

"Saldo Anda tidak mencukupi untuk melakukan transaksi ini."
Kalimat di layar mesin ATM itu terasa seperti pukulan telak di ulu hati.
Rangga Hadinata menatap nanar angka yang tertera di sudut kanan bawah layar setelah ia menekan tombol cek saldo. Seratus lima puluh ribu rupiah. Hanya itu sisa uang yang ia miliki di tanggal dua puluh tiga ini. Gajinya sebagai staf administrasi logistik masih seminggu lagi turun, dan itu pun biasanya langsung habis untuk bayar kos dan utang bulan lalu.
Antrean di belakangnya mulai berdecak tidak sabar.
"Mas, kalau mau melamun jangan di depan mesin dong," celetuk seorang bapak paruh baya dengan nada ketus.
Rangga tersentak. Buru-buru ia menekan tombol cancel, menarik kartu debitnya yang sudah pudar warnanya, dan melangkah keluar dari kotak kaca berpendingin udara itu. Begitu pintu terbuka, udara panas Surabaya langsung menyergap, bercampur dengan deru knalpot yang memekakkan telinga.
Ponsel di saku celananya bergetar lagi. Ini sudah panggilan kelima dalam sepuluh menit terakhir.
Nama 'Ibu' berkedip di layar retak itu.
Rangga menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, seolah ada gumpalan pasir di sana. Ia tahu kenapa ibunya menelepon seintens ini. Firasatnya mengatakan ini bukan kabar baik. Dengan tangan gemetar, ia menggeser tombol hijau.
"Halo, Bu?"
"Rangga..." Suara isak tangis langsung menyambutnya. Bukan tangisan pelan, tapi raungan tertahan yang menyayat hati. "Bapak, Rangga... Bapak muntah darah lagi."
Dunia seakan berhenti berputar. Suara klakson dan hiruk pikuk jalanan mendadak senyap, tergantikan oleh denging panjang di telinganya.
"Bapak kenapa, Bu? Kemarin katanya sudah agak mendingan?" tanya Rangga, suaranya bergetar. Ia meremas pinggiran kemeja kerjanya yang lusuh.
"Tadi pagi drop lagi. Dokter di puskesmas angkat tangan. Mereka bilang Bapak harus dibawa ke rumah sakit besar di kabupaten sekarang juga. Paru-parunya sudah infeksi parah, Nak. Harus segera operasi pemasangan selang."
"Ya sudah, bawa saja Bu! Jangan ditunda!" seru Rangga panik.
"Uangnya dari mana, Nak?" Suara ibunya terdengar putus asa. "Ambulans, uang muka rumah sakit, obat... tetangga nggak ada yang mau minjemin lagi karena utang kita yang bulan lalu belum lunas. Pihak rumah sakit minta deposit sepuluh juta kalau mau masuk ruang tindakan segera."
Sepuluh juta.
Angka itu berputar di kepala Rangga, menghantam kesadarannya berkali-kali.
Sepuluh juta rupiah.
Bagi orang-orang di gedung pencakar langit tempatnya bekerja, mungkin itu hanya uang jajan atau harga satu tas bermerek. Tapi bagi Rangga, itu adalah angka mustahil. Tabungannya nol. Barangnya tak ada yang berharga untuk dijual.
"Rangga usahakan, Bu," ucapnya lirih, lebih untuk menenangkan dirinya sendiri. "Ibu bawa Bapak dulu pakai angkot atau apa saja. Rangga cari uangnya sekarang. Rangga janji."
"Jangan lama-lama ya, Nak ... Bapak sudah sesak napas ..."
Sambungan terputus.
Rangga berdiri mematung di pinggir trotoar. Matahari pagi yang terik terasa membakar kulitnya, tapi tubuhnya menggigil dingin. Keringat dingin mengucur di punggungnya. Ia melirik jam tangan murahannya. Pukul 07.55.
Ia sudah terlambat lima menit.
Tapi itu tidak penting sekarang. Yang ada di kepalanya hanya satu: ia butuh uang. Ia harus meminjam uang kantor. Kasbon. Itu satu-satunya harapan. Meski ia tahu prosedurnya rumit, ia harus mencoba memohon pada atasan langsungnya.
Rangga berlari menembus kerumunan pejalan kaki, mengabaikan napasnya yang mulai memburu.
Suasana kantor PT Logistik Sentosa sudah sibuk ketika Rangga mendorong pintu kaca. Hawa dingin AC tidak mampu mendinginkan kepanikan yang membakar dadanya. Ia bahkan tidak sempat duduk di kubikelnya. Ia langsung berjalan menuju ruangan berkaca di sudut ruangan.
Ruangan Manajer Operasional.
Di sana, Jeni sedang duduk sambil memeriksa berkas. Wanita itu terlihat glowing dengan blazer mahalnya, kontras sekali dengan Rangga yang kucel dan berkeringat. Jeni mendongak saat melihat Rangga berdiri di ambang pintu, alisnya yang terukir rapi langsung menukik tajam.
"Hebat ya kamu," suara Jeni terdengar dingin, setajam silet. Ia tidak menyuruh Rangga masuk, tapi langsung menyerang. "Datang jam delapan lewat sepuluh. Bau keringat. Baju kusut. Kamu ini niat kerja atau mau nguli?"
"Maaf, Mbak Jeni. Ada urusan mendesak tadi," jawab Rangga dengan napas masih tersengal. Ia memberanikan diri melangkah masuk dan menutup pintu agar pembicaraan mereka tidak didengar karyawan lain. "Saya... saya mau bicara sebentar. Penting."
Jeni melepaskan kacamata bacanya dan melemparnya ke atas meja. Bunyi kelontang kecil membuat nyali Rangga menciut, tapi bayangan ayahnya yang muntah darah memaksanya tetap berdiri tegak.
"Bicara apa? Kalau soal laporan pengiriman yang telat kemarin, saya nggak mau dengar alasan."
"Bukan, Mbak. Ini soal pribadi." Rangga menunduk, menekan egonya sampai ke titik terendah. "Ayah saya kritis di kampung. Butuh operasi hari ini juga. Saya... saya mau mengajukan kasbon gaji, Mbak. Atau pinjaman kantor. Saya mohon. Saya akan lembur setiap hari untuk gantinya. Potong gaji saya bulan depan sampai habis juga nggak apa-apa."
Hening sejenak.
Rangga berharap melihat secercah simpati di wajah cantik itu. Namun, yang ia dapatkan justru dengusan tawa meremehkan.
"Kasbon?" ulang Jeni, seolah kata itu adalah lelucon paling lucu yang pernah ia dengar. "Rangga, kamu sadar diri nggak sih? Kinerjamu bulan ini paling buruk di antara tim admin. Laporan sering salah, datang sering mepet jam masuk, sekarang berani minta pinjaman?"
"Tapi ini nyawa ayah saya, Mbak ..."
"Semua orang juga punya masalah keluarga, Rangga! Bukan cuma kamu!" bentak Jeni tiba-tiba, membuat Rangga tersentak mundur. "Kantor ini bukan yayasan sosial. Kalau kamu butuh uang, kerja yang benar biar dapat bonus! Bukan mengemis begini. Lagipula, kebijakan perusahaan sudah jelas. Karyawan dengan performa C minus seperti kamu tidak memenuhi syarat untuk pinjaman lunak."
"Tolonglah, Mbak ... Saya nggak punya pilihan lain ..." Suara Rangga parau, matanya mulai memanas.
Jeni kembali memasang kacamatanya, tanda pembicaraan sudah selesai. "Keluar. Kerjakan laporanmu. Kalau sampai jam makan siang belum ada di meja saya, kamu saya kasih SP dua."
Rangga terdiam. Tangannya mengepal kuat di samping tubuh sampai kuku-kukunya memutih. Rasa malu, marah, dan putus asa bercampur menjadi satu adukan racun yang menyakitkan di dadanya.
Ia diusir seperti pengemis.
Tanpa pamit, Rangga berbalik dan keluar dari ruangan itu. Tatapan beberapa rekan kerja yang curi-curi pandang terasa menusuk kulitnya. Mereka pasti mendengar bentakan Jeni tadi.
Rangga berjalan menuju pantri. Ia butuh air. Ia butuh menenangkan jantungnya yang berdetak tidak karuan.
Kepalanya mulai terasa sakit. Bukan sakit biasa, tapi denyutan hebat seolah ada palu yang menghantam tengkoraknya dari dalam.
Ia mengambil gelas, menuangkan air dari dispenser. Tangannya gemetar hebat sampai air tumpah membasahi meja pantri.
"Sepuluh juta ... sepuluh juta ..." gumamnya seperti mantra gila.
Pandangannya mulai kabur. Lantai keramik putih di bawah kakinya terasa bergoyang. Apakah gempa? Tidak, botol sabun cuci piring di rak diam saja. Ini kepalanya. Tubuhnya yang sudah tidak kuat menanggung beban stres dan kurang tidur selama berhari-hari akhirnya menyerah.
Dadanya sesak. Oksigen seolah menghilang dari ruangan sempit itu.
Rangga mencoba berpegangan pada pinggiran meja, tapi tangannya licin oleh keringat dan tumpahan air.
"Bapak ..." bisiknya lirih.
Pegangan tangannya terlepas.
Tubuhnya limbung ke belakang. Ia tidak sempat menahan diri. Segalanya terjadi dalam gerakan lambat. Ia melihat langit-langit pantri yang kotor, lampu neon yang berkedip, lalu...
BRAK!
Bagian belakang kepalanya menghantam lantai keramik dengan keras. Bunyi benturan tulang bertemu benda keras menggema mengerikan.
Sakit yang luar biasa meledak di kepalanya sejenak, lalu diikuti rasa hangat yang mengalir di tengkuknya. Darah.
Pandangan Rangga langsung menggelap. Suara-suara di kejauhan, teriakan kaget seseorang yang masuk ke pantri, semuanya terdengar seperti berada di dalam air.
Tubuhnya tidak bisa digerakkan. Rasa dingin mulai merambat dari ujung kaki naik ke atas.
Apakah ini akhirnya?
Mati konyol di pantri kantor, dengan status miskin, dihinakan atasan, dan gagal menyelamatkan ayahnya?
Rasa penyesalan yang amat sangat menusuk sisa kesadarannya. Ia marah. Ia benci hidupnya yang tidak adil. Ia benci ketidakberdayaannya.
Andai aku punya kesempatan lagi...
Andai aku bisa mengubah segalanya...
Kegelapan total menelannya. Jantungnya melemah. Napasnya berhenti.
Namun, tepat di detik ketika nyawanya seakan putus, sebuah suara asing berbunyi nyaring di dalam benaknya. Suara yang terdengar mekanis, dingin, namun jernih. Bukan suara manusia.
[TING!]
[Sistem Terdeteksi]
[Kondisi Host Kritis. Memulai Inisialisasi Darurat...]
[Sinkronisasi Jiwa: 10%... 50%... 100%]
Sebuah layar hologram berwarna biru transparan tiba-tiba muncul melayang di tengah kegelapan yang menyelimuti mata batinnya. Tulisan di sana bersinar terang, menantang kematian yang sudah di depan mata.
[Selamat Datang Di Sistem Gairah Pemikat Wanita, Player Rangga Hadinata.]
[Apakah Anda Menerima Sistem Ini Dan Merubah Nasib?]
[YA / TIDAK]