Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Takhta Yang Tak Kupilih

Takhta Yang Tak Kupilih

Bima_Alfarezky | Bersambung
Jumlah kata
85.0K
Popular
173
Subscribe
12
Novel / Takhta Yang Tak Kupilih
Takhta Yang Tak Kupilih

Takhta Yang Tak Kupilih

Bima_Alfarezky| Bersambung
Jumlah Kata
85.0K
Popular
173
Subscribe
12
Sinopsis
PerkotaanAksiPewarisIdentitas TersembunyiMiliarder
Sejak bayi, Arkana menjadi sasaran pembunuhan demi memperebutkan warisan keluarga Mahendra. Semua orang mengira ia telah meninggal, padahal ibunya berhasil menyelamatkannya dan membesarkannya jauh dari kehidupan mewah. Bertahun-tahun kemudian, Arkana kembali untuk mengungkap kebenaran tentang keluarganya, pengkhianatan, dan identitasnya sebagai pewaris sah. Namun, saat takhta akhirnya berada di depan mata, ia justru harus memilih antara kekuasaan atau kebebasan yang selama ini ia impikan.
Diburu Kematian

Sore itu, langit mulai berubah jingga. Sinar matahari yang hangat memantul di permukaan danau, membuat airnya tampak berkilau. Angin berembus pelan, menggoyangkan dedaunan dan rumput liar di tepi danau.

Di bawah rindangnya pohon beringin, seorang pemuda duduk di depan sebuah kanvas yang berdiri di atas penyangga kayu. Tangan kanannya memegang kuas, sementara tangan kirinya membawa palet berisi berbagai warna cat.

Pemuda itu bernama Arkana.

Usianya baru dua puluh lima tahun. Wajahnya terlihat tenang, tetapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan. Sejak kecil, ia lebih suka menghabiskan waktu dengan melukis daripada berkumpul dengan banyak orang.

Anehnya, pagi itu ia tidak melukis pemandangan danau yang terbentang di depan matanya.

Bukan pepohonan.

Bukan air yang berkilau diterpa sinar matahari.

Dan bukan pula langit biru yang perlahan mulai berwarna jingga.

Kuasnya justru bergerak mengikuti bayangan yang muncul di dalam pikirannya.

Sedikit demi sedikit, sebuah tebing tinggi mulai tergambar di atas kanvas. Di sampingnya mengalir air terjun yang sangat deras. Kabut puti memenuhi udara, sementara dinding-dinding batu menjulang tinggi di kanan dan kiri.

Arkana menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap lukisan itu beberapa saat.

"Lagi-lagi gambar ini..."

Ia mengembuskan napas pelan. Ini bukan pertama kalinya ia melukis tempat yang sama. Entah sudah berapa kali ia mencoba menggambar pemandangan lain, tetapi pada akhirnya kuasnya selalu kembali melukis tebing dan air terjun yang bahkan belum pernah ia lihat secara langsung.

"Arkana."

Sebuah suara perempuan terdengar dari belakang.

Arkana menoleh.

Seorang wanita paruh baya berjalan menghampirinya sambil membawa keranjang anyaman berisi sayuran. Wajahnya mulai dimakan usia, tetapi senyumnya masih sama hangat seperti yang selalu Arkana lihat.

"Ibu."

Arkana segera berdiri dan mengambil keranjang dari tangan wanita itu.

"Kenapa Ibu datang ke sini? Bukannya tadi bilang mau ke kebun?"

"Ibu memang dari kebun," jawab wanita itu sambil tersenyum. "Kamu belum pulang juga. Ibu khawatir kamu lupa waktu."

Arkana hanya tersenyum kecil.

Wanita itu kemudian melihat ke arah kanvas. Senyumnya perlahan memudar.

"Lukisan itu lagi?"

"Iya."

"Kamu masih sering memimpikan tempat itu?"

Arkana mengangguk pelan. "Aku tidak tahu kenapa, Bu. Rasanya tempat itu benar-benar ada. Setiap kali memejamkan mata, yang muncul selalu tebing dan air terjun itu."

Wanita itu terdiam. Tatapannya tertuju pada lukisan tersebut, jemarinya tanpa sadar meremas pakaiannya. Arkana bukan sedang bermimpi. Tempat itu benar-benar ada.

Ditempat yang sama, dua puluh lima tahun yang lalu, di sanalah takdirnya dan takdir anaknya berubah untuk selamanya.

Malam itu, seorang perempuan berlari sekuat tenaga menembus lebatnya hutan. Kakinya yang hanya beralas flat shoes berkali-kali menginjak rumput basah, ranting kering, dan bebatuan tajam hingga langkahnya mulai goyah. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak, tetapi kedua tangannya tetap erat memeluk bayi laki-laki yang sesekali merengek pelan.

Di belakangnya, cahaya senter menembus gelap malam, disusul suara langkah kaki yang semakin mendekat.

"Cari sampai ketemu! Jangan biarkan mereka hidup!" teriak seseorang.

Perempuan itu tidak berani menoleh. Air matanya jatuh tanpa sempat ia seka. Ia terus saja berlari, tak peduli betisnya tersayat rumput liar.

Kakinya mulai terasa sakit dan perih. Perutnya masih terasa nyeri akibat luka persalinan dua minggu lalu. Namun setiap kali lengannya mulai lemah menggendong sang bayi, ia kembali menguatkan diri. Apa pun yang terjadi, putranya harus tetap hidup.

Samar-samar ia mendengar suara aliran air terjun. Sejenak perempuan itu memandang langit yang masih gelap, lalu ia memejamkan matanya sejenak dan menarik nafas panjang. Ia mulai melangkahkan kakinya, lebih pelan karena menahan perih bekas sayatan rumput liar.

Sejujurnya perempuan itu tidak tahu sedang berada di mana. Namun, instingnya mengatakan ia harus berjalan menuju suara air terjun.

Setelah beberapa saat, akhirnya ia sampai ditempat yang menjadi tujuannya.

Namun siapa sangka, ternyata ia malah berada diatas tebing curam. Di depannya terdapat air terjun yang menjulang tinggi diantara tebing-tebing batu berwarna gelap yang seolah membelah pegunungan. Airnya tumpah dari puncak dalam beberapa aliran besar, menghantam bebatuan di bawah hingga memecah menjadi kabut putih yang memenuhi udara. Deru air terdengar menggelegar, mengalahkan suara angin dan dedaunan di hutan yang mengelilinginya. Sementara aliran sungai di bawahnya berkelok di antara batu-batu besar yang licin.

"Ya Tuhan, tolong selamatkan aku dan bayiku." Ucapannya menahan rasa takut dan kekhawatiran yang akan terjadi.

Perempuan itu menoleh kebelakang, belum ada tanda-tanda keberadaan orang-orang yang mengejarnya. Namun dirinya yakin sebentar lagi pasti mereka akan sampai.

Ia tak bisa maju atau mundur. Dalam keadaan terjepit, ia memanfaatkan moment ini untuk berpikir cepat. Matanya memindai keadaan sekitar, mencari celah untuk bersembunyi.

Didekat tempatnya berdiri, ada jalur sempit menuju arah bawah tebing, sepertinya itu adalah jalan para binatang untuk menuju sungai yang ada dibawahnya.

Dengan tubuh gemetar, perempuan itu berjalan dibibir tebing, melepas sebelah flat shoes yang ia kenakan.

Tanpa membuang waktu, ia berjalan tertatih menuju jalan sempit itu. Sesekali ia meringis menahan sakit saat kakinya menginjak semak berduri. Semakin kebawah, pijakannya semakin sakit.

Perempuan itu berhenti sejenak, mengatur pernafasannya. Matanya menoleh kearah ke bayi yang berada dalam gendongannya. Masih tertidur pulas. Ia mencium kening bayinya, lalu kembali berjalan.

"Akhhh... Ssss... " Kakinya menggores batuan tajam yang ia pijak. Darah terlihat menglir dari balik telapak kakinya.

Ia menoleh ke belakang, cahaya senter mulai terlihat. Kini jantungnya mulai berpacu lebih cepat. Buru-buru ia menuruni tebing, menahan perih yang ia rasakan.

Semakin kebawah pijakannya semakin sempit. Ia harus menempelkan tubuhnya didinding tebing yang dingin sambil terus menggendong bayinya.

Kabut dari air terjun membasahi wajah dan pakaiannya. Batu-batu di bawah telapak kakinya terasa licin. Sedikit saja ia kehilangan keseimbangan, tubuhnya akan benar-benar jatuh ke sungai.

"Dia kearah sini."

Suara seorang laki-laki terdengar dekat. Perempuan itu sontak langsung memeluk bayinya dengan erat dan menempelkan tubuhnya lebih rapat ke dinding tebing.

"Lihat itu."

Salah seorang laki-laki yang mengejarnya berjalan ke bibir tebing. Ia berjongkok dan mengambil flat shoes yang tergeletak sembarangan dibibir tebing.

"Ini... Bukankah ini punya nyonya." Ucapnya seraya menunjukan benda itu kepada kawannya.

"Ada apa?"

Suara seorang perempuan terdengar dari balik pepohonan.

Semua orang menoleh ke arah datangnya suara.

Dari kegelapan hutan, seorang pria berjas hitam berjalan keluar sambil menggandeng mesra seorang perempuan bergaun merah. Wajah keduanya tampak tenang, seolah tidak sedang memburu nyawa seseorang.

Pria itu adalah Rendra, asisten pribadi keluarga Mahendra yang selama ini dikenal setia.

Sementara perempuan di sampingnya adalah Clarissa Mahendra, istri pertama Tuan Adrian Mahendra.

Tatapan Clarissa menyapu bibir tebing. Ketika melihat sebelah flat shoes berada ditangan salah satu anak buahnya, senyum tipis terukir di sudut bibirnya.

"Kenapa kalian berhenti?" tanyanya datar.

"Satu sepatu ditemukan di pinggir jurang, Nyonya. Sepertinya nyonya Aurelia melompat." Jawabnya.

Clarissa melangkah mendekat. Matanya menatap jurang yang diselimuti kabut, lalu tersenyum puas.

"Kalau begitu, biarkan alam menyelesaikan sisanya."

Di sampingnya, Rendra ikut memandang ke dasar jurang tanpa sedikit pun rasa iba.

Sementara itu tanpa mereka ketahui, beberapa meter di bawahnya. Perempuan yang mereka buru sedang berjuang dalam maut. Seluruh tubuhnya mulai basah, tangannya gemetar memeluk sang bayi.

Sayangnya, percikan air yang terbawa angin membasahi wajah mungil sang bayi. Ia mulai merengek pelan, menggeliat gelisah di dalam gendongan.

Jantung perempuan itu seakan berhenti berdetak. Dengan tangan gemetar, ia segera mengusap wajah putranya, lalu mendekapnya lebih erat.

"Ssst... sayang... sebentar lagi...," bisiknya nyaris tanpa suara.

Tapi syukurlah, gemuruh air terjun yang menggelegar menelan rengekan kecil itu.

Clarissa dan Rendra berbalik menuju kedalam hutan diikuti kedua anak buahnya, mereka berniat meninggalkan tempat tersebut.

"Tunggu," ucap salah satu anak buah Clarissa sambil mengangkat tangan.

"Ada apa?"

"Aku seperti mendengar suara bayi..."

Kawannya menggeleng. "Itu cuma suara air. Kalau mereka jatuh dari ketinggian itu, tidak mungkin masih hidup."

Lanjut membaca
Lanjut membaca