

Hembusan angin dari lereng Talamao turun pelan pagi ini, membawa dingin yang meresap ke tulang. Kabut tipis menggantung dan berarak di atas sawah, menutup separuh pandangan, seperti tirai putih yang enggan diangkat. Di antara petak-petak tanah yang basah, di mana para pemuda nagari berbaris, kaki mereka menghentak tanah dengan irama yang sudah akrab di telinga orang kampung.
"Dumm… dumm… dumm…"
Itu suara langkah mereka, seragam, tegas, seolah dunia hanya membutuhkan satu jenis tapak yakni tapak murid perguruan.
Di pinggir tanah lapang, terlihat seorang pemuda berdiri sendirian. Sandalnya lusuh, kotor oleh lumpur kemarin sore. Ia bukan bagian dari barisan, bajunya bukan seragam hitam perguruan, melainkan baju kerja yang warnanya sudah kabur di antara cokelat dan abu-abu. Nama pemuda itu adalah Randa. Pemuda yang bagi sebagian orang nagari, adalah jawaban paling mudah setiap kali ada masalah. Seolah ia adalah biang masalah dan kesialan dalam kampung.
Di sisi lapangan, guru perguruan yang bernama Guru Sati, melihat ke arah Randa dengan pandangan yang tidak bersikap ramah. Dari sorot matanya terlihat begitu meremehkan dan menghina pemuda malang itu.
Ia pun berujar, "Kamu datang juga," katanya, datar. "Kamu memang tidak tahu malu, Randa." Selain ucapan yang tajam itu Guru Sati secara langsung memandang dengan pandangan jijik kepada sang pemuda.
Rasa takut dan sangat terhina membuat pemuda yang bernama Randa secara tak sadar menggenggam tali sandal yang mulai putus. Tangannya sedikit bergetar, bukan karena dingin, melainkan karena malu yang menumpuk. Ia mencoba tersenyum, tapi senyum itu hanya muncul sebentar sebelum luruh lagi bersamaan dengan kepalanya yang tertunduk.
Seperti memelas dan mengharap satu kesempatan, Randa mencoba dengan sorot mata berkaca-kaca.
"Guru," Randa membuka suara pelan, "sekali saja. Saya ingin mencoba latihan lagi."
Guru Sati mengerutkan kening. Di belakangnya, barisan murid perguruan berhenti. Beberapa dari mereka sudah siap tertawa seperti sebelumnya. Kabut pagi menahan suara mereka sebentar, tapi mata mereka sudah cukup liar untuk bising.
"Murid-murid," seru Guru Sati, suaranya memecah kabut. "Lihat. Ada orang yang sudah kami coba latih, sudah jelas tidak berbakat, tapi tetap memaksa ingin jadi pendekar."
Akhirnya hal yang ditakutkan oleh Randa terjadi juga! Seketika tawa pecah.
"Hahaha!"
Randa menunduk. Napas pertama keluar pelan: "haah…" Napas kedua lebih kasar: "HAH…" Ia tidak punya jawaban atas kenyataan yang ia temukan saat ini. Kali ini yang ia punya hanya ingatan, pagi-pagi ketika ia jatuh tersungkur di tengah barisan, napasnya tercekik, dan teman-teman yang dulu satu kampung ikut menendangnya karena dianggap malas dan sampah.
Guru Sati melangkah mendekat. "Kamu tak layak dilatih manusia!"
Randa ingat. Ia ingat satu hentakan sepatu kayu ke punggungnya dulu,
"BRAKK!"
Ia ingat kalimat yang menyusul pukulan itu.
"Tidak ada darah pendekar dalam tubuhmu, Randa," Guru Sati mengulang sekarang. "Jangan dipaksa. Dunia tidak butuh semua orang jadi pendekar. Ada yang memang lahir untuk jadi petani, jadi kuli ladang dan sampah ! Terima saja nasibmu!"
Kata-kata itu menusuk tajam dalam alam bawah sadar Randa.
Kemudian tawa barisan kembali menyala, lebih rendah, lebih puas. Napas Randa pecah: "haah… kgh…" Ia menahan air mata. Matanya perih, pandangan di sekelilingnya kabur. Lebih kabur dari kabut Talamao di pagi ini.
"Kamu pulang saja, Randa," kata Guru Sati. "Daripada kamu jatuh di sini dan nanti orang kampung menyalahkanmu lagi. Tanah retak, hujan turun, apa pun yang salah, semua ditaruh di pundakmu."
Kalimat itu memukul lebih keras dari tendangan. Randa mengangguk pelan. Sandalnya berbunyi kecil ketika ia mundur,
"tap… tap…"
Suara kaki seorang yang paham bahwa ia sangat tidak diinginkan.
Ia tidak menjawab. Tidak meminta kesempatan kedua. Tidak memohon pada guru yang sudah jelas menutup pintu. Dengan lunglai ia meninggalkan lapangan meski dada kosong, seperti sawah sehabis panen yang ditinggal tanpa kata dan pamit.
Siang hari, balai nagari dipenuhi suara lain. Bukan suara langkah latihan, melainkan suara orang-orang dewasa yang saling mencari kambing hitam. Di tengah ruangan kayu yang luas, para tetua duduk bersila. Kain sarung mereka bergesek pelan,
"sresh… sresh…",
setiap kali mereka bergeser.
"Padi gagal lagi. Sawah di ladang bawah banjir," salah satu tetua mengeluh. "Tadi malam, siapa yang lewat di sana? Randa."
"Waktu anak pedagang jatuh dari batang pinang saat pesta, siapa yang berdiri di bawahnya?" sambung yang lain. "Randa."
"Waktu lampu di warung padam karena kabel terbakar, siapa yang baru lewat di bawah kabel itu?" yang lain mengangkat bahu. "Randa juga."
Nama yang sama diulang-ulang. Seakan segala kebetulan adalah alasan cukup untuk menyematkan sial pada satu orang.
Randa mendengar semua. Ia duduk di luar balai, tepat di bawah jendela yang setengah terbuka. Suara para tetua masuk, "dug… dug… dug…", menghantam jantungnya.
Ia menatap tanah. Di sampingnya, sebatang kayu kecil tergeletak. Ia meraihnya dan menggenggam terlalu kuat,
"krek…",
Serat kayu retak pelan di tangan yang menahan marah.
"Kalau ada masalah, siapa yang paling mudah disebut?" suara seorang tetua menyimpulkan. "Randa. Sudah jelas."
Tawa orang dewasa berbeda dengan tawa pemuda. Ada serak di ujungnya,
"kha… kha… kha…",
Yang membuat udara di luar balai terasa lebih sempit dan menghimpit.
Randa menutup mata. Dalam gelap, ia mendengar semua bunyi yang hari itu diarahkan ke namanya. Bunyi langkah pemuda tertawa di lapangan, bunyi kain para tetua bergesek saat mereka menyebut sial, dan bunyi daun Talamao yang bergoyang pelan di kejauhan,
"srr… srr…",
Seolah ikut menyaksikan.
Di dalam dadanya, sebuah bunyi lain pelan-pelan tumbuh, "dug… dug… dug…"
Detak jantung yang tidak lagi sekadar tanda hidup, tetapi tanda sesuatu yang menumpuk dan menunggu pecah.
Ia berdiri, menyusul sendal usang miliknya berbunyi lagi,
"tap… tap…",
Kali ini lebih cepat. Sepertinya ia tidak menuju rumah. Tidak menuju ladang. Ia melangkah ke arah hutan, ke lereng yang orang kampung larang didatangi bila sendirian.
"Talamao," ia menyebut nama itu dalam hati.
Suara di kepalanya sendiri terdengar asing, kering.
Di belakangnya, balai nagari tetap ribut. Orang-orang tetap bicara tentang sial dan kesalahan, tentang Randa yang katanya selalu berada di tempat yang salah, pada waktu yang salah. Di depannya, hutan lereng Talamao menunggu dengan sunyi, tapi penuh bunyi yang belum ia kenal.
Ketika Randa menjejak di bawah bayang pepohonan, suara nagari pelan-pelan tertinggal. Digantikan oleh suara lain. Burung yang terbang rendah, "flap… flap…",
ranting yang patah di bawah kaki,
"krekk…", dan angin dari lereng yang berdesis pelan di telinganya,
"whuush…"