

"Surat teguran listriknya udah datang lagi, Man. Adik kamu juga butuh banget bayaran. Besok itu hari terakhir bayaran, supaya bisa ikut ujian."
"Besok Roman usahakan, Mak."
"Kamu udah makan belum?"
"Sudah, Mak."
“Ya udah, hati-hati ya ngojeknya.”
“Iya, Mak.”
Roman mematikan teleponnya setelah menjawab salam yang diucapkan emaknya.
Pemuda itu mengusap wajahnya dengan kasar. Keringat mengalir dari balik helm hitamnya yang mulai terasa tidak enak aromanya.
Dia belum melepas pelindung kepala itu sejak pagi buta. Roman merebahkan punggungnya yang kaku pada jok motor matic miliknya
Tepat di sebelahnya bergulir diam, sebuah mobil sport berwarna kuning menyala terparkir gagah. Tiga orang pemuda dan dua orang perempuan berdiri mengelilingi kendaraan mewah tersebut.
"Kalau gua sih amit-amit jadi ojol, mending nganggur sekalian. Ngojol sih sudah pasti nggak punya masa depan."
Pemuda yang memakai kacamata hitam tebal berbicara dengan nada suara yang sengaja dikeraskan.
Pemuda lain di sebelahnya tertawa lepas. Gigi-giginya yang putih rapi terlihat jelas.
"Kerja keras itu bullshit. Yang miskin ya tetap bakal gagal sampai mati. Hidup itu urusan modal dan koneksi, bro."
Seorang perempuan di samping mereka menyenggol lengan pemuda berkacamata itu dengan sikutnya.
"Suara lo kecilin sedikit. Nanti ada yang dengar terus marah."
"Biarin aja. Memangnya gua salah? Itu fakta, kan?"
Roman sama sekali tidak menolehkan kepalanya.
Dia meraih botol air mineral dari dashboard motornya. Dia meneguk airnya hingga benar-benar habis tak bersisa.
Roman meremas botol plastik kosong itu dengan satu tangan dan melemparkannya ke tempat sampah yang tak jauh darinya.
Satu getaran panjang terasa di saku jaketnya.
Satu pesanan masuk.
Roman segera menekan tombol terima di layar. Nama pelanggan yang tertera adalah Naya. Lokasi penjemputan berada tepat di lobi utama pusat perbelanjaan megah di seberang jalan.
Dia menarik tuas gas motor matic miliknya pelan. Melewati kelompok anak muda yang masih asyik bersenda gurau itu.
"Tuh, lihat. Motor matic-nya aja udah ngos-ngosan begitu. Bunyi mesinnya udah kayak parutan kelapa tua," celetuk pemuda berkacamata tadi sambil menunjuk knalpot Roman yang mengeluarkan asap tipis.
Roman menghentikan motor matic-nya tepat di depan undakan lobi yang beralas marmer berkilap.
Seorang perempuan dengan sepatu hak tinggi berjalan keluar menembus pintu kaca otomatis yang besar. Rambut panjangnya diikat rapi ke belakang kepala.
Perempuan itu melihat layar telepon genggamnya sebentar, lalu mencocokkan pelat nomor kendaraan yang tertera dengan angka di bagian depan motor matic Roman.
"Kak Naya?" tanya Roman.
“Iya, Mas,” jawab Naya pendek.
"Sesuai aplikasi ya, Kak."
Naya melangkah mundur satu langkah. Hidungnya berkerut.
"Ngerokok nggak, Mas? Jangan bau rokok ya. Driver sebelumnya bikin mual banget sampai rasanya mau muntah di jalan."
Roman menatap jalanan di depannya dengan pandangan lurus.
"Saya nggak ngerokok, Kak."
"Bagus deh."
Perempuan itu mengambil helm hijau yang disodorkan Roman. Dia memakainya dengan enggan tanpa mengaitkan tali pengaman di bawah dagunya.
Naya duduk di bagian jok belakang dengan menyisakan jarak yang sangat senggang dari punggung Roman.
"Ke apartemen sektor selatan ya."
"Siap."
Motor matic itu melaju membelah kepadatan malam kota yang gerah. Angin jalanan berhembus kencang menampar permukaan wajah mereka berdua.
Jalan raya utama di depan sana bertransformasi menjadi barisan panjang lampu merah dari kendaraan yang terjebak macet total. Suara klakson bersahutan tiada henti.
Roman memutar tuas gas lebih dalam. Kendaraan roda duanya menyelinap lincah di antara celah sempit dua mobil sedan hitam.
Ruang gerak di sisi kanan dan kirinya hanya tersisa beberapa sentimeter saja sebelum menyentuh spion.
"Bisa pelan sedikit nggak, Mas? Mau mati berdua?"
Naya berteriak dari arah belakang. Suaranya terdengar agak samar karena terpaan angin malam.
Roman menarik tuas rem kirinya perlahan. Kecepatan motor itu menurun drastis dalam sekejap.
"Bawa motor kok kayak orang dikejar setan. Pantesan aja banyak ojek yang kecelakaan," gumam perempuan itu dengan nada ketus yang sangat kentara.
Roman tetap membisu seribu bahasa.
Rahang bawahnya mengeras hingga otot pipinya menonjol kencang. Jari-jarinya mencengkeram karet stang motor matic itu dengan kekuatan penuh.
Mereka berdua melewati deretan ruko pertokoan yang sebagian besar sudah menutup pintu besi mereka rapat-rapat.
Beberapa pedagang kaki lima tampak sibuk mengikat terpal tenda mereka. Seorang lelaki tua terlihat bersusah payah menarik gerobak kayunya yang sarat muatan.
Roman sedikit memiringkan bodi motor matic-nya untuk menghindari lubang menganga di permukaan aspal kering.
Kendaraan itu berguncang cukup keras.
"Aduh!"
"Maaf, Kak."
"Bisa lihat jalanan dengan bener nggak sih? Gua lagi balas pesan penting nih. HP gua bisa jatuh kalau lo bawa motornya kayak gini."
Jeda waktu terasa sangat panjang di antara mereka berdua.
"Lewat jalan besar aja nanti di depan. Jangan coba-coba masuk ke gang kecil. Gua nggak suka lewat jalanan yang gelap."
"Jalan besar macet total kalau jam segini, Kak."
"Gua bilang lewat jalan besar ya lewat jalan besar. Lo itu kan driver, ikutin aja apa maunya pelanggan."
Roman mengembuskan napas panjang lewat lubang hidungnya.
"Oke, Kak"
Saat tiba di area lampu merah perempatan besar, motor matic itu terpaksa berhenti total. Udara panas yang berasal dari pembuangan mesin-mesin mobil di sekitar mereka naik ke permukaan udara bebas.
Roman menundukkan pandangan.
Telepon genggam yang terpasang pada dudukan besi di stang motor matic-nya tiba-tiba bergetar sangat keras.
Frekuensi getarannya tidak wajar hingga membuat stang kemudi itu ikut berguncang pelan menembus sarung tangan kiri lelaki tersebut.
Roman melepaskan satu tangannya dari tuas rem. Dia menyentuh pinggiran bodi telepon itu.
Sangat panas.
Roman mengernyitkan dahinya dalam-dalam. Layar telepon di hadapannya itu sama sekali tidak menampilkan peta penunjuk arah perjalanan mereka.
Gelap pekat.
Namun, sedetik kemudian layar itu mulai berkedip dengan pendaran cahaya merah yang cerah.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Muncul barisan huruf berwarna putih bersih tepat di bagian tengah layar yang terus berkedip-kedip tersebut.
'Synchronizing Survival Driver System.'
Roman mengernyitkan dahinya dalam-dalam. Ibu jarinya menekan tombol daya di samping bodi telepon berulang kali secara paksa. Layar itu sama sekali tidak menunjukkan perubahan berarti.
Huruf-huruf putih itu terus berjalan membentuk susunan angka persentase yang merangkak naik dengan cepat dari angka satu hingga mencapai angka sepuluh.
Dua puluh.
Lima puluh.
"Ada apa sih sama HP lo itu?"
"Nggak tahu, Kak. Rusak mungkin."
Telepon genggam itu tiba-tiba mati total secara mendadak. Layarnya kembali berubah menjadi hitam legam.
"Kenapa lo diam aja? Lampunya udah berubah jadi hijau dari tadi."
Teguran keras dari Naya membuat Roman agak terkejut, dengan refleks dia melihat lampu lalu lintas.
Lampu di persimpangan depan memang sudah memancarkan warna hijau terang. Namun, barisan kendaraan di depan mereka sama sekali tidak ada yang bergerak maju walau hanya satu sentimeter saja.
Mesin-mesin mobil menderu keras dalam posisi diam di tempat yang sama.
Roman menekan tombol klakson motor sekali. Pendek dan tajam.
"Ada apa sih di depan?" Naya memanjangkan lehernya ke samping kanan punggung Roman.
"Macet."
"Ya makanya gua tanya ke lo kenapa bisa macet total begini. Lo cari jalan alternatif lain dong. Jangan cuma diam aja."
"Jalanan padat semua, Kak."
Seorang pengendara motor besar yang berada tepat dua meter di depan Roman turun dari kendaraannya.
Pemuda dengan jaket kulit hitam tebal itu berjalan kaki mendekati sebuah mobil sedan putih yang berhenti canggung di depannya sembari melambaikan tangan kirinya ke udara.
"Orang gila kali ya yang bawa mobil itu, berhenti sembarangan di tengah jalan begitu," gumam Naya pelan di belakang telinga Roman.
Pemuda berjaket kulit itu mengetuk kaca jendela mobil sedan putih dengan punggung jarinya keras-keras.
Tidak ada respon dari dalam mobil.
Pemuda itu tampak kehilangan kesabaran. Dia mengetuk lebih keras lagi menggunakan kepalan tangannya yang besar hingga menimbulkan suara ketukan yang keras.
"Woi! Maju lo! Jalanan di belakang lo macet!"
Tiba-tiba, pintu pengemudi mobil sedan putih itu terbuka lebar dengan hentakan yang sangat kuat hingga hampir mengenai tubuh pemuda berjaket kulit tersebut.
Seseorang melompat keluar dari dalam mobil.
Gerakan melompat orang itu tidak terlihat seperti gerakan manusia normal pada umumnya. Patah-patah dan sangat amat cepat.
Sosok itu langsung menerjang tubuh pemuda berjaket kulit tebal tadi hingga keduanya terjatuh keras di atas permukaan aspal.
Naya memekik pelan sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Orang mabuk ya itu?"
Roman segera menurunkan kaki kirinya ke permukaan aspal untuk menahan bobot bodi motor matic-nya agar tidak roboh.
Matanya menyipit tajam menatap pemandangan mengerikan yang terjadi tepat di depan pandangannya.
Jarak mereka hanya berkisar sepuluh meter saja dari pusat kejadian.
Sosok yang melompat keluar dari dalam sedan putih itu ternyata adalah seorang pemuda yang mengenakan setelan jas kerja yang rapi. Namun, bagian bahu jas tersebut sudah robek besar hingga memperlihatkan kulit ari di bawahnya.
Pemuda berjas itu kini sedang menindih tubuh pengendara motor besar yang berada di bawahnya dengan posisi mengunci pergerakan kaki lawan.
Pengendara motor besar itu meronta dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Kedua tangannya memukul dada pemuda berjas itu berulang kali dengan brutal.
"Lepas, bangsat! Sakit banget gila!"
Pemuda berjas itu sama sekali tidak mengeluarkan suara balasan. Kepalanya bergerak menunduk ke arah bawah dengan kecepatan yang luar biasa tinggi.
Gigi-giginya yang tampak kuning kotor langsung menancap dengan sangat tepat di bagian urat leher pengendara motor tersebut.
Sosok itu menolehkan kepalanya secara perlahan. Tepat ke arah posisi Roman dan Naya berada.
Naya mencengkeram bagian bahu jaket hijau Roman.
"Mas, cepat pergi dari sini. Gua mohon."