

Hujan turun tanpa henti membasahi jalanan ibu kota. Kilatan petir sesekali menyambar langit, menerangi gedung-gedung pencakar langit yang berdiri megah di tengah malam.
Di salah satu gudang tua di pinggir kota, seorang pria tergeletak di lantai dengan tubuh penuh luka.
Namanya Arga Mahendra.
Jas mahal yang biasa ia kenakan kini robek dan dipenuhi bercak darah. Napasnya tersengal, sementara kedua tangannya terikat di belakang kursi besi.
Di hadapannya berdiri tiga orang yang paling ia percaya sepanjang hidupnya.
Maya.
Istri yang ia cintai selama tujuh tahun.
Dion.
Adik tirinya yang selalu ia lindungi sejak kecil.
Dan Raka.
Sahabat yang ia anggap seperti saudara sendiri.
Arga menatap mereka satu per satu. Matanya dipenuhi rasa kecewa yang jauh lebih menyakitkan daripada luka di tubuhnya.
"Kenapa?" suaranya lirih.
Maya tersenyum tipis, tetapi senyum itu terasa begitu asing.
"Karena kau terlalu mudah percaya, Arga."
Dion melangkah maju sambil memainkan sebuah map berisi dokumen.
"Kakak benar-benar mengira perusahaan itu masih milikmu?"
Arga mengernyit.
"Apa maksudmu?"
Raka tertawa pelan.
"Seluruh sahammu sudah berpindah tangan sejak enam bulan lalu."
Jantung Arga serasa berhenti berdetak.
"Itu tidak mungkin."
"Tidak mungkin?" Maya mengangkat beberapa lembar dokumen. "Kau menandatangani semuanya sendiri."
Arga mengingat berbagai berkas yang pernah ia tandatangani tanpa membaca dengan teliti karena percaya penuh kepada istrinya.
Tangannya gemetar.
"Kalian menipuku..."
"Bukan menipu," jawab Dion dingin. "Kami hanya memanfaatkan kelemahanmu."
Arga memejamkan mata.
Selama bertahun-tahun ia bekerja tanpa mengenal lelah demi membangun Mahendra Capital menjadi perusahaan investasi yang disegani. Ia percaya keluarga adalah alasan utama perjuangannya.
Namun malam itu ia sadar bahwa orang-orang terdekatnya hanya melihat dirinya sebagai batu loncatan.
Maya melangkah semakin dekat.
"Aku tidak pernah mencintaimu."
Kalimat itu menghantam Arga lebih keras daripada pukulan apa pun.
"Apa?"
"Aku menikahimu karena kekuasaan."
Raka menambahkan dengan nada santai, "Dan sekarang kekuasaan itu sudah berpindah."
Dion membuka ponselnya, memperlihatkan siaran langsung konferensi pers.
Di layar terlihat logo Mahendra Capital.
Seorang pembawa acara berkata, "Mulai hari ini, kepemimpinan perusahaan resmi beralih kepada Dion Mahendra sebagai direktur utama."
Arga menatap layar dengan mata memerah.
"Itu perusahaan ayah..."
"Bukan lagi."
Dion tersenyum puas.
"Mulai malam ini semuanya milikku."
Arga mencoba bangkit meski tubuhnya nyaris tak bertenaga.
"Kalian akan menyesal."
Ucapan itu justru membuat mereka tertawa.
Maya memandangnya dengan tatapan dingin.
"Orang yang kalah selalu mengatakan hal yang sama."
Raka mengambil sebuah pistol dari atas meja.
Arga menatap sahabatnya dengan penuh ketidakpercayaan.
"Kau juga?"
"Aku memilih masa depan."
Suara pelatuk terdengar pelan.
Arga menarik napas panjang.
Bukan karena takut mati.
Melainkan karena ia baru menyadari betapa bodohnya dirinya selama ini.
Ia telah mengorbankan waktu, impian, bahkan keluarganya demi orang-orang yang sama sekali tidak menghargainya.
Dentuman keras memecah keheningan.
Pandangan Arga mulai kabur.
Tubuhnya jatuh menghantam lantai.
Suara hujan terdengar semakin jauh.
Di detik-detik terakhir hidupnya, hanya ada satu penyesalan yang memenuhi pikirannya.
Seandainya...
Seandainya aku diberi kesempatan sekali lagi.
Aku tidak akan mempercayai siapa pun.
Aku akan membangun segalanya dengan tanganku sendiri.
Dan aku akan membuat mereka menyesali setiap pengkhianatan yang mereka lakukan.
Kesadarannya perlahan menghilang.
Gelap.
Sunyi.
Namun tiba-tiba terdengar suara alarm yang sangat dikenalnya.
Bip... Bip... Bip...
Arga membuka mata dengan napas terengah.
Ia mendapati dirinya terbaring di sebuah kamar apartemen sederhana.
Tubuhnya tidak lagi dipenuhi luka.
Tangannya bebas.
Ia menoleh ke arah kalender yang tergantung di dinding.
15 Agustus 2016.
Matanya membelalak.
"Tidak mungkin..."
Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel di samping tempat tidur.
Tanggal yang terpampang di layar sama persis.
15 Agustus 2016.
Sepuluh tahun sebelum kematiannya.
Arga berdiri perlahan, menatap pantulan dirinya di cermin.
Wajahnya tampak lebih muda.
Belum ada bekas kelelahan.
Belum ada sorot mata penuh penyesalan.
Ia mengepalkan kedua tangannya sekuat mungkin.
Rasa sakitnya terasa nyata.
Ini bukan mimpi.
Senyum tipis mulai terukir di sudut bibirnya.
"Kali ini..."
"Aku yang akan menentukan akhir cerita."
Sinar matahari pagi menembus celah gorden apartemen sederhana itu. Arga masih berdiri di depan cermin, berusaha menerima kenyataan yang baru saja terjadi.
Ia benar-benar kembali ke masa lalu.
Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena takut, melainkan karena menyadari bahwa hidup memberinya kesempatan yang tidak pernah ia bayangkan.
Ia mengambil ponselnya dan mulai memeriksa tanggal, pesan, serta jadwal kerjanya.
Semuanya sama seperti yang ia ingat.
Hari ini adalah hari ketika ia akan menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan milik keluarga Maya. Dalam kehidupan sebelumnya, kontrak itulah yang menjadi awal masuknya Maya ke dalam bisnisnya. Sedikit demi sedikit, perempuan itu memperoleh akses terhadap data perusahaan, hingga akhirnya berhasil mengambil alih seluruh aset yang telah Arga bangun.
Arga mengembuskan napas panjang.
"Kali ini tidak."
Ponselnya berdering.
Nama yang muncul di layar membuat sorot matanya berubah dingin.
Maya.
Ia membiarkan panggilan itu berakhir tanpa dijawab.
Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk.
"Aku sudah menunggumu di kafe. Jangan terlambat, ya."
Arga hanya tersenyum tipis.
Dulu, pesan sederhana seperti itu mampu membuatnya merasa diperhatikan. Kini, ia tahu semua perhatian itu hanyalah bagian dari permainan.
Ia mandi, mengenakan kemeja putih sederhana, lalu meninggalkan apartemen.
Di sepanjang perjalanan, ingatan tentang sepuluh tahun ke depan terus bermunculan.
Harga saham yang akan melonjak.
Perusahaan yang akan bangkrut.
Teknologi yang akan menjadi tren.
Lokasi tanah yang kelak bernilai ratusan miliar.
Semua informasi itu adalah keuntungan yang tidak dimiliki siapa pun selain dirinya.
Sesampainya di kafe, Maya sudah duduk sambil tersenyum manis.
"Arga, akhirnya kamu datang."
Arga duduk di hadapannya dengan ekspresi tenang.
"Kamu menunggu lama?"
"Baru sebentar."
Maya menyodorkan sebuah map.
"Kontraknya sudah siap. Tinggal tanda tangan."
Arga membuka map itu sekilas.
Persis seperti yang ia ingat.
Ada beberapa pasal kecil yang tampak sepele, tetapi justru memberikan akses luas kepada pihak Maya untuk ikut mengelola investasi perusahaan.
Dulu ia menandatangani dokumen itu tanpa berpikir panjang.
Sekarang, tidak lagi.
Arga menutup map tersebut.
"Aku tidak jadi bekerja sama."
Senyum Maya membeku.
"Maksudmu?"
"Aku membatalkan kerja sama ini."
"Kenapa?"
"Aku berubah pikiran."
Maya mencoba tetap tersenyum.
"Kalau ada yang kurang, kita bisa membicarakannya."
"Tidak perlu."
Arga berdiri.
"Mulai hari ini aku akan membangun usahaku sendiri."
Untuk sesaat, Maya kehilangan kata-kata.
Ia tidak mengerti mengapa pria yang biasanya begitu mudah diyakinkan tiba-tiba berubah drastis.
"Arga, jangan bercanda."
"Aku serius."
Arga meninggalkan kafe tanpa menoleh lagi.
Di luar, udara terasa jauh lebih segar.
Satu keputusan telah mengubah jalan hidupnya.
Namun ia tahu, itu baru langkah pertama.
Tak jauh dari sana, sebuah mobil hitam berhenti di pinggir jalan.
Seorang wanita muda turun dengan tergesa-gesa sambil membawa setumpuk berkas. Karena berjalan terlalu cepat, beberapa dokumen terlepas dan berhamburan diterpa angin.
Arga refleks membantu memungutnya.
"Terima kasih," ucap wanita itu.
Saat wajah mereka saling berhadapan, Arga terdiam.
Ia mengenali wanita itu.
Celine Wijaya.
Sepuluh tahun di masa depan, Celine dikenal sebagai salah satu CEO paling berpengaruh di Asia. Dalam kehidupan sebelumnya, mereka hanya pernah bertemu sekali dalam sebuah konferensi bisnis.
Saat itu, Arga sudah kehilangan segalanya.
Kini, takdir mempertemukan mereka jauh lebih awal.
Celine menerima kembali berkas-berkasnya dan tersenyum sopan.
"Namaku Celine."
Arga mengangguk pelan.
"Arga."
Mereka berjabat tangan sejenak sebelum Celine berpamitan.
Arga memandangi mobil yang membawa wanita itu pergi.
Ia tersenyum tipis.
"Mungkin... takdir juga memberiku kesempatan untuk bertemu orang yang tepat."
Tanpa membuang waktu, Arga menuju sebuah gedung tua di pusat kota.
Di lantai tiga gedung itu terdapat kantor kecil yang akan segera dijual karena pemiliknya terlilit utang.
Dalam kehidupan sebelumnya, tempat itu dibeli oleh seorang investor asing dengan harga sangat murah. Lima tahun kemudian, kawasan tersebut berkembang menjadi pusat bisnis baru dan nilainya meningkat puluhan kali lipat.
Arga mengangkat pandangannya ke arah bangunan itu.
"Kesempatan pertama..."
"...dimulai dari sini."