memikirkan uang sewa kamar atau makan sehari-hari—adalah kemewahan luar biasa. Kamar belakang tempat tinggalnya memang kecil, tapi bersih dan ber-AC. Makanan selalu tersedia. Yang perlu ia lakukan hanyalah menjaga agar taman seluas lapangan basket itu tetap hijau, indah, dan rapi.

Namun, kedamaian itu perlahan terkikis sejak hari ketiga ia bekerja.

Rumah megah bergaya Eropa modern itu sebenarnya sepi. Sang pemilik rumah, Tuan Subroto, seorang pengusaha properti terkemuka, hampir selalu menghabiskan waktunya di luar kota atau luar negeri. Dari pembicaraan yang terdengar sepintas, pria paruh baya itu kerap meninggalkan rumah selama berminggu-minggu demi ekspansi bisnisnya.

Di dalam bangunan megah yang dingin itu, hanya ada Nyonya Elena (39 tahun), putrinya Aurel (19 tahun), Mbak Sumi, dan kini—Hendra.

Sret. Sret.

Bunyi gunting tanaman memotong dedaunan menyemarakkan kesunyian siang. Hendra membungkuk, merapikan deretan tanaman hias di dekat kolam renang bernuansa tropis. Dari sudut matanya, ia merasakan ada sesuatu yang mengawasinya.

Ketika ia mendongak perlahan, pandangannya tertuju pada balkon lantai dua. Di sana, berdiri Aurel. Gadis muda itu mengenakan gaun malam berbahan sutra tipis yang melambai ditiup angin. Dengan segelas es teh di tangan, matanya menyapu sosok Hendra dari atas ke bawah tanpa rasa malu sedikit pun. Saat mata mereka bertemu, bukannya mengalihkan pandangan, Aurel justru menyunggingkan senyum tipis yang sarat makna, lalu menyesap minumannya secara perlahan.

Hendra menelan ludah dengan susah payah. Ia dengan cepat menundukkan kepala kembali, berpura-pura fokus pada tanamannya. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu betul batasan seorang pekerja biasa, tetapi tatapan gadis muda itu selalu saja berhasil membuatnya salah tingkah.

Belum sempat degup jantungnya mereda, langkah kaki beradu lembut dengan lantai marmer di pinggir kolam. Langkah yang halus, tenang, namun menebarkan aroma parfum mahal yang sangat tajam dan pekat—khas Nyonya Elena.

"Hendra..."

Suara itu terdengar lembut, namun memiliki intonasi dominan yang sukar dibantah.

Hendra segera menghentikan pekerjaannya, meletakkan gunting tanaman ke tanah, lalu berdiri dan menunduk hormat. "Iya, Nyonya?"

Nyonya Elena berdiri hanya berjarak satu meter di depannya. Wanita berusia tiga puluh sembilan tahun itu tampak jauh lebih muda dari usianya. Kulitnya putih bersih tanpa cela, tubuhnya terawat sempurna dengan lekuk anggun yang ditonjolkan oleh piyama satin tanpa lengan berwarna merah marun. Rambut hitamnya disanggul longgar, menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut di leher jenjangnya.

"Kamu bekerja terlalu keras di bawah terik matahari seperti ini," ucap Nyonya Elena. Matanya tidak tertuju pada tanaman yang baru dirapikan, melainkan menatap lekat dada Hendra yang bertelanjang peluh di balik kaos tipisnya. "Lihat, bajumu sampai basah kuyup begini."

"Tidak apa-apa, Nyonya. Sudah menjadi tugas saya agar taman ini tetap rapi," jawab Hendra sopan, mencoba menjaga jarak aman secara halus.

Nyonya Elena melangkah satu tapak lebih dekat. Begitu dekat hingga Hendra bisa merasakan hawa hangat dari tubuh wanita itu dan mencium wangi mawar yang memabukkan. Wanita itu mengangkat tangan luwesnya, jemarinya yang terawat dengan kuku berpoles merah menyentuh bahu Hendra yang basah oleh keringat.

Sentuhan itu terasa dingin di kulit Hendra yang panas, namun efeknya membakar syaraf-syarafnya. Hendra membeku. Seluruh otot tubuhnya menegang seketika.

"Bapak sedang pergi ke Surabaya sampai akhir pekan," bisik Nyonya Elena dengan nada suara yang merendah, nyaris berbisik. Tangannya perlahan merayap turun dari bahu menuju dada tegap Hendra, merasakan detak jantung pemuda itu yang berpacu kencang. "Dan rumah ini... terlalu besar dan dingin jika hanya diisi oleh suara angin."

"Nyonya... maaf, nanti ada yang lihat..." desis Hendra, tenggorokannya mendadak terasa kering. Ia mencoba mundur setengah langkah, namun tatapan tajam dan penuh pesona dari mata Nyonya Elena menguncinya di tempat.

Nyonya Elena terkekeh pelan, sebuah tawa manis yang menyiratkan kekuasaan penuh atas situasi ini. "Siapa yang berani melihat? Sumi sedang tidur di ruang belakang. Dan Aurel... dia sibuk dengan dunianya sendiri."

Tanpa diduga, jemari Nyonya Elena menyusup ke bawah klim kaos Hendra, menyentuh kulit perutnya yang rata dan keras. Hendra menggeletar. Antara dorongan naluri mudanya dan kesadaran akan posisinya sebagai bawahan, perang batin kecamuk di dalam dadanya.

"Nyonya, mohon jangan seperti ini... Saya di sini hanya bekerja," ujar Hendra serak, berusaha mempertahankan sisa-sisa profesionalisme dan harga dirinya.

Nyonya Elena mendongak, menatap langsung ke dalam mata Hendra dengan pandangan penuh hasrat yang tak lagi disembunyikan. "Pekerjaanmu adalah membuat pemilik rumah ini merasa nyaman, Hendra. Dan saat ini... aku sangat tidak nyaman dengan kesendirian ini."

Ia memajukan tubuhnya, menempelkan dada rampingnya ke dada tegap Hendra, mengikis seluruh jarak yang tersisa di antara mereka. Kehangatan tubuh wanita dewasa itu merambat cepat, memancing gejolak yang berusaha keras ditahan oleh pemuda desa tersebut. Hendra meremas jemarinya sendiri, menahan diri agar tidak lepas kendali di bawah dominasi majikannya.

Nyonya Elena berbisik tepat di samping telinga Hendra, napas hangatnya menerpa kulit leher pemuda itu hingga merinding. "Nanti malam, setelah jam sepuluh... datang ke kamar utama. Pintu tidak akan dikunci. Jika kamu menolak, kamu tahu persis seberapa mudah bagiku untuk membuatmu tertendang keluar dari rumah ini tanpa membawa sepeser uang pun."

Ancaman itu diucapkan dengan nada paling lembut yang pernah Hendra dengar, namun dampaknya bagai hantaman keras di dada. Sebelum Hendra sempat menjawab, Nyonya Elena sudah menarik diri, menyunggingkan senyum kemenangan, lalu berbalik jalan anggun menuju pintu kaca utama.

Hendra berdiri terpaku, mematung di samping kolam renang dengan napas memburu. Keringat dingin kini bercampur dengan keringat panasnya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa dirinya telah terjebak dalam sangkar emas yang sangat berbahaya.

Saat ia mencoba menenangkan pikirannya yang kalut dan hendak mengambil kembali alat-alat kerjanya, sebuah suara lembut lain terdengar dari arah tangga menyamping menuju balkon.

"Ibu memang tidak pernah mau mengalah, ya?"

Lanjut membaca
Lanjut membaca