

Sinar matahari pagi di hari Minggu yang cerah menembus jendela kaca besar di lantai dua sebuah rumah minimalis modern.
Terletak di Perumahan Pinang Regensi, sebuah kawasan hunian kelas menengah yang tenang di wilayah Kelurahan Sukamaju, Bandung, rumah bertingkat dua itu kini menjadi pelabuhan baru bagi kehidupan Galang Arkanza.
Setelah bertahun-tahun tinggal di hiruk-pikuk Jakarta, kepindahan ini harus diambil karena sang bunda mendapatkan tugas mengajar yang baru di kota kembang ini.
Di dalam kamar utama lantai atas, Galang baru saja menyelesaikan ritual olahraga paginya.
Pemuda berusia 20 tahun itu berdiri di depan cermin besar, menyeka keringat yang bercucuran di leher dan dadanya menggunakan handuk kecil. Refleksi di cermin menampilkan sosok yang akan membuat wanita mana pun menoleh dua kali.
Dengan tinggi badan mencapai 185 cm, Galang memiliki proporsi tubuh yang sangat atletis. Bahunya lebar, dadanya bidang, dan perutnya membentuk siluet rata yang kokoh akibat kedisiplinannya menjaga kebugaran.
Kulitnya yang berwarna sawo matang eksotis memberikan kesan maskulin yang kuat, kontras dengan wajahnya yang tampan dengan rahang tegas dan tatapan mata yang cerdas.
Sebagai seorang mahasiswa semester 5 jurusan Manajemen Bisnis, Galang tidak hanya diberkahi dengan penampilan fisik yang memikat, tetapi juga otak yang encer.
Namun, di balik semua kelebihan yang tampak ideal bagi anak muda sebayanya, Galang menyimpan satu rahasia kecil tentang selera pribadinya. Ia sama sekali tidak pernah tertarik pada pesona gadis-gadis muda atau teman-teman perempuan di kampusnya.
Di matanya, mereka terlalu kekanak-kanakan. Galang justru memiliki ketertarikan yang mendalam kepada wanita matang, sosok wanita dewasa yang usianya jauh di atasnya.
Bagi Galang, ketenangan, pembawaan, dan pesona sensual yang hanya dimiliki oleh wanita yang telah matang jauh lebih memikat daripada apa pun.
"Galang? Sayang, bisa turun sebentar? Tolong bantu Bunda memindahkan meja kecil ini," sebuah suara lembut namun terdengar merdu memanggil dari arah lantai bawah.
"Iya, Bun! Bentar, Galang turun!" sahut Galang dengan suara baritonnya yang mantap.
Galang segera mengenakan kaus oblong putih ketat yang langsung mencetak bentuk tubuh atletisnya dengan jelas, lalu melangkah menuruni tangga kayu menuju lantai satu. Di ruang tengah, ia melihat sosok yang paling ia hormati sekaligus kagumi di dunia ini.
Salma Felicia Putri, sang bunda, sedang sibuk menata beberapa pot tanaman hias di dekat jendela. Di usianya yang telah menginjak 45 tahun, Salma sama sekali tidak terlihat seperti wanita paruh baya pada umumnya.
Berdiri dengan tinggi 175 cm, Salma memiliki postur tubuh yang sangat ideal dan seksi—sebuah hasil nyata dari hobinya yang gemar melakukan senam dan yoga secara teratur.
Kulitnya yang putih bersih tampak kontras dengan kulit sawo matang milik Galang. Wajahnya yang cantik alami hanya dipoles riasan tipis, memancarkan keanggunan seorang wanita dewasa yang matang sempurna.
Pagi itu, Salma mengenakan celana legging hitam ketat dan kaus olahraga tanpa lengan yang memperlihatkan lekuk tubuh bagian belakangnya yang kencang saat ia membungkuk.
Profesi barunya sebagai guru di SMA Negeri 8 Bandung pasti akan membuat sekolah itu gempar dalam waktu singkat jika melihat betapa memukau penampilannya saat ini.
Semenjak suaminya meninggal dunia karena sakit lima tahun lalu saat Galang masih berusia 15 tahun, Salma mencurahkan seluruh hidupnya untuk membesarkan Galang seorang diri.
Ikatan di antara ibu dan anak ini sangatlah kuat.
"Ada yang bisa Galang bantu lagi, Bun?" tanya Galang mendekat, matanya sekilas mengagumi keanggunan sang bunda yang tetap awet muda.
Salma berbalik dan tersenyum manis, mengusap sedikit keringat di keningnya. "Tolong geser meja kayu itu ke pojok dekat sofa ya, Lang. Bunda agak lemas kalau harus menggeser sendirian. Oh ya, besok kan hari Senin, kamu sudah siap buat mulai kuliah di kampus barumu?"
Galang tersenyum tipis sambil mendekati meja yang dimaksud. Dengan satu sentuhan mudah dari lengannya yang berotot, meja itu berpindah tempat tanpa mengeluarkan suara berisik.
"Semua berkas perpindahan dari kampus Jakarta sudah beres kok, Bun. Besok tinggal masuk kelas saja."
"Baguslah kalau begitu," ucap Salma lembut, menatap putranya dengan pandangan bangga.
"Setelah ini, temani Bunda ke minimarket depan perumahan ya? Stok bahan makanan di kulkas masih kosong karena kita baru beres-beres kemarin."
Tugas pertama mereka di lingkungan baru ini baru saja dimulai di hari Minggu yang tenang, tanpa Galang sadari bahwa kepindahan ke Bandung ini perlahan-lahan akan membawanya masuk ke dalam lingkaran para wanita dewasa yang memikat, serta rahasia masa lalu yang masih tersimpan rapat.
"Boleh, Bun, Galang temani. Lagipula udaranya masih segar, bagaimana kalau kita jalan kaki saja ke depan?" ajak Galang sambil tersenyum, melirik kunci mobil yang tergeletak di atas meja.
Salma tampak menimbang sejenak, lalu mengangguk setuju. "Ide bagus. Sekalian biar Bunda lebih kenal dengan suasana Perumahan Pinang Regensi ini."
Ibu dan anak itu kemudian melangkah keluar dari rumah bertingkat dua mereka. Berjalan beriringan, keduanya menjadi pusat perhatian yang mencolok.
Galang dengan tinggi 185 cm, tubuh atletis berkulit sawo matang, bersanding dengan Salma yang bertubuh tinggi semampai, berkulit putih bersih, dan tampak sangat seksi dalam balutan pakaian olahraganya.
Dari kejauhan, orang yang tidak tahu mungkin akan mengira mereka adalah pasangan kekasih, bukan ibu dan anak.
Baru saja mereka melewati pagar pembatas rumah dan berjalan beberapa puluh meter menyusuri trotoar kompleks yang sejuk, pandangan Galang langsung tertuju pada sebuah rumah mewah yang berada tepat di sebelah rumah mereka. Di halaman depan rumah tersebut, tampak seorang wanita dewasa sedang menyiram tanaman hiasnya.
Wanita itu adalah salah satu tetangga baru mereka. Usianya mungkin berkisar antara 32 hingga 35 tahun—sebuah usia matang yang memancarkan pesona penuh gairah.
Pagi itu, ia mengenakan pakaian yang sangat berani untuk ukuran berada di halaman rumah: sebuah daster satin tipis berwarna merah marun di atas lutut dengan potongan dada yang cukup rendah.
Setiap kali wanita itu menggerakkan tangannya untuk menyiram bunga, lekuk tubuh bagian atas dan pinggulnya yang padat bergoyang dengan begitu sensual. Rambutnya yang panjang sengaja dicepol ke atas, mengekspos leher putih mulusnya yang jenjang.
Mendengar langkah kaki yang mendekat, wanita dewasa itu menghentikan aktivitasnya. Ia membalikkan badan, lalu tatapannya langsung terkunci pada sosok Galang.
Alih-alih merasa risi karena diperhatikan, wanita itu justru melempar senyuman yang sangat manis, lengkap dengan tatapan mata yang sedikit nakal dan menggoda ke arah pemuda atletis di depannya.
Jantung Galang berdesir hebat. Selera tersembunyinya bergejolak seketika melihat pemandangan matang di hadapannya. Sambil terus berjalan di samping bundanya, Galang membalas tatapan itu dengan sorot mata yang tajam namun penuh arti.
Dalam hatinya, Galang berbisik, "Luar biasa... Wanita matang di kota ini benar-benar memiliki pesona yang berbeda. Tatapan matanya barusan... dia jelas-jelas sedang menggodaku. Bentuk tubuhnya yang padat di balik gaun tipis itu benar-benar sangat menantang."
"Selamat pagi," sapa Salma dengan ramah dan sopan saat mereka berdua berpapasan di depan pagar rumah wanita tersebut.
"Oh, pagi juga, Jeng," balas wanita itu dengan suara yang terdengar manja dan serak-serak basah yang menggoda. Matanya sempat melirik ke arah dada bidang Galang yang tercetak jelas di balik kaus ketatnya, sebelum kembali menatap Salma. "Pindahan baru yang di sebelah ya? Kenalkan, saya Widya."
"Iya, Jeng Widya. Saya Salma, dan ini anak saya, Galang," sahut Salma membalas perkenalan itu dengan senyuman hangat tanpa menaruh curiga sedikit pun.
"Siang-siang begini mau ke mana, Jeng?" tanya Widya lagi, namun pandangannya sesekali tetap mencuri kesempatan untuk menikmati ketampanan wajah Galang.
"Ini, mau ke minimarket depan sebentar, mau beli stok bahan makanan yang kurang," jawab Salma.
"Oh, silakan, Jeng. Kapan-kapan mampir ya ke rumah, saya sering kesepian kalau suami sedang dinas luar kota," ucap Widya, sengaja menekankan kata 'kesepian' sambil memberikan kedipan mata tipis yang hanya bisa ditangkap oleh Galang.
Setelah berpamitan singkat, Galang dan Salma kembali melanjutkan langkah mereka menuju gerbang perumahan. Di sepanjang sisa perjalanan, sudut bibir Galang terangkat, membentuk sebuah senyuman misterius yang tertahan.
Kepindahan ke Bandung ini ternyata membawa kejutan yang jauh lebih menarik dari yang ia bayangkan. Galang tahu persis, petualangannya bersama para wanita dewasa baru saja dimulai.