

Mentari sore mulai condong ke barat, memantulkan cahaya keemasan di hamparan sawah yang baru saja selesai digarap.
Seorang pria bertubuh kurus dengan kulit legam berjalan menyusuri pematang sambil memanggul cangkul di bahunya. Baju lusuhnya dipenuhi bercak lumpur, sementara keringat masih membasahi pelipisnya.
"Bagas!" panggil seorang petani dari kejauhan.
Bagas menoleh sambil mengangkat tangan. "Iya, Pak?"
"Besok datang lebih pagi. Pak Santoso mau mulai menggarap tanah sebelah."
Bagas mengangguk tanpa banyak bicara. "Nggih, Pak."
Langkahnya kembali menyusuri jalan setapak. Perutnya sejak tadi berteriak minta diisi, tetapi wajahnya justru dihiasi senyum tipis.
Upah hari ini memang tidak seberapa, tapi cukup untuk membeli beras beberapa hari ke depan. Kalau beruntung, mungkin malam ini ia masih kebagian lauk yang layak.
Rumah sederhana bercat pudar akhirnya terlihat di ujung jalan. Bagas mempercepat langkah. Namun, begitu melewati pagar bambu, senyumnya perlahan memudar. Sebuah mobil hitam mengilap terparkir di halaman.
"Kok ada mobil, ya?" gumamnya pelan. Bagas mengernyit. Di desanya, hanya segelintir orang yang mampu memiliki mobil. Juragan Santoso salah satunya. Karena penasaran, ia melangkah masuk ke dalam rumah.
Belum sempat mengucapkan salam, suara tawa terdengar dari ruang tamu.
"Ha-ha! Jadi ini rumahmu sekarang, Santi?"
"Iya, Mas Eko," jawab suara perempuan yang sangat familiar.
Bagas menghentikan langkah tepat di ambang pintu.
Di ruang tamu, istrinya, Santi duduk berdampingan dengan seorang pria berusia tak jauh darinya. Kemeja putih yang dikenakan pria itu masih licin, jam tangan mengilap melingkar di pergelangan tangannya.
Sementara sebuah kotak oleh-oleh tersusun di atas meja.
Marni, ibu mertuanya, tersenyum lebar seolah sedang menyambut tamu paling terhormat.
"Akhirnya kamu pulang juga," celetuk Marni sambil melirik Bagas dari ujung kepala hingga kaki.
Tatapan Eko ikut beralih. Sudut bibirnya terangkat tipis saat melihat pakaian Bagas yang dipenuhi lumpur.
"Kamu Bagas?" tanyanya.
Bagas mengangguk pelan. "Iya."
"Saya Eko, teman masa kecil Santi."
Bagas mengulurkan tangan dengan sopan. "Senang bertemu dengan kamu."
Namun Eko hanya melirik malas tangan yang yang dipenuhi oleh tanah sebelum mengabaikannya begitu saja.
"Maaf," ucap Eko sambil tersenyum tipis. "Saya nggak mau kemeja putih ikutan kotor, karena bersalaman dengan kamu."
Tangan Bagas menggantung beberapa detik sebelum perlahan ditarik kembali.
Marni terkekeh pelan. "Nah, itu bedanya orang desa sama orang kota."
Santi yang duduk di samping Eko ikut tersenyum kecil. Tatapan matanya datar, seolah kejadian itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.
Bagas memilih diam. Ia melangkah menuju dapur untuk mencuci tangan, tetapi suara Marni menghentikannya.
"Bagas, sini dulu."
Bagas berbalik.
Marni menyilangkan tangan di depan dada. "Eko baru pulang dari kota. Sekarang dia sudah punya pekerjaan tetap dan penghasilannya besar."
Bagas mengangguk pelan. "Syukurlah."
"Terus?"
Bagas tampak bingung. "Terus ..., kenapa, Bu?"
Marni mendengus kesal. "Masih belum paham juga?"
Perempuan paruh baya itu menatap Bagas tanpa sedikit pun rasa iba. "Saya mau kamu cerain Santi."
Kalimat itu menghantam Bagas lebih keras daripada terik matahari yang sejak pagi membakar punggungnya. Napasnya tercekat. Ia menatap Marni tanpa berkedip, berharap perempuan itu sedang bercanda.
Bagas menoleh ke arah istrinya. "Santi ...?"
Perempuan itu membalas tatapan Bagas dengan penuh kebencian. "Aku setuju dengan Ibu."
Dada Bagas terasa sesak.
"Kakek udah nggak ada," lanjut Santi lirih namun tegas. "Aku nggak mau ngejalanin pernikahan dengan pria miskin kaya kamu, Bagas!"
Suasana mendadak sunyi.
Eko menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil menatap Bagas dengan senyum meremehkan.
"Kalau memang kalian berpisah, saya serius ingin menikahi Santi."
Ucapan itu disambut anggukan puas dari Marni.
"Makanya, jangan egois, Bagas. Lepaskan Santi. Perempuan secantik dia pantas hidup berkecukupan, bukan terus menemani petani miskin sepertimu."
"Selama menikah sama kamu, aku hidup serba kekurangan."
Santi bangkit dari duduknya. Langkahnya pelan hingga berhenti tepat di depan Bagas. Sorot matanya penuh rasa muak.
"Kamu tahu nggak rasanya jadi bahan omongan satu desa?" tanyanya lirih. "Teman-temanku datang pakai motor baru, pakai perhiasan, suaminya kerja di kota. Sedangkan aku? Suamiku pulang setiap hari dengan badan penuh lumpur."
Bagas menelan ludah. "Aku memang belum bisa ngasih yang ter—"
"Belum bisa?" Santi memotong. "Sudah tiga tahun, Bagas. Tiga tahun, tapi hidup kita tetap begini."
Marni mendengus sambil melipat kedua tangan.
"Dia itu bukan belum bisa. Memang nggak akan pernah bisa."
Perempuan paruh baya itu melangkah mendekat, lalu menunjuk pakaian Bagas yang kusam.
"Lihat dirimu sendiri. Baju cuma itu-itu saja. Sandal hampir putus. Uang hasil kerja habis buat makan. Mau sampai kapan anakku hidup sengsara sama laki-laki nggak punya masa depan?"
Bagas mengepalkan tangan di kedua sisi tubuhnya. "Aku kerja setiap hari. Hasilnya juga selalu aku serahin ke Ibu sama Santi. Sejak kapan aku pernah nyimpen uang buat diriku sendiri?"
" Kerja? Penghasilan?" Marni tertawa sinis. "Dan penghasilan kamu itu cuma cukup beli beras sama tempe, Bagas!"
Eko yang sejak tadi hanya memperhatikan akhirnya ikut berdiri.
"Maaf kalau kata-kataku menyinggung." Senyumnya tipis, tetapi sorot matanya penuh rasa menang. "Di kota, gaji satu bulanku mungkin lebih besar daripada penghasilanmu setahun."
Bagas menatap pria itu datar. "Saya memang cuma petani, tapi bukan berarti kamu berhak ngerendahin pekerjaanku!"
Rahang Eko mengeras, pria miskin di hadapannya berani sekali melawan. "Jelas beda. Saya cuma mau nyadarin kamu!"
Ia merapikan lengan kemejanya.
"Saya datang ke sini memang berniat melamar Santi. Awalnya saya kecewa waktu tahu dia sudah menikah. Tapi setelah melihat suaminya ...." Ia menggeleng pelan. "Sejujurnya saya heran. Perempuan secantik Santi bisa-bisanya menikah dengan petani seperti kamu."
Ucapan itu membuat Marni tersenyum puas. "Dengar, kan kamu Bagas?"
Santi mengangguk pelan. "Mas Eko benar. Kalo bukan karena kakek, aku nggak sudi nikah sama pria miskin kaya Bagas."
Bagas memandang istrinya dengan mata memerah. "Jadi, selama ini kamu nggak pernah nganggap aku sebagai suami kamu?"
"Bagas, kamu itu pura-pura bodoh atau memang bodoh beneran?" Santi menunjuk wajah Bagas penuh kebencian. Persetan dengan sopan santun, lagi pula sebentar lagi dirinya dan Bagas akan bercerai. "Masih kurang jelas sikapku selama ini, hah?"
Perempuan itu mengeluarkan cincin nikah dari jari manisnya.
"Dari mulai kita yang tidur di ranjang yang beda, dan setelah kakek pergi aku nyuruh kamu tidur di gudang. Seharusnya kamu paham posisi kamu, Bagas!"
Cincin itu diletakkan begitu saja di atas meja. "Dan sekarang Kakek sudah nggak ada."
Tatapan Bagas terpaku pada cincin itu. Dadanya terasa sesak, dan juga nyeri seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas dadanya. Lidahnya mendadak kelu, ia tak mampu mengucapkan satu kata pun.
Marni segera mengambil kain yang sudah diikat menjadi sebuah tas berisi baju-baju Bagas yang tak banyak. Tanpa ragu, tas kain itu dilempar hingga jatuh di depan kaki Bagas.
"Barangmu cuma segini, kan?"
Bagas menunduk menatap bungkusan kain. Bersamaan dengan itu kedua matanya memanas. Ia kembali mengangkat wajahnya, menahan diri agar cairan bening itu tidak jatuh.
"Ambil barang-barang kamu ini. Mulai hari ini kamu bukan bagian dari keluarga kami lagi!"
Eko merogoh dompetnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang.
"Nih!" Ia menyelipkan uang itu ke saku baju Bagas tanpa meminta izin. "Anggap saja uang ongkos. Cari tempat lain buat tidur. Masa laki-laki masih numpang di rumah mertua."
Bagas perlahan mengeluarkan uang itu dari sakunya. Tangannya bergetar. Ia meletakkan kembali uang tersebut di atas meja.
"Saya memang miskin," ucapnya pelan. "Tapi saya nggak butuh dikasihani!"
Senyum Eko memudar. Jemarinya mengepal di samping paha. Belum pernah ada yang berani menolak uang darinya.
Namun Marni justru mendecak kesal. "Masih aja gengsi? Perutmu saja diisi dari hasil kerja jadi buruh sawah."
Marni mulai memungut kembali kain tas di lantai. Dan mendorong Bagas sekuat tenaga untuk keluar dari rumah. Ia melempar itu tepat pada dada Bagas.
"Pergi dari rumah ini! Jangan pernah muncul di hadapan saya lagi!"
Setelah mengatakan itu, Marni menutup pintu dengan keras.
Bagas memungut tas kain itu, dan mencengkeramnya dengan kuat.