Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
PANGLIMA BAYANGAN : KEMBALI DARI GERBANG MAUT

PANGLIMA BAYANGAN : KEMBALI DARI GERBANG MAUT

Out Of Black | Bersambung
Jumlah kata
26.8K
Popular
100
Subscribe
13
Novel / PANGLIMA BAYANGAN : KEMBALI DARI GERBANG MAUT
PANGLIMA BAYANGAN : KEMBALI DARI GERBANG MAUT

PANGLIMA BAYANGAN : KEMBALI DARI GERBANG MAUT

Out Of Black| Bersambung
Jumlah Kata
26.8K
Popular
100
Subscribe
13
Sinopsis
PerkotaanAksiPerangDunia Masa DepanPertualangan
Setelah lima tahun menghilang di medan tempur paling mematikan akibat pengkhianatan atasannya, Banu kembali ke kota asal dengan identitas rahasia "Panglima Tertinggi". Selain untuk menyelamatkan istrinya dari penindasan keluarga, Banu memiliki misi besar, membongkar jaringan korupsi militer dan membalaskan dendam pasukannya yang tewas dikhianati lima tahun lalu.
Bab 1

Tawa meremehkan yang menggema di dalam restoran bintang lima itu benar-benar membuat telinga Banu hampir pecah.

Di depan pintu masuk, ia berdiri tegak mengenakan jaket kanvas hijau tua yang sudah kusam dan celana kargo yang warnanya mulai pudar. Penampilannya begitu kontras di tengah para tamu yang mengenakan jas mahal dan gaun sutra bernilai ratusan juta rupiah.

Padahal, lima tahun lalu, di medan perang paling berdarah di belahan bumi utara, pakaian lusuh itulah yang berkali-kali menyelamatkan nyawanya ketika dunia mengenalnya sebagai Dewa Perang yang ditakuti. Namun malam ini, di pesta ulang tahun Nenek Maya yang mewah, pakaian itu justru membuatnya tampak seperti seorang pengemis di mata keluarga besar istrinya.

"Eh, lihat itu! Menantu sampah kita akhirnya pulang juga setelah lima tahun kabur jadi pengecut!"

Suara nyaring itu berasal dari Tirta, sepupu Maya, yang sedang menggandeng seorang pria botak bertubuh gemuk. Teriakannya membuat seluruh tamu menoleh. Tatapan meremehkan, jijik, dan ejekan langsung mengarah kepada Banu.

Namun Banu sama sekali tidak terusik.

Tatapan matanya yang tajam khas seorang prajurit menyapu seluruh ruangan. Ia melewati satu demi satu wajah yang sedang menertawakannya hingga akhirnya pandangannya berhenti di sudut aula.

Jantungnya seolah berhenti berdetak.

Maya.

Istrinya.

Wanita yang fotonya selalu ia simpan di balik rompi antipeluru setiap kali memimpin pasukan di garis depan.

Kini Maya berlutut di atas lantai marmer yang dingin. Wajahnya pucat, matanya sembap, dan kedua tangannya gemetar saat memegang sebotol anggur merah mahal.

Di hadapannya berdiri seorang pria muda berjas putih.

Revan.

Putra seorang konglomerat lokal yang terkenal angkuh dan gemar mempermainkan orang lain.

"Ayo, Maya. Tuangkan anggurnya ke atas sepatuku," perintah Revan sambil menyunggingkan senyum merendahkan. Ia mengangkat kaki kanannya, memamerkan sepatu oxford mengilap tepat di depan wajah Maya. "Kalau kau bisa membuat sepatuku berkilau dengan anggur ini, utang rumah sakit ibumu sebesar lima ratus juta akan aku lunasi malam ini. Mudah, bukan?"

"Maya, tunggu apa lagi? Cepat lakukan!" bentak Nenek Maya dari kursi kehormatannya. "Ibumu sudah menghabiskan terlalu banyak uang keluarga. Anggap saja ini caramu membalas budi!"

Maya menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.

Air mata jatuh tanpa mampu ia tahan.

Di bawah tatapan puluhan anggota keluarga yang justru menikmati penderitaannya, perlahan ia memiringkan botol anggur itu.

Cukup.

Satu kata itu bergema di benak Banu.

Aura dingin yang menyesakkan tiba-tiba memancar dari tubuhnya. Suasana ruangan seolah berubah membeku.

Tanpa mengeluarkan suara, Banu melangkah maju dengan kecepatan seorang predator yang telah berkali-kali lolos dari maut.

Sret!

Sebelum setetes anggur menyentuh sepatu Revan, sebuah tangan yang penuh kapalan dan bekas luka tembak menggenggam pergelangan tangan Maya.

Hangat.

Lembut.

Namun begitu kuat.

Maya tersentak.

Ia mendongak, lalu kedua matanya membelalak saat melihat sosok pria tinggi yang sangat dikenalnya berdiri di hadapannya, menutupi cahaya lampu aula.

"B-Banu?" bisiknya lirih.

Suara itu bergetar, dipenuhi rasa tidak percaya.

Tanpa menjawab, Banu mengambil botol anggur dari tangan Maya dengan tenang. Setelah itu, ia menarik tubuh istrinya yang masih gemetar hingga berdiri di belakang punggungnya.

Bagi Banu, punggungnya adalah benteng paling aman di dunia.

Selama ia masih berdiri, tidak ada seorang pun yang akan menyakiti wanita itu.

"Siapa kau? Berani sekali merusak kesenanganku!" bentak Revan. Wajahnya memerah karena merasa dipermalukan di depan banyak orang.

Banu menoleh perlahan.

Tatapan matanya yang sedalam jurang langsung mengunci Revan.

Itu bukan tatapan orang biasa.

Tatapan itu adalah milik seorang panglima yang telah menjatuhkan puluhan pemimpin kelompok teroris internasional.

Hanya dengan satu lirikan, tubuh Revan menegang. Tenggorokannya terasa dicekik hawa dingin hingga makian yang sudah berada di ujung lidahnya kembali ia telan.

"Istri saya tidak akan pernah berlutut kepada siapa pun," ucap Banu tenang. "Terlebih kepada serangga seperti kau."

Suaranya rendah.

Tidak keras.

Namun setiap katanya menghantam seluruh ruangan hingga suasana mendadak sunyi.

"Banu! Kamu sadar tidak apa yang sedang kamu lakukan?" teriak ibu mertuanya yang sejak tadi hanya bersembunyi di antara kerumunan. Ia maju sambil menunjuk wajah Banu dengan penuh amarah. "Kamu menghilang lima tahun, lalu datang hanya untuk menghancurkan satu-satunya kesempatan menyelamatkan ibu Maya! Dasar pembawa sial! Keluar dari sini!"

"Benar!" bentak Nenek Maya sambil menghantam lantai dengan tongkatnya. "Keluarga ini tidak membutuhkan menantu miskin yang tidak tahu diri seperti kamu! Pergi! Bawa juga istrimu yang tidak berguna itu! Mulai malam ini, nama kalian berdua dicoret dari silsilah keluarga!"

Mendengar keputusan kejam itu, tubuh Maya langsung melemas.

Ia menyembunyikan wajahnya di dada Banu sambil menangis tersedu-sedu. Jemarinya mencengkeram erat jaket kusam milik suaminya.

Seluruh penghinaan yang ia pendam selama lima tahun akhirnya meledak malam ini.

Namun, di luar dugaan semua orang, Banu justru tersenyum tipis.

Senyuman dingin yang selalu muncul sebelum sebuah negara musuh dihancurkan oleh armada yang berada di bawah komandonya.

Dicoret dari keluarga?

Baginya, itu bukan hukuman.

Melainkan kebebasan.

Tak seorang pun di ruangan itu mengetahui bahwa seluruh kekayaan yang dinikmati keluarga tersebut selama lima tahun terakhir berdiri di atas perlindungan rahasia yang ia berikan dari balik layar.

"Baik. Kami pergi," ucap Banu pelan.

Ia merangkul bahu Maya dan membimbing istrinya menuju pintu keluar.

Setiap langkahnya mantap.

Berbanding terbalik dengan makian, hinaan, dan tawa yang terus mengiringi kepergian mereka dari belakang.

"Pergi sana! Jangan datang lagi minta bantuan saat ibumu mati di rumah sakit!" teriak Tirta sambil tertawa puas.

Banu tetap berjalan tanpa sekali pun menoleh.

Begitu keluar dari gerbang restoran yang megah, angin malam langsung menyambut mereka.

Maya masih menangis dalam pelukan suaminya. Tangannya memeluk erat lengan Banu, seolah takut pria itu akan menghilang lagi.

Banu merogoh saku celananya.

Ia mengeluarkan sebuah ponsel militer berbahan titanium tanpa merek. Layarnya yang dilengkapi sistem antiperetasan langsung menyala, menampilkan jalur enkripsi tingkat tinggi yang terhubung ke satelit militer.

Sambil terus berjalan mendampingi Maya, ibu jarinya mengetik sebuah perintah singkat menggunakan kode rahasia yang hanya diketahui oleh lima jenderal tertinggi dunia.

[Hentikan seluruh suntikan dana. Batalkan semua kontrak kerja sama dengan Keluarga Maya dalam sepuluh menit. Mulai Operasi Kebangkrutan Total. Siapkan helikopter medis terbaik. Pindahkan ibu mertua saya ke Rumah Sakit Pusat Militer sekarang juga.]

Beberapa detik setelah perintah itu terkirim, ponsel milik Revan dan Nenek Maya yang masih berada di dalam restoran berdering bersamaan.

Nada dering darurat itu memecah suasana pesta yang semula dipenuhi tawa. Semuanya meremang seperti akan tahu bencana lebih besar segera datang.

Lanjut membaca
Lanjut membaca