
Sistem Crazy Rich: Menguasai Harem dan Surabaya Barat
Shenn|Bersambung
- Jumlah kata
- 213.0K
- Popular
- 3.5K
- Subscribe
- 202
- Jumlah kata
- 213.0K
- Popular
- 3.5K
- Subscribe
- 202
Sinopsis
Dua tahun lalu, Kenneth Winata adalah definisi nyata dari pangeran CitraLand yang tampan, pewaris tunggal Winata Group, dan dipuja semua orang. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa orang tuanya. Menggunakan fitnah keji tentang "pesugihan dan tumbal", Om Benny merampas semua asetnya dan menendang Ken ke jalanan. Dari puncak kemewahan Surabaya Barat, Ken dipaksa jatuh miskin dan bertahan hidup menjadi seorang kurir makanan Deliver-X yang dihina dan diinjak-injak harga dirinya. Hingga suatu sore, di tengah perundungan yang menyayat hati, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: [ Ding! Sistem Pembalikan Takdir Dinasti Aktif. ] [ Hadiah Pemula: Saldo Investasi Tanpa Batas & Tubuh Fisik Sempurna (Alpha Male Modifikasi). ] Dengan modal tak terbatas dan pesona magnetis yang mematikan dari sistem, Ken mulai bergerak dari balik bayangan. Satu per satu, aset milik musuhnya dibeli tunai. Orang-orang yang dulu meludahinya, kini harus merangkak memohon ampun di bawah kakinya!!
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1: Jatuh dari Langit CitraLand
"Ken! Kenneth! Deliver-X mu itu lho bunyi terus dari tadi! Budek apa gimana? Ada orderan masuk, buruan diambil!"
Teriakan melengking dengan cengkok khas Suroboyoan dari Ibu Kos di lantai bawah seketika memecahkan lamunan Kenneth Winata.
Ken tersentak, hampir saja menjatuhkan ponsel pintarnya yang kondisinya sudah sangat tragis, layar retak seribu di sana-sini dan bagian belakangnya sudah agak gembung karena baterai yang mulai rusak.
Cowok berusia dua puluh tahun itu mengembuskan napas berat, mencoba mengusir rasa sesak yang tiba-tiba merayap di dadanya.
"Iya, Bu Kos! Ini udah saya konfirmasi orderannya, langsung jalan!" sahut Ken setengah berteriak dari balik pintu triplek kamarnya yang tipis.
Ken melirik kamar kosnya yang berukuran tiga kali tiga meter itu dengan senyum kecut. Kamar ini sempit, pengap, dan terletak di sudut terdalam gang perkampungan Lontar.
Di lantai, ada sisa mangkok mi instan kuah rasa soto yang baru saja dia habiskan sebagai menu makan malam darurat.
Kipas angin dinding plastik yang berputar lambat sambil mengeluarkan bunyi "ceklek... ceklek..." adalah satu-satunya penyelamat Ken dari gerahnya udara Surabaya Barat malam ini.
Sambil meraih jaket hoodie hijau tua khas kurir makanan Deliver-X yang warnanya sudah pudar di bagian bahu, Ken sempat menatap bayangan dirinya di cermin lemari yang retak. Look at him right now. Totally tragic.
Rambutnya agak berantakan, wajahnya kelihatan lelah, dan tatapan matanya yang dulu penuh percaya diri kini meredup. Siapa yang bakal percaya kalau dua tahun lalu, dia adalah salah satu pangeran paling dipuja di kawasan mansion elit CitraLand?
Dulu, jangankan naik motor matic tua yang knalpotnya suka batuk-batuk, isi garasi rumah Ken dipenuhi jajaran supercar mulai dari Porsche, Ferrari, sampai Alphard keluaran terbaru. Kartu kredit tanpa limit di dompetnya bisa di-swipe kapan saja di Pakuwon Mall tanpa perlu melihat harga. Dia adalah pewaris sah tunggal dari dinasti bisnis Winata Group.
But everything vanished in one freaking night.
Tepat setelah Alphard yang dikendarai Papi dan Mami-nya hancur total dalam kecelakaan tragis di Tol Pandaan. Kehilangan orang tua dalam semalam sudah cukup membuat mental Ken broken parah, tapi sikut-sikutan internal keluarga konglomerat ternyata jauh lebih monster dari yang dia duga.
Om Benny, adik kandung Papinya yang selama ini selalu berakting sebagai paman yang hangat, mendadak menusuknya dari belakang. Menggunakan isu keji bahwa kekayaan instan keluarga Ken adalah hasil "pesugihan hitam" dan kecelakaan maut itu adalah bentuk "tumbal", Om Benny berhasil menghasut seluruh relasi bisnis dan keluarga besar. Dengan modal selembar surat wasiat palsu dan beberapa preman sewaan, Ken ditendang keluar dari rumahnya sendiri di CitraLand. Dia diusir hanya dengan baju di badan dan sebuah motor Vario tua peninggalan maminya.
Dari puncak langit CitraLand, Ken dipaksa jatuh terhempas mencium kerasnya tanah Lontar.
"Ken! Sik suwe ta? Gak budal-budal kon iku, selak dicancel pelangganmu lho!" (Ken! Masih lama kah? Gak berangkat-berangkat kamu itu, keburu dibatalkan pelangganmu lho!) Suara Ibu Kos kembali menggelegar dari balik tangga kayu, membuyarkan Ken dari memori kelamnya.
"Iya, Bu, ini saya sudah pasang helm!" balas Ken cepat sambil menyampirkan tas ransel besar khusus makanan ke punggungnya.
Dia melangkah keluar, menuruni anak tangga kayu kosan yang berderit ringkih. Begitu sampai di parkiran bawah yang sempit dan dipenuhi motor penghuni lain, Ken langsung mendekati Vario hitamnya yang kusam. Dia menyalakan mesin yang sempat terbatuk beberapa kali sebelum akhirnya menderu konstan, lalu memasang ponselnya di holder stang yang agak longgar.
Ken melihat detail pesanan di aplikasi Deliver-X miliknya.
• Lokasi Penjemputan: Restoran Sushi Tei - Pakuwon Mall.
• Lokasi Pengantaran: Kluster Taman Gapura, CitraLand.
Ken tertawa hambar, menggelengkan kepalanya pelan. "CitraLand... Seriously, takdir ini hobi banget ya bercanda sama hidup gue."
Dia perlahan memutar gas, membelah jalanan gang Lontar yang padat dan becek, menuju jalan raya utama Surabaya Barat yang lebar dan bising. Sepanjang jalan, pikiran Ken agak melayang memikirkan kuliahnya besok pagi.
Sebagai mahasiswa jalur beasiswa yang posisinya sekarang lagi terancam drop out di BINUS University Kampus Surabaya, besok adalah batas akhir pembayaran semesterannya yang sudah menunggak dua bulan. Kampus BINUS terkenal di Surabaya sebagai tempat nongkrongnya anak-anak crazy rich, pebisnis muda, dan influencer lokal yang penampilannya selalu high-end dan gila-gilaan. Masuk ke lingkungan itu setiap hari dengan status sebagai kurir ojol miskin bener-bener menguras sisa-sisa mental dan harga diri Ken.
Tapi ya mau gimana lagi? Life must go on, batin Ken, mencoba menguatkan genggaman tangannya pada stang motor.
Sesampainya di Pakuwon Mall, Ken memarkir motornya di area khusus ojol yang terletak di bagian luar bawah. Dia berjalan dengan langkah tergesa-gesa masuk ke dalam koridor mall yang ber-AC dingin, sangat kontras dengan hawa panas dan debu jalanan yang baru saja dia lalui. Ken berjalan cepat, mengabaikan tatapan merendahkan atau pandangan sebelah mata dari beberapa pengunjung mall yang melihat jaket ojolnya yang agak kusam. Dia langsung mengarah ke lantai atas menuju gerai restoran sushi yang selalu ramai pengunjung.
Saat sampai di depan restoran, antrean pelanggan yang ingin makan di tempat tampak mengular panjang. Ken menerobos pelan menuju meja khusus pengambilan orderan online.
"Permisi Mbak, orderan atas nama 'Anto' dari aplikasi Deliver-X udah siap belum, ya?" tanya Ken dengan nada sopan kepada mbak kasir restoran.
"Ditunggu sebentar ya, Mas, masih dipacking di dapur," jawab mbak kasir tanpa melihat wajah Ken karena sibuk mengetik di komputer kasir.
Mendengar suara Ken, seorang cowok bertubuh tegap yang mengenakan kaos brand Balenciaga original yang kebetulan lagi mengantre bersama pacarnya di sebelah Ken, langsung menolehkan kepala. Cowok itu menyipitkan matanya, mengamati wajah Ken dari atas sampai bawah dengan tatapan tidak percaya, yang kemudian berubah menjadi seringai meremehkan.
"Lho? Bentar, bentar... ini Koko Kenneth Winata, kan? Bro, seriously? Sekarang lu jadi babu kurir makanan jalanan gini?" ucap cowok itu dengan nada sinis yang sengaja dikeraskan, membuat beberapa orang di sekitar antrean ikut menoleh.
Ken menolehkan kepalanya perlahan. Jantungnya sempat berdegup kencang saat mengenali wajah di sebelahnya. Namanya Steven. Dia adalah salah satu mantan teman satu sirkel nongkrong Ken dulu saat mereka masih sering balapan liar atau clubbing di daerah Surabaya Barat. Steven adalah orang pertama yang langsung memblokir nomor telepon Ken begitu mendengar berita keluarga Winata jatuh miskin.
"Iya, Ven. Gue lagi nyari duit halal," jawab Ken sedatar mungkin. Dia berusaha mengatur napasnya agar tetap tenang, malas meladeni drama yang tidak penting.
"Hahaha! Gila, guys, lihat deh!" Steven malah sengaja memanggil teman-temannya yang lain di barisan belakang. "Ini si Ken Winata yang dulu kalau traktir kita di VIP room selalu habis puluhan juta! Gaya lu sok tegar banget sekarang, Ko! Padahal dulu paling sombong kalau di tongkrongan."
Pacar Steven yang memakai tas ransel mewah bermerk populer ikut menutup mulutnya, menatap jaket ojol Ken dengan pandangan jijik. "Ih, beneran sayang? Kok bisa jatuh miskin banget gitu sih? Bau matahari lagi."
"Ya bisalah, sayang," sahut Steven dengan nada mengejek yang makin menjadi-jadi.
"Lu gak tahu rumornya? Rumah dia di CitraLand kan disita gara-gara bokapnya ketahuan pesugihan hitam dan akhirnya kena tumbal mati di tol! Makanya, jadi orang itu jangan sok kaya kalau ternyata hasil pelihara setan. Sekarang setannya udah pergi, ya jadinya melarat begini, jadi babu anter makanan gue. Ups, untung bukan gue yang pesen, bisa-bisa makanan gue ketularan sial."
Daftar bab
183 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
183 bab








