
- Jumlah kata
- 6.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 4
Sinopsis
Arthur hanyalah seorang anak desa yang hidup sederhana bersama kedua orang tuanya di Haytor. Namun semua itu berakhir ketika suatu malam keluarganya dibantai oleh orang-orang tak dikenal.Sejak hari itu, Arthur kehilangan segalanya.Saat mencari jawaban atas kematian kedua orang tuanya, ia menemukan sebuah liontin tua yang perlahan membawanya pada kenyataan bahwa ayah dan ibunya bukanlah orang biasa. Semakin jauh ia menggali masa lalu mereka, semakin ia menyadari bahwa kematian mereka hanyalah bagian kecil dari sebuah konspirasi yang telah lama disembunyikan.Pada hari itu, Arthur mati bersama kedua orang tuanya. Yang tersisa hanyalah seorang anak yang ingin mencari kebenaran.Namun di dunia yang dipenuhi kebohongan, kekuasaan, dan darah, mencari kebenaran sering kali berarti harus mengotori tangan sendiri.Ketika keadilan tak lagi mampu menjangkau mereka yang bersembunyi di balik kekuasaan, Arthur harus memilih...Tetap menjadi manusia yang menunggu keadilan, atau berubah menjadi bayangan yang menciptakan keadilannya sendiri.
Ulasan
2 ulasan
fahrijal
21/7/26 09:20
mantap bang sehat selalu cerita udah jangan update tiap hari bab sayang banget kalo nggak di lanjut gw juga udah subscribe pokoknya mantep dah
Fahri 1619
21/7/26 09:17
mantap kak, update tiap hari ya cerita nya seru banget sayang banget baru 2 bab dan semoga sehat selalu
BAB 1 - HARI YANG MENGUBAH SEGALANYA
Desa Haytor selalu terasa damai.
Di pagi yang cerah itu, tawa seorang anak kecil terdengar memenuhi halaman rumah sederhana di pinggir desa.
"Arthur! Ayo, angkat pedangmu lebih tinggi!"
Roland berdiri sambil memegang pedang kayu.
Di hadapannya, Arthur yang baru berusia delapan tahun menggenggam pedang kayu yang hampir sebesar lengannya.
"Ayah curang! Ayah kuat sekali!"
Roland tertawa.
"Bukan kuat. Kau saja yang lengah."
Arthur kembali menyerang.
Kali ini Roland sengaja membiarkan sisi kirinya terbuka.
Arthur langsung mengayunkan pedangnya ke arah itu.
Namun dalam sekejap Roland memutar tubuhnya.
Ujung pedang kayunya menyentuh bahu Arthur.
"Kalah lagi."
Arthur mengerucutkan bibir.
"Tapi Ayah tadi sengaja membuka sisi kiri."
Roland tersenyum tipis.
"Kau memperhatikannya?"
Arthur mengangguk."
Kalau benar terbuka, Ayah tidak mungkin membiarkanku menyerang semudah itu."
Roland mengacak rambut putranya.
"Bagus. Dalam pertarungan, jangan hanya melihat pedang lawan.
"Lihat matanya."
"Lihat napasnya."
"Dan lihat alasan kenapa ia bergerak."
Belinda keluar dari rumah sambil tersenyum.
"Kalian berdua! Makan dulu sebelum makanannya dingin."
Arthur berlari menghampiri ibunya dan makan bersama.
Tak seorang pun menyangka...
Itulah makan bersama terakhir mereka.
Menjelang sore, Arthur pergi membantu seorang tetangga mengantarkan kayu bakar.
Saat matahari mulai tenggelam, ia berlari pulang.
Namun langkahnya terhenti.
Puluhan warga berkumpul di depan rumahnya.
Suasana begitu sunyi.Jantung Arthur berdetak semakin cepat.
Ia menerobos kerumunan.
"Ayah?"
"Ibu?"
Tak ada jawaban.
Seorang tetua desa memegang bahunya.
Arthur melihat dua jenazah yang telah ditutupi kain putih.
Dunia seakan berhenti berputar.
Ia berlutut.
Air matanya jatuh tanpa henti.
"Ayah..."
"Ibu..."
Jeritannya menggema di seluruh desa.
Hari-hari berikutnya terasa begitu panjang.
Penyelidikan dilakukan.
Beberapa orang diperiksa.
Namun...
Tidak ada satu pun petunjuk yang mengarah kepada pelaku.
Kasus itu akhirnya menemui jalan buntu.
Arthur hanya bisa berdiri di depan makam kedua orang tuanya.
Dengan tangan mengepal erat.
Hari itu...
Arthur kecil ikut mati bersama kedua orang tuanya.
Yang tersisa hanyalah seorang anak...
...yang hidup demi satu tujuan.
Mencari kebenaran.
Daftar bab
11 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








