

Sejak kecil aku tidak pernah tahu keberadaan ibuku. Bapak bilang, Ibu pergi meninggalkan kami dengan laki-laki lain saat aku masih balita. Karena itulah, aku tumbuh dengan kesan yang kurang baik terhadap perempuan.
Dulu, Bapak harus bekerja setiap hari. Kakinya pincang, jadi dia hanya bisa bekerja kasar seperti menjadi satpam gudang atau penjaga di tempat pengepul barang bekas. Sebelum berangkat kerja, dia selalu menitipkanku di rumah Tante Sari, tetangga kami yang baik hati dan sudah menganggapku seperti keponakan sendiri.
Tante Sari itu sangat cantik. Kalau tersenyum, lesung pipitnya kelihatan, ditambah lagi gigi gingsulnya membuat senyumnya tampak manis. Tapi, Tante Sari punya beberapa kebiasaan aneh. Saat aku tanya tentang kebiasaannya, dia cuma menjawab, "Nanti kalau kamu sudah besar, kamu juga bakal tahu sendiri."
Karena itulah, waktu kecil aku sangat ingin cepat dewasa, supaya aku bisa tahu rahasia kecil Tante Sari.
Namun tak lama kemudian, keluarganya pindah rumah. Aku sangat sedih sampai menangis tersedu-sedu saat Tante Sari pergi. Setelah itu, aku dikirim ke desa untuk tinggal bersama Kakek. Kakekku adalah seorang mantri atau tabib terkenal di desa itu. Aku tumbuh besar bersamanya dan belajar banyak ilmu pengobatan darinya.
Tak terasa, kini tiba waktunya aku kuliah.
Prestasiku lumayan, aku berhasil masuk ke Universitas Indonesia di Jakarta. Aku sangat bersemangat, bukan hanya karena kuliahnya, tapi karena aku akan segera bertemu lagi dengan Tante Sari! Bahkan, aku akan tinggal di rumahnya.
Di tengah cuaca panas terik, aku naik kereta api menuju Jakarta. Di gerbong, aku tertidur sangat pulas. Aku bermimpi kembang desa di kampungku, Mawar, menyelinap ke rumahku tengah malam dan mengajakku melakukan hal yang "iya-iya". Saat aku sudah kegirangan dan mau membuka celana untuk memulai aksi, tiba-tiba ada yang mendorong bahuku dengan keras. Aku pun tersentak bangun.
Sialan! Siapa yang berani mengganggu mimpi indahku?!
Aku membuka mata dengan kesal. Hal pertama yang tertangkap mataku adalah sepasang kaki jenjang yang putih dan mulus. Ternyata di depanku duduk seorang gadis cantik berkaki jenjang.
Saat itu, si gadis cantik menatapku dengan tatapan jijik.
Dia mengernyitkan dahi sambil sibuk mengelap noda basah di bahu bajunya. Saat itulah aku sadar, ya ampun, itu air liurku! Pantas saja dia menatapku seperti itu, ternyata tadi tanpa sadar aku tertidur di bahunya dan mengiler di sana.
Melihat aku terus menatapnya, dia membentak kesal, "Puas lihatnya?"
"Cuma lihat dikit, kok," jawabku sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Ngintipin cewek enak, ya?" sindirnya.
"Enak sih enak, cuma tadi belum kelihatan jelas aja!" Melihat dia tidak langsung marah besar, aku pun jadi makin tidak tahu malu.
"Kamu!" Dia sepertinya berusaha menahan amarah, lalu berkata, "Sekalian aja mau pegang juga?"
Aku langsung semangat. "Boleh? Oke deh, kalau gitu saya nggak sungkan-sungkan ya."
Sebelum dia sempat bereaksi, tanganku langsung bergerak mencubit paha mulusnya. Wah, lembut sekali, seperti kulit telur rebus dan sangat kenyal. Nyaliku makin menjadi-jadi, dan ada perasaan panas yang mulai menjalar di dadaku.
"Aduh!"
Gadis itu sepertinya tidak menyangka aku benar-benar berani merabanya di depan umum. Dia langsung meledak marah, "Kurang ajar! Dasar mesum!" Dia menoleh ke sekitar, lalu tangannya melayang hendak menamparku.
Melihat situasi gawat, aku cepat-cepat berseru, "Mbak, kaki Mbak itu sebenarnya bermasalah!"
"Hah?" Dia tertegun sejenak, lalu makin emosi. "Ngomong sembarangan apa kamu?!"
Dia pasti mengira aku hanya mencari alasan karena takut ditampar. Aku tahu itu, makanya aku memasang wajah serius dan berkata, "Coba lihat, warna kulit di kaki Mbak itu tidak beres. Ada memar-memar keunguan. Mbak baru saja jatuh, kan?"
Begitu melihat wajahnya berubah kaget, aku tahu tebakanku benar. Aku melanjutkan, "Tulang kaki Mbak ini ada yang cedera di bagian dalam."
Orang-orang di sekitar mulai memperhatikan kami sambil senyum-senyum mengejek.
Mungkin mereka juga berpikir aku sedang membual, cuma modus ingin cari kesempatan memegang kaki si cantik. Aku pun melanjutkan dengan nada mantap, "Memar di kaki Mbak itu tandanya aliran darah dan sarafnya tersumbat. Kalau tidak segera diobati, saya khawatir kaki Mbak bisa mati rasa atau malah membusuk."
Para penumpang lain menonton seperti sedang melihat pertunjukan. Ada yang nyeletuk sinis, "Anak muda zaman sekarang kalau mau modus pinter banget ya bicaranya."
"Iya, anak ini kelihatannya belum seumur anak saya, tapi sudah berani ngaku-ngaku jadi dokter. Ada-ada saja."
"Haha, tonton aja, jangan dianggap serius."Aku berkata pada gadis cantik itu, "Kaki Mbak ini, setiap kali cuaca lagi mendung atau mau hujan, pasti rasanya nyeri-nyeri gimana gitu, kan?"
Gadis itu sedikit terperanjat. "Loh, kok kamu tahu?"
Aku langsung memasang wajah sok misterius dan berkata, "Tadi saya bilang saya ini tabib, Mbak-nya nggak percaya."
Melihat reaksi gadis itu yang tampak serius, orang-orang di sekitar langsung heboh berbisik-bisik. Si gadis pun mulai merasa cemas, dia lalu bertanya padaku, "Terus, kaki saya ini bisa sembuh nggak?"
"Ya jelas bisa dong. Tapi namanya berobat kan ada biayanya. Khusus hari ini, karena saya rasa kita berjodoh, Mbak bayar dua ratus ribu saja ke saya." Aku mengacungkan dua jari di depannya.
"Dua ratus ribu?" Dia menarik napas dalam-dalam, lalu tiba-tiba meledak marah. "Kamu mau nipu saya ya, Dek! Luka saya ini sudah diperiksa ke rumah sakit berkali-kali, sudah habis jutaan tapi nggak sembuh-sembuh. Fix, kamu pasti penipu!"
"Oalah, ternyata Mbak merasa kemurahan ya? Ya sudah kalau gitu, harganya saya naikkan jadi dua juta."
"Kamu!" Gadis itu rasanya ingin muntah darah. Dia langsung menunjuk ke arahku. "Sudah, jangan ajak saya ngomong lagi!"
Aku yang merasa bosan di kereta pun mulai bersikap tak tahu malu lagi. "Jangan gitu dong, Mbak. Daripada bengong, mending kita ngobrol. Nama Mbak siapa?"
Dia tetap diam, tidak memedulikanku.
Waduh, sombong banget ini cewek. Aku pun berkata, "Mbak, kalau Mbak nggak mau jawab, saya panggil 'Inah' aja ya?"
Dia mengernyitkan dahi, akhirnya mau buka suara juga. "Kenapa panggil saya kayak gitu?"
Aku menjawab, "Inah itu nama induk babi di rumah saya. Hubungan saya sama dia baik banget, keluarga saya nyari duit ya dari jualan anak-anaknya si Inah itu."
Dia langsung naik pitam. "Siapa yang kamu samakan sama babi! Jangan sembarangan kasih panggilan ke orang ya! Catat baik-baik, nama saya
Melati Putri!"
Melati Putri?
"Hehe, namanya cantik banget," kataku. "Nih, simpan nomor saya. Nanti kalau sudah sampai kota, Mbak cari saya saja. Saya bisa sembuhkan kaki Mbak, beneran nggak bohong. Janji deh, saya nggak bakal periksa seluruh badan Mbak lagi."
Melati hampir saja pingsan mendengar ucapanku. Dia memutar bola matanya dan langsung membuang muka, benar-benar tidak mau meladeniku lagi.
"Stasiun Gambir segera tiba. Bagi para penumpang yang akan turun, mohon persiapkan barang bawaan Anda..."
Waduh, cepat banget sampainya. Begitu aku menoleh, si cantik di sampingku sudah menghilang duluan. Aku pun segera membereskan tas dan turun dari kereta.
"Apartemen Green Lake, Tower B, Lantai 29, Unit 05." Aku merogoh secarik kertas dari kakek. Ini adalah alamat Tante Sari.
Sebentar lagi aku bakal ketemu Tante Sari. Jantungku rasanya berdegup kencang seperti ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan.
Tante, sudah belasan tahun nggak ketemu, kira-kira Tante sekarang seperti apa ya?
Mengikuti alamat tersebut, aku segera naik taksi menuju lokasi. Harus kuakui, tinggal di kota besar itu memang beda. Wanita-wanita di kota juga kelihatan lebih putih-putih dibanding orang desa.
"Unit 2905, nah ini dia!" Tak butuh waktu lama, aku sampai di depan pintu rumah Tante Sari.
Saat aku menekan bel, rupanya Tante Sari sedang mandi. Setelah dia bertanya siapa yang datang dari balik pintu dan aku menjawab, dia langsung membukakan pintu—hanya dengan selembar handuk yang melilit tubuhnya.
Pemandangan yang luar biasa: lehernya yang putih mulus, bahunya yang seksi, dan bagian dadanya yang tampak menonjol di balik handuk yang melilit ketat, seolah-olah handuk itu bisa melorot kapan saja...