
SISTEM DOMINASI: Pewaris yang Dikhianati, Aku Mengendalikan Dunia
makanbang4|Bersambung
- Jumlah kata
- 131.7K
- Popular
- 169
- Subscribe
- 46
- Jumlah kata
- 131.7K
- Popular
- 169
- Subscribe
- 46
Sinopsis
Dirampok dari harta triliunannya dan dikhianati oleh tunangannya sendiri, Adrian Raksana terbuang ke jalanan sebagai pewaris yang kehilangan segalanya. Namun, kematian justru membangkitkan "Sistem Dominasi" yang memberinya kekuatan mutlak untuk mencuci otak dan mengendalikan pikiran manusia bagaikan boneka. Kini, ia kembali dari bayang-bayang bukan untuk menuntut keadilan, melainkan untuk membangun tirani bawah tanah dan memaksa sang mantan berlutut memohon ampun di bawah kakinya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
bab 1:KEMATIAN SANG PEWARIS DAN KEBANGKITAN PENGUASA
BAB 1: KEMATIAN SANG PEWARIS DAN KEBANGKITAN PENGUASA
Bau anyir darah bercampur dengan aroma karat dan kelembapan ruangan bawah tanah.
Adrian Raksana memuntahkan gumpalan darah kental ke lantai beton yang dingin. Napasnya putus-putus, terdengar seperti peluit rusak setiap kali udara melewati tenggorokannya. Tiga tulang rusuknya patah. Mata kirinya bengkak hingga tertutup rapat, sementara darah segar terus menetes dari pelipisnya yang robek.
Namun, rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan siksaan yang menghancurkan kewarasannya saat ini.
"Tolong... Kakak! Tolong aku!"
Jeritan melengking itu menembus dinding besi tipis di sebelah kiri Adrian. Itu suara adiknya, Clara. Jeritan ketakutan yang murni, disusul oleh suara tawa serak dari beberapa pria dewasa, dan suara pakaian yang ditarik paksa.
Setiap kali jeritan itu terdengar, jantung Adrian seolah diremas oleh tangan raksasa berduri. Dia mencoba meronta. Rantai besi tebal yang mengikat kedua pergelangan tangannya berderak keras melawan pipa saluran air berkarat di belakang punggungnya.
Besi itu menggesek kulitnya hingga terkelupas. Darah mengalir ke telapak tangannya, tetapi Adrian tidak peduli. Dia menariknya dengan seluruh sisa tenaga hidupnya.
"Lepaskan dia! Bajingan! Bunuh saja aku, tapi lepaskan adikku!" raung Adrian. Suaranya pecah, serak, dan penuh dengan keputusasaan.
Seorang pria berbadan tegap dengan tato kalajengking di lehernya melangkah mendekat. Pria itu memakai sepatu bot militer yang berat. Tanpa peringatan apa pun, ujung sepatu bot itu menghantam wajah Adrian dengan kecepatan mengerikan.
KRAK!
Hidung Adrian patah. Kepalanya terlempar ke belakang, membentur pipa besi dengan suara berdebum keras. Dunia di sekelilingnya berputar. Telinganya berdenging hebat, menutupi sementara jeritan adiknya dari balik pintu.
"Berisik sekali, Tuan Muda Raksana," ucap pria bertato itu sambil meludah ke lantai. "Keluargamu sudah habis. Istanamu sudah rata menjadi abu malam ini. Kamu pikir kamu masih pewaris perusahaan raksasa yang bisa memerintah orang sesuka hati?"
Adrian menelan darah yang menggenang di mulutnya. Pikirannya berdengung liar.
Hanya beberapa jam yang lalu, dia sedang duduk di restoran mewah. Dia baru saja memesan cincin berlian seharga miliaran rupiah. Dia berencana melamar Vanessa Ardelia besok malam. Semuanya sempurna. Hidupnya, keluarganya, masa depannya.
Lalu telepon itu datang. Rumah utamanya terbakar.
Saat dia tiba dengan panik, dia disergap oleh sekelompok profesional bersenjata api. Pengawalnya dibantai dalam hitungan detik. Dia dan adiknya diseret ke tempat neraka ini.
"Siapa..." napas Adrian tersengal, menatap pria itu dengan sisa mata kanannya yang masih terbuka. "Siapa yang membayar kalian?"
Pria bertato itu tertawa meremehkan. Dia merogoh saku jaket kulitnya dan mengeluarkan sebuah ponsel pintar kelas atas. Layarnya menyala, menampilkan sebuah pesan masuk.
"Bos kami tidak suka meninggalkan jejak, Tuan Muda. Tapi klien yang membayar kami sangat spesifik dengan permintaannya." Pria itu berjongkok, menyejajarkan wajahnya dengan Adrian, lalu memutar layar ponsel itu agar Adrian bisa membacanya.
Mata kanan Adrian fokus pada baris teks pendek di layar tersebut.
[Pastikan pewaris terakhir Raksana tidak pernah kembali. Selesaikan malam ini.]
Pikiran Adrian mencoba memproses kalimat itu. Namun, bukan isi pesannya yang membuat aliran darah di tubuhnya terasa membeku. Melainkan nama pengirim yang tertera di bagian paling atas layar.
Vanessa.
Dunia Adrian runtuh. Kehancuran yang sesungguhnya bukan berasal dari rasa sakit fisik. Bukan pula dari kehilangan harta atau takhta. Kehancuran mutlak adalah ketika pilar kepercayaannya diledakkan dari dalam.
Vanessa. Wanita yang selama empat tahun terakhir memeluknya saat dia lelah. Wanita yang tersenyum manis saat menyuapkan makanan ke mulutnya. Wanita yang semalam berbisik di telinganya bahwa dia tidak sabar untuk menghabiskan sisa hidup bersama.
Wanita itu... adalah dalang di balik pembakaran rumah orang tuanya.
Semua senyuman itu. Semua sentuhan itu. Semua cinta yang dia berikan. Semuanya adalah racun yang disuntikkan secara perlahan selama empat tahun. Vanessa tidak pernah mencintainya. Dia hanya mencintai Raksana Group.
"Tidaak... Tidak mungkin..." Adrian bergumam kosong. Air mata bercampur darah mengalir dari sudut matanya, membersihkan debu di pipinya.
Pria bertato itu berdiri, mencabut pistol berperedam dari sarung di pinggangnya. "Ini murni bisnis, Adrian. Dan bisnismu sudah bangkrut."
Jeritan Clara dari ruangan sebelah tiba-tiba terhenti, digantikan oleh suara isakan tangis yang begitu menyayat hati dan terdengar kosong. Suara seseorang yang jiwanya baru saja dipatahkan hingga tidak bisa diperbaiki lagi.
Rasa bersalah menelan Adrian bulat-bulat. Dia gagal. Sebagai anak, dia gagal melindungi orang tuanya. Sebagai kakak, dia gagal melindungi adiknya dari monster-monster ini. Sebagai pria, dia telah ditipu mentah-mentah oleh iblis berwajah malaikat.
Adrian mendongak. Tidak ada lagi ketakutan di matanya. Tidak ada lagi keputusasaan. Yang tersisa di mata kanannya hanyalah jurang kebencian yang begitu gelap dan dalam.
"Kalau aku diberi kesempatan hidup sekali lagi..." suara Adrian terdengar dingin, sangat pelan hingga pria bertato itu harus memiringkan kepalanya untuk mendengar.
"Apa katamu, bocah?"
"Aku tidak akan menjadi manusia baik," desis Adrian, menatap lurus ke dalam laras pistol hitam di depannya. "Aku akan menjadi monster yang akan menguliti kalian semua hidup-hidup. Terutama dia."
Pria itu mendengus sinis. "Sayangnya, kehidupan nyata tidak punya tombol restart."
DOR!
Peluru panas menembus dada kiri Adrian.
Rasa panas yang luar biasa meledak di jantungnya, membakar jaringan sarafnya sebelum akhirnya kegelapan mutlak menelan kesadarannya. Napasnya terhenti. Jantungnya berhenti berdetak.
Adrian Raksana, pewaris tunggal Raksana Group, mati terhina di lantai beton yang kotor.
"HAAH!"
Adrian tersentak bangun. Tubuhnya melompat ke depan bagaikan orang yang baru saja ditarik dari dasar lautan. Dia meraup udara dengan rakus, paru-parunya bekerja keras hingga dadanya naik turun dengan kasar.
Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Tangan kanannya secara refleks mencengkeram dada kirinya, tepat di mana peluru itu bersarang beberapa detik yang lalu.
Tidak ada lubang. Tidak ada darah. Kemeja putih sutranya bersih tanpa noda.
Adrian melebarkan matanya yang memerah. Dia tidak berada di ruang bawah tanah yang lembap. Dia duduk di atas sofa kulit Italia yang mewah, di dalam penthouse pribadinya yang berada di lantai 50 pusat kota.
Cahaya lampu kota menembus jendela kaca raksasa di depannya. AC ruangan berhembus lembut dengan suhu dua puluh derajat celcius, membawa aroma pewangi ruangan beraroma lavender yang mahal.
"Apa... apa yang terjadi?" napas Adrian masih memburu. Dia menatap kedua tangannya. Bersih. Tidak ada luka gesekan rantai. Hidungnya tidak patah. Tulang rusuknya utuh.
Dia segera menoleh ke arah jam digital holografik di dinding ruangannya.
[Jumat, 18:30 WIB]
Jantung Adrian seakan berhenti berdetak. Hari ini adalah hari kejadian itu. Malam di mana rumah utama dibakar. Tragedi penyergapan itu terjadi pada pukul sepuluh malam. Itu berarti, kejadian di ruang bawah tanah... belum terjadi.
Dia melompat dari sofa. Pikirannya berpacu dalam kekacauan. Apakah itu semua hanya mimpi buruk? Halusinasi?
Tidak. Sensasi sepatu bot yang menghancurkan wajahnya, rasa sakit saat peluru menembus jantungnya, dan yang paling parah... jeritan adiknya. Rasa sakitnya terlalu nyata, terlalu detail untuk sebuah mimpi.
Saat kepanikan mulai mengambil alih akal sehatnya, sebuah suara mekanis yang dingin, tanpa gender, dan tanpa emosi tiba-tiba bergema langsung di dalam tengkoraknya.
[Memindai gelombang otak Host... Selesai.]
[Trauma dan Kebencian mencapai batas ambang optimal.]
[Kualifikasi terpenuhi.]
Adrian terhuyung mundur hingga punggungnya menabrak meja kaca. Di depan matanya, ruang hampa udara mendadak terdistorsi. Sebuah layar holografik berwarna merah darah muncul dengan suara dengungan frekuensi rendah yang menggetarkan udara.
[DING!]
[SYSTEM DOMINASI MANUSIA AKTIF.]
[Selamat datang kembali di dunia orang hidup, Host Adrian Raksana.]
[Mulai detik ini, tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang berada di luar jangkauan kendalimu.]
Adrian menatap layar merah itu dengan mulut sedikit terbuka. Sistem? Kendali mutlak? Pikiran rasionalnya sebagai seorang mahasiswa bisnis mencoba menolak hal tidak masuk akal di depannya, tetapi bukti visual itu melayang jelas merobek hukum fisika.
Sebelum Adrian sempat memproses kalimat di layar merah tersebut, ponsel pintarnya yang tergeletak di atas meja kaca bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan sebuah panggilan masuk.
Nama yang tertera di layar membuat darah Adrian kembali mendidih. Semua kebencian yang dia bawa dari ambang kematian kembali meledak di dadanya.
Penelepon: Vanessa Sayang ❤️
Adrian menatap ponsel itu selama tiga detik. Tangannya perlahan terulur, meraih benda persegi tersebut. Dengan ekspresi sedingin es abadi, dia menekan tombol terima dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Sayang?" Suara lembut, manis, dan penuh perhatian terdengar dari seberang sana. Suara yang sama yang akan membantai keluarganya beberapa jam dari sekarang. "Kamu di mana? Aku sudah siap untuk makan malam kita."
Adrian menarik napas panjang. Bau darah dari kehidupan sebelumnya seakan kembali tercium di ujung hidungnya. Sudut bibirnya perlahan melengkung ke atas, membentuk senyuman psikopat yang belum pernah dia perlihatkan seumur hidupnya.
"Aku di apartemen," jawab Adrian dengan nada tenang yang mematikan. "Aku akan menjemputmu sekarang, Vanessa."
Permainan baru saja dimulai. Dan kali ini, Adrian yang akan memegang talinya.
END OF CHAPTER.
Daftar bab
109 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
109 bab








