

Di bawah kubah langit yang membentang tanpa batas, energi spiritual mengalir dengan sangat tipis bagaikan embun pagi yang memudar dihembus angin. Dunia ini dikenal sebagai Alam Fana, sebuah dunia tingkat bawah yang menjadi tempat bernaung bagi umat manusia biasa serta para kultivator awal yang baru mulai merajut mimpi untuk menggapai keabadian. Di hamparan benua yang teramat luas ini, berdirilah sebuah kekuasaan besar bernama Kerajaan Nusakencana, yang tercatat sebagai kerajaan manusia terbesar dengan pusat peradaban dan pemerintahannya yang berdetak kencang di Kota Banyu Terang.
Namun, kemegahan dan gemerlap ibu kota itu sama sekali tidak terasa hingga ke pelosok wilayah. Di pinggiran wilayah kerajaan tersebut, tersembunyi sebuah permukiman yang sunyi bernama Desa Cipta Sari.
Di halaman belakang sebuah gubuk reyot yang tampak hampir rubuh, terlihat seorang pemuda yang tak henti-hentinya bergerak. Pemuda itu bernama Raka. Penampilannya sangat biasa layaknya anak desa pada umumnya, anak dari seorang ayah yang telah lama hilang tak berbekas.
Keringat sebesar biji jagung membanjiri tubuh kurusnya, namun tangannya yang sudah dipenuhi kapalan terus mengayunkan beban berat tanpa henti. Ia menggenggam erat sebuah pedang berkarat yang tampak seperti rongsokan, satu-satunya warisan peninggalan sang ayah yang ia miliki. Pemuda itu sama sekali tidak mengetahui rahasia besar yang bersemayam di balik logam usang tersebut, bahwa pedang berkarat yang selalu ia pegang dari kecil itu sesungguhnya adalah wadah sakral yang menyimpan sebagian jiwa ayahnya.
Swush! Swush!
Napas Raka terengah-engah setiap kali ia membelah udara panas. Di usianya yang ke-14 tahun ini, Raka baru saja berhasil menembus Penempaan Tubuh Tahap 2. Dalam sistem kultivasi yang dianut oleh seluruh ahli bela diri di alam ini, tahapan Penempaan Tubuh adalah fondasi yang paling mutlak, di mana seorang kultivator harus memfokuskan energi spiritual untuk memperkuat daging, tulang, serta organ dalam mereka agar tubuh fana tersebut menjadi kebal dan tahan terhadap pukulan.
Sayangnya, pencapaian Raka dianggap bagai sebuah lelucon yang teramat menyedihkan oleh lingkungan sekitarnya. Bagaimana tidak? Sementara ia masih berjuang mati-matian dan memeras keringat di Tahap 2, anak-anak seusianya di Desa Cipta Sari rata-rata sudah menembus tahap 5 atau bahkan tahap 6. Karena laju perkembangan kultivasinya yang teramat lambat itulah, semua orang di desa sering mengejek dan merendahkannya secara terang-terangan.
Meski dihina dan dicaci maki setiap hari, Raka tidak pernah membiarkan amarah menguasai hatinya yang teguh. Raka memiliki sifat bawaan yang rendah hati, kadang terlihat sedikit polos di mata orang dewasa, dan tak jarang bersikap konyol di saat-saat tertentu. Alih-alih membenci mereka yang mencacinya, ia terus mengayunkan pedang berkaratnya berulang kali. Di dalam dirinya, tersembunyi sebuah bakat aneh yang belum ia sadari sepenuhnya: meskipun bakat kultivasinya tampak sangat biasa saja di awal, Raka dianugerahi sebuah ketahanan jiwa yang tak tertandingi oleh siapa pun, serta kelainan fisik berupa tubuh yang perlahan-lahan bisa menyerap segala jenis energi dari alam raya.
"Lihat itu! Si kura-kura lambat sedang bermimpi bisa terbang menembus awan!"
Sebuah suara sumbang tiba-tiba memecah konsentrasi Raka, diiringi derai tawa yang merendahkan. Tiga pemuda desa melompat dari atas pagar batu, dipimpin oleh Bima, seorang remaja berbadan kekar yang sudah mencapai Penempaan Tubuh Tahap 5. Tanpa peringatan apa pun, Bima melesat maju menggunakan teknik pergerakan dasar kakinya dan melayangkan sebuah tendangan lurus yang membelah udara dengan suara dengungan kasar.
Raka yang terkejut mencoba menahan serangan mendadak itu dengan menyilangkan bilah pedang berkaratnya ke depan dada sebagai tameng.
Brak!
Perbedaan kekuatan sebanyak tiga tahap kultivasi dalam ranah Penempaan Tubuh adalah sebuah jurang kekuatan fisik yang terlampau jauh untuk dijembatani oleh tekad semata. Lengan Raka terasa bergetar hebat seolah baru saja dihantam oleh sebongkah batu raksasa yang menggelinding dari atas bukit. Tubuh kurusnya terpental jauh hingga beberapa meter ke belakang, berguling-guling menyedihkan di atas tanah berdebu sebelum akhirnya menabrak tumpukan kayu bakar.
Rasa sakit yang teramat tajam merobek kulit dan jaringan ototnya, memaksa setitik darah segar mengalir perlahan dari sudut bibirnya. Namun, kejadian memalukan dan menyakitkan ini sama sekali bukanlah sesuatu yang baru bagi pemuda tersebut. Dalam menempuh jalan kultivasinya, Raka memang ditakdirkan untuk tumbuh dengan sangat perlahan; ia sudah terbiasa sering kalah, berkali-kali terluka parah, dan selalu gagal terlebih dahulu baru kemudian bisa bangkit kembali. Bagi Raka, tidak ada yang namanya keajaiban atau kemenangan instan di dunia yang kejam ini.
Hebatnya, ketahanan jiwanya yang luar biasa teguh membuatnya mampu menoleransi rasa sakit fisik itu seolah hanya sebuah gigitan semut. Ia menancapkan ujung pedang berkaratnya ke tanah yang keras, menggunakan gagang senjatanya sebagai tumpuan utama, lalu kembali berdiri tegak dengan kedua kaki yang masih sedikit gemetar. Ia pantang menyerah. Ia menatap lawannya lurus-lurus, matanya yang tajam seolah sedang mengingat, menganalisis, dan merekam setiap detail dari pola pergerakan tendangan mematikan tadi agar kelak ia bisa mempelajarinya.
Melihat Raka justru bangkit kembali dengan tatapan menantang, para pemuda desa itu mendecakkan lidah kesal. Bima mengepalkan tinjunya erat-erat, bersiap melancarkan serangan gabungan untuk menghajar pemuda malang itu hingga tulangnya patah.
Namun, sebelum Bima sempat memajukan langkah kakinya, suhu udara di pelataran halaman belakang itu tiba-tiba anjlok secara drastis dalam sekejap mata. Hawa panas matahari siang seolah diusir paksa, membuat napas para pemuda itu berubah menjadi kepulan uap putih tipis layaknya di tengah musim dingin.
Dari ambang pintu gerbang kayu yang reyot, seorang gadis remaja melangkah masuk dengan pergerakan yang teramat anggun dan ringan. Udara di sekitarnya seolah membeku, namun di saat yang sama memancarkan kilau cahaya keperakan yang menyilaukan mata. Gadis itu adalah Wulan Sari.
Ia sama sekali bukan sekadar kembang desa biasa; Wulan sesungguhnya adalah seorang keturunan dari klan besar yang tersembunyi dari peradaban umum, seorang jenius alami yang diberkati oleh langit dengan elemen langka berupa elemen es dan cahaya. Wajahnya memiliki kecantikan yang memukau, namun sikap dan ekspresinya selalu terlihat sangat dingin di luar layaknya bongkahan es abadi.
"Apakah menyiksa orang yang jauh lebih lemah membuat kultivasi kalian tiba-tiba meningkat pesat, Bima?"
Suara Wulan terdengar sangat datar dan tenang, namun hawa dingin yang mematikan memancar dari setiap suku kata yang ia ucapkan, membuat ketiga pemuda desa itu seketika menggigil hebat karena ketakutan. Mengetahui seberapa mengerikan latar belakang dan bakat kultivasi Wulan, para perundung itu buru-buru menundukkan kepala mereka dalam-dalam, meminta maaf dengan suara terbata-bata, lalu lari terbirit-birit meninggalkan halaman Raka secepat kaki mereka bisa melangkah.
Setelah keadaan berdebu itu kembali sepi, Wulan mengalihkan pandangan mata indahnya pada Raka yang masih berdiri bersandar payah pada pedang berkaratnya. Meskipun semua orang di desa selalu mengejek dan merendahkan Raka, hanya Wulan Sari yang terkadang sudi meluangkan waktunya untuk membantu pemuda itu, meskipun sang gadis selalu tetap mempertahankan sikap dingin dan acuhnya.
Wulan berjalan perlahan mendekat. Dari balik lengan bajunya, ia melemparkan sebuah botol porselen kecil yang langsung ditangkap oleh Raka dengan gerakan sedikit kikuk.
"Obat penyembuh luka luar," ucap Wulan dengan nada singkat, sama sekali tanpa menunjukkan emosi berlebih atau kekhawatiran di wajah bekunya.
Namun, Raka tahu betul bahwa di balik dinding es pelindungnya yang tebal itu, Wulan sebenarnya memiliki sifat yang teramat lembut di dalam serta pemikiran yang sangat cerdas.
"Terima kasih, Wulan!" jawab Raka seraya memamerkan senyuman polosnya yang khas, seolah rasa sakit akibat tendangan yang meremukkan dadanya tadi telah menguap begitu saja. "Aku tidak sedang membiarkan diriku dipukuli secara cuma-cuma. Aku hanya sedang mencoba memahami dengan cermat bagaimana kekuatan dari Penempaan Tubuh Tahap 5 dialirkan melalui otot-otot kaki."
Wulan terdiam sejenak mendengar alasan kepolosan yang konyol itu. Ia hanya menatap Raka dengan ekor matanya, menghela napas pelan yang tak terdengar, sebelum berbalik pergi tanpa mengucapkan sepatah kata perpisahan pun.
Setelah siluet Wulan menghilang dari pandangan matanya, Raka duduk bersila dan mulai mengoleskan obat dingin dari botol porselen itu ke dadanya yang memar. Rasa sejuk yang menyegarkan seketika meresap ke dalam pori-porinya, menenangkan otot-ototnya yang menjerit.
Ia kemudian mendongakkan kepalanya, menatap hamparan awan putih yang berarak damai di langit biru Kerajaan Nusakencana. Ia tahu perjalanannya di dunia ini akan sangat panjang dan berdarah. Suatu hari nanti, ia bertekad bulat harus bisa melewati seleksi ujian masuk Akademi Merapi, sekolah kultivasi yang paling bergengsi di seluruh kerajaan, yang bangunannya terletak jauh di kaki Pegunungan Serayu Sakti.
Raka mencengkeram gagang pedang berkaratnya semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih. Perjuangannya baru saja dimulai pada detik ini. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia siap menghadapi masa awal perjuangan ini, siap belajar dari setiap kekalahan pahit, bersiap untuk mulai menemukan jalannya sendiri, dan lambat laun, menguak benang merah misteri asal-usulnya di alam semesta yang luas ini.