
Dewa Biang Kerok : Berkultivasi Ulang, Karena Diusir Langit!
Kopi_Item|Bersambung
- Jumlah kata
- 115.3K
- Popular
- 482
- Subscribe
- 81
- Jumlah kata
- 115.3K
- Popular
- 482
- Subscribe
- 81

Kopi_Item|Bersambung
Di Alam Atas, Bayu Sudarsana adalah legenda. Sayangnya, bukan legenda karena jasa-jasanya, melainkan karena kelakuan ajaibnya yang bikin tekanan darah para dewa lain naik drastis. Puncaknya adalah saat sidang agung di Istana Suralaya. "Bayu sialan! Kamu tahu apa kesalahanmu!" Terdengar suara kemarahan Sang Hyang Sangkan Parana, hingga menggetarkan pilar-pilar langit. Bayu, Sang Dewa Prahara, hanya menggaruk telinga dengan santai. "Aku cuma meminjam Tungku Keabadian buat bakar sate naga, Gusti Agung. Habisnya, api di dapur Kahyangan kurang panas. Aku kan cuma mau berbagi hasil buruan sama dewa lain, masa gitu aja kamu marah?" "ITU TUNGKU UNTUK MENCIPTAKAN TAKDIR, BUKAN BUAT BAKAR SATE!" Sang Hyang berdiri, wajahnya terlihat merah padam. "Cukup! Status dewamu dicabut! Turunlah ke bumi, berkultivasilah ulang agar kau bisa naik kembali ke alam atas!" titah Sang Hyang kepada Bayu. "Eh, sebentar, Gusti! Bekalnya mana? Minimal kasih aku uang saku atau—" DUARRR! Satu tendangan maut dari langit membuat Bayu meluncur indah menembus awan-awan. "SIAAALAN! GUE BELUM SIAP JADI RAKYAT JELATA, WOY!" Kini, sang mantan Dewa Tinggi mendarat di Akademi Wira Cakrawala. Tapi jangan harap dia jadi murid jenius. Bayu justru terjebak sebagai petugas kebersihan dengan kultivasi yang mampet total. Di saat ayam peliharaan akademi saja bisa naik ranah dengan cepat, Bayu harus berjuang mati-matian hanya untuk memperkuat otot pinggangnya yang encok akibat kebanyakan nyapu. Bisakah Bayu kembali ke langit untuk membalas dendam? Ataukah dia malah terjebak selamanya di bumi?
Sudah tidak heran lagi, di Kahyangan Suralaya, tidak pernah ada hari-hari damai, dikarenakan sesuatu hal.
Sama seperti pagi itu, aroma yang tercium tidak seperti wangi bunga surgawi. Alih-alih aroma melati, justru bau lemak terbakar, bumbu kacang yang menyengat, dan sangit memenuhi lorong-lorong emas Istana Agung. Belum lagi asapnya yang mirip asap pembakaran sampah, tebal sekali!
Lokasinya?
Di tengah aula utama, tepat di atas Tungku Keabadian, sebuah relik suci yang biasanya digunakan untuk merajut benang takdir dunia manusia, sepertinya sudah beralih fungsi.
Di sana, terlihat seorang lelaki berwajah tampan dengan jubah putih yang disingsingkan hingga bahu. Wajahnya memang kelewat tampan, jenis wajah yang sanggup membuat dewi-dewi di langit lupa cara bernapas sampai sesak napas.
Kita sebut saja, Bayu Sudarsana, sang Dewa Prahara Langit.
Sekarang ini, dia sedang asyik mengipasi lima tusuk daging naga di atas api suci Tungku Keabadian.
"Dewa Bayu! Apa yang kamu lakukan!" sebuah teriakan melengking membuat makhluk hidup lain yang ada di sekitar aula merasa resyahhh.
Bayu menoleh dengan santai, tangan kanannya masih sibuk mengipasi sate, sementara tangan satunya sibuk mengusap keringat di kening. Dia sudah membayangkan memakan sate dari naga piaraan salah satu dewa di sana.
"Eh, Dewa Indra. Kebetulan sekali. Kamu mau? Ini naga hasil buruanku tadi pagi. Dagingnya empuk banget, lho."
Dewa Indra Mandala, sang Dewa Petir yang dikenal kaku, dingin, tidak banyak bicara, gemetar sampai kilatan listrik kecil keluar dari matanya.
"Itu... itu, astaga, itu Tungku Takdir, Bayu! Api itu seharusnya digunakan untuk memurnikan jiwa manusia, bukan buat bakar sate!"
"Duh, Indra, kamu jangan kaku-kaku amat lah," Bayu mencicipi satu tusuk, lalu berdecak.
"Kayaknya kurang kecap dikit. Lagipula, api suci ini suhunya paling stabil di seluruh jagat raya. Satenya jadi matang merata tanpa gosong, well done matengnya. Ini namanya inovasi, Indra!" lanjut Bayu, tidak peduli dengan tatapan dan wajah kesal Dewa Indra padanya.
"Inovasi dengkulmu!" Indra berteriak frustrasi sembari meraup wajahnya dengan kasar. Dewa Indra sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
"Kemarin kamu mencuri kereta kencana Dewi Sekar hanya untuk balapan sama burung Phoenix sampai spionnya patah. Minggu lalu, kamu menyumbat terompet kiamat dengan kain pel supaya suaranya jadi sember. Sekarang ini?"
"Kereta Sekar itu lambat, aku cuma membantu memodifikasi dikit biar makin kencang," jawab Bayu tanpa dosa.
"Terus soal terompet itu, aku kan cuma tes. Ternyata kalau ditiup suaranya jadi 'pret', lucu tahu!"
"CUKUP!"
Mendadak saja, suhu di aula itu menjadi turun drastis. Ada aura yang tidak biasa, membuat udara di sekelilingnya menjadi dingin-dingin horor, yang membuat Dewa Indra langsung bersujud dengan lutut gemetar tanpa aba-aba. Bayu yang tadinya santai, tubuhnya langsung tegak, senyum kecut-kecut asam terlihat di wajah Bayu.
Sesosok tinggi besar muncul dari balik cahaya emas di ujung aula. Sang Hyang Sangkan Parana, dia adalah penguasa mutlak di alam langit, muncul dengan dahi yang berkerut-kerut dalam karena saking emosi.
Matanya langsung menatap tajam ke arah lima tusuk sate yang masih mengepul di atas benda pusakanya.
"Eh, ada Gusti Penguasa...," Bayu mencoba tersenyum manis, meski keringat dingin mulai membasahi dahinya, "Kamu mau sate? Ini... ini masih panas karena baru mateng, lho."
"Dewa Bayu Sudarsana," suara Sang Hyang terdengar menggelegar, mencoba menahan emosinya.
"Aku sudah pernah memaafkanmu saat kamu mengecat naga peliharaanku jadi warna pink. Aku juga cuma diam saat kamu menjual air suci kahyangan ke pasar gelap manusia hanya untuk beli cemilan viral di dunia manusia. Tapi sekarang, kamu ini malah bikin ulah lagi!"
Sang Hyang menunjuk Tungku Takdir yang kini belepotan bumbu kacang, lalu berkata, "Kamu sudah menodai kegunaan Tungku Keabadian milik Alam Langit!”
"Tunggu, Gusti, aku bisa jelasin! Ini cuma masalah bumbu yang berceceran, kan! Bisa dilap pakai kanebo kok!" Bayu mulai melangkah mundur pelan-pelan, matanya melirik ke pintu keluar, mencari cara bagaimana kabur secepat kilat.
"Kali ini, tidak ada lagi kesempatan. Kayaknya kamu butuh pelajaran tentang arti kerendahan hati," Sang Hyang mengangkat tangan kanannya. Cahaya ungu mulai berkumpul di ujung jarinya.
"Hari ini, Dewa Prahara, lebih baik kau pensiun dini!"
"Woi! Jangan main pecat dong! Minimal kasih pesangon!" teriak Bayu panik.
"Pesangon?" Sang Hyang Sangkan Parana berteriak, suaranya membuat pilar-pilar Kahyangan berderak ngeri.
"Ndasmu! Satu-satunya pesangon yang akan kamu terima adalah diusir dari Alam Langit, Bayu!" lanjut Sang Hyang Sangkan Parana dengan wajah masam.
Bayu mengangkat kedua tangannya, sapu tangan yang tadi dia pakai buat mengelap minyak naga masih berkibar di jari telunjuknya.
"Sabar dong, Gusti Agung! Ayo kita bicarakan masalah ini secara kekeluargaan. Aku tahu aku salah, tapi kalau aku diusir, siapa yang bakalan bantu kamu push rank di game dewa semesta? Siapa lagi yang bisa bikin kamu ketawa kalau lagi pusing ngurusin doa manusia yang minta aneh-aneh?"
"Aku justru pusing karena tingkah ajaibmu!" Sang Hyang mulai melangkah maju. Setiap hentakkan kakinya memercikkan api keunguan yang panasnya sanggup melelehkan baja pusaka.
"Ok, ok! Gimana kalau sistem pakai perjanjian kontrak?" Bayu mencoba negosiasi tingkat tinggi, siapa tahu saja beruntung.
"Aku rela dipotong gaji nektar keabadian selama tiga ratus tahun. Terus, aku juga janji bakal bersihin Tungku Takdir ini pakai sikat gigi sampai mengilap lagi. Gimana, Gusti? Plus, aku kasih resep bumbu kacang rahasia ini buat Gusti Agung."
Sang Hyang Sangkan Parana berhenti untuk sejenak, menatap tusuk sate yang tersisa di atas tungku, lalu kembali menatap Bayu dengan mata yang menyipit tajam.
"Resep bumbu kacang, ya, gitu?” ucap Sang Hyang Sangkan Parana sembari mengusap-usap jenggot panjangnya yang berwarna putih keperakan.
"Iya! Pakai kemiri yang disangrai sama perasan jeruk purba dari Gunung Merapi Langit. Enak banget, Gusti Agung. Sumpah, deh," Bayu mulai merasa di atas angin, dia memberikan jempol andalannya.
Dewa Indra yang masih kesal hanya bisa membatin, 'Ini orang bener-bener nggak punya urat takut atau emang otaknya udah geser banyak?'
"Penawaran yang cukup menarik," gumam Sang Hyang pelan. Bayu baru saja mau bersorak, tapi wajah Sang Hyang mendadak berubah jadi dingin sebeku es di kutub utara.
"Tapi aku lebih tertarik melihatmu menjadi babu di dunia manusia."
"Eh, maksudnya?" Bayu melongok kebingungan. Tapi, melihat ekspresi Sang Hyang, Bayu yakin, tua bangka itu pasti tidak akan memberikan kemudahan untuk hidupnya.
Yakin banget, sumpah deh!
"Dewa Indra, sini! Cepat panggil Pasukan Gandarwa! Suruh mereka seret Biang Kerok ini ke Gerbang Selo Matangkep sekarang juga!" perintah Sang Hyang dengan tegas.
"Gusti! Jangan gitu dong! Aku ini kan aset berharga Kahyangan!" Bayu mulai berlari tunggang-langgang saat pintu aula jebol oleh puluhan prajurit berbaju zirah emas.
"Dewa Indra, tolongin aku! Jangan lupa jasaku, dulu kamu kan sering aku kasih bocoran kunci jawaban ujian dewa!"
104 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
104 bab
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.