Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Bara di Bumi Borneo

Bara di Bumi Borneo

pratamaRp | Bersambung
Jumlah kata
140.6K
Popular
155
Subscribe
12
Novel / Bara di Bumi Borneo
Bara di Bumi Borneo

Bara di Bumi Borneo

pratamaRp| Bersambung
Jumlah Kata
140.6K
Popular
155
Subscribe
12
Sinopsis
FantasiSci-FiMisteriPertualanganThriller
Ketika pecahan meteor jatuh di Borneo dan membawa wabah misterius bernama Infection, manusia mulai berubah menjadi makhluk mengerikan. Bersamaan dengan itu, sebagian orang membangkitkan kemampuan unik, termasuk Ahmad, siswa SMA yang mampu mengendalikan api, dan adiknya, Maryam, yang memiliki kemampuan memasuki ingatan serta pikiran orang lain. Dalam perjalanan untuk menghentikan penyebaran Infection sebelum mencapai pulau lain, mereka justru menemukan rahasia kelam tentang masa lalu Ahmad, Hutan Hitam, seorang anak bernama Damar, dan sesuatu yang telah lama menunggu di bawah tanah Borneo.
Chapter 1 — Bara yang Jatuh dari Langit

Langit seharusnya tidak berwarna merah.

Ahmad menyadari itu tepat pukul sebelas lewat tujuh belas menit malam. Ahmad adalah pemuda berusia delapan belas tahun dengan tinggi sekitar 175 cm dan tubuh yang cukup proporsional. Ia tidak terlalu berotot, tetapi terbiasa melakukan aktivitas fisik sehingga memiliki tubuh yang terlihat kuat dan sigap. Rambutnya hitam, pendek, dan cenderung sedikit berantakan.

Saat itu, ia sedang duduk sendirian di ruang tengah rumah mereka. Buku fisika terbuka di atas meja, tetapi sejak sepuluh menit terakhir, ia hanya menatap halaman yang sama tanpa benar-benar membaca satu kata pun. Ujian akhir tinggal beberapa bulan lagi.

Sebagai siswa kelas tiga SMA, seharusnya ia merasa cemas memikirkan nilai, kelulusan, dan masa depan. Setidaknya itu yang terus dikatakan guru-gurunya. Namun malam itu, yang membuat Ahmad gelisah justru sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Udara. Terlalu sunyi. Rumah mereka berdiri di sebuah kawasan permukiman yang tidak terlalu jauh dari pinggiran hutan. Pada malam biasa, suara jangkrik, anjing, atau motor yang sesekali melintas selalu terdengar. Malam ini tidak. Tidak ada apa-apa.

Ahmad, dengan rambut hitam pendek yang selalu sedikit berantakan, menutup bukunya. Ia menatap jendela. Langit di luar tampak gelap. Lalu—

Clek.

Seluruh lampu padam. Televisi mati. Kipas angin berhenti berputar. Rumah itu seketika tenggelam dalam kegelapan. Ahmad menghela napas.

“Bagus.”

Dari kamar sebelah terdengar suara pintu terbuka.

“Kak?”

Ahmad tersenyum kecil. Suara itu milik satu-satunya orang yang mungkin akan lebih panik daripada dirinya jika listrik mati tengah malam.

“Iya?”

“Listriknya mati?”

“Kayaknya.”

Beberapa detik hening. Kemudian terdengar suara langkah kaki.

“Kak Ahmad.”

“Iya, Maryam?”

“Jangan bohong.”

Ahmad mengerutkan dahi.

“Bohong apaan?”

“Siapa tahu cuma lampu kamarku yang mati.”

“Kalau seluruh rumah gelap, berarti kemungkinan besar bukan cuma lampu kamarmu.”

“Ya kali aja kamu tahu sesuatu.”

Ahmad hampir tertawa. Pintu kamar terbuka. Cahaya senter dari ponsel muncul lebih dulu sebelum memperlihatkan sosok Maryam.

Maryam, adik kandung Ahmad, berusia empat belas tahun dan duduk di kelas dua SMP. dengan tinggi sekitar 155 cm dan tubuh yang ramping. Berbeda dengan kakaknya yang cenderung santai menghadapi apa pun, Maryam adalah tipe orang yang selalu ingin mengetahui alasan di balik setiap kejadian.

Rasa ingin tahunya besar. Terkadang terlalu besar. Ia berdiri di ambang pintu dengan jilbab rumahan berwarna gelap dan wajah setengah mengantuk. Namun ekspresinya berubah ketika ia melihat ke arah jendela.

“Kak...”

Nada suaranya membuat Ahmad berhenti tersenyum.

“Apa?”

Maryam tidak menjawab. Ia hanya menunjuk keluar. Ahmad menoleh. Dan untuk beberapa detik, ia tidak memahami apa yang sedang dilihatnya.

Langit berwarna merah. Bukan merah seperti senja. Bukan merah karena pantulan lampu kota. Warna itu muncul dari balik awan, perlahan menyebar di langit malam seperti bara yang sedang membakar sesuatu dari atas sana.

Ahmad berdiri.

“Apa itu?”

Maryam mundur selangkah.

“Jangan dekat-dekat jendela.”

Ahmad menoleh.

“Kenapa?”

“Aku nggak tahu.”

“Kalau nggak tahu, kenapa nyuruh aku menjauh?”

Maryam memeluk lengannya sendiri.

“Pokoknya... aku nggak suka.”

Ahmad kembali menatap keluar. Sebuah perasaan aneh mulai muncul di dalam dirinya. Bukan takut. Belum. Lebih seperti firasat buruk. Seolah-olah sesuatu sedang terjadi jauh di sana, dan tanpa alasan yang jelas, tubuhnya mengetahui hal itu lebih dulu daripada pikirannya.

Lalu seluruh lingkungan kembali sunyi. Bahkan lebih sunyi dari sebelumnya. Tidak ada suara manusia. Tidak ada suara binatang. Tidak ada angin. Seakan-akan dunia— berhenti.

Kemudian—

WUSSSSHHHH!

Sebuah cahaya membelah langit. Maryam tersentak. Ahmad refleks meraih tangannya. Di atas mereka, garis merah melintas sangat cepat. Bukan pesawat. Bukan petir. Benda itu bergerak seperti sesuatu yang sedang jatuh.

“Meteor?” bisik Maryam.

Ahmad belum sempat menjawab. Satu cahaya lagi muncul. Kemudian dua. Tiga. Lima. Dalam hitungan detik, langit malam Borneo dipenuhi serpihan cahaya yang jatuh seperti hujan api. Beberapa berwarna putih. Sebagian berwarna kebiruan.

Namun ada satu yang berbeda. Satu benda jauh lebih besar daripada yang lainnya. Berwarna merah gelap. Cahayanya tidak terang. Justru terlihat seperti sesuatu yang membara. Seperti bara api yang dilemparkan dari tempat yang sangat jauh.

Ahmad menatapnya. Dan tiba-tiba— dadanya terasa panas. Ia tersentak. Tangannya langsung menekan dada.

“Kak?” tanya Maryam sambil memegang baju Ahmad

Panas itu muncul dari dalam. Bukan di kulit. Bukan karena udara. Rasanya seperti ada sesuatu yang baru saja terbangun di dalam tubuhnya.

“Kak, kenapa?” tanyanya lagi.

“Nggak apa-apa.” jawab Ahmad, tentu saja bohong

“Wajahmu pucat.”

“Aku cuma—”

Ahmad berhenti. Sebuah suara muncul. Pelan. Sangat pelan.

[...akhirnya…]

Ahmad membeku. Ia menoleh ke kanan. Kemudian ke kiri. Tidak ada siapa-siapa.

“Kak?” Maryam mulai panik.

Ahmad tidak menjawab. Suara itu kembali terdengar. Kali ini lebih jelas.

[...kami menemukanmu…]

“Maryam.” Ahmad mundur satu langkah.

“Hm?”

“Kamu ngomong?”

“Nggak.” Maryam mengerutkan dahi.

“Dengar sesuatu?”

Maryam tidak langsung menjawab. Wajahnya perlahan berubah. Seolah pertanyaan Ahmad baru saja membuatnya menyadari sesuatu.

“Kak...”

“Apa?” tanya ahmad singkat, sambil menyeka peluh di dahinya

“Aku juga dengar.”

“Kamu dengar apa?” Jantung Ahmad berdegup lebih cepat.

Maryam menatapnya.

“Suara.”

Tiba tiba senter di tangannya berkedip. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Kemudian—

BRAAAKKK!

Ledakan besar mengguncang malam. Jendela bergetar. Sebuah gelas jatuh dari meja dan pecah. Maryam menjerit kecil. Ahmad langsung menarik tangannya.

“Keluar!” teriak Ahmad

Mereka berlari menuju pintu. Begitu keluar rumah, Ahmad melihat warga di sekitar mereka juga mulai berdatangan. Beberapa masih mengenakan pakaian tidur. Seorang ibu menggendong anak kecil yang menangis.

Beberapa pria berdiri di pinggir jalan sambil menatap ke arah yang sama. Hutan. Jauh di balik pepohonan. Sebuah cahaya merah menyala.

“Jatuh di mana itu?” teriak seseorang.

“Dekat hutan!”

“Meteor?”

“Kayaknya!”

“Jangan ada yang ke sana!”

Suara-suara mulai bercampur. Orang-orang mengeluarkan ponsel. Beberapa mencoba merekam. Beberapa lainnya menelepon seseorang. Namun sinyal tampaknya menghilang.

Ahmad berdiri diam. Tatapannya tertuju pada cahaya merah di kejauhan. Panas di dadanya belum hilang. Justru semakin kuat. Seolah sesuatu di dalam dirinya merespons cahaya itu. Maryam memegang lengannya.

“Kak.”

“Hm?”

“Aku tadi dengar sesuatu.”

Ahmad menoleh. Wajah Maryam pucat.

“Suara yang sama?”

Maryam mengangguk pelan.

“Ada yang manggil namaku.”

“Apa katanya?” Ahmad menegang.

Maryam memandang ke arah hutan.

[“Jangan takut.”] Bibir Maryam bergetar menjawab

Ahmad tidak menjawab. Karena pada saat yang sama— suara itu kembali terdengar di dalam kepalanya. Namun kali ini bukan hanya satu suara. Puluhan. Mungkin ratusan. Mereka berbicara bersamaan.

[Jangan takut.]

Ahmad memejamkan mata. Panas di dadanya berubah menjadi rasa terbakar.

[Kami hanya ingin pulang.]

Matanya terbuka. Cahaya merah di kejauhan tiba-tiba padam. Begitu saja. Seolah-olah hutan telah menelan sesuatu yang jatuh dari langit. Semua orang terdiam. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Lalu—

Clek.

Seluruh lampu di lingkungan mereka menyala kembali. Seseorang menghembuskan napas lega.

“Listriknya hidup!”

“Udah, masuk aja.”

“Mungkin besok ada berita.”

Seorang pria tertawa kecil.

“Paling cuma meteor jatuh. Ribut amat.”

Perlahan, warga mulai kembali ke rumah masing-masing. Seolah malam ini tidak terjadi apa-apa. Namun Ahmad tidak bergerak. Maryam juga tetap berdiri di sampingnya.

“Kak.”

Ahmad menoleh.

“Kita masuk?”

Ahmad ingin mengatakan iya. Tetapi sebelum sempat menjawab— ia melihat sesuatu. Jauh. Di antara pepohonan. Dua titik kecil. Merah. Seperti mata.

Ahmad menatapnya. Satu detik. Dua detik. Kemudian— titik itu berkedip. Ahmad mundur. Maryam memperhatikan reaksinya.

“Kak?”

Ketika Ahmad kembali melihat ke arah hutan— mata itu sudah hilang. Tidak ada apa-apa. Hanya pepohonan. Gelap. Sunyi. Tetapi untuk pertama kalinya malam itu, Ahmad benar-benar merasa takut. Ia menggenggam tangan Maryam.

“Masuk.” perintah Ahmad

Maryam tidak bertanya lagi. Mereka kembali ke rumah. Ahmad mengunci pintu. Sekali. Lalu dua kali. Ia memeriksa jendela. Menutup gorden. Dan memastikan semua pintu terkunci.

Malam itu, sebelum tidur, Ahmad mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan kembali normal. Meteor jatuh. Listrik mati. Orang-orang panik. Besok pagi, berita akan membahasnya. Pemerintah mungkin akan menutup lokasi.

Orang-orang mungkin akan datang untuk meneliti meteor itu. Dan beberapa hari kemudian— semuanya akan kembali seperti biasa. Ahmad mencoba mempercayai itu. Sampai pukul 02.17 dini hari. Ponselnya bergetar.

Bzzzt.

Ahmad langsung membuka mata. Kamar gelap. Ia meraba ponselnya di atas meja kecil. Satu pesan masuk. Nomor tidak dikenal. Tidak ada nama. Tidak ada foto. Hanya satu kalimat.

[JANGAN BIARKAN MARYAM TIDUR MALAM INI.]

Ahmad langsung duduk. Ia membaca pesan itu sekali lagi. Kemudian sebuah pesan kedua masuk.

[KARENA JIKA DIA BERMIMPI, MEREKA AKAN MENEMUKAN JALAN MASUK.]

Jantung Ahmad mulai berdegup cepat. Ia menatap pintu kamarnya. Di balik pintu itu terdapat lorong pendek. Dan di ujung lorong— kamar Maryam. Sunyi. Terlalu sunyi.

Ahmad turun dari tempat tidur. Tangannya meraih gagang pintu. Namun sebelum ia membukanya— terdengar suara dari kamar Maryam. Pelan. Seperti orang yang sedang berbicara dalam tidur.

[Jangan takut...]

Ahmad membeku. Suara itu terdengar lagi. Namun kali ini— Ahmad yakin. Itu bukan suara Maryam.

[Kami hanya ingin pulang.]

Seluruh bulu kuduk Ahmad berdiri. Perlahan, sangat perlahan— ia menoleh ke bawah. Ke arah kolong tempat tidurnya. Gelap. Tidak ada apa-apa. Lalu—

Krek.

Sesuatu bergerak. Ahmad tidak bernapas. Dan dari dalam kegelapan di bawah tempat tidurnya— sepasang mata merah perlahan terbuka.

Lanjut membaca
Lanjut membaca