
Para Budak Gunung: Rantai dari Gunung Selatan
Jihan N. Rahmaniah|Bersambung
- Jumlah kata
- 34.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 8
- Jumlah kata
- 34.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 8
Sinopsis
Sepulang ke Desa Wanasraya setelah kematian ayahnya, Raka Pradana berniat mengungkap legenda tentang orang-orang yang konon dibawa makhluk gaib dari Gunung Selatan. Namun semakin jauh ia menyelidiki, semakin jelas bahwa teror yang menghantui desa bukan berasal dari dunia gaib, melainkan dari dosa manusia yang diwariskan selama puluhan tahun—pengkhianatan, perebutan tanah, pembunuhan, dan kebohongan yang dikubur atas nama keselamatan bersama.Di tengah kabut, suara rantai yang terus bergema, dan kemunculan seorang gadis misterius, Raka menemukan bahwa keluarganya sendiri adalah bagian dari sejarah kelam itu. Kini ia harus memilih: membuka kebenaran yang akan menghancurkan desa dan nama keluarganya, atau membiarkan kebohongan tetap hidup selamanya.Karena Gunung Selatan tidak pernah menghukum. Gunung itu hanya mengingat. Dan setiap dosa, pada akhirnya, akan menagih pengakuan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 — Pulang ke Gunung Selatan
Langit di atas Gunung Selatan berwarna kelabu ketika mobil yang ditumpangi Raka Pradana memasuki jalan sempit menuju Desa Wanasraya. Hujan baru saja reda. Kabut turun perlahan dari lereng, menyelimuti pepohonan pinus hingga hanya menyisakan bayangan hitam yang berdiri kaku di balik tirai putih. Udara lembap membawa aroma tanah basah dan daun yang membusuk, aroma yang seketika mengembalikan ingatan Raka pada masa kecil yang selama ini berusaha ia tinggalkan.
Sudah hampir sepuluh tahun ia tidak menginjakkan kaki di desa itu.
Bukan karena ia membencinya. Justru sebaliknya. Ada terlalu banyak kenangan yang tidak sanggup ia hadapi. Setelah ibunya meninggal dan hubungan dengan ayahnya semakin renggang, Raka memilih merantau ke kota, membangun karier sebagai penulis dokumenter yang lebih akrab dengan kisah orang lain daripada kisah keluarganya sendiri.
Namun pagi tiga hari lalu, sebuah telepon mengakhiri semua jarak itu.
Ayahnya, Darmawan Pradana, meninggal dunia.
Mobil berhenti di depan gerbang desa. Sopir menoleh sambil menghela napas.
"Mas, saya cuma sampai sini. Jalan ke dalam lagi sempit."
Raka mengangguk pelan. Ia mengambil ransel, membayar ongkos, lalu berdiri seorang diri di tepi jalan. Begitu mobil pergi, suasana menjadi sunyi. Sunyi yang terasa terlalu berat untuk sebuah sore.
Beberapa warga yang melintas menoleh sekilas. Sebagian mengenalinya, sebagian lagi hanya berbisik pelan kepada orang di sampingnya. Tatapan mereka bukan sekadar penasaran. Ada sesuatu yang membuat Raka merasa seperti orang asing di kampung halamannya sendiri.
Langkahnya membawa dirinya menuju pemakaman desa yang berada di bawah pohon beringin tua. Dari kejauhan, beberapa orang masih berdiri mengelilingi sebuah makam baru. Tanah merahnya tampak basah, bunga kenanga masih berserakan di atasnya.
Raka terlambat.
Ia berhenti beberapa meter dari pusara ayahnya. Tenggorokannya terasa kering. Berkali-kali ia mencoba mengucapkan doa, tetapi tak satu pun kata keluar dari bibirnya.
"Rak..."
Suara lembut itu membuatnya menoleh.
Seorang perempuan berkerudung biru muda berdiri sambil memegang payung hitam. Wajahnya berubah lebih dewasa, tetapi mata teduhnya masih sama seperti yang ia kenal bertahun-tahun lalu.
"Sari."
Perempuan itu mengangguk pelan.
"Aku ikut menunggu kalau-kalau kamu datang."
Raka memandang kembali makam ayahnya.
"Aku gagal."
Sari menggeleng.
"Kamu datang. Itu sudah cukup."
Kalimat sederhana itu justru membuat dada Raka semakin sesak.
Mereka berdiri dalam diam beberapa saat hingga para pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. Sebelum pergi, hampir semua warga menoleh ke arah Raka dengan ekspresi yang sulit diartikan. Bukan kebencian, tetapi juga bukan keramahan.
Seolah-olah kepulangannya membawa sesuatu yang tidak mereka inginkan.
"Kenapa mereka melihatku seperti itu?" tanya Raka lirih.
Sari tidak langsung menjawab.
"Ada banyak cerita yang muncul setelah kamu pergi."
"Cerita tentang apa?"
Sari menatap Gunung Selatan yang mulai tertutup kabut.
"Tentang ayahmu."
Belum sempat Raka bertanya lebih jauh, suara langkah tongkat terdengar dari belakang.
Seorang lelaki tua berambut putih berjalan perlahan mendekati mereka. Tubuhnya kurus, tetapi sorot matanya masih tajam. Di lehernya tergantung seutas tasbih kayu yang tampak telah menghitam dimakan usia.
"Ki Sasmita..."
Orang tua itu tersenyum tipis.
"Selamat pulang, Nak Raka."
Raka membungkukkan badan memberi hormat.
"Maaf saya tidak sempat menemui Bapak sebelum..."
Ki Sasmita mengangkat tangan, menghentikan ucapannya.
"Yang pergi sudah selesai dengan hidupnya."
Beliau menatap pusara Darmawan cukup lama sebelum melanjutkan dengan suara yang nyaris berbisik.
"Tapi yang ditinggalkan belum tentu selesai dengan masa lalunya."
Kalimat itu membuat Raka mengernyit.
"Apa maksudnya?"
Ki Sasmita tidak menjawab. Pandangannya justru beralih ke puncak Gunung Selatan yang mulai menghilang di balik kabut tebal.
Lalu, dari arah gunung, terdengar bunyi yang begitu pelan hingga Raka mengira dirinya salah dengar.
Kreeek...
Kreeek...
Seperti besi berat yang diseret di atas batu.
Suara itu berhenti, lalu terdengar lagi, lebih panjang dan lebih jelas.
Raka menoleh ke arah Sari.
"Itu suara apa?"
Wajah Sari yang semula tenang mendadak pucat. Ia menggenggam payungnya lebih erat, sementara Ki Sasmita memejamkan mata seolah telah mendengar bunyi itu ribuan kali.
Dengan suara pelan, hampir tak lebih keras dari embusan angin sore, lelaki tua itu berkata,
"Gunung sedang mengingat seseorang."
Di kejauhan, kabut turun semakin rapat, menelan perlahan jalur menuju puncak Gunung Selatan.
Suara itu menghilang secepat kemunculannya.
Raka memandang lereng Gunung Selatan tanpa berkedip. Kabut semakin rapat, menggulung perlahan di antara batang-batang pinus hingga seluruh jalur menuju puncak lenyap dari pandangan. Tidak ada siapa pun di sana. Hanya keheningan yang terasa terlalu berat untuk dianggap biasa.
"Itu suara apa sebenarnya?" tanya Raka sekali lagi.
Sari menarik napas panjang sebelum menjawab. "Orang-orang di sini menyebutnya suara rantai. Sudah terdengar sejak puluhan tahun lalu."
"Suara rantai?"
"Katanya berasal dari para budak yang mati di gunung."
Raka mengerutkan dahi. Sejak kecil ia pernah mendengar cerita itu, tetapi selalu menganggapnya sebagai dongeng agar anak-anak tidak bermain terlalu jauh ke hutan.
Ki Sasmita menatapnya dengan sorot mata yang sulit diterjemahkan.
"Semua desa punya legenda, Nak. Masalahnya, tidak semua legenda lahir dari kebohongan."
Kalimat itu menggantung di benak Raka sepanjang perjalanan menuju rumah peninggalan keluarganya.
Rumah kayu itu berdiri di ujung desa, menghadap hamparan sawah yang mulai diselimuti senja. Cat dindingnya memudar, beberapa genting tampak bergeser, tetapi bangunannya masih kokoh seperti terakhir kali ia melihatnya. Halaman depan dipenuhi daun kering yang belum sempat disapu.
Sari membuka pintu perlahan.
"Aku yang membersihkan rumah ini beberapa hari terakhir."
"Terima kasih."
"Ayahmu berpesan, kalau kamu pulang, jangan langsung membuang barang-barang di ruang kerjanya."
Raka menoleh.
"Beliau sempat mengatakan itu?"
Sari mengangguk. "Sehari sebelum meninggal."
Ucapan itu membuat langkah Raka terhenti.
Bukankah menurut warga, ayahnya sudah terlalu sakit untuk banyak berbicara?
Ia menyimpan pertanyaan itu dalam hati.
Begitu memasuki ruang kerja, aroma kertas tua dan kayu lembap memenuhi udara. Rak-rak buku masih tersusun rapi. Kamera analog tua terletak di atas meja bersama tumpukan map cokelat yang dipenuhi debu tipis.
Di sudut meja, sebuah buku catatan hitam menarik perhatian Raka.
Sampulnya kusam, seolah telah berkali-kali dibawa ke tempat yang jauh.
Saat membukanya, hampir seluruh halaman berisi catatan mengenai sejarah desa, nama-nama warga, serta sketsa sederhana jalur menuju Gunung Selatan.
Namun pada halaman terakhir hanya ada satu kalimat yang ditulis dengan tinta berbeda.
"Jangan percaya cerita yang diwariskan tanpa mempertanyakan siapa yang paling diuntungkan."
Di bawahnya terdapat gambar sederhana berbentuk rantai yang salah satu mata rantainya terputus.
Raka menatap gambar itu cukup lama.
"Ayah... sebenarnya sedang menyelidiki apa?"
Belum sempat ia membuka halaman lain, angin dingin tiba-tiba masuk melalui jendela yang sebelumnya tertutup rapat. Lembaran-lembaran kertas beterbangan ke lantai.
Di antara tumpukan itu, sebuah foto lama meluncur hingga berhenti tepat di depan kakinya.
Foto hitam putih.
Belasan pria berdiri di lereng Gunung Selatan sambil memegang cangkul dan rantai besi. Sebagian wajah mereka dicoret menggunakan tinta hitam pekat.
Di pojok kanan bawah, ada seorang anak laki-laki yang sedang menatap lurus ke arah kamera.
Wajah anak itu sangat mirip dengan Raka.
Di balik punggungnya, tanpa ia sadari, suara besi bergesekan kembali terdengar dari arah gunung.
Kreeek...
Kali ini lebih dekat daripada sebelumnya.
Daftar bab
30 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








