

Riyan membangun hidupnya dengan satu prinsip sederhana: menjadi tidak terlihat dan selalu jujur.
Selama 6 bulan dan 4 hari, dunianya hanya berputar di sekitar lembar spreadsheet yang tidak pernah seimbang pada percobaan pertama, amplop kas kecil yang selalu tekor, serta perjuangan tanpa akhir mengejar para kepala departemen demi menagih kuitansi yang selalu mereka klaim, "pasti sudah ditinggalkan di mejamu kemarin."
Para akuntan junior lainnya bahkan memiliki julukan khusus untuk ruang kerja mereka: "Penjara Bawah Tanah". Sebuah ruangan tanpa jendela, bersirkulasi udara buruk, dengan gunungan dokumen yang seolah tidak pernah berkurang.
Riyan sendiri telah mengembangkan rutinitas yang sangat teliti. Tepat pada pukul 17.58, dia akan menyimpan dokumen pekerjaannya sebanyak 2 kali demi keamanan, merapikan meja, lalu menatap jarum jam yang bergeser lambat menuju pukul 18.00.
Rumah pun sebenarnya bukan tempat pelarian yang sempurna bagi Riyan. Hanya saja, suasananya terasa sedikit lebih baik daripada kantor pengap ini.
"Riyan."
Panggilan mendadak itu mengejutkannya. Siku Riyan refleks menyenggol pot tanaman bambu kecil—hadiah pembawa keberuntungan dari sang istri.
Di hadapannya, Direktur Liam sudah berdiri tegak. Setelan jasnya yang klimis tampak mendominasi bilik kerja Riyan yang sempit.
"Kau... cukup bisa diandalkan," ucap Liam. Nada suaranya datar, terdengar seolah kalimat itu sama sekali bukan sebuah pujian.
Pria itu mengetuk pembatas bilik dengan ujung kuku jarinya yang bersih terawat. "Aku ada urusan di luar. Hari ini, kau yang bertanggung jawab memegang meja Keuangan."
Seketika, tenggorokan Riyan terasa kering. Meja Keuangan berarti aliran uang yang nyata dan tanggung jawab besar. Di sana ada stempel resmi yang bisa meloloskan transaksi hingga 6 digit hanya dengan satu ketukan wewenang.
"Hanya saya sendiri?" tanya Riyan, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.
Liam menyeringai tipis. "Ya. Jadi, pastikan kau tidak mengacaukannya."
Tanpa menunggu jawaban Riyan, sang direktur langsung berbalik dan melangkah pergi.
2 jam kemudian
Seorang wanita bergaun merah menyala tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kantor. Suara ketukan sepatu hak tingginya bergaung nyaring di lantai keramik. Di belakangnya, 2 pria berwajah garang mengiringi dengan sigap—entah sebagai asisten pribadi atau pengawal.
Tanpa memandang Riyan sedikit pun, wanita itu membanting selembar kertas ke atas meja kerja.
Riyan mengambil kertas tersebut. Matanya seketika membelalak lebar melihat nominal yang tertera—jumlah uang yang sangat besar, cukup untuk membayar gajinya selama bertahun-tahun. Di sudut kertas, bahkan sudah tertera stempel "disetujui sebelumnya".
Namun, pandangan Riyan tertuju pada satu nama yang tertulis di sana.
Enes.
Seketika telapak tangan Riyan terasa dingin. Dia teringat instruksi tegas dalam email dari Bos Qin minggu lalu, yang dikirim ke seluruh staf dengan huruf kapital penuh:
[JANGAN MELAKUKAN TRANSAKSI APA PUN UNTUK ENES TANPA MENGHUBUNGI SAYA TERLEBIH DAHULU.]
Riyan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. "Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa memproses pengajuan ini tanpa prosedur otorisasi yang semestinya."
Senyum anggun di wajah wanita itu langsung lenyap, berganti dengan tatapan dingin.
"Apa kau tahu sedang berhadapan dengan siapa saat ini?"
"Saya tahu," jawab Riyan. Suaranya terdengar tenang meskipun detak jantungnya berpacu hebat di balik dada. "Justru karena itulah, saya tidak bisa memprosesnya."
Wajah cantik wanita itu berkerut menahan amarah yang meluap.
PLAAK!
Map tebal di tangannya melayang keras, menghantam telak pipi Riyan. Lembaran kertas di dalamnya berhamburan ke segala arah. Tubuh Riyan terhuyung ke belakang hingga kepalanya membentur dinding dengan keras.
Seketika, semuanya menjadi gelap gulita.
Riyan terbaring di atas ranjang dorong yang ditempatkan di sepanjang koridor rumah sakit yang bising. Kepalanya terlilit perban putih, sementara selang infus terpasang di lengannya. Sisa-sisa noda darah kering di wajah dan pakaiannya bahkan belum sempat dibersihkan.
Rina, ibu mertuanya yang duduk di kursi sebelah ranjang, menunjukkan ekspresi wajah yang sangat masam. Dengan nada tinggi penuh amarah, wanita itu memaki, "Dasar bodoh!"
"Baru 1 hari! Baru 1 hari saja mereka memercayaimu untuk memegang pekerjaan penting, dan kau sudah berani menyinggung istri bos?!"
Kepala Riyan berdenyut nyeri. Kerak darah masih terasa kaku di sekitar pelipisnya. Tiang infus di samping ranjang bergoyang ketika jari Rina menunjuk-nunjuk kasar ke arah wajahnya.
"Kau itu bukan siapa-siapa!" omel Rina lagi. "Hanya seorang pegawai rendahan yang bisa didepak kapan saja. Dan sekarang, kau malah mencari masalah dengan orang penting!"
Irina, sang istri yang berdiri cemas di belakang ibunya, mencoba membela dengan suara lirih, "Ibu, Riyan hanya mengikuti aturan perusahaan..."
"Aturan?!" Rina mencibir sinis. "Pria tidak berguna seperti dia tidak punya hak untuk menegakkan aturan. Tugasnya hanya patuh dan menurut!"
Kemarahan Rina semakin berkobar. Dia memukul pinggiran ranjang besi dengan kasar.
"Susah payah aku mencarikan pekerjaan ini lewat koneksi, tapi dia malah menyinggung istri bos begitu mendapat posisi kantoran yang layak! Aku benar-benar heran, bagaimana bisa matamu begitu buta sampai jatuh cinta pada pria pecundang yang tidak berguna seperti dia!"
Rina sendiri baru menginjak usia 40 tahun, masa di mana seorang wanita masih berada di puncak kematangan fisiknya. Dengan tatanan rambut ikal yang tertata indah, penampilannya memang terlihat sangat memikat.
Meski ada guratan halus di sudut matanya, garis wajah Rina tetap kencang. Sapuan riasan tipis membuat parasnya tampak sangat menawan. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pesona kewanitaannya masih terpancar kuat.
Sejak masa mudanya, Rina memang dikenal sebagai primadona di keluarganya. Tubuhnya tinggi semampai, dan seiring bertambahnya usia, bentuk tubuhnya menjadi sedikit lebih berisi. Namun, dia tidak gemuk; lekuk tubuhnya justru tampak sangat matang, seksi, dan memikat hingga mengundang decak kegum siapa saja yang memandangnya.
Dengan lekukan tubuh yang berlekuk indah di bagian dada dan pinggul, sosoknya terlihat begitu proporsional. Hari itu, ia mengenakan atasan dengan potongan kerah yang cukup rendah. Setiap kali bergerak, belahan dada dan kulit putihnya tampak bergoyang, membuat pakaian dalamnya seolah kewalahan menyembunyikan bentuk tubuhnya yang menonjol.
Mendengar rentetan makian ibunya, Irina hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam dan memilih bungkam karena ketakutan.
Kehidupan pernikahan Rina sendiri jauh dari kata bahagia, yang membuat sifatnya berubah menjadi sangat temperamental. Dia adalah tipe wanita yang cerewet, bermulut tajam, dan dingin. Terlebih lagi, semenjak memasuki fase menopause, tabiat buruknya kian menjadi-jadi. Ketika emosinya meledak, dia bisa menjadi sosok yang sangat mengerikan.
"Lalu apa kata dokter?!" setelah puas melampiaskan kesal, Rina kembali membentak. "Kalau memang penyakitnya tidak bisa diobati, biarkan saja dia mati di sini!"
Irina menjawab dengan suara bergetar dan sangat hati-hati, "Bu, dokter menyarankan agar Riyan diobservasi semalaman karena dikhawatirkan ada indikasi gegar otak ringan."
"Otak si tidak berguna ini memang sudah rusak sejak awal, untuk apa repot-repot diobservasi lagi?" cibir Rina tajam.
Rina segera beranjak berdiri dan menyambar tas tangannya. "Kalau begitu, kau saja yang berjaga di sini. Aku tidak sudi melihat mukanya lagi."
Tanpa menunggu lama, Rina langsung melangkah pergi meninggalkan koridor. Irina hanya bisa tersenyum getir melihat kepergian ibunya. Dia kemudian duduk kembali di tepi ranjang perawatan dan bertanya dengan lembut, "Sayang, bagaimana keadaanmu? Masih sangat sakit?"
"Kepalaku agak pusing," jawab Riyan lemah.
Kesadarannya masih terasa samar, membuatnya hanya bisa mengembuskan napas panjang dengan penuh rasa frustrasi. "Istriku, aku benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ibu. Pekerjaan sebagai staf akuntansi itu hanya bergaji Rp34.720.000 sebulan, tapi dia terus-menerus mengungkit kalau posisi itu didapat susah payah lewat jalur koneksinya."
"Bagaimanapun juga, Tiger Real Estate adalah salah satu perusahaan terkemuka," Irina mencoba menghibur suaminya dengan nada lembut. "Ibu hanya ingin kau memiliki masa depan yang jelas."
Riyan memilih untuk tidak mendebatnya lagi. Dia tahu betul bahwa ibu mertuanya sangat mementingkan gengsi dan selalu memandang rendah pekerjaannya sebagai pekerja lepas (freelancer). Rina hanya butuh nama besar Tiger Real Estate agar bisa dipamerkan dengan bangga saat kerabat atau tetangga bertanya tentang pekerjaan menantunya.
"Sekarang istirahatlah dulu. Bibi akan membantu memeriksa situasi di kantor, dan pihak perusahaan pasti akan menanggung semua biaya pengobatan ini," ucap Irina menenangkan.
Seorang perawat kemudian datang untuk mengganti botol infus Riyan. Irina duduk diam di sisi ranjang, sesekali mengembuskan napas panjang dengan raut wajah yang tampak lelah dan pasrah.
Riyan kembali membaringkan kepalanya. Sambil menatap sang istri, ada setitik rasa hampa yang menyelimuti hatinya. Jika harus menggambarkan sosok Irina dari ujung kepala hingga ujung kaki, hanya ada 1 kata yang tepat: biasa saja.
Postur tubuhnya tidak tergolong tinggi maupun pendek, tidak gemuk juga tidak kurus. Bentuk dada dan pinggulnya pun terbilang rata. Paras wajahnya pun sangat standar—tidak bisa dibilang cantik, tetapi juga tidak buruk rupa—ditambah lagi sebuah tanda lahir yang menghiasi wajahnya, membuat Irina selalu tampak minder dan tidak percaya diri.
Keluarga Wood sendiri memiliki 3 anak perempuan. Nancy, si anak sulung, adalah wanita bertubuh tinggi semampai dengan kecantikan yang luar biasa memikat. Sementara Leah, si bungsu, berpostur mungil dengan bentuk dada yang menonjol indah. Bahkan Rina, sang ibu mertua, juga dikenal sebagai sosok wanita matang yang montok dan glamor.
Di tengah kepungan pesona mereka, sosok Irina terlihat sangat kontras bagaikan seekor itik buruk rupa. Begitu berbedanya penampilan Irina, hingga beredar kabar bahwa ayahnya, Arthur, sempat melakukan tes paternitas karena menaruh curiga bahwa Irina bukanlah darah dagingnya sendiri.
Sejak memutuskan masuk ke dalam keluarga Wood, kehidupan Riyan terasa begitu menyesakkan dan dipenuhi tekanan batin. Jika ada 1 alasan kuat yang membuatnya sanggup bertahan hingga hari ini, hal itu tidak lain adalah kelembutan tulus yang selalu ditunjukkan oleh istrinya.
"Tidurlah yang nyenyak, Sayang. Jangan terlalu banyak membebani pikiranmu," bisik Irina lembut. Dia menundukkan kepala dengan sedikit malu-malu seraya menggenggam hangat jemari tangan suaminya.
Riyan memejamkan matanya yang terasa kian berat dan pening. Perlahan, kesadarannya mulai tenggelam ke alam mimpi yang terasa sangat ganjil. Di kegelapan pandangannya, sebuah layar komputer berukuran raksasa mendadak muncul, berkedip-kedip dipenuhi riak statis abu-abu.
[Koneksi sinyal berhasil...]
[Frekuensi gelombang otak stabil. Membangun jaringan koneksi...]
[Proses pencadangan basis data gen selesai. Perhitungan parameter data memenuhi syarat resmi. Memulai proses pengikatan sistem dengan inang...]
Kelopak mata Riyan seketika terbuka lebar ketika seluruh otot tubuhnya menegang dan kejang secara mendadak. Mulutnya terbuka lebar, berupaya keras untuk berteriak, namun tidak ada satu patah kata pun yang mampu lolos dari tenggorokannya.
Seiring dengan gema suara mekanis misterius tersebut, rasa sakit yang luar biasa dahsyat langsung menjalar ke seluruh saraf tubuhnya. Riyan dapat merasakan dengan sangat jelas bagaimana setiap sel di tubuhnya bergolak hebat, seakan-akan sedang dihantam oleh aliran listrik bertegangan tinggi.
Akibat rasa sakit yang teramat sangat, tubuh fisiknya kembali kehilangan kesadaran, namun anehnya pikiran dan jiwanya tetap terjaga dengan sangat aktif.
Kini, Riyan mendapati jiwanya melayang di dalam sebuah ruang 4 dimensi yang asing. Di sekelilingnya, barisan baris kode bercahaya melesat dengan kecepatan tinggi, diiringi suara dingin tanpa emosi yang bergaung langsung di kepalanya:
[Proses pengikatan berhasil. Inang: Riyan Zester. Spesies: Manusia. Jenis Kelamin: Laki-laki. Usia: 25 tahun...]
[Menganalisis seluruh parameter data. Proses pengumpulan informasi gen sedang berlangsung...]
Dengan perasaan panik dan cemas yang memuncak, Riyan berteriak kencang, "Tunggu! Sebenarnya kau ini apa?!"
Kilatan barisan kode yang berputar cepat di sekelilingnya membuat kepalanya semakin pening. Tiba-tiba, sebuah layar monitor hologram raksasa muncul tepat di hadapannya, memancarkan cahaya terang yang menyilaukan mata:
[Inang, merupakan suatu kehormatan besar bagi kami untuk bisa terhubung dan dipasangkan dengan Anda.]
"Inang? Apa maksudmu... dan apa sebenarnya kau ini?!" tanya Riyan dengan napas memburu.
Riyan merasa kepalanya seolah berputar hebat. Kejadian di dalam mimpinya kali ini terasa terlampau nyata dan aneh.
[Saya adalah sebuah sistem—sistem yang telah Anda panggil.]
Dari balik monitor hologram tersebut, tiba-tiba menjulur sebuah kabel konektor antarmuka USB yang langsung meluncur cepat menuju kepalanya. Riyan hanya bisa menyaksikan dengan mata terbelalak ngeri saat ujung konektor tersebut menembus dan menghilang begitu saja di tengah dahinya.
Di kedalaman peradaban maju yang terletak sangat jauh, teknologi tingkat tinggi memang telah lama meninggalkan bentuk fisik. Sistem berbasis data ini, yang sempat terdampar tanpa sengaja di Bumi, telah lama mengumpulkan informasi mengenai struktur biologis makhluk hidup seperti manusia. Sistem tersebut perlahan-lahan menyempurnakan bentuknya secara digital, namun tidak pernah memiliki kesempatan untuk aktif.
Hingga hari ini, saat otak Riyan mengalami cedera fisik yang sangat parah akibat benturan keras. Secara logika medis, ia seharusnya sudah divonis mengalami kematian fungsi otak. Namun, lonjakan gelombang otak yang terjadi mendadak dan sangat intens dari dirinya ternyata berada di frekuensi yang persis sama dengan milik sistem tersebut. Karena kode genetiknya dinilai sangat kompatibel, Riyan pun secara instan ditetapkan sebagai inang resmi dari sistem misterius ini.