

Aroma antiseptik di Rumah Sakit Medika sore itu terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Bagi Jullian Mahesha, bau itu adalah bau kekalahan. Pemuda berusia dua puluh lima tahun itu duduk mematung di kursi tunggu koridor yang dingin, menatap amplop cokelat di pangkuannya.
Di dalamnya terdapat hasil pemindaian MRI terbaru yang baru saja ia terima dari Dr. Setiadi.
Jullian tidak perlu menjadi jenius untuk memahami garis-garis putih yang merayap di gambar hitam-putih otaknya. Itu adalah Kanker Otak stadium akhir—sebuah monster tak kasat mata yang telah mengubah hidupnya menjadi Bom Waktu yang menyiksa.
"Tiga bulan, Jullian," suara Dr. Setiadi tadi masih terngiang di telinganya, berat dan penuh simpati yang sia-sia.
"Itu pun jika terapinya berjalan lancar dan ada kemajuan. Tanpa itu... mungkin hanya hitungan minggu."
Jullian menghela napas, jemarinya yang pucat dan gemetar menyentuh permukaan amplop itu. Ia merasa seolah-olah seluruh dunianya telah runtuh menjadi puing-puing kecil yang tak bermakna.
Apa gunanya semua rencana masa depan? Apa gunanya gelar sarjana yang baru saja ia raih jika ia bahkan tidak akan sempat merayakan ulang tahunnya yang ke-26?
Ia berdiri dengan susah payah. Gelombang vertigo mendadak menghantam, membuat lantai porselen rumah sakit seolah miring. Ia mencengkeram sandaran kursi, memejamkan mata rapat-rapat hingga denyut nadi di pelipisnya terasa seperti palu yang menghantam besi.
"Sialan..." bisiknya parau.
Saat ia membuka mata, suasana di koridor berubah. Keheningan medis yang biasanya teratur kini pecah oleh suara teriakan dari arah Unit Gawat Darurat (UGD). Pintu ganda di ujung lorong terbanting terbuka. Beberapa perawat berlari sambil mendorong brankar dengan kecepatan tinggi.
"Minggir! Beri jalan!" teriak seorang perawat pria, wajahnya pucat pasi, bajunya bersimbah darah.
Di atas brankar itu, seorang pria paruh baya meronta-ronta dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Tubuhnya melengkung, matanya berputar ke belakang hingga hanya menyisakan bagian putih yang mengerikan. Suara yang keluar dari tenggorokannya bukan lagi suara manusia, melainkan geraman basah yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Dia menggigit istrinya! Dia tidak bisa dikendalikan!" seru dokter jaga yang ikut berlari di samping brankar.
Jullian hanya berdiri mematung, menatap pemandangan itu dengan sikap acuh. Di dalam pikirannya yang dipenuhi kanker, ia merasa bahwa kekacauan ini hanyalah refleksi dari kehancuran yang terjadi di dalam kepalanya sendiri. Ia tidak tahu bahwa apa yang ia lihat adalah awal dari akhir dunia.
Ia berjalan keluar dari lobi rumah sakit. Jakarta sore itu tampak seperti sedang terbakar. Langit berwarna merah darah, dan asap hitam mengepul dari beberapa titik di kejauhan. Jalanan macet total; mobil-mobil saling bertabrakan, dan orang-orang berlarian keluar dari kendaraan mereka dengan wajah yang dipenuhi kengerian murni.
"Woi! Lari, goblok! Ke arah sana!" seorang pria pengendara motor berteriak pada Jullian sebelum motornya menghantam tiang listrik karena mencoba menghindari kerumunan orang yang berlari berlawanan arah.
Jullian mengabaikan semuanya. Ia berjalan dengan langkah goyah, masuk ke dalam sebuah gang sempit yang biasa ia gunakan sebagai jalan pintas menuju apartemen murahnya. Ia hanya ingin pulang. Ia ingin mati di tempat tidurnya sendiri, bukan di trotoar yang kotor ini.
Gang sempit itu lembap dan berbau sampah busuk. Jullian bersandar pada tembok bata yang berlumut, memegangi kepalanya yang kembali berdenyut hebat. Pandangannya mulai berbayang. Sel-sel kanker di otaknya seolah sedang melakukan pesta pora, merayakan kematian inangnya yang semakin dekat.
"Ugh..." Jullian berlutut, memuntahkan cairan bening bercampur sedikit darah. Rasa sakitnya begitu intens hingga ia ingin menghantam kepalanya sendiri agar tekanan di kepalanya berkurang.
Tiba-tiba, suara gesekan sepatu di atas aspal yang basah terdengar dari balik bayang-bayang tumpukan kardus. Jullian mendongak perlahan.
Seorang pria berseragam satpam muncul. Jalannya terseok-seok, kaki kirinya terseret dengan posisi tulang yang tampaknya sudah patah total. Ia tidak mengenakan topi, dan sebagian kulit kepalanya tampak mengelupas, menyingkapkan tengkorak yang retak.
"Pak? Anda... butuh bantuan?" suara Jullian terdengar lemah.
Satpam itu tidak menjawab. Ia mendongak, menatap Jullian dengan mata yang sudah kehilangan pupil. Rahang bawahnya menggantung lepas, menyisakan liur bercampur darah hitam yang menetes ke baju seragamnya yang compang-camping. Dengan satu raungan rendah yang terdengar seperti suara air mendidih, makhluk itu menerjang.
"Apa-apaan—"
Jullian mencoba bangkit, tapi vertigo kembali menghantam. Ia terjatuh kembali ke tanah. Satpam itu menindihnya, bobot tubuhnya yang dingin dan berbau bangkai menekan dada Jullian hingga ia sulit bernapas. Tangan-tangan kasar dengan kuku yang sudah copot mencengkeram bahu Jullian.
"Lepas! Brengsek, lepas!" Jullian memukul wajah makhluk itu, tapi seolah tidak ada rasa sakit yang dirasakan sang penyerang.
Makhluk itu membuka mulutnya lebar-lebar, memamerkan deretan gigi yang kuning dan berlumuran darah segar. Sebelum Jullian sempat menghindar, rahang itu menutup di leher belakangnya.
KRAK.
Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari titik gigitan itu. Jullian bisa merasakan taring-taring itu menembus kulit, otot, dan akhirnya mengunci tepat di antara ruas tulang leher belakangnya—area di mana tumor kankernya bersarang paling dalam.
"Ahhhhhhh!" Jullian berteriak, namun suaranya segera menghilang menjadi rintihan lemah.
Ia merasa seolah-olah seember es dingin dituangkan langsung ke dalam pembuluh darahnya. Sesuatu yang asing, sesuatu yang hidup dan agresif, mengalir masuk dari air liur makhluk itu ke dalam aliran darah Jullian.
Ia bisa merasakan virus itu bergerak, berenang menuju otaknya seperti sepasukan tentara yang haus darah.
Pandangan Jullian mulai memutih. Jantungnya berdegup sangat kencang, lalu mendadak melambat hingga hampir berhenti.
Dunia di sekitarnya menjadi sunyi. Suara klakson di kejauhan, teriakan orang, bahkan suara geraman makhluk yang masih menggigitnya, perlahan-lahan menghilang.
Di dalam kegelapan total kesadarannya, sesuatu yang aneh terjadi.
Sel-sel kanker di otak Jullian, yang selama ini menjadi musuh bebuyutannya, mendadak bereaksi terhadap kehadiran virus zombie tersebut. Keduanya tidak saling menghancurkan, melainkan saling bertarung dalam tarian genetika yang mustahil. Kanker yang rakus mulai melahap virus yang agresif, dan virus itu mulai bermutasi di dalam sel kanker Jullian.
Tiba-tiba, sebuah suara statis bergema di dalam tengkoraknya. Itu bukan suara manusia, melainkan frekuensi digital yang sangat murni.
[ANOMALI TERDETEKSI]
[SUBJEK: JULLIAN MAHESHA - STATUS: TERMINAL]
[VIRUS Z-01 TERASIMILASI OLEH SEL KANKER STADIUM EMPAT]
Jullian merasakan sengatan listrik yang amat kuat melesat dari lehernya menuju korteks serebral. Seluruh sarafnya menyala. Informasi mulai mengalir masuk ke dalam pikirannya seperti air bah yang menjebol bendungan.
[PROSES SINKRONISASI SARAF DIMULAI...]
[PROTOKOL 'PATHAGON' AKTIF]
Mata Jullian terbuka lebar. Pupil matanya bergetar hebat, berganti-ganti warna antara hitam pekat dan biru redup. Rasa sakit yang selama ini menyiksanya mendadak lenyap, digantikan oleh kejernihan yang menakutkan.
Ia bisa melihat struktur molekul debu di udara. Ia bisa menghitung jumlah kuman di tangan makhluk yang sedang menggigitnya.
Ia tidak lagi merasa sekarat. Ia merasa... baru saja lahir.
"Pelepasan dopamin meningkat tiga ratus persen," gumam Jullian, suaranya kini dingin dan stabil, seolah-olah ia sedang membacakan diagnosa medis orang lain.
"Dan kau... kau hanya seonggok makhluk gagal yang perlu dibersihkan."