
Pelindung Negara Tanpa Tanding
Eliza Naga|Bersambung
- Jumlah kata
- 149.7K
- Popular
- 2.2K
- Subscribe
- 117
- Jumlah kata
- 149.7K
- Popular
- 2.2K
- Subscribe
- 117
Sinopsis
Dia diusir dari negara yang telah dilindunginya selama 10 tahun. Pernikahan dengan sang ratu yang telah dijanjikan padanya, kini dibatalkan sang ratu karena fitnah dari para pembisik berhati kotor. Saat dia terpaksa pergi dari negaranya, para musuh yang mengincar negara itu, datang satu persatu untuk memusnahkan negeri. Rakyat menyadari kekeliruan mereka dan kembali memohon padanya untuk kembali, tapi dia sudah terlanjur jadi pelindung negara lain, yang ratu dan rakyatnya menghargainya.
Ulasan
2 ulasan
Draviel Mairen
1/8/26 14:08
Izin numpang promosi ya, Kak Author, semoga rezekinya makin lancar! 😊 Halo teman-teman pembaca, kalau kalian suka cerita komedi, perjuangan hidup, dan intrik konyol, coba deh intip novel saya: 'Aku Cuma Mau Kaya Kenapa Dikasih Hareem'. Bayangin betapa ribetnya jadi cowok yang cuma pengen duit banyak tapi malah dikelilingi cewek-cewek luar biasa. Yuk, ramaikan dan intip keseruannya! Terima kasih.
Arif RH
30/7/26 15:21
mantab kakak.... lanjutkan... gass lah... :) keren juga ceritanya....................................
1 Penjaga Gua Iblis
Dunia Alam Biru
Kegelapan di dalam Gua Iblis bukan sekadar absennya cahaya.
Ia adalah sesuatu yang hidup, bernapas, merayap, dan lapar.
Ribuan meter di bawah permukaan bumi, di mana stalaktit menggantung seperti gigi-gigi raksasa yang membeku dalam keabadian, dan di mana udara terasa begitu pekat hingga paru-paru manusia biasa akan hancur dalam hitungan detik, di sanalah Alexander berdiri.
Sendirian.
Seperti yang telah ia lakukan selama sepuluh tahun.
Pria itu berusia dua puluh lima tahun, namun matanya menyimpan kedalaman yang jauh melampaui usianya. Rambut hitamnya yang panjang terurai bebas, sebagian menempel di pipinya yang berlumuran keringat dingin. Jubah putihnya yang dulu pernah bersih seperti salju di puncak Gunung Vaelthor kini compang-camping, robek di bahu kiri dan bernoda abu di sepanjang pinggang. Namun cara ia berdiri, dengan kaki selebar bahu dan tangan terkepal ringan di sisi tubuh, tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun.
Atau lebih tepatnya, ia telah lama berdamai dengan kelelahan itu.
Di depannya, sebuah ruangan bawah tanah membentang seluas lapangan perang. Langit-langitnya hilang ditelan kegelapan. Dinding-dindingnya berkilap seperti obsidian basah, memantulkan cahaya merah yang memancar dari sumber yang tidak kasat mata, seolah bumi itu sendiri sedang berdarah dari dalam.
Dan di kegelapan itulah mereka menunggu.
Tiga belas kehadiran.
Tiga belas kehendak jahat yang telah terpendam selama satu dekade, mengumpulkan kebencian mereka lapis demi lapis seperti salju yang menumpuk di lereng gunung, diam, sabar, dan ketika waktunya tiba, mematikan seperti longsoran.
Alexander menarik napas perlahan.
'Hari ini. Mereka akhirnya bergerak hari ini.'
Getaran pertama datang dari bawah tanah.
Bukan gempa bumi. Bukan keruntuhan stalaktit. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih purba, denyutan dari entitas-entitas yang telah terkurung terlalu lama dan kini tidak lagi mampu menahan diri.
Rantai-rantai tak kasat mata yang selama sepuluh tahun ditenun oleh Alexander dari energi jiwa-dewanya mulai bergetar. Satu per satu, seperti senar kecapi yang dipetik oleh jari-jari raksasa, ikatan-ikatan itu menjerit.
'Mereka datang.'
"Sepuluh tahun," kata sebuah suara dari kegelapan. Bukan suara manusia, lebih menyerupai suara batu yang digosok dengan besi, menghasilkan nada yang membuat gigi ngilu dan tulang bergetar. "Sepuluh tahun kau telah mengurung kami, Kultivator kecil."
Alexander tidak menjawab. Ia hanya menggeser posisi kakinya sedikit ke kanan.
"Sepuluh tahun," ulang suara kedua, kali ini dari arah yang berbeda. Suara ini lebih halus, hampir feminin, namun menyimpan kedinginan yang jauh melampaui es. "Kami tidak tidur, Alexander. Kami menunggu. Kami belajar. Kami mengamati setiap celah dalam rantaimu."
"Dan kami menemukannya."
Suara ketiga. Keempat. Kelima. Satu per satu mereka bersuara, mengisi kegelapan dengan lapisan-lapisan tekanan yang nyata secara fisik, seperti air yang mengisi paru-paru orang yang tenggelam.
Alexander masih diam.
Kemudian cahaya merah itu bergerak.
Dari dua belas titik berbeda di sekeliling ruangan bawah tanah itu, sosok-sosok mulai terbentuk dari kegelapan seolah kegelapan itu sendiri yang melahirkan mereka. Mereka tidak berjalan, mereka muncul, seperti mimpi buruk yang perlahan-lahan mendapatkan bentuk fisik.
Yang pertama adalah Malachar, Raja Gerhana, sosok setinggi tiga meter dengan tubuh yang tersusun dari kegelapan yang telah mengkristal, membentuk baju zirah hitam yang berkilap seperti bintang mati. Matanya adalah dua lubang kosong yang memancarkan cahaya ungu pucat.
Yang kedua adalah Vyssara, Ratu Racun Merah, perempuan dengan rambut yang terbuat dari asap darah merah, kulitnya tembus pandang dan di dalamnya terlihat aliran cairan hitam mengalir seperti sungai kecil di bawah kaca.
Yang ketiga adalah Gorroth si Penghancur Batu, makhluk raksasa dengan enam lengan, masing-masing berakhir dengan kepalan sebesar batu besar, kulitnya terbuat dari lava yang telah mengeras namun masih retak-retak memancarkan cahaya jingga dari dalam.
Yang keempat, kelima, keenam, mereka terus bermunculan. Shraxis si Pembelah Jiwa. Nethara Sang Pemakan Ingatan. Vordukhan si Pembawa Penyakit. Kaelthorn sang Peniup Angin Maut. Ysseria si Penguasa Bayangan. Brahkon sang Pemecah Tulang. Malveth si Penganyam Kutukan. Thessara sang Penari Kematian. Xorruk si Penghisap Cahaya.
Dan terakhir, paling lambat muncul, namun kehadirannya yang paling berat menghantam ruangan ini seperti sebuah benda pejal dijatuhkan dari ketinggian, Azmordhai, Yang Paling Tua, Yang Tidak Bernama Sebelum Kegelapan Menciptakannya.
Tiga belas.
Lengkap.
Mereka berdiri dalam formasi lingkaran, dengan Alexander tepat di tengahnya.
Malachar menatap Alexander dengan lubang matanya yang ungu dan berkata dengan nada yang hampir terdengar seperti rasa hormat, "Selama sepuluh tahun kami mempelajarimu, Kultivator. Dan kami telah menghitung. Meski kekuatanmu luar biasa, kau hanya satu. Kami tiga belas. Tidak ada yang bisa bertahan."
Alexander akhirnya bergerak.
Ia mengangkat wajahnya, menatap Malachar, kemudian satu persatu menatap kedua belas yang lain. Lalu sudut bibirnya bergerak, sangat sedikit, hampir tidak terlihat.
Sebuah senyum.
"Kalian sudah selesai bicara?" tanya Alexander. Suaranya tenang. Bukan tenang yang dipaksakan, tenang seperti danau yang dalam, di mana tidak ada gelombang yang mampu menjangkau dasarnya.
Kemudian ia mengangkat tangan kanannya, merentangkan jari-jarinya.
Dan seluruh Gua Iblis bersinar.
Cahaya itu bukan cahaya biasa. Ia keluar bukan dari lentera atau api, ia memancar dari dalam tubuh Alexander sendiri, menembus kulitnya, menerobos jubahnya yang compang-camping, memenuhi ruangan bawah tanah itu dengan warna keemasan yang bercampur dengan putih murni. Di bawah cahaya itu, bayangan-bayangan yang membentuk tubuh ketiga belas entitas itu tampak menyusut, bergidik, mundur setengah langkah.
Mereka tidak mengharapkan ini.
Selama tiga tahun terakhir ketika mereka secara perlahan menggerogoti rantai-rantai yang dibuat Alexander, mereka telah mengukur kekuatannya. Mereka mengira mereka mengenalnya. Mereka mengira kekuatannya ada batasnya.
Namun cahaya yang keluar dari tubuh Alexander bukan cahaya seorang kultivator.
Ini adalah cahaya jiwa dewa.
"Kalian sudah bersabar cukup lama," kata Alexander, dan kali ini suaranya telah berubah. Ia masih sama dalam nadanya, namun kini membawa resonansi yang dalam, seolah bukan hanya satu suara yang berbicara melainkan seribu suara dari kedalaman yang tak terhitung. "Maka aku pun tidak akan menahan diri lagi."
Malachar mengeluarkan teriakan perang, suara yang membuat stalaktit-stalaktit di langit-langit gua retak dan berdebu, dan melesat ke depan.
Kecepatan entitas setinggi tiga meter itu adalah sesuatu yang seharusnya tidak mungkin. Dalam satu kedipan mata ia telah menempuh jarak tiga puluh meter, tangan kanannya yang terbuat dari kegelapan mengkristal terangkat tinggi, siap menghantam Alexander dengan kekuatan yang mampu meratakan gunung kecil.
Alexander tidak menghindar.
Ia melangkah maju.
Kepalan tangan kirinya menghantam kepalan tangan Malachar tepat di tengah-tengah ayunan, dan ledakan yang dihasilkan bukan seperti dua kekuatan yang bertemu. Ia seperti dua dunia yang saling membanting. Gelombang udara meledak ke segala arah, membelah tanah di bawah kaki mereka, memecah dinding batu di kiri dan kanan, mengirimkan debu dan serpihan batu melayang seperti salju terbalik.
Malachar terlempar. Melesak masuk ke dalam batu dinding gua.
Tiga meter. Lima. Sepuluh. Bahkan Dua puluh meter ia terpental ke belakang sebelum tubuhnya yang terbuat dari kegelapan mengkristal itu menghantam dinding gua terdalam dengan kekuatan yang menciptakan lubang sedalam puluhan meter.
Daftar bab
130 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
130 bab








