Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
The Young Forensic Doctor Pembongkar Kasus Pembunuhan

The Young Forensic Doctor Pembongkar Kasus Pembunuhan

Adera27 | Bersambung
Jumlah kata
41.3K
Popular
100
Subscribe
11
Novel / The Young Forensic Doctor Pembongkar Kasus Pembunuhan
The Young Forensic Doctor Pembongkar Kasus Pembunuhan

The Young Forensic Doctor Pembongkar Kasus Pembunuhan

Adera27| Bersambung
Jumlah Kata
41.3K
Popular
100
Subscribe
11
Sinopsis
PerkotaanAksiDetektifDokter GeniusThriller
Di usia yang masih sangat muda, Dr. Shandy Ricko Arshandy dikenal sebagai seorang dokter forensik yang sangat teliti. Baginya, mayat tidak pernah berbohong. Setiap luka, setiap tetes darah, dan setiap jejak yang ada, bahkan yang terkecil, selalu menyimpan kebenaran yang tak bisa dihilangkan. Semua berubah ketika dia menangani kasus kematian seorang pengusaha terkenal yang secara resmi diumumkan meninggal dunia karena serangan jantung. Namun, hasil autopsi yang dilakukan oleh Shandy mengungkap fakta yang mengejutkan, yaitu bahwa korban sebenarnya dibunuh dengan cara yang sangat sempurna hingga hampir mustahil terdeteksi. Laporan itu membuat dunia kepolisian gempar. Bukti mulai lenyap, saksi-saksi mati secara misterius, dan ada orang yang terus mengawasi setiap gerakan Shandy. Semakin ia mendekati pelaku, semakin terlihat jelas bahwa kasus ini bukanlah hal yang kecil, melainkan awal dari deretan pembunuhan yang telah tersembunyi selama bertahun-tahun. Di balik semuanya ada tokoh yang sangat kuat, bisa membeli hukum, membuat saksi diam, dan menghilangkan semua bukti kejahatan. Sekarang, Shandy harus berlari melawan waktu untuk mengungkap kebenaran sebelum dirinya menjadi korban berikutnya. Di ruang autopsi, orang yang sudah meninggal tidak bisa berbicara. Namun, di tangan Dr. Shandy Ricko Arshandy, setiap luka yang dialaminya berubah menjadi kesaksian kuat yang mampu menangkap bahkan pembunuh paling berhati dingin pun terpaksa berhadapan dengan hukum. Saat semua orang percaya pada kebohongan yang terlihat sempurna, hanya seorang dokter forensik muda yang bisa membuktikan bahwa mayat selalu memberi tahu kebenaran.
BAB 1: Ruang Autopsi

Pukul 02.17 dini hari.

Hujan lebat mengguyur halaman Instalasi Forensik di Rumah Sakit Bhayangkara. Kilat sesekali menerangi bangunan tua berwarna putih yang terlihat sepi. Hanya suara ambulans yang baru saja berhenti, memecah kesunyian malam.

Dua petugas mendorong brankar yang tertutup dengan kain putih.

"Korban laki-laki, empat puluh delapan tahun. Diduga serangan jantung," kata seorang polisi sambil memberikan berkasnya.

Beberapa dokter hanya mengangguk. Kasus seperti itu sudah biasa.

Namun, seseorang yang masuk ke dalam ruangan tiba-tiba berhenti langkahnya.

Laki-laki itu memakai jas laboratorium berwarna putih, rambutnya hitam dan rapi, serta matanya tajam yang tampak mampu melihat hal-hal yang tak terlihat oleh orang lain.

Dr. Shandy Ricko Arshandy.

Dokter forensik termuda di provinsi itu.

"Jangan sentuh dulu jenazahnya," ucapnya tenang.

Seorang penyidik senior mengernyit.

"Kenapa? Bukankah penyebab kematiannya sudah jelas?"

Shandy tidak langsung menjawab. Ia membuka kain yang menutup wajah korban, kemudian memperhatikan bola mata, kuku, hingga perubahan warna kulit yang mulai terjadi.

Beberapa detik kemudian ia berkata pelan,

"Ini bukan kematian karena serangan jantung."

Ruangan mendadak sunyi.

"Apa maksudmu?"

Shandy menunjuk pada bercak kecil yang ada di belakang telinga korban.

"Bintik ini terlalu rapi untuk luka biasa."

Ia mengambil kaca pembesar.

"Lihat baik-baik."

Semua orang mendekat.

Bekas tusukan itu bahkan nyaris tak terlihat.

"Jarum?"

Shandy mengangguk.

"Jarum berdiameter sangat kecil."

Polisi mulai saling berpandangan.

"Tapi hasil pemeriksaan di rumah sakit sebelumnya..."

"...salah."

Jawaban Shandy membuat ruangan semakin tegang.

Ia mengenakan sarung tangan lalu memulai autopsi.

Pisau bedah bergerak perlahan.

Semua orang memperhatikan setiap langkahnya. Tak lama Shandy menemukan sesuatu yang membuat wajahnya tiba-tiba serius.

"Aneh..." ujarnya.

"Ada apa, Dok?" Tanya orang lain.

"Bukan racun biasa," jawab Shandy.

Ia mengambil sampel jaringan.

"Korban dibunuh dengan zat yang bekerja sangat cepat, seperti serangan jantung alami."

Penyidik langsung berdiri.

"Berarti ini pembunuhan?" Tanya dia.

Shandy menganggak pelan.

"Dan pelakunya memahami dunia medis."

Kalimat itu membuat semua orang diam. Tidak banyak orang bisa membunuh tanpa meninggalkan jejak. Belum sempat suasana meredah, pintu ruang autopsi terbuka keras. Seorang polisi muda masuk berlari.

"Pak!" teriaknya.

"Ada kabar buruk!"

"Apa lagi?"

Saksi utama yang membawa korban...

"...baru saja ditemukan meninggal di ruang rawat."

Semua orang terdiam.

Shandy menggenggam tangan.

"Penjahat sedang menghilangkan semua saksi."

Ia menatap jenazah di atas meja.

"Dua korban dalam satu malam..."

"Lalu siapa yang akan menjadi korban berikutnya?"

Belum ada yang sempat menjawab.

Lampu ruang autopsi tiba-tiba mati.

Hanya suara napas yang mengisi ruangan.

Kemudian terdengar bunyi langkah kaki...

Ada seseorang berada di dalam ruang autopsi bersama mereka.

Ruangan autopsi yang tadi masih terang karena lampu kini hanya diterangi oleh kilat petir dari luar jendela. Bayangan orang-orang terlihat panjang di lantai keramik yang dingin.

"Jangan bergerak!" teriak seorang penyidik sambil mengeluarkan senter dari saku jeansnya.

Sorot cahaya menyapu setiap sudut ruangan.

Tidak ada siapa pun.

Namun, pintu belakang yang biasanya tertutup kini sedikit terbuka. Angin malam masuk perlahan, membuat tirai plastik bergerak pelan-pelan.

Dr. Shandy Ricko Arshandy berjalan mendekat. Ia tidak terburu-buru. Matanya mengamati lantai dengan saksama.

"Ada yang masuk," katanya pelan.

"Apa buktinya?" tanya penyidik senior.

Shandy menunjuk lantai.

Di atas lantai keramik terlihat jejak telapak sepatu yang masih basah karena air hujan. Jejak itu hanya beberapa langkah, lalu lenyap tepat di dekat meja autopsi.

"Dia datang bukan untuk menyerang," gumam Shandy.

"Lalu untuk apa?"

"Untuk memastikan sesuatu."

Tatapan Shandy beralih ke tubuh korban.

Ia segera memeriksa kembali meja autopsi. Benar saja, sebuah tabung kecil yang berisi sampel darah sudah tidak ada lagi.

Wajah penyidik langsung berubah.

"Barang bukti dicuri!"

Shandy menggeleng.

"Bukan semua barang bukti. Hanya sampel yang bisa membuktikan jenis racunnya."

Ruangan kembali sunyi. Artinya pelaku tahu persis apa yang harus diambil. Ia bahkan mengetahui letak ruang autopsi dan jadwal pemeriksaan.

"Orang dalam?" bisik salah satu polisi.

Shandy tidak menjawab. Ia hanya menatap pintu yang terbuka.

Beberapa menit kemudian, listrik kembali menyala.

Telepon di ruang autopsi berdering.

Seorang petugas mengangkatnya, lalu wajahnya memucat.

"Dok...telepon untuk Anda."

Shandy menerima gagang telepon.

Tidak ada suara selama beberapa detik.

Lalu terdengar suara seorang pria yang keras dan tenang.

"Dokter Shandy...berhentilah menggali kebenaran."

Klik.

Sambungan terputus.

Semua orang menatap Shandy.

"Apa katanya?"

Shandy menarik napas panjang.

"Dia tahu nama saya."

"Itu ancaman?"

"Lebih dari itu."

Shandy meletakkan gagang telepon perlahan.

"Itu peringatan bahwa kita sedang diawasi."

Pagi mulai tiba ketika hasil pemeriksaan laboratorium pertama keluar.

Seorang analis forensik berlari membawa berkas.

"Dok, ada hasil yang aneh."

Shandy segera membacanya.

Zat yang ditemukan dalam tubuh korban bukanlah jenis racun yang biasa digunakan orang. Komposisinya terlalu sulit dan hanya bisa dibuat oleh orang yang sangat paham tentang bidang medis.

Penyidik senior mengusap dahinya.

Kalau begitu, kita tidak sedang mencari pembunuh biasa.

Shandy memperhatikan foto korban yang tergeletak di atas meja.

"Benar."

"Yang kita hadapi adalah seseorang yang tahu pasti terkait pembunuhan tanpa meninggalkan jejak."

Di saat yang sama, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Shandy dari nomor yang tidak dikenal.

"Korban berikutnya sudah dipilih. Kalau kau ingin menyelamatkannya, carilah aku sebelum matahari terbenam."

Shandy terdiam.

Ia sadar, permainan baru saja dimulai.

Shandy menatap layar ponselnya cukup lama. Hanya satu kalimat yang muncul.

Korban berikutnya sudah dipilih. Jika kamu ingin menyelamatkannya, carilah aku sebelum matahari terbenam.

Nomor pengirim tidak dapat dilacak.

Penyidik senior segera menghampiri.

"Apa isi pesannya?"

Shandy menyerahkan ponselnya tanpa sepatah kata.

Semua yang membaca langsung terdiam.

"dia sedang bermain-main dengan kita," bisik salah seorang anggota tim.

"Bukan," jawab Shandy perlahan."Dia sedang menguji kita."

"Bedanya?"

Jika hanya ingin menantang polisi, dia tidak perlu memberi peringatan. Tapi kalau dia bilang ada korban berikutnya, artinya dia ingin tahu apakah kita bisa menghentikannya.

Ruangan kembali sunyi.

Pelaku bukan hanya pembunuh.

Ia menikmati permainan.

Beberapa saat kemudian, seorang teknisi laboratorium berlari masuk.

"Dok! Kami menemukan sesuatu pada pakaian korban."

Shandy segera menuju meja pemeriksaan.

Di balik lipatan jas korban, terdapat sepotong logam kecil yang berwarna keperakan.

Bentuknya sangat tipis, hampir menyerupai serpihan jarum.

"Ini bukan bagian dari pakaian," ujar teknisi.

Shandy mengambil pinset.

Ia mengamatinya di bawah mikroskop.

Permukaannya memiliki goresan-goresan tipis seperti hasil dari mesin yang sangat presisi.

"Jarum injeksi khusus," gumamnya.

"Rumah sakit memakai ini?" tanya penyidik.

Shandy menggeleng.

"Tidak."

"Lalu?"

Hanya sedikit perusahaan alat kesehatan yang bisa membuat logam tipis seperti ini.

Harapan mulai muncul.

Setidaknya mereka memiliki petunjuk.

Namun beberapa menit kemudian...

Seorang petugas laboratorium datang dengan wajah pucat.

"Dok..."

"Ada apa?"

"Data pengiriman alat itu..."

"...baru saja dihapus dari server pusat."

Semua orang membeku.

Pelaku kembali selangkah lebih maju.

Ia bukan hanya menghilangkan saksi.

Ia juga menghapus jejak digital.

Penyidik senior mengepalkan tangan.

"Seseorang membantu dari dalam."

Shandy mengangguk pelan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca