Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Aku Dipaksa Tante dan Sepupuku

Aku Dipaksa Tante dan Sepupuku

Dewa Pencipta | Bersambung
Jumlah kata
115.8K
Popular
2.7K
Subscribe
536
Novel / Aku Dipaksa Tante dan Sepupuku
Aku Dipaksa Tante dan Sepupuku

Aku Dipaksa Tante dan Sepupuku

Dewa Pencipta| Bersambung
Jumlah Kata
115.8K
Popular
2.7K
Subscribe
536
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeHarem21+Romansa Manis
Perhatian, ini zona dewasa 18+ tolong bijak membaca. Ini tentang Sahrul umur 23th pengangguran. Bukan karena dia tidak mau bekerja, hanya saja dia terlalu malu untuk keluar dari rumah karena dia memiliki kelainan aneh, yaitu dimana aset berharga didalam cenalanya hampir selalu hidup dan memiliki ukuran yang diatas rata-rata yaitu 25 cm yang mana sangat susah untuk menyembunyikannya. Karena itulah dia hampir tidak pernah mau keluar rumah karena malu. Suatu ketika ada telpon dari tantenya Amel bahwa dia membutuhkan seorang penjaga laki-laki dirumahnya, karena suami tantenya 1 bulan yang lalu meninggal dunia akibat kecelakaan. Daripada nyari orang lain, tante Amel milih meminta Sahrul untuk tinggal dirumahnya sekaligus jaga rumah karena Sahrul biasanya juga dalam rumah terus. Mendengar tawaran ini Sahrul pun menerima tawaran itu. Namun saat Sahrul tiba dirumah tantenya, tantenya Amel umur 41th dan 2 anaknya yaitu Ica umur 20th dan Ellen 18th salah fokus melihat tonjolan besar dicelana Sahrul. Mereka tanpa sadar selalu melihat tonjolan besar dicelana Sahrul akibat aset yang hidup dan ukuranya sangat besar. Dimulai dari situ Tante Amel dan kedua anaknya seperti melihat harta Karun, mereka secara sembunyi sembunyi menikmati harta Karun Sahrul.
Bab 1: Harta Karun di Balik Celana Training Kedodoran

Rumah mungil Sahrul yang terletak di pinggiran kota selalu menjadi benteng pertahanannya. Di sana, dia adalah raja. Dia bisa bebas memakai sarung longgar, celana boxer pudar, atau bahkan hanya menggunakan handuk jika perlu. Namun, hari ini, benteng itu runtuh. Sebuah panggilan telepon dari Tante Amel meruntuhkan tembok kepercayaan dirinya yang sudah ia bangun selama bertahun-tahun.

"Sahrul, dengar ya, Tante tidak terima penolakan. Rumah ini sepi sekali setelah ommu pergi. Ica kuliah, Ellen sibuk dengan urusan sekolahnya. Tante butuh seseorang yang bisa jaga rumah, setidaknya supaya ada suara langkah kaki selain suara kucing tetangga. Kamu kan memang tidak ke mana-mana, lebih baik di sini, bantu Tante," suara Tante Amel di ujung telepon terdengar tegas namun hangat.

Sahrul menelan ludah. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Masalahnya bukan karena ia malas, tapi karena "Joni"—begitu ia menamai bagian tubuhnya yang penuh rahasia itu—memiliki kehidupan sendiri. Dan Joni, entah mengapa, sangat bersemangat setiap kali Sahrul gugup. Dan sekarang, dia sedang gugup setengah mati.

"Tapi, Tan... Sahrul kan orangnya canggung. Nanti kalau ada apa-apa, Sahrul malah bikin repot," sahut Sahrul dengan suara sedikit bergetar, sambil berusaha menarik-narik celana training abu-abunya yang sebenarnya sudah cukup longgar.

"Repot apa? Kamu itu keponakan Tante sendiri. Sudah, siapkan barang-barangmu. Siang ini Tante jemput," jawab Tante Amel lalu memutus sambungan telepon.

Sahrul menatap ponselnya nanar. Dia melirik ke arah bawah. Benar saja, "si Joni" sedang melakukan pemanasan. Ukuran itu, yang mencapai angka 25 sentimeter, membuat celana training yang ia kenakan tampak seperti sedang membawa senjata api rahasia yang siap diledakkan kapan saja. Ia segera meraih bantal sofa dan mendekapnya di depan dada, berjalan membungkuk menuju kamar untuk mengemas pakaian.

Dua jam kemudian, Sahrul sudah berdiri di depan rumah mewah Tante Amel. Ia mengenakan hoodie hitam berukuran oversized yang panjangnya hampir menutupi lutut. Ini adalah strategi andalannya: menutupi pusat perhatian dengan kain tebal.

Tok, tok, tok.

Pintu terbuka lebar. Tante Amel, dengan daster sutra elegan yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang masih terjaga meski sudah berkepala empat, menyambutnya dengan senyuman lebar. Di belakangnya, Ica dan Ellen muncul dengan wajah penasaran.

"Nah, ini dia sepupu kalian yang paling ganteng!" seru Tante Amel riang.

Ica yang berusia 20 tahun sedang memegang gelas jus, sementara Ellen, si bungsu yang baru 18 tahun, tengah sibuk dengan ponselnya. Keduanya menatap Sahrul dari atas ke bawah. Namun, saat tatapan mereka mendarat di area pinggang Sahrul, mata mereka tak bisa berpaling.

Sahrul, yang merasa atmosfer berubah drastis, refleks memegang bagian depan hoodie-nya dengan kedua tangan, seolah sedang memeluk bayi. "Halo, Tante, Ica, Ellen," sapanya dengan suara cempreng yang dipaksakan.

"Eh, Sahrul. Masuk, masuk. Kenapa bajunya harus oversized sekali di cuaca panas begini?" tanya Tante Amel, matanya tidak bisa lepas dari tonjolan yang cukup kentara di balik hoodie hitam itu, yang tampak bergerak sedikit saat Sahrul melangkah.

Ica menjatuhkan gelas jusnya ke meja, untungnya tidak pecah. "Iya, Kak Sahrul. Kayak lagi menyembunyikan sesuatu yang berharga di balik sana ya?" candanya dengan nada menggoda.

Ellen hanya bisa menelan ludah. Sebagai remaja yang sedang dalam masa keingintahuan tinggi, ia tidak bisa berhenti melirik "keanehan" yang menonjol di balik kain hitam itu. "Kak, di dalam rumah harusnya pakai baju yang nyaman saja. Nggak usah sampai pakai hoodie begitu, nanti gerah lho," ujar Ellen dengan tatapan yang sedikit... nakal.

Sahrul merasa jantungnya mau copot. "Oh, iya... aku memang agak masuk angin kalau kena AC," jawabnya ngawur.

Mereka pun masuk ke ruang tengah. Sahrul merasa seperti sedang berjalan di atas ladang ranjau. Setiap langkahnya membuat "harta karun" itu berayun, dan ia bisa merasakan tatapan mata ketiga wanita di depannya mengikuti pergerakan tersebut dengan penuh perhatian.

"Sahrul, kamu duduk di sini saja," Tante Amel menunjuk sofa yang empuk.

Sahrul mencoba duduk, namun karena Joni sedang dalam kondisi "siaga satu", posisi duduknya menjadi sangat tidak nyaman. Ia harus duduk miring dengan sudut kemiringan 45 derajat agar tidak terlalu menonjol. Hal ini justru membuat posisi duduknya terlihat sangat eksotis di mata Tante Amel dan kedua putrinya.

"Kak Sahrul, kok duduknya miring-miring gitu? Sakit pinggang?" tanya Ica, sambil sengaja mendekat dan duduk di sofa yang sama, tepat di sebelah Sahrul.

"Nggak, cuma... posisi ini paling enak buat nonton TV," jawab Sahrul, wajahnya sudah memerah padam seperti kepiting rebus.

Ellen tak mau kalah, ia duduk di karpet di depan kaki Sahrul, lalu mendongak menatap wajah Sahrul sambil sesekali melirik ke arah bawah. "Kak, kalau butuh pijatan, bilang saja ya. Aku sering ikut kursus pijat ringan kok."

Suasana di rumah itu seketika berubah. Tidak ada ketegangan layaknya drama keluarga, justru yang ada adalah ketegangan yang sifatnya berbeda. Tante Amel yang biasanya tenang, kini terlihat sedikit tidak fokus. Ia terus memperhatikan bagaimana Sahrul berusaha menyembunyikan sesuatu yang mustahil untuk disembunyikan.

"Ica, Ellen, jangan ganggu kakak kalian terus. Sahrul pasti capek," ucap Tante Amel, meskipun tangannya sendiri malah memainkan rambutnya dengan gelisah.

"Nggak kok, Tan. Sahrul senang kok di sini," sahut Sahrul, suaranya tercekat. Ia bisa merasakan tatapan mereka bertiga bukan lagi tatapan kekeluargaan biasa. Itu adalah tatapan rasa ingin tahu yang dalam, tatapan yang mengagumi "sesuatu" yang menurut mereka adalah harta karun tersembunyi.

Sahrul merasa posisinya sangat rentan. Ia harus tetap menjaga kewibawaan sebagai penjaga rumah, tapi bagaimana bisa, kalau setiap kali ia berdiri atau bergerak, ia merasa seperti sedang memamerkan sesuatu yang sangat besar dan sangat hidup di celananya?

"Kak Sahrul," panggil Ellen tiba-tiba dengan suara manja.

"Ya, Ellen?"

"Boleh aku pinjam hoodie itu sebentar? Sepertinya bahannya sangat empuk dan... menenangkan."

Sahrul tersentak. "Eh, jangan, Ellen. Ini... ini hoodie keberuntunganku. Kalau dilepas, nanti aku bisa flu."

Ica tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat merdu namun bagi Sahrul itu adalah ancaman. "Keberuntungan ya? Sepertinya keberuntungan Kakak memang sangat besar ya, sampai-sampai tidak bisa ditutupi oleh hoodie pun."

Tante Amel berdiri, berjalan mendekati Sahrul, lalu menepuk bahunya dengan lembut. Namun, tangannya turun sedikit lebih rendah dari bahu, menyentuh bagian atas hoodie yang menutupi "harta karun" tersebut.

"Sahrul, jangan terlalu tegang. Kami ini keluarga, anggap saja rumah sendiri. Kamu tidak perlu menyembunyikan apa pun dari kami, karena lambat laun, kami pasti akan tahu sendiri, bukan?"

Sahrul membeku. Kalimat itu terasa ganda artinya bagi dirinya. Ia hanya bisa menunduk, berharap lantai rumah Tante Amel tiba-tiba terbuka dan menelannya bulat-bulat.

"Iya, Tante, terima kasih," jawab Sahrul lirih.

"Sahrul, coba berdiri, Tante ingin lihat kamu yang sekarang," pinta Tante Amel dengan nada yang membuat bulu kuduk Sahrul berdiri.

"Sekarang, Tan?"

"Iya, sekarang."

"Kak, berdiri saja, jangan takut," sahut Ica dengan senyuman yang sangat lebar.

"Ayo, Kak, berdiri!" Ellen ikut menyemangati dengan mata yang berbinar-binar penuh tantangan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca