
- Jumlah kata
- 21.1K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
**Wira Aditya** bukanlah sekadar seorang raja dia adalah bayangan kematian bagi siapa saja yang menolak tunduk. Memimpin Legiun Singa Emas yang tak pernah kalah, Wira telah menyatukan ribuan suku dan kerajaan kecil di bawah satu bendera tunggal melalui garis darah dan api. Bagi rakyatnya, dia adalah dewa, Di bawah langit yang memerah akibat senja dan asap, Wira berdiri kokoh di atas tumpukan batu, mengangkat pedang *Agni Murti* yang berlumuran darah musuh. Di belakangnya, Kastil *Suryanagara*—benteng terakhir koalisi utara yang berani menentangnya—runtuh dan terbakar hebat. Dengan perisai Singa Emas di tangan trái, dia menatap ribuan tentara sisa yang kini berlutut, tak lagi memiliki pilihan selain menyembah sang penakluk.Namun, kemenangan absolut ini melahirkan benih kebinasaan baru dalam diri Wira.Dia tak lagi puas menjadi raja; dia menginginkan keabadian dan penyembahan mutlak.Wira mulai memerintahkan pembangunan monumen-monumen raksasa yang menguras darah rakyatnya, memecah belah kaumnya sendiri menjadi kelas-kelas budak, dan menindas siapa saja yang berani menyuarakan kebenaran.Di tengah puncak kekuasaannya yang despotik, seorang pemuda sholeh dari kasta budak muncul, membawa peringatan akan kehancuran yang mengerikan jika Wira tak segera bertobat. Akankah Raja Sang Penakluk menundukkan kepalanya di hadapan peringatan langit, ataukah dia akan terus melangkah menuju jurang kehancuran.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Langit Merah di Atas
“Sudah selesai, Tuanku. Tidak ada satu pun yang berani melawan lagi.”
Suara Jenderal Darma terdengar parau, napasnya masih memburu. Asap hitam mengepul tinggi-tinggi, mewarnai langit senja jadi merah menyala seolah semesta sedang berdarah. Di bawah kaki Wira Aditya, puing-puing benteng Suryanagara masih panas, berderak pelan saat ia melangkah. Pedang Agni Murti di tangan kanannya masih meneteskan darah, jatuh satu per satu ke tanah yang sudah basah kuyup.
Wira tidak menoleh. Matanya menatap ribuan prajurit musuh yang kini berlutut berjejer rapi. Kepala mereka tertunduk dalam, tangan saling bertaut di atas kepala. Tak ada suara teriakan, tak ada suara senjata. Hanya rintihan lemah yang tertahan di tenggorokan, dan suara api yang melahap sisa-sisa bangunan di belakangnya.
“Semua menyerah?” tanya Wira. Suaranya tenang, tapi membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat dari timah.
“Semua, Tuanku,” jawab Darma. “Pemimpin koalisi sudah tewas di gerbang utara. Pasukan mereka meletakkan senjata begitu melihat bendera Singa Emas berkibar di atas menara utama. Kini seluruh tanah utara ada di dalam genggaman Tuanku.”
Wira tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke mata. Ia melangkah maju, langkahnya berat namun mantap. Setiap kali kakinya menginjak tanah, barisan prajurit yang berlutut itu terlihat semakin merapat ke tanah, seolah ingin menyembunyikan diri di bawah bumi.
“Kalian mendengar itu?” suara Wira menggema, tajam membelah keheningan. “Kalian yang kemarin masih berani mencabut pedang melawanku, sekarang berlutut di sini. Di mana keberanian kalian? Di mana kesombongan kalian yang bilang aku penindas?”
Tak ada yang menjawab. Hanya kepala yang makin tertunduk.
“Angkat wajah kalian!” bentak Wira tiba-tiba. Suaranya menggelegar, membuat banyak orang tersentak. “Lihat siapa yang kalian lawan! Lihat sang penakluk yang kalian sebut raja zalim!”
Satu per satu kepala terangkat. Mata-mata itu penuh ketakutan, penuh kebencian yang tak berdaya, penuh kepasrahan. Wira menatap mereka satu per satu, seolah sedang menghitung nyawa di hadapannya.
“Kalian pikir dengan bersatu, kalian bisa menghentikanku?” Wira tertawa pelan, tawa yang dingin dan mengerikan. “Ribuan suku, puluhan kerajaan, semuanya sudah jatuh ke tanganku. Kalian pikir kalian istimewa? Kalian pikir langit akan memihak pada orang-orang yang hanya tahu mengeluh tapi tak mau bersatu dengan benar?”
Seorang lelaki tua, rambutnya sudah memutih, bajunya compang-camping, perlahan mengangkat wajahnya. Matanya menatap lurus ke mata Wira, tanpa rasa takut yang berlebihan.
“Kau menang hari ini, Raja,” suaranya gemetar tapi tegas. “Tapi ketahuilah, kemenangan yang dibangun di atas tumpukan mayat dan air mata rakyat, itu tidak akan bertahan lama. Ingatlah firman Allah SWT: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Tapi sebaliknya, kekuasaan yang disalahgunakan, cepat atau lambat pasti akan dicabut juga.”
Suasana seketika menjadi mati. Para prajurit Legiun Singa Emas menahan napas. Jenderal Darma langsung melangkah maju, tangannya sudah mencengkeram gagang pedang.
“Berani sekali kau bicara begitu di hadapan Raja!” hardik Darma. “Apakah kau sudah bosan hidup?”
Wira mengangkat tangan pelan, menghentikan langkah jenderalnya. Ia melangkah mendekati lelaki tua itu, berhenti tepat di hadapannya. Tinggi badan Wira nyaris setengah kepala lebih tinggi, membuat lelaki tua itu harus mendongak menatapnya.
“Kau mengancamku, orang tua?” tanya Wira pelan, tapi matanya menyala tajam.
“Bukan ancaman, Tuanku,” jawab lelaki tua itu tenang. “Itu sekadar peringatan. Ingatlah, kita semua hamba Allah. Kau bisa menguasai tanah ini, kau bisa membuat semua orang tunduk padamu, tapi kau tidak bisa lari dari takdir-Nya. Langit tidak pernah tidur. Keadilan-Nya mungkin lambat datangnya, tapi ia pasti sampai. Tidak ada kekuasaan abadi selain kekuasaan-Nya semata.”
Wira diam sejenak. Angin berhembus kencang, menerbangkan debu dan abu di sekitar mereka. Jubah merahnya berkibar liar di bawah langit merah. Ia menatap lelaki tua itu dalam-dalam, seolah ingin membaca apa yang tersembunyi di balik hati orang itu.
“Kau berani bicara begitu padaku, padahal nyawamu ada di ujung pedangku ini?” Wira menunjuk Agni Murti yang masih berlumuran darah. “Aku bisa memutus lehermu sekarang juga, dan tak ada satu pun yang berani menentangku.”
“Boleh saja, Tuanku,” jawab lelaki tua itu tanpa berkedip. “Tapi ingatlah, memutus leherku itu mudah. Tapi kau tidak bisa memutus kebenaran yang sudah tertulis di alam. Setiap amal perbuatan ada balasannya. Siapa yang menanam angin, ia akan menuai badai. Aku mati hari ini, tapi kata-kata ini tidak akan mati. Ia akan tertinggal di hati orang-orang yang masih punya akal sehat. Dan suatu hari nanti, kata-kata ini akan tumbuh menjadi benih yang menghancurkan apa yang sedang kau bangun sekarang.”
Wira tertawa keras, suaranya memantul di antara puing-puing benteng.
“Kau pikir omongan kosongmu bisa menggoyahkan kerajaanku? Aku sudah menyatukan ribuan suku dengan tangan ini. Aku sudah melintasi gunung dan sungai, membakar kota yang menolak tunduk, dan kini seluruh benua ini ada di bawah kakiku. Kau bilang aku akan jatuh? Biarkan saja langit mencoba menjatuhkanku. Aku bahkan tidak takut pada maut sekalipun!”
“Kau tidak takut pada maut, Tuanku?” Lelaki tua itu menggeleng pelan. “Tapi ketakutan yang sesungguhnya itu bukan pada kematiannya, melainkan pada apa yang dihadapi setelahnya. Jalan yang kau tempuh ini, semakin jauh kau melangkah, semakin sulit bagimu untuk kembali. Ingatlah pesan Nabi: Dunia ini adalah ladang akhirat. Barang siapa menanam kebaikan akan memanen kebahagiaan, dan barang siapa menanam kejahatan, ia tak akan menemukan selain penyesalan.”
Wira terdiam. Untuk sesaat, bayangan ragu melintas di matanya, secepat kilat yang menyambar di malam gelap. Tapi ia segera mengusirnya, menggantinya dengan tatapan dingin dan tajam.
“Kau pandai merangkai kata, orang tua. Tapi ketahuilah, di dunia ini, yang terkuatlah yang menentukan hukum. Bukan doa, bukan nasihat kosong. Tapi kekuatan! Dan kekuatan itu ada di tanganku sekarang.”
Wira berbalik, mengangkat pedangnya tinggi ke udara. Cahaya merah senja memantul di bilah tajam itu, memancarkan kilatan yang menyilaukan mata.
“Dengar semua!” suaranya menggelegar, terdengar hingga ke ujung barisan. “Mulai hari ini, tidak ada lagi kerajaan utara, tidak ada lagi perbatasan. Semua tanah ini adalah milikku! Siapa yang setia, akan kuberi kemuliaan. Tapi siapa yang masih berani melawan, atau menyebarkan nasihat yang tidak berguna seperti ini orang tua — ia akan berbagi nasib dengan benteng ini! Hancur lebur jadi abu!”
Teriakan sorak-sorai langsung meledak dari barisan Legiun Singa Emas. “Hidup Raja Wira! Hidup Sang Penakluk!” Suara mereka bergema, menggetarkan tanah yang masih berdarah. Sementara prajurit yang berlutut hanya menunduk lebih dalam, hati mereka beku.
Wira menoleh kembali ke lelaki tua itu.
“Aku tidak akan membunuhmu,” kata Wira tiba-tiba. “Aku ingin kau hidup. Aku ingin kau lihat sendiri, bagaimana kerajaanku ini tumbuh menjadi kekuatan yang tak tertandingi. Aku ingin kau lihat, apakah langit benar-benar akan menjatuhkanku, atau justru langit sendiri tunduk di bawah kekuasaanku. Bawa kata-katamu itu. Simpan baik-baik. Dan tunggu — lihat siapa yang benar pada akhirnya.”
Lelaki tua itu menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca. Ia menatap Wira dengan tatapan yang penuh kasihan, bukan amarah. Tatapan yang membuat hati Wira entah kenapa terasa perih.
“Semoga Allah memberi hidayah padamu, Tuanku,” ucapnya pelan. “Karena sungguh, orang yang paling merugi adalah orang yang hatinya keras saat kebenaran datang mengetuk pintu. Kau menang hari ini, tapi kemenangan tanpa kebenaran itu hanyalah kemenangan sesaat. Dan penyesalan itu datangnya selalu terlambat.”
Wira mengangguk pelan pada dua prajurit di dekatnya. “Bawa dia pergi. Jangan sakiti dia, tapi awasi setiap langkahnya. Biarkan dia melihat semuanya.”
Saat lelaki tua itu dibawa pergi, Wira berdiri sendirian di atas tumpukan batu, memandang luas wilayah yang kini menjadi miliknya. Langit semakin merah, seolah terbakar habis. Di tangannya, pedang Agni Murti terasa semakin panas.
“Kau dengar itu, Darma?” bisik Wira pelan, hampir pada dirinya sendiri. “Dia bilang aku akan jatuh.”
Jenderal Darma mendekat, suaranya rendah. “Jangan hiraukan omongan orang tua yang sudah kalah, Tuanku. Mereka hanya tidak terima melihat kekuasaan berpindah tangan.”
Wira tersenyum tipis, tapi senyum itu tak sampai ke matanya. Ia menatap langit yang semakin gelap, di mana bintang pertama mulai muncul menyelinap di balik awan asap.
“Mungkin saja,” gumam Wira. “Tapi entah kenapa... kata-katanya itu terasa seperti batu yang kulempar ke sumur dalam. Bunyinya lama sekali sebelum sampai ke dasar.”
Ia membalikkan badan, melangkah turun dari tumpukan batu itu. Di belakangnya, api terus memakan sisa-sisa benteng Suryanagara. Asap hitam mengepul tinggi, menyatu dengan langit senja yang merah pekat.
“Besok pagi,” kata Wira tanpa menoleh, “panggil semua penasihat. Ada hal penting yang harus kita bicarakan. Sesuatu yang lebih besar dari sekadar menyatukan tanah ini.”
“Apa itu, Tuanku?” tanya Darma heran. Bukankah seluruh benua sudah berada di bawah kekuasaan Wira? Apa lagi yang masih kurang?
Wira berhenti sejenak. Angin malam mulai bertiup dingin, menerpa wajahnya. Matanya menatap jauh ke depan, ke arah cakrawala yang perlahan menghitam.
“Kekuasaan ini hebat, Darma,” ucap Wira pelan tapi pasti. “Tapi satu hal yang menyedihkan. Semua raja yang pernah ada, semuanya akhirnya mati. Kerajaan mereka berubah menjadi debu, nama mereka dilupakan orang. Aku tidak mau begitu. Aku tidak mau sekadar menjadi raja yang datang dan pergi. Aku ingin... abadi.”
Darma tertegun, mulutnya sedikit terbuka. “Abadi, Tuanku?”
“Ya,” jawab Wira tegas. “Aku ingin nama ini dikenang selamanya. Aku ingin disembah, bukan sekadar ditakuti. Dan aku tahu caranya.”
Wira melangkah pergi, bayangannya memanjang di atas tanah yang berlumuran darah. Di kejauhan, di balik kabut asap yang mulai menebal, sesosok bayangan kecil berdiri diam di bukit seberang. Sosok itu memandang ke arah api yang berkobar di Suryanagara, lalu mengangkat kedua tangannya ke langit yang merah. Bibirnya bergerak pelan, mengucapkan sesuatu yang tak terdengar. Angin seketika berubah arah, membawa debu-debu halus berputar di udara, seolah semesta sendiri sedang mencatat janji kelam yang baru saja diucapkan sang penakluk.
Dan di ujung pandangan, di mana langit bertemu bumi, tanda kecil mulai menyala — samar, namun tak bisa dihapus. Pertanda bahwa apa yang baru saja dimulai, bukanlah kisah kejayaan, melainkan awal dari kehancuran yang belum pernah dilihat siapa pun.
Daftar bab
15 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








